Salah Pengertian Fotografi

Bo Logiantara

 

Banyak orang mempunyai salah pengertian dan mengira bahwa kamera yang mahal secara otomatis juga akan selalu menghasilkan foto yang bagus dan sempurna. Karena itu pula mereka yang sudah memiliki kamera yang cukup mahal, biasanya tidak pernah mengusahakan perbaikan pada foto yang dihasilkan kamera tsb.  Apakah sikap seperti itu benar? Saya berpendapat bahwa justru perbaikan pada foto yang terjadi setelah keluar dari kamera, yang menjadikan foto itu bagus bahkan sempurna. Sebetulnya ini sudah lama demikian dari zaman kita memakai film. Foto yang bagus dihasilkan setelah perbaikan pada waktu pembuatan print di kamar gelap.

Perkecualian adalah foto dia /transparency yang tidak bisa diperbaiki lagi. Dewasa ini komputer merupakan kamar gelap kita. Dahulu tidak mungkin menghasilkan foto yang sempurna tanpa kamar gelap, dewasa ini tidak mungkin tanpa komputer dan perangkat lunak yang canggih.

Dewasa ini jauh lebih banyak orang memotret karena ada telpon genggam, tablet dlsb.nya. Sering juga saya bertemu dengan mereka yang setelah membeli kamera, komputer, printer yang mutakhir juga mengharapkan hasilnya dengan sendirinya akan mutakhir. Kan peralatan merupakan unsur yang paling penting? Kebanyakan mereka itu tidak membuat print sendiri. Apalagi pembesaran untuk digantung pada dinding. Biasanya begitu keluar atau dari kamera dikirimkan ke teman-teman lewat internet, beres…

Mereka seringkali tidak sadar bahwa fotonya sebenarnya masih harus diperbaiki untuk menghasilkan suka cita yang jauh lebih besar untuk selamanya.

Mengapa foto harus diperbaiki?

Dewasa ini banyak sekali ditulis dan dibaca serta dipamerkan foto yang dianggap “Fine Art Photography”.  Jumlah situs, buku dan majalah meludak. Sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Setelah PD2 banyak orang melakukan pembesaran foto dengan kertas hitam-putih. Bermalam-malam mereka tinggal di kamar gelapnya.

Kemudian tahun enampuluhan muncul pembuatan foto berwarna. Baru saja proses berwarna mau dijadikan mudah untuk menggantikan hitam putih, ketika era digital menerjang kita semua berbarengan dengan internet.

Dengan era digital, perbaikan foto mencapai suatu puncak yang sangat tinggi. Dengan komputer kini kita bisa memakai “profil lensa” dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ada pada suatu lensa. Kesalahan seperti aberasi kromatis yang menghasilkan pinggiran merah atau hijau bisa ditiadakan. Gambar gedung yang pada “berjatuhan” bisa diluruskan seakan akan menggunakan kamera teknis dengan kemungkinan koreksi lensa. Dengan satu /beberapa foto yang ditumpuk bisa dilakukan perbaikan gradasi sehingga membuat foto ‘High Dynamic Range’ menutupi kekurangan sensor kamera. Dan itu semuanya tanpa kamar gelap berkat komputer dan perangkat lunak.

Tetapi marilah kita memperhatikan beberapa aspek. Sebaiknya kita mulai dari foto dengan format RAW. Format ini seperti suatu negatip film zaman dahulu tetapi dengan jauh lebih banyak kemungkinan. Banyak orang salah mengerti mengira bahwa nasib suatu foto sudah ditentukan dengan jepreten di kamera. Dengan dasar itupun mereka berasumsi bahwa semakin mahal kameranya semakin mutakhir hasilnya. Dalam beberapa hal memang asumsi mereka benar: kamera murah yang hanya bisa memakai format JPEG mempunyai suatu kendala. Tetapi format JPEG pun bisa diperbaiki lihat saja di bawah.

