Lost in Space

Josh Chen – Global Citizen

 

Sekitar awal 90’an, saya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang. Kalau tidak salah sekitar tahun 1993, teman-teman SMA berniat kumpul-kumpul reuni kecil di Bandungan – kota wisata kecil sekitar 25 km selatan Semarang.

Biasa teman-teman kumpul di satu villa keluarga salah satu teman. Kami ada beberapa kali menginap di villa ini. Termasuk acara reuni kecil saat itu beberapa teman menginap di villa kalau tidak salah tiga hari dua malam. Namun saya tidak bisa ikut menginap karena praktikum di kampus dan juga tidak mungkin mengajak mantan saya – yang bernama P – menginap di luar kota. Akhirnya saya dan mantan memutuskan untuk pulang hari menyusul di hari kedua.

Di hari yang sudah disepakati, pagi-pagi saya bersiap dengan jaket yang lebih tebal dari keseharian bersepedamotor karena akan berkendara ke luar kota. Saya jemput P di rumahnya dan berangkatlah kami berboncengan menuju ke Bandungan. Perjalanan berlangsung lancar dengan cuaca yang cukup bersahabat. Sekitar satu jam kami sampai di Bandungan (karena jalanan yang berkelok dan menanjak). Teman-teman lain sudah berkumpul di sana sehari sebelumnya. Mereka sedang bermain kartu dengan asik di ruang tamu. Kami segera bergabung, berbincang, saling meledek dan bertukar cerita. Tak terasa jam makan siang menjelang dan kami beramai-ramai makan di warung dekat villa tsb.

Waktu kami semua kembali ke villa, dari kejauhan nampak mendung berarak. Tak menunda waktu, saya memutuskan untuk segera meluncur pulang ke Semarang daripada kehujanan sepanjang perjalanan yang lumayan jauh ditempuh dengan sepeda motor. Sekitar pukul 2 siang, kami meninggalkan villa untuk kembali ke Semarang. Walaupun saya senang berkecepatan tinggi, namun membonceng mantan membuat saya berpikir beberapa kali untuk berkecepatan tinggi. Kecepatan kami biasa-biasa saja, mengingat jalan yang menurun dan berkelok-kelok dari arah Bandungan yang menuju ke Semarang.

Di satu tikungan yang cukup tajam dan menurun, tiba-tiba keseimbangan saya hilang, sepeda motor terasa oleng dan saya sangat yakin saat itu juga, kami berdua pasti akan terjatuh. Dan memang benar, terjatuhlah kami dengan cukup keras. Bagaimana jatuhnya, saya sudah tidak bisa mengingatnya lagi, yang saya tahu, saya segera berdiri dan memeriksa P apakah dia baik-baik saja. Ternyata tidak ada satu pun luka dan P baik-baik saja. Pandangan saya pelahan menjadi kabur, hanya mendengar suara orang-orang yang berhenti dan sekitar situ yang menolong. Saya bisa melihat dengan jelas sepeda motor saya yang berantakan, setang yang sudah miring dengan sudut aneh dan lampu sein serta beberapa bagian hancur.

Saya masih punya tenaga untuk menegakkan sepeda motor, dan mencoba menyalakan mesin dengan kick starter yang karet pijakan kakinya juga sudah entah kemana. Tiba-tiba saya merasakan pelipis kiri saya seperti semriwing[1] perih. Saya coba bercermin dengan kaca spion dan memang melihat luka menganga lebar di pelipis kiri. Luka yang cukup parah sampai saya bisa melihat warna putih tulang di dalam luka tsb. Darah membanjir deras sedikit menutupi mata kiri saya. Dengan ketenangan yang di kemudian hari saya juga heran, saya melepas slayer dari leher (slayer untuk menutup muka jika saya berkendaraan ke luar kota), membebatkan ke sekeliling kepala, mengikatnya erat-erat untuk mencegah mengalirnya darah lebih deras, membersihkan mata kiri dan terus mencoba menyalakan mesin.

