Tembak di Tempat (22)

Endah Raharjo

 

Terang lampu, denting peralatan logam, kecipak air, dan gerakan-gerakan tubuh seseorang membangunkanku. Aku menguap keras. Kudengar suara perempuan menahan tawa. Lalu suara lelaki mengucap selamat pagi.

Seorang perawat sedang membersihkan badan Rudi. Aku baru memperhatikan ada tirai terpasang di dinding yang jika ditarik akan memisahkan sofa dengan tempat tidur pasien.

“Tim udah keluar,” suara Rudi dari balik tirai.

“Kamu lagi dimandiin, ya?”

Rudi tertawa bersamaan dengan suara tirai kain putih yang disibak. Tangan perawat itu menyematkan tirai kembali ke dinding. Ia menyapaku, menanyakan tidurku.

Sebelum perawat bertubuh ramping berwajah sehalus pualam itu selesai mengemasi perlengkapannya, dua orang perempuan masuk ke kamar. Salah satunya berseragam perawat, mendorong kereta saji. Wangi roti segera menyerbu hidungku. Perempuan satunya lagi, mengenakan setelan jas warna kunyit dan berkacamata, membawa karangan bunga sambil menyampaikan permintaan maaf karena divisinya tidak tahu bahwa kami sahabat baik Mister Rittinondh.

“Kami akan menyajikan sarapan, makan siang, dan makan malam untuk semua tamu Anda. Silakan hubungi 115 bila memerlukan pelayanan lain,” ujar perempuan berjas warna kunyit, dengan bahasa Inggris yang cukup baik. Karangan bunga ia letakkan di meja makan. Tangannya memberi isyarat agar si perawat mendekatkan kerata saji ke meja makan.

“Thank you very much,” ujar Rudi, mengangguk. Aku ikut mengangguk sambil tersenyum. Si perawat menawarkan diri untuk menata makanan ke atas meja namun kutolak dengan halus. Kemudian mereka bergantian mengucap terima kasih, meninggalkan kamar sembari menebar senyuman.

“Wah. Serasa di surga,” seru Rudi terkekeh.

“Tim pergi jam berapa?” tanyaku.

“Sekitar jam 6 tadi.”

Kutengok arloji. Pukul 7.10. “Dia bilang pergi ke mana?”

“Apa dia pernah bilang?” Rudi ganti bertanya. “Aku akan mulai terapi jam 9. Termasuk belajar jalan pakai kurk. Ini prosedur. Sebenarnya aku bisa langsung praktek di sini,” kata Rudi.

“Sudahlah. Diikuti aja.”

“Apa aku kedengaran ngeluh?”

“Kamu kedengaran bahagia,” godaku, “kamu kan di surga.”

“Tapi pagi ini cuma ada 4 bidadari, harusnya ada belasan ‘kan?”

“Bidadari yang ini harus gosok gigi dan butuh mandi,” sambutku, masuk ke kamar mandi, meminta Rudi menunggu sebentar untuk kubantu sarapan.

***

Terdengar ketukan di pintu. Kuintip dari lubang. Fat. Saat kubuka pintu, hal pertama yang hendak melompat dari mulutku adalah pujian untuk penampilannya. Namun aku hanya membalas salamnya, seraya terpukau oleh gaun terusan mini berbahan kulit warna abu-abu yang membalut tubuh ramping-berototnya.

Today’s paper, Miss,” ia asongkan koran, mengangguk, lalu berbalik. Ankle boot berhak 3 cm yang membungkus kakinya membuatku menunda menutup pintu kamar. Aku yakin perempuan itu tahu kalau aku selalu mengagumi penampilannya. Namun sayangnya ia jelas-jelas menunjukkan rasa enggan bicara. Mungkin itu juga ada dalam SOP-nya: dilarang bicara dengan orang yang dijaga.