perbandingan01

foto-foto jpeg dibuat dengan kamera murah, foto kanan setelah koreksi dalam Lightroom 4

Perbaikan foto

Perbaikan foto seringkali bisa dilaksanakan dengan perangkat lunak yang sederhana dan tidak mahal bahkan gratis (biasanya ditawarkan sebelum mengupload foto ke situs sosial.) Banyak orang mengira bahwa setelah mengupload semuanya beres. Kenyataannya setiap monitor mempunyai warna yang lain. Coba lihat saja foto anda di monitor orang lain. Seringkali warnanya akan lain. Demikian pula di toko TV meskipun merknya sama, warnanya seringkali berbeda. Karena itu sebaiknya sebelum memperbaiki foto, kita melakukan terlebih dahulu apa yang dinamakan kalibrasi monitor. Biasanya monitor yang baik ada kemungkinan penyetelan /penyesuaian warna. Kalibrasi sebetulnya terdiri dari beberapa tindakan seperti:

1. memasukkan foto tes khusus ( boleh format jpeg) ke dalam komputer

2. usahakan supaya bisa terlihat di monitor.

3. sediakan foto tes tsb. dalam bentuk cetakan (offset atau print) untuk dibandingkan dengan gambar di monitor.

4. sesuaikan penyetelan monitor agar foto di monitor hampir sesuai/mirip warnanya dengan yang di tangan. 100% sama, tidak mungkin, karena monitor meneruskan cahaya dan cetakan memantulkan cahaya, tetapi serupa atau hampir sama seharusnya bisa.

Baru setelah kalibrasi ini kita bisa mengadakan perbaikan di monitor. Tanpa kalibrasi kita hanya buang waktu.

Apakah memperbaiki foto sama dengan manipulasi foto?

Dengan manipulasi dimaksudkan “mengencangkan kulit” atau menghapus/menambahkan sesuatu. Dengan memperbaiki dimaksudkan apa yang bisa dilihat sendiri di halaman ini. Hasil foto seringkali perlu mendapat bantuan, koreksi, perbaikan agar mendekati pandangan mata kita. Sebenarnya kalau kita motretnya selalu pakai tripod dan selalu pelahan memakai alat pengukur cahaya banyak unsur perbaikan bisa kita lakukan sembari membuat foto. Langit yang sinarnya terlalu kuat bisa ditampung dengan memakai filter polarizer atau filter gradasi. Bayangan yang terlalu gelap bisa disinari.

Hal-hal ini lazim dilakukan waktu membuat film karena memperbaiki setelahnya akan terlalu mahal. Karena itu selalu seorang pembuat film diikuti crew penyinaran. Yang mahapenting dalam perbaikan adalah agar warna-warna memang betul sebagaimana aslinya kemudian juga kontras dan ketajaman gambar.

Ada suatu cara yang mudah untuk mengetahui apakah imbangan warna suatu foto itu sudah benar. (Sayang tidak selalu bisa dilakukan). Carilah suatu permukaan dengan warna putih. Bila dalam usaha perbaikan bidang itu dibuat putih bersih maka warna yang lainpun akan optimal  untuk foto itu. Warna yang paling sulit dan penting ternyata hitam dan putih. Karena itu pula pemotret professional selalu mengikut sertakan foto dengan bagian hitam putih yang standar untuk dijadikan pedoman kalau kemudian memperbaiki foto.

Memakai perangkat lunak yang canggih seperti Photoshop atau Lightroom dengan demikian banyak kemungkinan penyetelan akan makan waktu banyak sekali untuk membicarakan apalagi mempelajari dan belajar menggunakan, tetapi satu prinsip yang perlu kami utarakan. Perangkat lunak yang baik bekerjanya sbb:

Hanya menambahkan perbaikan pada suatu gambar, tanpa mengubah sedikitpun gambar aslinya. Dengan Lightroom misalnya mungkin lima tahun setelah saya memotret dan memperbaiki, kepandaian saya bertambah atau pendapat atau selera saya lain dan saya tetap bisa memperbaiki gambar asal mula yang tersimpan. Atau saya bisa membuat versi lain.