Suara-suara di sekeliling menganjurkan saya untuk berhenti dulu, ada yang menawarkan akan mengirim ke rumah sakit atau klinik terdekat, yang kesemuanya saya tolak. P juga sangat kuatir melihat kondisi saya yang cukup parah. Akhirnya mesin dapat menyala, setang saya luruskan sebisa mungkin supaya masih bisa dikendarai. Saya duduk sejenak di pinggir jalan sambil meneguk air dari botol minum yang selalu kami bawa jika berkendaraan ke luar kota. Setelah merasa cukup kuat, saya ajak P untuk naik kembali ke sepeda motor dan saya mulai mengarahkan motor ke arah Semarang.

Selama sekitar 10 menit berkendara dengan kecepatan yang lebih rendah dari sebelumnya, suasana sekitar masih nampak normal, dengan persawahan di kanan kiri, sesekali kendaraan baik mobil ataupun sepeda motor melintas dari arah berlawanan atau menyalip kami, tiang listrik dan rumah-rumah penduduk. Tiba-tiba pemandangan tsb berubah! Tahu-tahu kami berkendara di suatu tempat yang terasa bukan seperti di dunia ini. Jalan berkelok berubah menjadi jalan lurus tanpa kelokan sama sekali, langit biru dan awan putih berubah menjadi abu-abu, tiang listrik di kanan kiri lenyap, hanya ada kekosongan tak berujung.

Beberapa menit kami tidak menyadari itu, sampai P berkata:

“Ini dhewe[2] di mana ya, kok tempat’e aneh gini”.

Saya yang mengendarai sepeda motor sambil berbincang asik seperti biasa jika kami berboncengan kemana-mana, tersadar dan juga heran akan keberadaan kami.

“Eh, iya, ya, Nik[3], di mana ini ya, kok aneh gini?”

“Apa tadi dhewe ada belok, kayak’e ndak belok-belok dari tadi”, lanjut saya.

“Emang ndak belok kok dari tadi, dari tadi dhewe ya jalan terus, kok ujug-ujug[4] aneh gini ya”, jawab P.

Kami berdua kebingungan mendapati keadaan sekeliling yang aneh tsb. Saya menegaskan sekali lagi ke P karena saya berpikir, jangan-jangan hanya saya saja yang mengalami pandangan dan kondisi aneh itu, mungkin karena benturan di kepala yang terlalu keras.

“Nik, aneh ya, ndak ada belokan, jalan’e lurus, kanan kiri kosong, bener ndak sih yang aku liat?”

“Emang iya, aku juga gumun[5], kowe[6] tuh lho, jangan meden-medeni[7] aku, ah”, jawabnya.

Dan memang benar, kami sedang berkendara di satu tempat yang depan, belakang, kanan, kiri tak berujung, tidak ada cakrawala berwarna biru – hanya warna kelabu semata sejauh mata memandang. Tidak ada pepohonan, persawahan dan tiang-tiang listrik, tidak ada belokan, tidak ada kendaraan dari arah berlawanan ataupun dari arah yang sama dengan kami, jalan di depan kami lurus tak berujung. Hanya kami sendirian di tempat itu. Yang saya heran, jalan yang biasanya tidak rata, ada berlobang di sana sini, tapi saat itu jalanan halus mulus tak ada cacatnya sama sekali.

grey_world

Saya melambatkan kendaraan, berusaha menoleh ke belakang, kembali hanya kehampaan yang terlihat, kehampaan tak berujung. Kami mulai merinding dan terus berbincang untuk mengatasi rasa takut kami, sementara sepeda motor tetap saya kemudikan menyusuri jalan tak berujung itu.

Semakin lama kami merasa ada yang tidak beres dengan keadaan tsb. Dalam keadaan hati dan pikiran kalut, kami sepakat untuk mulai berdoa sambil terus berkendara. Tanpa direncanakan, kami bersamaan mendaraskan doa Rosario – sesuai dengan keyakinan kami. Doa terus kami gumamkan sementara saya tetap mengemudikan sepeda motor ke arah depan. Entah berapa lama kami berkendara dan berdoa – yang pasti lebih dari sekali putaran doa Rosario lengkap, tiba-tiba di depan nampak ada satu rumah sendirian di sebelah kiri jalan. Rumah sederhana yang seakan tiba-tiba diletakkan di situ di tengah kehampaan yang menghampar. Di depan rumah itu berdiri seorang tua.

