Part I: Mas Tok dan Suatu Senja di Stasiun Tugu

Alfred Tuname

 

Beberapa jam saja kisah ini terjadi. Tetapi banyak dekade waktu akan selalu membekas dalam kisaran hidup saya.

The Calling

Kisah ini bermula dari sebuah telepon. Saat itu, saya berada di lantai III ruang seminar universitas Sanata Dharma. Saya dan beberapa teman sedang gladi resik untuk acara persiapan seminar nasional dies natalis ke-67 pemuda Katolik. Kebetulan, Sultan Hamengku Buwono X akan hadir sebagai keynote speecher.

Handphone (Hp) berdering. Dr. Tia-the Baltyran. Nama ini yang tertulis di Hp. Nama ini juga yang sedang berbicara. Tetapi suara terdengar samar-samar dalam pembicaraan telephone itu. Beberapa kali, pembicaraan itu terdengar masih samar. Ternyata di lantai III gedung itu, jaringan telphone sedikit terganggu.

Di lantai I, obrolan telephone kemudian benar-benar terjadi. Suara merdu mba Tia Yuliantari semakin jelas di telinga. Cerita singkat terjadi dengan dialeknya yang unik; dialek Jawa dengan idiolek Manggarai, Flores. Kemudian terdengar suara berganti. Dengan suara sedikit manja, mba Dewi Murni menyapa. Kedengarannya tidak seperti dialek Portugis-Brasil. Dialek Jawa-nya masih melekat di lidah.

Percakapan yang kental persahabatan itu berisi permintaan kepada saya untuk membantu seorang Baltyran yang nyaris “terdampar’ di stasiun Tugu. Ini adalah sebuah agenda mendesak. Mendesak sebab hanya saya Baltyran Djogja yang bisa didesak saat itu. Mba Dewi dan mba Tia sedang berkunjung ke keluarga Baltyrans Solo.

“Orangnya pakai kopiyah, tidak pakai sendal dan berbusana serba putih mirip pakaian kebesaran suku Badui”. Inilah sedikit pengantar Mba Dewi untuk memperkenalkan sosok yang harus saya temui di stasiun Tugu.

Handphone bergetar. Sebuah nomor baru. “Alfred, ini Mas Tok”. Sedikit perkenalan ini melahirkan cerita melalui telpon. Singkat cerita melalui telpon sedikit menandakan hangatnya persahabatan. Rasa persahabatan ini membuat saya bergegas ke stasiun Tugu.

mastok

 

KTP dan “TKP”

Dalam teleponya, mba Dewi mengatakan “jangan lupa bawa fotocopy KTP”. Kartu Tanda Penduduk. Sebenarnya ini persoalan saya juga. Sudah lama tinggal di Djogjakarta tapi belum ber-KTP Djogjakarta. Jangankan e-KTP, yang kertas laminating saja belum diurus. Di dompetku masih ber-KTP NTT, itu pun sudah kedaluwarsa. Status pelajar pendatang seperti saya, urusan KTP Djogjakarta sedikit lebih rumit. Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) saja sudah cukup dianggap menjadi bagian dari masyarakat Djogjakarta.

Karena alasan itu, saya meminjam KTP seorang teman. KTP itu di-fotocopy atas nama Agustinus Budiarta. Ini nama teman saya.

Gerimis menyusup di jalanan kota. Avanza hitam melaju kencang. Seorang teman mengantarku. Perasaan saya cuma takut kalau-kalau Bang Mas Tok ketinggalan kereta. Beberapa menit kemudian, Avanza tiba di parkiran stasiun Tugu.

“Bang, saya sudah di depan loket stasiun Tugu. Abang di mana?”. SMS ini terkirim ke nomor hp Mas Tok. Ciri-ciri tampilan Mas Tok yang dijelaskan mba Dewi tidak tampak di keramaian. Antrian loket tidak terlalu panjang. Lalu-lalang para pengantar calon penumpang kereta cukup memenuhi ruangan.

Bang Mas Tok menelpon. “Kamu di mana, Fred? Saya di luar. Pakai pakaian putih-putih, kopyah putih dan tidak pakai sendal”. Saya keluar gedung stasiun. Dari arah parkiran, tampak sosok berpakaian putih membawa sebuah tas ransel backpaker dan karung putih. “oh iya bang, saya sudah lihat abang”. Saya pun tersenyum ketika Bang Mas Tok mendekat.

Sebelum berpapasan, saya sudah mendengar celoteh satire keras. “Indonesia is f**king country”. “Waduh, ngeri-ngeri sedap orang ini”, kataku dalam hati. Beberapa orang di sekitar situ sepertinya sedang memandang ke arah kami. Sepertinya, penampilan Bang Mas Tok mengundang banyak pandangan mata. Saya dan teman saya hanya tertawa mendengar ekspresi itu.

Kami berjabatan tangan. Saya memperkenalkan teman saya. Beberapa kali Bang Mas Tok mengeluarkan celoteh satire keras itu. Dan saya dan teman hanya tertawa dan mengamini ekspresi kekesalan itu.

Ceritanya, Bang Mas Tok baru datang dari Semarang. Ia mengisi sebuah seminar di Universitas Diponegoro. Sebelum ke Bandung, ia sempat membeli beberapa oleh-oleh di Malioboro. Oleh-oleh itu (dan mungkin juga beberapa barang lainnya dari Semarang) dimasukkan ke dalam karung putih. Sementara ransel backpacker berisi notebook, GPRS, dan surat-surat penting lainnya (kecuali KTP).

