Desa Kradenan

Handoko Widagdo – Solo

 

Yen rendheng ora isa ndodok, yen ketiga ora isa cewok (Saat musim hujan tidak bisa jongkok, saat kemarau tak bisa cebok) begitulah penggambaran tentang Desa Kradenan, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, desa dimana saya dilahirkan dan dibesarkan, setidaknya sampai berumur 18 tahun. Ungkapan di atas menunjukkan betapa desa ini gersang dan miskin. Desa yang berbatasan langsung dengan hutan jati milik Perhutani ini memang tak tersentuh pembangunan setidaknya sampai dengan tahun 1975. Desa yang menjadi basis PKI seakan dihukum oleh Pemerintah Orde Baru sehingga tidak dijamah pembangunan selama 10 tahun.

kradenan01

Sebenarnya, Desa Kradenan pernah menjadi bagian sejarah kerajaan di Jawa. Setidaknya, secara mitologi, kerajaan pra Medang, atau yang lebih sering disebut Medang Kamulan (Medang permulaan) diyakini berada di sekitar Desa Kradenan. Nama Kradenan sendiri konon berasal dari Raden – tempat para Raden berada.

Pada jaman Mataram Kuno, demikian cerita lain yang pernah saya dengar, pernah hidup seorang empu yang bernama Empu Supo yang bisa membuat keris yang sakti madraguna. Empu Supo adalah salah satu empu kerajaan Mataram Kuno.

Adanya Bledug Kuwu yang merupakan sumber garam di tengah-tengah Pulau Jawa membuat Kradenan berperan penting pada jaman Mataram Kuno. Beberapa China didatangkan ke Kuwu untuk mengelola tambang garam. Sebuah Klenteng masih berdiri di dekat Bledug Kuwu. Klenteng ini membuktikan bahwa orang China sudah cukup lama menghuni Kecamatan Kradenan.

Pada jaman Belanda, Desa Kradenan tidaklah begitu penting, selain menjadi sumber kayu jati. Untuk mengangkut kayu jati tersebut, pada tahun 1898 dibangunlah jalur kereta api yang menghubungkan Kradenan dengan Wirosari terus ke Purwodadi. Jalur ini kemudian bukan hanya menjadi alat transportasi kayu, tetapi juga menjadi sarana distribusi barang kelontong. Keluarga kakek saya memanfaatkan kereta api ini untuk mendatangkan barang-barang kelontong ke Wirosari, Kuwu dan Kradenan; serta membawa barang-barang hasil bumi dari Kradenan ke Purwodadi. Belanda juga membangun saluran irigasi yang memanfaatkan Waduk Nglangon yang berada di tepi hutan jati.

Perusahaan Kereta Api dan Perusahaan Kayu Jati (Perhutani) berperan besar dalam kehidupan ekonomi Desa Kradenan. Elite desa kebanyakan berasal dari kedua perusahaan tersebut. Stasiun Kradenan adalah stasiun utama yang dipimpin oleh kepala stasiun atau sep. Selain stasiun, di Kradenan juga ada depo yang dipimpin oleh sinder depo. Depo adalah bengkel untuk pemeliharaan dan perbaikan loko, gerbong serta rel kereta. Sedangkan Perhutani di Desa Kradenan dipimpin oleh seorang Ajun (kepala perwakilan) dengan sinder hutan dan matri kering. Mereka-mereka ini kebanyakan bukan orang asli Kradenan. Mereka ditugaskan oleh perusahaan untuk memimpin kedua perusahaan tersebut. Sebagai orang-orang terpelajar dan mempunyai jabatan, mereka sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial ekonomi Desa Kradenan.