Karena insting saja, saya menghentikan sepeda motor, menyapa dan bertanya kepada si kakek tua bermuka teduh dengan sopan:

“Pak, nyuwun pirsa, arah Semarang punika leres lurus kemawon[8]?”, tanya saja dalam bahasa Jawa halus.

“Inggih mas, lurus mawon[9], jawabnya pendek sambil tersenyum hangat.

“Matur nuwun, pak[10], sahut saya.

Gigi 1 saya injak dan kembali menjalankan sepeda motor. Baru beberapa meter berjalan, pandangan kami berganti dari abu-abu hampa tak berujung, seperti lembaran-lembaran yang disingkap, kembali menjadi pemandangan yang sudah akrab selama ini. Kehijauan persawahan di kanan kiri, rumah-rumah penduduk, jalanan yang berkelok, tiang-tiang listrik dan pepohonan. Saya mengenali memang benar jalan itu yang menuju ke Semarang. Sekitar 15 menit berkendara, sampailah kami di pertigaan jalan luar kota ke arah Salatiga. Ke kiri adalah arah Semarang, ke kanan adalah arah ke Salatiga.

Selain luka di pelipis kiri, saya tidak mengalami luka lain lagi. Sepeda motor terus saya kendarai menyusuri jalan raya menuju arah Semarang. Sampai di Jl. Sultan Agung, saya mengambil keputusan untuk mengambil arah yang ke Tugu Muda. Terkadang saya juga mengambil yang ke arah Simpang Lima. Mendekati Tugu Muda, kira-kira di depan Pasar Kembang, motor tersendat-sendat, dan mati mesin.

Kami menepi dan saya memeriksa kondisi motor. Saya coba starter berkali-kali tapi tetap saja tidak bisa, saya cek kondisi busi, ternyata baik-baik saja. Kemudian saya mencoba melihat ke tanki bahan bakar. Ternyata kosong! Saya bingung sendiri dengan kondisi tsb, karena seingat saya, pagi hari saya isi penuh dan perjalanan bolak-balik Semarang – Bandungan tidak akan menghabiskan 3,5 liter bensin. Dan saya terbelalak waktu melihat odometer, total perjalanan seharian itu lebih dari 200km! Tidak heran bensin di tanki habis total. Sekitar empat kali lipat total perjalanan bolak-balik Semarang – Bandungan.

Melihat kondisi sekitar, tidak ada warung yang menjual bensin eceran. Sepeda motor saya tuntun sambil P berjalan mengiringi, menuju arah Tugu Muda. Dalam pikiran berkecamuk apa yang sebenarnya terjadi. Lebih terperanjat lagi waktu saya melihat arloji di pergelangan tangan, ternyata waktu mendekati pukul 17:30! Berarti kami menempuh waktu tiga jam lebih dari Bandungan ke Semarang, suatu hal yang tidak mungkin.

Sampai di Jl. Pandanaran, saya memutuskan untuk menyuruh P pulang naik becak saja karena malam segera turun. Di situ saya menemukan telepon umum, menelepon ke rumah dan mengabarkan kondisi saya. Papa segera menjemput saya dengan membawa bensin secukupnya, kami berdua berkendara pulang, kemudian orangtua saya berdua segera membawa saya ke klinik langganan keluarga kami dengan taksi. Luka di pelipis mendapatkan sembilan jahitan, lima jahitan di lapisan dalam dekat dengan tulang pelipis, dan empat jahitan luar untuk menangkupkan luka yang menganga.

Saat luka ditangani, saya dihujani berbagai macam pertanyaan. Saya bingung harus menjawab dan bercerita apa yang terjadi hari itu, karena antara nyata dan tidak nyata. Malam itu saya pulang dan beristirahat total sampai beberapa hari ke depan.