“Hmmm… pasti ini beritanya. Di halaman depan bawah.” Kugelar koran di atas meja makan. “Nih… tanpa gambar.” Kutunjukkan koran itu pada Rudi.

Drunken tourists attacked a 3-star hotel.” Rudi membaca judul berita. “Bacain,” pintanya.

Aku tertawa. “Katanya ada dua turis Afrika mabuk berat, bermain senjata milik temannya, orang lokal, menembak dengan acak dan membuat onar. Polisi sudah mengamankan mereka dan akan mengusut asal-usul senjata. Cuma itu. Semua nama dengan inisial,” jelasku. “Aduh! Kasihan orang Afrika,” seruku, melipat koran. “Mengapa bukan turis Spanyol, Jepang, Belanda, Perancis, atau Indonesia?”

“Mungkin Afrika yang melintas di kepala negosiatornya. Atau… udahlah,” Rudi mendengus. “Nggak usah dibahas. Kalau punya uang dan kekuasaan, semua yang berada di muka bumi bisa diatur.”

Welcome to the world,” tukasku, menengok kereta saji. “Mau nambah? Ini ada macam-macam. Pancake-nya kayaknya enak banget. Mau?”

Mereka melimpahi kami dengan makanan: pancake, nasi goreng vegetarian, pad thai sayur, French toast, beberapa potong croissant dan muffin, irisan buah, satu jug jus jeruk, dua cangkir coklat, plus beberapa potong butter, selai stroberi, dan sepiring irisan keju Belanda aneka rasa.

Rudi menggeleng. “Kenyang,” katanya.

“Gimana nggak kenyang. Nasi goreng, coklat kentel, dan tiga biji muffin kamu sikat,” kataku.

“Kamu udah mutusin mau pulang kapan?” tanyanya, suaranya berubah serius.

Buru-buru kukemasi peralatan makan, kutata kembali di kereta saji bersusun dua beroda empat itu. Kucuci tangan sebelum kembali duduk. “Besok? Lusa?” ujarku ragu-ragu, “aku mau bareng kamu aja. Bisa bantu-bantu.”

“Kalau jadi repot, nggak usah.”

“Aku mau bantu kamu, Rud. Kamu selama ini udah sering bantuin Mbak Nia. Lagian aku juga butuh teman. Pasti nggak enak kalau pulang sendirian setelah semua yang kita alami.”

“Aku… ummm… aku salut kamu udah mau membuka diri soal kejadian itu…” Rudi ragu-ragu. Aku tahu yang dia maksudkan: perkosaan – meskipun gagal. “Nia udah lama cerita ke aku.”

Aku mengangguk. “Aku udah ngira. Aku juga tahu kalau Mbak Nia sering cerita ke kamu tentang kekuatirannya, kalau aku trauma, kalau aku jadi nggak mau nikah.”

“Ya.”

“Ini bukan perkara trauma. Setelah peristiwa itu aku memang jadi sulit banget suka sama laki-laki. Maksudku jatuh cinta. Sementara aku hidup di lingkungan yang nggak bisa nerima orang yang menjalin hubungan tanpa nikah. Jadi, yaaa…. Untung Bapak dan Ibu bisa ngerti kalau aku menikmati hidupku dan terutama pekerjaanku. Kalau cuma orang-orang yang pada usil, sih… nggak aku dengerin.”

“Suatu saat pasti kamu akan bertemu orang yang tepat.” Ia tersenyum tulus. “Ehm… anu… Ronn itu… dari cerita-ceritamu dan olok-olok Tim, kayaknya dia suka sama kamu. Jangan-jangan dia jatuh cinta.”

Lengkingan tawaku pasti bisa terdengar di sepanjang lorong. “Suka dan cinta itu seperti bulan dan matahari, sama-sama bersinar tapi intensitas dan efeknya beda.”

