Tirakat: Perjalanan Cinta Semarang – Jakarta Bolak-balik

Kang Putu

 

Tirakat, ayo tirakat!

Tirakat dari kata taraka, meninggalkan. jadi, ayolah: tinggalkan dan tanggalkan segala apa yang patut sampean tinggalkan dan tanggalkan. Terutama, jika sampean tahu benar: ketika sampean meninggalkan dan menanggalkan sesuatu, itu baik bagi kehidupan bersama.

– dan apa contoh sesuatu yang patut kita tinggalkan dan tanggalkan itu, Kluprut?

Bukankah elok jika koruptor tak lagi mencuri duit rakyat? Anggota parlemen tak tidur saat sidang. Atau, tidak pelesir ke berbagai negeri dengan alasan studi banding. Berhenti bikin janji yang tak bisa mereka tepati. Presiden berhenti mengeluh, lalu bekerja sebaik dan sekuat daya untuk kemakmuran dan keadilan seluruh warga negara. Tentara dan polisi tak lagi memuntahkan peluru yang dibeli dengan duit rakyat untuk mematikan daya kritis warga sipil lewat teror, lewat horor. Para pengusaha berhenti mencemari tanah, udara, air, dan mengingkari moralitas kemanusiaan, lalu gegap gempita berbuat kebajikan bagi sesama. Mahasiswa berhenti menjiplak, lalu menyelami dan mencari kebenaran lewat jalan keilmuan sepenuh seluruh untuk kemanusiaan. Para ulama dan kiai berhenti menjejalkan ayat tanpa berbuat, lalu mendatangi umat dan bekerja bersama dalam lapangan hidup yang nyata. Pedagang berhenti mencari laba semata-mata, lalu berjualan karena terdorong keinginan: tak mau melihat orang lain kelaparan dan telanjang. Petani berhenti meracuni tanah, lalu menanam benih yang menaburkan kesehatan bagi sesama. Seniman berhenti memuja dan memuji keindahan yang bisa terlepas dari kehidupan, lalu….

– setop, setop!

Berhentilah menganggap orang lain tak tahu, padahal kau tahu: kebohongan, keburukan, macam apa pun yang kaulakukan tak mungkin kausembunyikan selama-lamanya!


Sapalah dia, sambutlah dengan tawa…

 

Berjalan kaki dari Semarang ke Jakarta. pergi pulang. Bukan untuk menemui presiden, bukan untuk menjumpai menteri. Untuk tirakat!

Dia bakal menemu saudara di mana pun di sepanjang perjalanan: untuk bersama-sama menanam, menari, bernyanyi, berpuisi, menembang, serta melangitkan harapan dan doa — agar negeri ini segera terlepas dari kesengkarutan, segera terbebas dari belenggu penjajahan dalam segala rupa dalam segala wujud.

Lalu, mencatat dan mengabarkan kesaksian tentang segala apa yang tertemukan dalam perjalanan. menyentuh dan menyapa dengan cinta, dengan jalan cinta: menuju kebebasan, menuju kemandirian. Ya, mulai hari ini, Selasa (2 April 2013) selepas subuh tadi, itulah yang dilakukan sahabat saya, Kiai Budi I. Sampean, sahabat-sahabat saya, sahabat-sahabat dia: bersediakan menyapa atau dia sapa? lalu, bersama-sama menanam pohon seraya menyanyi dan menari? Menanam sambil menembang dan berpuisi….

kiai-budi-harjono

Kiai Budi Harjono, pengasuh pesantren Al-Ishlah, Bulusan, Tembalang, kota Semarang

 

Semarang-Jakarta Bolak-balik Cinta

Catatan Kiai Budi I, 13 Maret 2013 pukul 07:03

Sedulurku tercinta, mulai Senin Kliwon, 1 April 2013, saya mau jalan kaki bolak-balik: Semarang-Jakarta. Untuk apa? Untuk menemui siapa saja yang bisa saya temui, hanya untuk gerakan Cinta: bagaimana memilih pemimpin di semua tingkatan tidak memakai uang, tetapi dengan hati nurani masing-masing. Siapa mau ikut jalan kaki, silakan.

Upaya itu untuk –meminjam istilah Rendra — membangunkan rakyat yang tertidur: orang-orang harus dibangunkan! Aku jauhi sensasi. Namun kalau masih ada yang mencurigai, itu hak pribadi mereka. Saya relakan: amalku amalku, amalmu amalmu.

Kenapa ke Jakarta? Ya, di sana konon pusat dari kebijakan yang menjadikan bangsa ini: sengsara atau mulia. Sepanjang perjalanan, saya akan mampir ke suatu tempat yang bisa saya sapa, terutama adalah orang-orang paling papa di negri kaya-raya ini.

Hanya Allah yang saya dambakan, setelah itu Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Selebihnya adalah “menemani” orang-orang yang hancur hatinya, dengan menyapa mereka. Saya tidak punya apa-apa dan tidak bisa memberikan apa-apa kepada mereka, kecuali Cinta. Hanya Cinta yang tersisa di hati. Saya akan berjalan kaki sendiri, tetapi tidak “menyendiri”. Saya punya sedulur di seantero negeri penggalan surga ini. Akan saya sapa mereka sepenuh hati.

Dalam perjalanan ini, saya membawa senjata cakra bernama tari sufi — sebagaimana hidup ini bagai roda berputar atau cakra manggilingan. Memang menurut riwayat, tari sufi berasal dari Turki yang diperkenalkan oleh Syekh Maulana Rumi — murid Syekh Syamsuddin Tabris. Namun ada riwayat juga, ternyata Syekh Syamsuddin Tabriz adalah seorang pengelana dari Jawa. Itu tertulis dalam Serat Samsu Tabarit. Semua orang tak perlu kaget; lacak saja secara akurat soal ini.