Di hari keempat saya coba menelepon P di rumahnya yang cemas dengan kondisi saya. Pertanyaan yang pertama saya tanyakan adalah apakah benar di siang hari itu kami berdua menyusuri tempat aneh yang hampa tak berujung. Beberapa menit kami membicarakan hal itu, dan ternyata benar apa yang kami alami hari itu terekam jelas dalam ingatan P. Sebenarnya apa yang terjadi? Di manakah kami siang itu?

Anggap saya berhalusinasi karena benturan keras setelah terjatuh dan pelipis luka menganga, tapi P dengan jelas merekam dalam ingatannya apa yang kami alami siang itu. Anggap kami berdua mengalami halusinasi, tapi kilometer merekam lebih dari 200km kami berjalan hari itu. Ke mana kami? Di mana kami? Apa yang terjadi? Anggap kami tersesat berbelok ke arah mana, setelah beberapa bulan, kami menyusuri rute yang sama berangkat dan pulang lagi Semarang – Bandungan, tidak kami dapati ada belokan yang mengarah ke tempat yang luas tak berujung tsb.

Sampai sekarang kejadian itu terekam jelas dalam ingatan, tempat yang bukan seperti di dunia ini, jalan lurus tak berujung, kanan kiri tak bertepi, kosong, luas, tidak ada tetumbuhan dan pepohonan, kosong, benar-benar kosong…entah lah…



[1] Semriwing = rasa sedikit pedas dan pedih (bahasa Jawa)

[2] Dhewe = kita (bahasa Jawa)

[3] Nik dari Nonik, panggilan mesra

[4] Ujug-ujug = tiba-tiba (bahasa Jawa)

[5] Gumun = heran (bahasa Jawa)

[6] Kowe = kamu (bahasa Jawa)

[7] Meden-medeni = menakut-nakuti (bahasa Jawa)

[8] Pak, tolong tanya, apakah arah Semarang lurus saja?

[9] Iya mas, lurus saja

[10] Terima kasih, pak

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

94 Comments to "Lost in Space"

  1. J C  24 December, 2013 at 14:58

    Lani: wah jangan tanya aku lah…belum pernah ngalami moksa… aku mencelat wuuusss mecungul di Kona saja…

  2. Lani  24 December, 2013 at 14:40

    92 Lani: ada versi yang memang bablas ilang, moksa, meninggal…(harapanku wuuuusss nyampe Kona, merguru sama Mbaurekso’ne Kona)
    +++++++++++++

    Ok, klu dibilang ilang, moksa, meninggal, dut………tp apakah badan wadagnya dikembalikan? Apa melu ilang nggeblassssss? Emoh klu wusssssss nya sampai ke Kona…….memedenikan……! apalagi klu berubah wujud……

  3. J C  24 December, 2013 at 14:35

    pak Effendi: memang sangat unik dan misterius…sampai sekarang sering merinding sendiri kalau mengingatnya…

    djas Merahputih: wajahnya arif bijaksana dan tersenyum…menurut ‘orang pintar’ yang ditanya orangtua saya, si kakek adalah pelindung dan pendampingku, versi yang lain si kakek adalah salah satu mendiang kakek…

    Lani: ada versi yang memang bablas ilang, moksa, meninggal…(harapanku wuuuusss nyampe Kona, merguru sama Mbaurekso’ne Kona)

  4. Lani  24 December, 2013 at 12:50

    90 KANG DJASabangputih ini aku kutipkan dr komentarmu “Hanya saja, biasanya orang yang nyasar ke tempat asing tersebut jarang yang bisa kembali ke alamnya”
    Pertanyaanku : klu gak bs balik njur mrk pergi/nyasar kemana????? Apakah berarti meninggal? Atau hilang tanpa jejak?????
    Aku jd merinding disco iki……..amit2 jok sampai ngalami hal yg beginian, krn aku msh ingin tinggal disini, emoh diajak ketempat yg asing itu, apalagi tdk tau yg ngajak itu siapa, klu org baik msh untung la klu org jahat?????? Hayoooooo njur pie jal?? La ora iso balik je

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.