Pada jaman engkong dan papa saya, perdagangan didominasi oleh keturunan Arab (keluarga besar Pak Jaenal) dan keturunan China (keluarga engkong saya). Hampir semua toko dan warung kelontong dikelola oleh keturunan Arab dan China. Hanya ada satu dua toko yang dikelola oleh keturunan Jawa. Sedangkan perdagangan hasil bumi hanya dijalankan oleh engkong, papa saya dan Ku Hok Tat, anaknya Kong Pun. Seingat saya –pada saat saya kecil, hanya ada dua toko yang dikelola oleh orang Jawa, yaitu toko Pak Rakino dan toko Pak Salim. Keduanya adalah mantan pegawai PJKA. Selain orang Arab dan Cina, terdapat juga suku Sunda yang berbisnis kerupuk dan tukang jahit.

kradenan02

Perubahan baru terjadi saat saya SMA, yaitu awal tahun 80-an. Saat itu beberapa pemuda Jawa mulai membuka toko dan berdagang hasil bumi. Mbak Tin –anak Pak Mardi (pegawai Perhutani) adalah orang pertama di desa kami yang mulai berdagang palawija. Mbak Tin adalah istrinya Mas Ngalim yang adalah seorang guru. Mula-mula Mbak Tin membeli gabah, jagung, kedelai dan palawija lainnya dan disetorkan kepada papa. Namun lama-lama dia menyetorkan sendiri dagangan yang dibelinya ke Kuwu dan Purwodadi. Setelah Mbak Tin, beberapa pemuda Jawa juga mulai berbisnis palawija di Desa Kradenan. Sejak generasi papa saya, tidak ada lagi keturunan China yang berdagang palawija di Desa Kradenan.

kradenan03

Pada tahun 1965, ketika terjadi peristiwa G30S PKI, banyak keluarga di Desa Kradenan yang terlibat. Ada yang terlibat karena menjadi anggota PKI, ada juga yang terseret hanya karena anut grubyuk saja; atau karena apes disebut namanya oleh orang yang sedang diinterogasi. Setahu saya keluarga Pak Jaenal dan Pak Kyai Rohmad adalah keluarga yang terbebas dari afiliasi dengan PKI. Bahkan Kepala Desa saat itupun ikut tersangkut PKI. Ketika operasi pembersihan PKI pada akhir tahun 1965 dan kemudian Operasi Kikis[1] pada tahun 1968 dilakukan, setidaknya terdapat 700 tahanan di Kecamatan Kradenan (Kuwu). Keterlibatan masyarakat menjadi anggota PKI merata di desa-desa di Kabupaten Grobogan. Akibatnya, setelah peristiwa G30S Kabupaten Grobogan seperti ditinggalkan. Orde Baru sama sekali tidak menyentuh Kabupaten Grobogan dengan pembangunan. Baru setelah Kolonel Soegiri menjadi Bupati Grobogan pada tahun 1975, pembangunan kembali bergulir.

Kini anak dan cucu Pak Jaenal telah banyak yang menikah dengan orang Jawa. Mereka masih terus berperan dalam perdagangan kelontong dan hasil bumi. Sementara keluarga engkong saya telah banyak yang meninggalkan desa Kradenan. Salah satu sepupu saya yang menikah dengan keturunan Sunda di desa saya, juga telah pindah. Hanya tinggal satu keluarga saja yang masih tersisa di sana. Saudara saya ini tidak lagi membuka toko atau berdagang palawija, tetapi membuka bengkel motor dan mobil.

 



[1] Operasi Kikis adalah operasi penangkapan anggota dan simpatisan PKI pada tahun 1968. Operasi ini dilakukan di bawah Komandan Komando Distrik (Kodim) 0717 Purwodadi dengan dibantu Batalyon 404 dan 409.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

52 Comments to "Desa Kradenan"

  1. sunyoto  3 April, 2017 at 08:21

    Cerita kenangan yang indah dan bagus, ada tulisan yang lain lagi koh ?

  2. mujahidin  30 March, 2017 at 18:48

    Perfek sekalu huda..saya jga ktrunan simbah subari dri simbah k.imam rozi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *