Bukan Aku (4)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Memandang wajah Yusman sungguh membuatku sulit menerjemahkan perasaanku. Masih ada rasa cinta tapi kebencian juga menyertainya. Wajah itu memerah, matanya juga memerah dan menyipit, Yusman jelas dalam kondisi sedih dan depresi. Namun itu semua ulahnya sendiri, buat apa aku memikirkan apa yang dia rasa? Dia toh sekian lama sudah menghianatiku. Air susu dibalas air tuba!

Kami duduk di satu ruangan namun tak saling bicara. Yusman beberapa kali membuka mulutnya namun kembali diam. Aku beringsut ke kamar untuk mengganti pakaian, tak lama aku kembali keluar kamar, aku tak ingin tidur di kamar berdua Yusman.

Yusman memanggilku, dia membujukku untuk berbicara baik-baik. Sejatinya di saat aku seperti ini, aku tidak yakin akan ada pembicaraan baik-baik. Namun aku terpaksa menurut, aku juga perlu tahu dusta apa saja yang disembunyikan Yusman sialan itu.

*****

“Sayang, maafkan aku ya? Semua ini seharusnya kuhadapi dengan jantan, tidak menyembunyikan sekian lama hingga akhirnya terkuak juga”, Yusman bicara sambil menghembuskan asap rokok, wajahnya kalut.

Aku menatapnya dengan benci, lalu aku bicara dengan sinis, “pertama, kamu jangan panggil aku sayang, karena aku sudah tidak sudi mendengar kata itu keluar dari mulutmu yang pendusta! Dan kedua bisa-bisanya ya kamu menduakan cintaku? Kesetiaanku? Katakan perempuan jalang mana yang berhasil memikatmu? Pasti masih ABG ya? Suka daun muda ya? “, aku bicara sepedas mungkin.

Yusman diam sesaat, lalu menatapku tajam, “Na … Kamu benar-benar mau tahu? Baiklah akan aku ceritakan semuanya … Semoga nantinya kamu bisa memaafkan aku”

******

“Aku tidak berselingkuh tapi memang benar ada wanita lain juga seorang anak. Wanita itu sudah lama berada dalam hidupku, jauh sebelum aku mengenalmu. Wanita itu bernama Anti dan dia kekasihku semasa SMU di Palembang. Kami berpacaran sejak kelas 2. Dan waktu itu aku terlalu jauh berpacaran hingga Anti hamil. Untungnya kehamilan itu terjadi saat kita hampir lulus SMU, jadi tidak ketahuan pihak sekolah dan kami bisa ujian akhir hingga tuntas.

Orang tua kami murka namun demi menjaga nama baik, kami dinikahkan. Selama 2 bulan menjadi suami istri baru kusadari kami tidak sejalan, selalu saja cekcok. Bulan ke 3 aku hijrah ke Jakarta untuk kuliah, padahal saat itu kondisi Anti sangat rapuh. Namun entahlah, aku merasa tak peduli, aku sudah tak mencintainya.

Beruntung aku memiliki otak cemerlang dan terbukti aku mampu lulus dengan predikat Cum Laude. Dan saat semester akhir di bangku kuliah, aku mengenal dirimu. Seorang gadis SMU yang mempesona. Cantik dan pintar juga rendah hati.

Aku sudah tak peduli pada Anti juga kepada Nuar, anakku yang saat itu berusia 4 tahun . Mungkin saja karena kondisi Anti yang rapuh, anak kami mengalami penyakit bawaan yaitu, jantungnya lemah. Aku waktu itu mengatakan pada orang tuaku bahwa aku akan bercerai dari Anti. Walau orang tuaku keberatan namun aku terus bersikeras. Belum juga perceraian itu terlaksana Ayahku meninggal karena serangan jantung. Setelah Ayah tiada, Ibu dibawa adikku satu-satunya ke Jawa, karena kasihan kalau Ibu sendirian di Palembang.

Aku waktu itu tak berfikir panjang, bagiku menikahi wanita yang aku cinta dan membina keluarga yang benar-benar aku inginkan dapat menghapus masa lalu, menghapus Anti juga Nuar yang kehadirannya sama sekali tidak ku inginkan.

Dan aku terpaksa mendustai Ibu, aku mengatakan sudah bercerai, padahal aku tidak pernah lagi mendatangi Anti dan tidak pernah mengajukan gugatan cerai. Namun aku bukanlah laki-laki pengecut, secara hukum ia masih istriku dan untuk itu tiap bulan aku mengirimi uang walau tidak seberapa. Anti Wanita yang berhati mulia, dia pasrah dengan sikapku, dia berkata aku bebas untuk melakukan apa saja asal jangan menceraikan dirinya, demi anak kami yang kesehatannya buruk.

Dan saat aku ingin serius padamu Ina, aku mengutarakan segalanya pada Anti dan dia mendukung. Satu kata-katanya yang terus terngiang dibenakku, “Yus, cukup aku yang hidup merana bersama dirimu, jangan sampai istri mudamu mengalami nasib yang sama sepertiku, aku bertahan denganmu demi anak kita yang sakit, aku cuma minta bantuanmu untuk pengobatan anak kita, kamu tidak usah memikirkanku”.