Kini ganti Rudi yang tertawa. “Nurutku itu pertanda baik kalau kamu suka sama seseorang. Artinya kamu udah bisa kembali membuka hati. Perkara dia udah berkeluarga itu hal lain. Suka sama orang kan nggak harus menjalin hubungan”

“Tumben kamu banyak bicara,” kelitku, enggan bicara soal Ronn. “Kamu sendiri? Kamu nggak pernah cerita tentang pacarmu.”

Ia membuang napas, minta tolong untuk menaruh bantal di bawah lipatan tungkainya. Kulihat arloji, masih sekitar 20 menit sebelum perawat datang menjemput Rudi untuk terapi.

“Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang pacarmu?”

“Aku belum punya pacar. Tidak memikirkan itu. Sama sekali. Jelas bukan karena trauma atau hal-hal semacam itu.”

“Pasti ada alasannya.”

“Semalam kita baru ngomongin soal melakukan sesuatu tanpa alasan sama sekali.”

“Yang ini beda. Mbak Nia nggak mau cerita tentang kamu.”

“Kamu nggak nanya-nanya?”

“Kami akhir-akhir ini jarang ngobrol, apalagi setelah dia punya anak,” kulirik Rudi yang mulai gelisah.

Ia menjangkau kameranya, menyalakannya, melihat-lihat hasil jepretannya semalam saat kami memburas bertiga. Katanya foto-fotoku berdua Tim bagus sekali.

Rudi memang tidak suka membicarakan dirinya. Namun kami berada di kamar hanya berdua dan punya banyak waktu menunggu sampai kami pulang. Aku juga tidak ingin membahas pekerjaan karena firasatku mengatakan Tim akan disuruh mundur dari jabatannya.

“Kamu udah tahu alasanku tidak punya pacar. Tapi kamu? Kita udah cukup lama berteman, juga kerja bareng. Kayaknya nggak fair kalau kamu nggak ngasih tahu.”

“Tanya Nia aja. Ya?”

“Mbak Nia cuma bilang kalau kamu ingin punya kebun mangga….”

“Oh. Itu….” Rudi tertawa. “Ya. Aku memang ingin punya kebun mangga. Tapi antara pacar dan kebun mangga nggak ada hubungannya.” Dia melucu.

“Kupikir kamu ingin segara membangun rumah.”

“Aku pasti akan membangun rumah meskipun belum berkeluarga.”

“Okey! Udah hampir jam 9. Kamu sebentar lagi diterapi.” Kusudahi saja pembicaraan yang tak berujung-pangkal itu.

“Tadi Tim bilang apa?” tanyanya. Obrolan kami memang diselingi telepon dari Tim.

“Fat akan mengantarku ke kantor Ronn. Jam 9.”

“Oh?” Mata kirinya mengerling, mulutnya menyeringai.

“Hey. Aku memang punya urusan dengan dia!” sengitku.

Whatever….” Kini lidahnya menjulur.

Buru-buru kubuka koper, kuambil celana jeans dan blus katun putih lengan panjang, lalu aku masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.

***

Fat memarkir sedan merahnya di salah satu sisi bangunan 21 lantai tak jauh dari stasiun Asok – stasiun tempat bertemunya skytrain jalur Sukhumvit dan MRT. Area parkirnya bertanda khusus dengan gardu khusus juga. Penjaga gardu tampaknya hapal dengan sedan merah dan pengendaranya.

bangkok-street

Sebenarnya aku ingin sekali naik skytrain dari rumah sakit ketika Fat menyebut nama gedung tempat Ronn berkantor. Namun ia tak mengijinkanku. Katanya ia bertanggungjawab atas nyawaku.

Berada di kamar rumah sakit selama hampir 24 jam membuat sesak napas. Kupikir berjalan menyusuri trotoar kota Bangkok – yang penuh asap kendaraan dan debu jalanan itu – akan menyadarkanku bahwa aku benar-benar masih bernapas, masih hidup, masih normal.

“This way, Miss.” Fat menyilakanku berjalan di depannya. Aku menahan keinginan untuk bertanya tentang sepatu-sepatunya yang keren dan terlihat amat nyaman itu.