Dengan Photoshop yang jauh lebih canggih, bila saya memperbaiki dan menyimpan, gambar orisinil akan diubah untuk selamanya. Karena itu setiap perbaikan harus disimpan dengan nama baru. Saya selalu mulai dengan Lightroom dan baru bila perlu, membuat kopi, masuk dalam Photoshop dan akhirnya menyimpan dalam Lightroom sebagai versi baru.

perbandingan02

perbandingan03

perbandingan04

perbandingan05

Dari atas ke bawah, dua foto yang kemungkinan besar akan dibuang dan dua foto yang sering dianggap memuaskan…Foto-foto sebelah kiri sebagaimana keluar dari kamera Canon 5D mark II dalam format RAW kemudian diimpor ke dalam Lightroom 4. Foto-foto sebelah kanan setelah dikoreksi dengan Lightroom… Dari atas ke bawah: Suaka alam,Weerribben, NL; Kolam ikan, Semarang; Penonton parade, Hongkong; Pinggiran hutan, Schwarzwald, Jerman

Mencetak dengan printer sendiri

Tahun-tahun terakhir ini mengalami banyak kemajuan, terutama di printer ink-jet, satu-satunya pilihan yang tepat karena telah maju dengan langkah pesat. Di Indonesia banyak perusahaan sudah menawarkan membuatkan pembesaran dengn kwalitas yang rupanya baik. Namun kita harus berhati-hati yaitu jangan sampai monitor kami warnanya lain dengan monitor perusahaan tadi. Apalagi kalau harganya cukup berarti. Bicarakanlah yang cermat langkah persiapan sebelum memesan dan kecewa.

Apabila mengeprint dengan printer inkjet sendiri maka perhatikan agar memakai kertas yang baik dan tersedia profil warnanya (biasanya disediakan untuk printer anda di situs pabrik kertas). Bila monitor sudah

dikalibrasi kita masih harus menjembatani perbedaan warna yang ditimbulkan oleh tipe dan merk printer serta tipe dan merk kertas. Itu semua dilakukan dengan suatu profil warna (istilahnya “canned” karena sudah dibuatkan oleh pabrik kertas) yang kita masukkan dalam Operating System komputer. Kemudian akan muncul dalam misalnya Lightroom waktu print dari Lightroom dan hasilnya adalah bahwa print hampir serupa dengan gambar di monitor. Ini penting karena baik waktu, tinta maupun kertas sangat berharga dan kita tidak bisa menduga bagaimana hasil printer tanpa profil warna. Bagi yang menginginkan derajat kesempurnaan yang lebih tinggi bisa membeli spectrophotometer dan membuat semua profil sendiri. Tidak perlu rasanya kami sebutkan bahwa kita tidak bisa menghemat dan menggunakan tinta yang tidak asli kecuali kita bisa membuat profil warnanya sendiri.

Bila kita memakai printer yang baru dan terbaik dalam klasnya misalnya printer PRO 1 dari Canon yang memakai 12 cartridge (lima warna untuk hitam putih) dan type ‘pigment’, bukan seperti kebanyakan type ‘dye’, foto bisa disimpan sampai 200 tahun memakai kertas tertentu. Tergantung pula penyimpanan dan bahkan penyentuhan sebelum dan setelah print (sebaiknya pakai sarung tangan dan seluruh bahan tidak mengandung asam). Di Eropa dan AS (Asia?) ada banyak pilihan kertas dengan nama a.l. Moab dan Hahnemühle dan Ilford. Ketika saya pertama kali menggunakan Canon Pro 1 dengan kertas Hahnemühle, itu merupakan suatu pengalaman yang luar biasa. Satu-satunya yang saya bisa katakan adalah ”harus dilihat dengan mata sendiri”. Hahnemühle juga membuat album yang bisa diisi dengan kertas yang bisa diprint dua muka. Definisi tajam, bagus dan asli masih kurang. Banyak pengamat kemudian mengatakan seperti membuka jendela di dinding dan melihat gambar alam. Kertas mat Hahnemühle ternyata kontrasnya luar biasa besarnya hampir seperti monitor.