Dan akhirnya kita menikah Na, Ibuku tahunya aku sudah bercerai dari Anti makanya beliau merestui pernikahan kita, aku mendustai dua wanita yang aku cinta, Kamu dan Ibu. Hingga Ibu tiada, beliau tidak pernah tahu bahwa aku menduakan Anti”.

*****

Mulutku ternganga …. Kisah yang baru saja dipaparkan oleh Yusman sungguh sangat sulit kuterima, aku merasa aku lah wanita yang tersakiti, tercampakan, terkhianati …. Ternyata bukan aku, ada yang sesungguhnya tersakiti yaitu Anti. Airmata membasahi pipi, entah hujatan apalagi yang harus kualamatkan pada Yusman, yang jelas jelas mencintaiku, lebih memilihku. Namun di satu sisi dia menyimpan dusta selama sekian lama.

Dalam hatiku bercampur antara rasa malu dan terluka, Yusman tidak menduakan aku namun Anti. Aku tanpa sadar sudah merenggut perhatian Yusman. Sungguh aku tidak pernah tahu bahwa Yusman sudah menikah sebelumnya bahkan mempunyai anak. Dimana otak dan hati laki-laki ini? Semudah itukah dia menghapus masa lalunya?

*****

life-drama

“Baiklah aku akan lanjutkan kisah lama ini, setelah menikahimu aku benar-benar merasa menjadi lelaki seutuhnya yang berbahagia sepanjang waktu. kamu pandai memasak, mengurus rumah dan anak. Sedangkan Anti kalau pun memasak rasanya tidak enak dan itu itu saja hidangan yang dia buat. Anti juga sakit-sakitan, ada saja keluhannya yang membuatku bosan, belum lagi dia mudah marah.

Mungkin hanya nafsu yang membuat aku dan Anti bersatu sebagai sepasang kekasih, namun saat kami menjadi suami istri, entah kenapa aku merasa sudah berada ditempat yang salah.

Waktu Nadya lahir, aku sering lupa untuk mengirim uang bulanan kepada Anti, aku lebih senang melihatmu, Zakaria dan Nadya yang menikmati hasil keringatku. Hampir tiap bulan Anti mengemis melalui SMS, pekerjaannya menjahit tidak mencukupi kebutuhan obat anak kami. Aku egois tapi itulah adanya hingga tanpa diduga Anti menghubungi HP ku … Sekian tahun dia tak pernah menelpon, hanya SMS itupun sebulan sekali demi mengemis uang bantuan yang kadang aku lupa kirimkan.

Anti sangat mematuhi perjanjian, hanya aku yang bisa menelpon dirinya namun dia tidak boleh menelpon aku. Namun hari itu Anti nekad melanggar, Nuar terpaksa dibawa ke Jakarta karena harus operasi Jantung, kondisinya terus menurun. Terpaksa dia menelponku sekedar mengabari kondisi akhir Nuar anakku yang ku sia sia-kan dan ku lupakan.

Waktu itu aku menangis sedih Na, aku menangis bagai seorang anak kecil. Aku tersadar, aku yang membuat Anti hamil dan aku justru mencampakkannya, aku bahkan tidak pernah menyentuh Nuar yang berada jauh di Palembang. Aku tak pernah rindu, tak pernah ingin tahu kabarnya, aku tak mau tau celotehnya, aku benar-benar Ayah durjana.

Dan aku mencari Anti di RSCM, Anti berhutang ke sana ke sini demi membawa Nuar ke Jakarta. Dia tak lagi meminta uang padaku, padahal uangku banyak. Aku memang tak punya hati, baik kepada Anti yang masih sah sebagai istriku juga Nuar darah dagingku.

Saat akhirnya aku bertemu Anti di RSCM setelah sekian lama tak kulihat wajahnya, dia banyak berubah Na. Dia kurus, wajahnya kuyu, begitu banyak beban hidup yang harus dia tanggung sendirian demi Nuar. Sejujurnya aku malu dan merasa bersalah saat mengetahui hutang Anti sudah membukit. Uang bulanan yang kukirim tak lebih sejuta tiap bulan, apa artinya? Bila kebutuhan obat Nuar saja bisa lebih dari itu. Belum lagi kalau dia harus masuk rumah sakit, belum lagi biaya sehari-hari.

Aku memang banyak berdusta, termasuk saat menjual rumah, semua itu bohong Na. Uang hasil penjualan rumah aku pakai untuk membayar hutang Anti, untuk menyewakan dia sebuah rumah kontrakan dan tentu untuk biaya rawat dan operasi anakku Nuar yang ternyata sangat besar. Aku sudah bingung Na harus dari mana mengumpulkan banyak uang.

Tapi soal tabungan kita yang ku ambil, itu memang aku belikan saham di sebuah perusahaan perkebunan, aku mengatas namakan dirimu. Aku ingin kamu dan anak-anak selalu terjamin bila tiba-tiba aku tiada. Yang aku pakai demi Anti dan Nuar hanya sisa penjualan rumah.