Sepanjang perjalanan, saya akan ber-tawasul kepada siapa pun di alam malakut, untuk kebaikan negeri Indonesia. Adapun urusan alam nasut akan digerakkan oleh alam malakut – siapa pun itu, terserah kepada beliau-beliau itu. Bahasa kulturalnya, saya akan menempuh dua silaturahmi: silaturahmi rohani dan jasmani.

Tentang Indonesia, saya tidak perlu mbacot banyak-banyak karena sudah banyak pakar yang lebih mumpuni ngonceki masalah-masalah Indonesia. Bahkan semua rakyat sudah tahu: seperti apa nalar para pemimpin di negeri ini. Memang tidak semua buruk, tetapi lihatlah sendiri keadaan Indonesia dari berbagai bidang di berbagai wilayah — kita tak meminjam mata orang lain. Sikap saya ini jangan diartikan lain. Saya orang bodoh, hina, lemah, dan remeh. Anggaplah saya selaksa anjing yang kembali kepada sang tuan. Bagi saya, menjadi anjing saja teramat sulit karena anjing memiliki banyak kebaikan yang belum tentu saya miliki.

Dalam keberagaman saya yang awam ini hanya memahami bahwa Iman dengan segala cabangnya mesti dilakukan dengan berujung membahagiakan orang lain, siapa pun itu secara universal. Para ahli waris nabi tak sekadar duduk di menara gading majelis dan panggung. Mereka harus turun gunung untuk menciptakan masyarakat madani, periode gua di Makkah dan periode negara di Madinah harus diupayakan.

Kawan-kawan, yang tidak boleh saya lupakan dalam perjalanan ini adalah kain kafan, karena hidup dalam kepasrahan adalah memeluk Misteri; siapa tahu saya mati. Namun kematian di altar Cinta, terlalu lemah…. Barokallah!

 

10 Comments to "Tirakat: Perjalanan Cinta Semarang – Jakarta Bolak-balik"

  1. Dewi Aichi  4 March, 2014 at 00:36

    kang Putu ha ha…duh maklum ya….ngga rugi apa-apa ini…biasa dan banyak kita temui hal kayak gini disekitar kita…

  2. gunawan budi susanto  3 March, 2014 at 23:02

    kepada semua kawan baltyra, terima kasih atas tanggapan sampean. yang melakukan tirakat itu bukan saya, melainkan kiai budi (harjono). saya cuma menuliskan apa yang dia ceritakan dan lakukan.
    mas makmun agus suratno, terima kasih atas kritik sampean. ya, saya masih dan terus belajar; biar pinter. maafkan saya jika belum pinter, tetapi sudah berani menulis.

  3. Makmun Agus Suratno  1 March, 2014 at 22:31

    Koreksi. Tirakat dari kata thoriq. Artinya jalan. Sebelum menulis belajar dulu. Biar pinter

  4. Phie  4 April, 2013 at 08:16

    Siippphh, tinggal tunggu beritanya d tv, hehehheee
    SEMANGAT Ya Pak Kyai

  5. Sumonggo  4 April, 2013 at 06:08

    Sebuah kutipan dari Tombo Ati-nya Cak Nun dengan Gamelan Kyai Kanjeng:

    Kepada engkau yang menyimpan kesengsaraan dalam kebisuan
    Kepada engkau yang menangis dalam batin karena dikalahkan karena disingkirkan, diusir, ditinggalkan
    Atau sangat-sangat susah untuk ketemu dengan namanya keadilan
    Aku ingin bertamu ke lubuk hatimu saudara-saudaraku untuk istirahat sejenak
    Mengendapkan hati bernyanyi mengendapkan hati dan bernyanyi

    Saudara-saudaraku sesama orang kecil di pinggir jalan
    Sedulur-sedulurku di dusun-dusun di kampung-kampung perkotaaan
    Karib-karibku di gang-gang kotor di gubug-gubug tepi sungai yang darurat
    Atau mungkin saudara-saudaraku di rumah-rumah besar di kantor-kantor mewah namun memendam semacam keperihan diam-diam….
    Aku ajak engkau semua sahabat-sahabatku saudara-saudaraku untuk menarik nafas sejenak
    Duduk bersandar atau membaringkan badan, aku ajak engkau menjernihkan pikiran
    Untuk menata hati menemukan kesalahan-kesalahan kita semua untuk tidak kita ulangi lagi
    Atau meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk kita perjuangkan kembali.
    Ayolah saudara-saudara rileks

  6. Dewi Aichi  4 April, 2013 at 00:55

    Kang Putu, salam untuk Pak Kyai, semoga apa yang dilakukan Pak Kyai memberikan manfaat yang sebesar besarnya untuk semuanya. Dan menularkan rasa cinta itu kepada sesama, menularkan rasa kepedulian itu kepada sesama….

  7. Dj. 813  3 April, 2013 at 23:43

    Kang Putu…
    Selamat Jalan…!!!
    Semoga semuanya dilancarkannya…
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  8. juwandi ahmad  3 April, 2013 at 22:17

    wah serem tulisane

  9. J C  3 April, 2013 at 21:35

    Tirakat yang begini ini tidak gampang…

  10. Handoko Widagdo  3 April, 2013 at 10:42

    Mendukung Kayi Budi. Mari bersama membagikan Cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.