Tidak kalah dengan kertas kilap. Ternyata proses pengeringan juga memainkan suatu peranan yang sangat penting. Baru kalau suatu print sudah samasekali mengering baru bisa dikatakan selesai. Bagaimana dengan iklim tropis di Indonesia? Mungkin sebaiknya ditanyakan para ahli di Arsip Nasional.

Kesimpulan terakhir

Ternyata dari praktek, sulit membedakan antara gambar yang telah diperbaiki dengan sempurna dan dibuat dengan misalkan kamera 6 juta atau 30 juta rupiah. Lebih mudah membedakan hasil printer di bawah satu juta dengan printer wahid 10 juta. Dari praktek ternyata, printer murah tidak bisa memberikan resolusi atau warna yang sepadan. Ini tidak bisa ditawar.

perbandingan06

Dan jangan lupa untuk mengecek apa ada profil warna yang tersedia di situs pabrik kertas untuk printer tsb. Ingat! Printer dengan 12 cartridge lain hasilnya dengan printer dengan 4 cartridge. Apalagi apabila gambarnya hitam putih.

Konklusi kami lebih baik kombinasi kamera bawah/menengah dan printer top daripada kebalikannya.

Tidak diperkenankan menggunakan dalam arti yang seluasnya, foto-foto di semua halaman tanpa izin penulis, © Bo Logiantara

 

6 Comments to "Salah Pengertian Fotografi"

  1. Rismapurnamaa  14 May, 2013 at 09:34

    pake kamera hape juga bisa bagus, asal fokusnya pas, dan anglenya juga dapet

  2. Dj. 813  1 April, 2013 at 18:27

    Maaf lupa mencantumkan photonya.

  3. Dj. 813  1 April, 2013 at 18:26

    Pak Bo Logiantara…
    Terimakasih untuk saran-sarannya.
    Entah apa satu kebetulan, karena pagi hari ini,
    Dj. sedang diskusi dengan istri, dimana dia ambil photo bunga dengan pocket kamera.
    Dan Dj. ambil dengan Nikon D4.
    Tapi hasilnya, jepretan istri dengan pocket kamera jauh lebih matab….
    Hahahahahahahaha…..!!!
    Ini salah sati jepretam istri yang Dj. anggap cukup bagus daripada jepretan Dj. punya.
    Tapi juga tanpa perbaikan, jadi asli.
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  4. J C  1 April, 2013 at 16:06

    Pak Bo Logiantara, terima kasih untuk tips dan uraian lengkap seperti ini. Kalau saya masih “tradisional” seleksi foto dan dibawa ke tempat cetak, belum sampai tahap cetak sendiri…hehehe…

    Tapi memang benar, di kantor yang dulu, standard printer adalah Laser Color HP. Saya coba print beberapa foto dengan kertas biasa saja, sampai sekarang sudah 5 tahun lebih masih bagus sekali dan tidak pudar warnanya…

    Jaman masih dengan negatif, saya pernah juga eksperimen warna dengan foto pakai film slide yang dicetak berwarna, hasilnya unik menurut saya, warna-warna yang dihasilkan sangat spesifik dan unik sekali…kalau sekarang dengan software, gampang sih untuk bikin nuansa warna seperti itu…

  5. Handoko Widagdo  1 April, 2013 at 15:39

    Terima kasih untuk tips-tipsnya Bo Logiantara

  6. Linda Cheang  1 April, 2013 at 11:36

    ya, iya, lah, kalau tanpa olahan lagi, mana mungkin foto-foto yang aku hasilkan bisa “berbicara lebih keras” , apalagi aku belum mampu beli kamera canggih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.