Es Campur dalam Kata (Dilema Pembelajaran Bahasa Jawa)

Dian Marta Wijayanti

 

Panas-panas paling segar memang minum es. Tapi es apa yang akan engkau pilih saat ini? Yupz, salah satu pilihannya adalah es campur. Es campur tidak hanya sebagai pengobat haus, namun es campur juga mampu dijadikan pengganjal perut. Pada kesempatan ini kita akan membahas es campur yang segar untuk diperbincangkan tapi resah untuk dinikmati. Fenomena ini hampir dirasakan oleh sebagian guru yang saya tanya. Kenyataannya es campur memang berlaku dalam bahasa pengantar pembelajaran Bahasa Jawa. Jika dahulu Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu berfungsi sebagai bahasa pengantar pembelajaran. Justru sekarang ini malah pembelajaran Bahasa Jawa membutuhkan bahasa pengantar tidak hanya di perkotaan namun juga di pedesaan.

language-learning

Kejadian ini tidak terjadi begitu saja. Guru tentu memiliki alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karakteristik siswa sangat memperngaruhi sampai terjadinya peristiwa ini. Kebanyakan siswa yang tidak paham penggunaan bahasa Jawa mau tidak mau membutuhkan jembatan bahasa yang lain untuk memahami materi yang diberikan oleh guru. Guru sebagai fasilitator memiliki peran untuk menciptakan pembelajaran Bahasa Jawa yang menyenangkan sehingga siswa dapat mencapai tujuan. Namun pada kenyataannya, tetap saja penggunaan bahasa Indonesia ikut bercampur dalam pembelajaran Bahasa Jawa ini. Bukan berarti guru tidak dapat berbicara Bahasa Jawa dengan baik dan benar. Namun, tanpa bahasa es campur ini siswa akan lebih kesulitan dalam mencapai kompetensi yang seharusnya dicapai.

sinau-basa-jawa

Peristiwa ini saya alami juga ketika berstatus sebagai guru PPL di salah satu SD negeri di kota Semarang. Beberapa kali saya mengajar Bahasa Jawa namun hasilnya kurang maksimal. Sebagai guru saya sudah mencoba untuk menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar. Pemilihan tembung-tembung (kata-kata) yang paling sederhana sudah saya gunakan namun siswa masih banyak yang bertanya

 “Bu, itu tadi artinya apa?”

“Bu, ngerjainnya pakai bahasa Indonesia saja ya”

Bahkan tidak hanya itu, rusaknya bahasa juga terlihat ketika mereka mencampuradukkan antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

“Bu, ngerjainnya ngeten?”

“Bu, kula ambek XXXXX mawon nggih”

Pemilihan bahasa lisan seperti tersebut di atas kadang tidak disadari ketika mendengarnya. Namun ketika sudah menghadapi bahasa tulis, berbagai bentuk es campur penggunaan bahasa sangatlah terlihat. Apa yang terjadi dengan bahasa kita?

Mari berbagi solusi ….

 

Note Redaksi:

Dian Marta Wijayanti, selamat datang dan selamat bergabung di Baltyra ya…make yourself at home, semoga kerasan dan ditunggu artikel-artikel lainnya. Pak Hand, matur kamsia sudah mengenalkan Baltyra ke DMW…

 

24 Comments to "Es Campur dalam Kata (Dilema Pembelajaran Bahasa Jawa)"

  1. Rismapurnamaa  8 May, 2013 at 15:44

    belum lagi di campur dengan bahasa alay, cius mi apah? **tepok jidat sambil koprol guling guling

  2. anoew  14 April, 2013 at 23:43

    hati-hati ya dengan paspampres…

    pengawal presiden, serem orangnya..

  3. Dian Marta Wijayanti  14 April, 2013 at 23:37

    Terima kasih untuk komen yang diberikan ya bapak-bapak dan ibu-ibu.
    Rasanya senang sekali bisa mendapatkan banyak teman baru disini.

  4. [email protected]  4 April, 2013 at 16:51

    HAYO!!!!!!……. kapan? yuk yuk… makan duren… ada disingapura kah?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.