Kami menuju lift berpintu khusus yang dijaga lelaki berseragam, berkacamata hitam, dan bertopi. Selain wajah kakunya bisa kulihat juga tonjolan di punggungnya. Dia menyandang senjata, pikirku. Telunjuk tangan kanannya yang kokoh dan berhias cincin perak bermata kepala ular itu menekan huruf P. Sebelum pintu lift tertutup, ia menganggukkan kepala. Tak bisa kulihat matanya tertuju padaku atau Fat.

Bangkok-Traffic-street

Kantor Ronn ada di griya tawang. Kulirik tombol-tombolnya hanya ada beberapa saja. Mungkin ini lift khusus untuk Si Petani Nanas, batinku, atau lebih tepatnya Sang Pangeran Giok.

Lift berhenti dan pintu terbuka. Aku menyelingar melihat lelaki yang sedang kupikirkan itu tahu-tahu sudah berdiri tegak hanya 3 meter di depanku.

Hello… good morning. How are you my dear friend?” Ia buka dua lengannya. “I’ll take care of her now, Fat. You may go back down. Thank you,” katanya dengan mata tetap mengawasiku. Mungkin ia heran melihat kumuhnya penampilanku.

*****

 

8 Comments to "Tembak di Tempat (22)"

  1. anoew  4 April, 2013 at 17:34

    Kalau melorot, berarti ditulis di seri berikutnya. Lebih panassss… Judulnya BH Mia di depan Ronn

  2. Lani  4 April, 2013 at 01:56

    ER : wah ketinggalan baca seri ini……..kok iso ketlingsut………..plg tdk msh sempat dan hrs baca……..krn spt yg sll disebut-sebut lurah Baltyra sengkrang-sengkring……..pdhal dia dan kang Anuuuuuu sami mawon suka yg spt itu……sedut senut

  3. endah raharjo  3 April, 2013 at 15:04

    James… nomer satoe dapat piring cantik

    Kang Anoew: nggak semengkring, cuma sentrup-sentrup… muntup-muntup…

    JC: itulah, Juragan… Mia ini maju-mundur, maju kejedot, mundur moncrot, jadi ragu2 mlulu

    Mawar: lhaaaa… yg 23 berarti harus lebih panjaaaaang… ternyata Mawar suka yg panjang2 ya

    Kang Anoew: kalo dilepasin ntar melorot gimana?

  4. anoew  2 April, 2013 at 22:42

    Endah, tidak sabar menanti lanjutannya, apakah terjadi hal-hal yang diinginkan antara Mia dan Ronn? Hhhmmm

    Kang Josh tidak sabar menantikan BH-nya Mia ketinggalan, seperti dulu pas Mia lupa pakai BH

    Endah, ayo cepat lepaskan si Miaaaaaa…

  5. Mawar09  2 April, 2013 at 21:05

    Seri ke 22 ini kurang panjang, jadi penasaran bacanya. Ngga sabar menunggu minggu depan untuk tahu kelanjutannya. Terima kasih Endah !

  6. J C  2 April, 2013 at 21:00

    Kang Anoew, jelas sekali 2 alinea paling bawah itu bisa dirasakan adanya sedikiiiiittt mak-sengkring si Mia waktu melihat si Ronn…

    Entahlah kalau definisi mak-sengkring Kang Anoew berbeda, harus yang gamblang dan lugas seperti misalnya apa itu yang lepas dari si Mia waktu itu lho…

    Endah, tidak sabar menanti lanjutannya, apakah terjadi hal-hal yang diinginkan antara Mia dan Ronn? Hhhmmm…

  7. Anoew  2 April, 2013 at 13:21

    lhooo mana semengkringnya, semriwingnya? Ngapusi nih, Kang Josh…, katanya ada semengkringnya…

  8. James  2 April, 2013 at 11:53

    SATOE

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.