Guru adalah Petani Peradaban

Hibatun Wafiroh

 

Dimuat di Wawasanews pada Jumat, 22 Maret 2013

 

menjadi guru

Judul               : Menjadi Guru Inspiratif

Penulis             : A. Fuadi, dkk

Penyunting      : M. Iqbal Dawami dan Ikhdah Henny

Penerbit           : Bentang Pustaka, Yogyakarta

Cetakan           : I, Desember 2012

Tebal               : v + 186 halaman

ISBN               : 978-602-8811-80-4

Harga              : Rp 39.000,00

Peresensi         : Hibatun Wafiroh

 

A great teacher inspires. Guru yang hebat selalu menginspirasi. Nampaknya itu poin general yang ingin disampaikan dalam buku antologi yang ditulis oleh 14 penulis ini. Meski dalam balutan kisah yang berbeda, para penulis sepakat bahwa guru bukan sekedar mengajar, melainkan juga mendidik dan menggugah untuk selalu berbuat baik.

Bagi A. Fuadi, guru yang baik ibarat petani. Mereka menyiapkan bahan dan lahan belajar di kelas, memelihara baik-baik bibit penerus bangsa, menyirami mereka dengan ilmu dan memupuk jiwa mereka dengan karakter yang luhur (hal. 1). Mereka petani peradaban yang menentukan kualitas bangsa di masa depan.

Bunga rampai bertajuk Menjadi Guru Inspiratif ini menjadi istimewa setidaknya karena tiga hal. Pertama, kisah yang disajikan merupakan kisah nyata. Kedua, buku ini bertutur dari sudut pandang pendidik dan terdidik. Ketiga, tak ada sekat yang membatasi term guru. Artinya, predikat guru untuk siapa saja yang mendulang ilmu kepada orang lain, baik di lembaga formal maupun nonformal.

Di antara kontributor yang bercerita dengan kapasitasnya sebagai pendidik adalah Rahman Adi Pradana. Alumnus pengajar dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar ini membagi pengalamannya ketika ditugaskan di SDN Indong, sekolah minim fasilitas di sebuah kampung di Maluku. Pada satu pagi saat para guru berhalangan masuk sebab mengikuti tes CPNS di Labuha, dia berinisiatif mengadakan upacara bendera. Karena sudah dua tahun ditiadakan, siswa-siswi tidak mengenal rangkaian upacara. Rahman menunjuk beberapa siswa dan melatih mereka dengan sabar hingga upacara benar-benar terlaksana hari itu. Semenjak itu Bendera Merah Putih terus berkibar setiap Senin.

Cerita yang berbeda dengan point of view yang sama diuraikan oleh Rakhmawati Agustina. Aktivis Rumah Pintar Bangjo Semarang ini mengajar anak-anak jalanan di tengah pasar sewaktu kios-kios sudah tutup. Mengajar mereka begitu menantang. Ia harus menjemput satu per satu anak didiknya; menjaga mereka agar tetap mood belajar; menyiapkan bahan ajar yang tak sama disesuaikan kemampuan mereka; menahan emosi akibat ulah mereka yang menjengkelkan; dan melerai mereka ketika terlibat adu mulut. Usai belajar Rakhma menyisipkan sesi bercerita untuk menambah keakraban.

Sedangkan dari sisi peserta didik, Muhammad Al Aliy Bachrun menyuguhkan cerita mengenai gurunya di Pondok Modern Darussalam Gontor yang selalu mengulang hal yang sama dalam beragam kesempatan.Ping sewu (seribu kali), istilahnya. Sesuatu yang berulang kali disampaikan akan terasa membosankan. Efek positif dari ping sewu baru dirasakannya tatkala secara mendadak dia ditunjuk untuk memberi prakata di hadapan sekelompok siswa yang hendak berlomba. Kata-kata gurunya langsung muncul di ingatannya dan mampu meletupkan semangat para peserta lomba.

Bachrun menyadari bahwa pengulangan itu ternyata membentuk rekaman dalam pikiran bawah sadar yang kelak akan refleks teringat kembali ketika si empunya membutuhkannya (hal. 57). Ping sewu pun dia praktikkan dalam proses mendidik.

Masih dalam lingkungan pondok pesantren, Nabila Anwar meriwayatkan tentang Kiai Anwar Manshur yang selalu memberi teladan yang baik kepada santri-santrinya. Sederet kalimat lisanul hal afshahu min lisani maqal (pelajaran lewat keteladanan lebih mudah diterima daripada pelajaran lewat lisan belaka) pantas disematkan kepada beliau.

Pengalaman lain yang tidak kalah menarik dituturkan oleh Dewi Yuliasari. Ia memperkenalkan kurikulum cinta. Baginya, kurikulum cinta berada di urutan teratas. Sebuah cinta yang akan mendorong para siswa untuk lebih bersemangat mengikuti pelajaran di dalam kelas. Dan, semangat itu yang nantinya menghasilkan energi terbaik untuk pencapaian hasil terbaik, bukan hanya sebatas nilai (hal. 135). Dewi mencintai seluruh muridnya tanpa kenal kasta. Terhadap anak yang bandel sekalipun cintanya tidak berkurang. Ia percaya ungkapan love can change the world.

Selain kisah-kisah di atas, masih ada delapan kisah inspiratif yang patut dibaca. Sayangnya, Ahmad Fuadi—yang dinasihati almarhum kiainya untuk meluangkan waktu guna mengajar—tidak membagi pengalamannya sebagai guru. Meskipun demikian, buku ini layak menjadi recommended book bagi mereka yang ingin menjadi guru hebat.

 

6 Comments to "Guru adalah Petani Peradaban"

  1. Alvina VB  4 April, 2013 at 23:53

    Terima kasih buat bedah bukunya…seneng baca cerita yg inspiratif spt ini…

  2. Dewi Aichi  4 April, 2013 at 23:12

    mas Juwandi katanya mau meresensi Indonesia amnesia?

  3. juwandi ahmad  4 April, 2013 at 23:08

    terimakasih resensinya yang ok

  4. Handoko Widagdo  4 April, 2013 at 14:52

    Cari dan temukan guru yang masih hidup. Amankan anak-anak kita dan beri mereka pendidikan yang layak (Hirohito, setelah negerinya dihancurkan oleh Bom Atom)

  5. J C  4 April, 2013 at 14:41

    Terima kasih informasi buku baru ini…

  6. Dewi Aichi  4 April, 2013 at 10:48

    Wah ini peresensi buku dan novel, penerus mas N Mursidi yang pensiun, bentar lagi diganti pak Handoko

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.