Mengawini Sepi

Atra Lophe

 

Cintanya masih saja mekar. Pancarannya menawan dari pelupuk mata. Juga agung dari balik hatinya yang teduh. Ia masih saja diam.  Bibirnya terkatup rapat, pita suaranya terkunci. Hanya sesekali ia tersenyum lewat matanya yang teduh.

Pencarian  belum juga selesai. Apalagi setelah cinta itu berusaha dikuburnya dalam sepi.  Tak ada jawaban lagi untuknya. Mungkin hanya bersama sepi ia merajuk kebersamaan.  Bersama dalam sepi adalah keabadian. Kegaduhan tak lagi dirisaukannya. Apalagi hiruk pikik tentang harga bawang, tak bisa mengusiknya sedikit pun.

Prosa selalu menyediakan makna terdalam, katanya. Juga puisi masih memikat.  Sebab kerjaan para penyair telah menghipnotisnya untuk terus bermelankolis.  Apalagi ia merasa puisi-puisi sang penyair telah bercerita  mewakili seluruh pengalamannya. Mendayu-dayu  dan beromantika mengenang suatu masa.  Masa yang telah merampok hampir seluruh cerita hidupnya. Tentang cinta yang tak terbalas.

Namun kali ini ia memberanikan diri tuk menyapa para filsuf.  Dengan pikiran-pikirannya yang menggelitik. Melihat dunia ini sejak ia berada dalam kandungan. Bahkan telah diprediksi  akhir dari perjalanan hidup. Ia menggauli setiap teori. Mengawini setiap pemikiran dengan pengalaman. Mengurai  dengan bahasanya sendiri untuk kemudian disimpulkan. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk dirinya dan sepi.

Batin bergejolak mencari jawaban.  Tentang  cinta yang masih saja mekar. Pada siapa dan untuk siapa, ia berusaha tuk tidak bergeming.  Akal semakin terombang-ambing. Pemikiran-pemikiran telah membuka wawasannya.  Puisi-puisi telah mendamaikan hatinya. Tetapi tetap saja bibirnya terkunci.

Ia tidak lelah tetapi  memutuskan berhenti.

“Mengapa harus membiarkan akal terombang-ambing  menyoalkan harkat ke-kita-an dalam harkat ke-aku-an?”

Ia tertidur bersama sepi.  Dan malam menghadirkan mimpi; Ia mengawini sepi.

loneliness

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

13 Comments to "Mengawini Sepi"

  1. Dewi Aichi  3 April, 2013 at 01:30

    Komen no 9, Alfred…ahhhhh….saya tau juga tempat itu kok….tapi kenapa dibikin sepi? Akhirnya terpaksa mengawini sepi..

  2. alfred tuname  3 April, 2013 at 00:19

    mba Dewi, komen no 6… saya tahu tempatnya itu mba… sepi banget mba…. hahahhahha

  3. Linda Cheang  2 April, 2013 at 22:39

    duh, bahasanya… njlimet..

  4. J C  2 April, 2013 at 20:56

    Hanya Kang Anoew yang dengan jelas bisa menginterpretasikan dan menerjemahkan antara isi artikel dan ilustrasi…

  5. Dewi Aichi  2 April, 2013 at 17:47

    Makanya kalau cinta sedang mekar mekarnya, harus segera mencari tempat untuk meletakkan cinta itu, sebelum layu .

  6. Dewi Aichi  2 April, 2013 at 17:45

    Daripada mengawini sapi he he…

  7. Handoko Widagdo  2 April, 2013 at 17:41

    Apakah karena takut kegagalan, sehingga harus mengawini sepi?

  8. Dj. 813  2 April, 2013 at 14:04

    Atra….
    Mungkin saat Nyepi di Bali ya…???
    Salam,

  9. Anoew  2 April, 2013 at 13:14

    waaah kasihan, mengawini sepi… saking sepinya, sampai tumbuh rumput (nggak kelihatan) dan bunga di antara kedua pahanya ckckckck…

  10. James  2 April, 2013 at 11:56

    SATOE, Sepi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.