Maafkan aku yang sudah berdusta, aku hanya tak tahu dari bagian mana untuk memulai mengatakan semua ini kepadamu. Aku tak mengira masa lalu yang kusembunyikan dengan rapi tiba-tiba terkuak. Aku jarang pulang karena kondisi Nuar naik turun. Bahkan dia belum bisa dioperasi karena ada beberapa hal lain, salah satunya kurang gizi dan asthma bawaan. Tubuhnya harus kuat dulu untuk menjalani operasi jantung. Aku sebisanya hadir di sisinya demi menebus waktu waktu yang telah kulewati. Nuar tak mau memanggilku Ayah, anak itu hampir tak mengenaliku sebagai Ayahnya.

Sebenarnya Anti melarangku menginap di kontrakan atau Rumah Sakit, dia tak ingin kamu tahu dan bertengkar denganku, dia tak mau rumah tangga kita rusak Na. Namun aku kali ini tetap bersikeras mendampingi Nuar, apapun Anti masih istriku. Dan aku melakukan ini sampai Nuar selesai dioperasi dan kembali ke Palembang. Cintaku hanya kamu Ina, sungguh tidak ada niat membuat kisah kita menjadi seperti ini. Melihat kamu sedih adalah hukuman terberat di hatiku, melihatmu marah adalah kutukan tak berakhir. Aku akan ceraikan Anti, agar kamu menjadi satu-satunya wanita yang mengisi hari-hariku dengan penuh cinta Na”

*****

Yusman menutup kisahnya, mungkin belum segalanya, namun apa yang dikisahkan olehnya sudah membuatku merasa sakit kepala. Aku menjadi cinta satu-satunya Yusman, masalah dia dan Anti memang di luar urusanku, namun aku bukan wanita tanpa hati. Dari awal Anti sudah ‘dilupakan’ oleh Yusman, itu bukan salahku! Namun kini aku sadar, mereka masih suami istri dan mereka masih sah, Yusman masih memberi nafkah materi walau tidak lagi nafkah batin. Lalu ada seorang bocah yang hidupnya di ujung tanduk, yang tak mengenal Ayahnya sendiri. Aku harus bagaimana?

Aku tetap tak berbicara kepada Yusman namun aku tetap mengurusi kebutuhan dia sehari-hari. Dia tak lagi ‘lembur’ apa lagi sampai menginap di ‘kantor’. Namun hati kecilku berontak, di sana ada wanita dan bocah yang malang. Yang bergelut dengan kepedihan. Aku tak tahu jalan apa yang harus ku tempuh, aku tersesat dalam permainan yang tak pernah kumainkan …..

Aku ingin meminta Yusman mendampingi Anti dan anaknya, namun pasti Yusman tidak akan memenuhi permintaanku. Aku malah berfikir ingin menemui Anti, aku ingin dia tahu bahwa aku baru tahu kisah masa lalu Yusman suami kami. Aku ingin Anti tahu aku tak bermaksud merebut cinta Yusman. Namun fikiranku belum jernih.

*****

bukan-aku4

Sore itu Sekar dan Dwi mengunjungiku setelah aku menelpon berkali-kali. Aku menceritakan segalanya dan mereka sama kagetnya seperti aku, dan kami terdiam tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Kini jelas Yusman bukan berselingkuh, dengan Anti-pun dia jujur berkata akan menikahiku. Aku benar-benar tak menemukan jalan yang mana yang harus ku pilih.

“Wah kok jadi kaya gini ya Na? Kira-kira apa langkah yang akan kamu ambil? Dalam hal ini Yusman hanya berdusta akan masa lalu dia, namun dia tidak menduakanmu. Dia jelas sangat mencintaimu”, Sekar berkata dengan serius. Dwi mengangguk tanda sepaham dengan Sekar dan aku hanya menunduk dengan airmata mengembang …..

 

 

13 Comments to "Bukan Aku (4)"

  1. Hennie Triana Oberst  5 April, 2013 at 05:57

    Yah, aku salah duga.
    Payah ah, Yusman pengecut. Kenapa istri tuanya nggak diceraikan saja, kasian kann dia nggak bisa menikah lagi. Kalau Nuar anaknya tetap tanggung jawab Yusman, biar cerai ataupun tidak.

  2. Alvina VB  4 April, 2013 at 23:51

    Dewi….gak ada alasan…lah itu kecelakaan juga sudah tanda2nya ini laki2 gak bisa dipercaya…. gak peduli masih remaja….udah keliatan kan pribadinya semasa muda kek gitu..trus gak tanggung jawab pulak… menyia-nyiakan anaknya….tetep aja….tipe laki spt ini, masih bisa nyeleweng, bibitnya udah ada, ada jaminan gak akan nyeleweng lagi? mari kita tanyakan ke Aa Gym, ha..ha..ha….(OOT, apa hubnya coba sama cerita ini???)

  3. Dewi Aichi  4 April, 2013 at 23:38

    Alvina….waduh..kejamnya dikau ha ha…habis gimana ya….sama istri tuanya kan akibat kecelakaan saat masih remaja he he…usia remaja masih plin plan…masih dalam tahap mencari…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.