Sekarang, Bang Mas Tok hendak pulang ke Bandung tetapi ia tertahan di loket tiket kereta api karena tidak ada KTP. Negosiasi alot tidak menghasilkan solusi yang sama-sama enak (win-win solution). Ia “terpojok” oleh kakunya birokrasi. Menghadapi langgam birokrasi yang “fasis” seperti ini, mungkin kita perlu bernegosiasi dengan cara yang sedikit “taktis”.

Sekarang negosiasi ala kami. Tempat kejadian perkara (TKP) berada di depan loket tiket. Bang Mas Tok sudah membuka “brankas”-nya dan memberikan kepada saya sejumlah uang untuk membeli tiket. Antrian tidak depan loket tidak terlalu panjang.

“Mau kemana mas?”.

“Bandung”, jawabku.

Penjual tiket itu menyebutkan sejumlah uang. Saya menyerahkan sejumlah uang dan KTP, sebab penjual itu memintanya. Berkali-berkali penjual tiket itu memandang antara saya dan KTP. Kecurigaannya memang benar. Sayangnya dia hanya bisa membedakan antara foto dalam KTP dan wajah saya, tetapi tidak berani mengklarifkasi atau mengambil tindakan radikal. Bang Mas Tok pun mendapatkan tiket atas nama Agustinus Budiarta dan saya pembelinya. Bang Mas Tok menerima dan melihatnya dengan saksama. Reaksinya hanya senyum. Saya pun tersenyum.

Senyum tak berarti masalah sudah selesai. Bang Mas Tok harus masuk ke dalam ruang berangkat dengan pemeriksaan. Inilah menjadi persoalan. Bang Mas Tok harus membawa kartu identitas. Itu berarti KTP temanku itu harus dibawa pergi dan tidak kembali.

Ide supaya KTP temanku kembali adalah saya memberikan KTP dan dompet. Bang Mas Tok membawa KTP untuk bisa melewati pemeriksaan tiket dan identitas. Setelah melewati pemeriksaan, security checking, Bang Mas Tok memberikan kembali dompetku. Seolah-oleh Bang Mas Tok lupa dan terlanjur membawanya ke dalam ruang berangkat. Tentu dompet itu berisi KTP temanku. Ide ini dibicarakan di dekat tempat parkir. Ide ini pun terjadi dengan kendala pada level nol. Tidak ada kecurigaan sedikit pun di benak security stasiun Tugu.

KTP

Selanjutnya, kami berpisah dan berharap Bang Mas Tok merasa nyaman di perjalanan pulang. Saya dan teman pun kembali ke Universitas Sanata Dharma. Dalam perjalanan pulang, kami bercerita sembari memberi apresiasi kepada Bang Mas Tok yang berani tampil beda melawan arus; melawan corak pikir umum dan budaya massa yang banyak tidak karuan. Dan “taktik” sangat perlu untuk melawan setiap birokrasi yang kaku dan tidak humanis. Gerimis masih tetap menyertai perjalanan pulang kami.

 

Djogja, 27 Maret 2013

Alfred Tuname

 

26 Comments to "Part I: Mas Tok dan Suatu Senja di Stasiun Tugu"

  1. Silvia U  10 April, 2013 at 11:57

    Hebat deh mas Tok bisa jalan2 kemana-mana tanpa alas kaki begitu. Kaki saya sudah tidak seampuh ketika kecil. Dulu pas kecil sih seneng nyeker

  2. elnino  10 April, 2013 at 11:44

    Juwandi ahmad Says:
    he he..kemana mana nyeker itu

    Oalaaaah…itu toh mangkane disebut manusia ayam

  3. juwandi ahmad  10 April, 2013 at 03:54

    he he..kemana mana nyeker itu

  4. elnino  7 April, 2013 at 21:02

    Persodaraan yang indah…
    Mas Juwi, kok Mastok dibilang manusia ayam? Kenapa? Bukannya manusia hutan? Makanya gak perlu KTP

  5. Nur Mberok  7 April, 2013 at 10:10

    kakang dj, sebetulnya beli tiket ka pakai ktp itu untuk mengantisipasi bnyknya calo. Menurut sy sih bagus jg tp mgkn aplikasi di lap jg ribet. Lgpula memang org kan hrs pny id. Ya kan mas tok. Ha ha ha. Iya kalo smua org baik kayak mas tok. Kalo bnyk yg nakal n jahat gmn? Hayo?

  6. Dj. 813  7 April, 2013 at 04:24

    Bung Alfredo…
    Terimakasih untuk ceritanya…
    Maaf kalau cerita ini terlewat….
    Jadi kalau mau beli ticket K.A. harus tunjukan Identitas ya…???
    Kok 2008 saat kami berdua, dari Bandung ke Semarang, Dj. beli ticket tidak diminta apa-apa.
    Hanya sedikit ribu sama penumpang yang lain.
    Karena tau-tau ada lengan yang mau nyrobot….
    Dj. tegur, malah marah-marah…. hahahahahaha….!!!
    Aneh juga ya, beli ticket KA harus tunjukan KTP….
    Ingat dulu kalau antar orang naik KA, kalau mau masuk Stasiun, karus beli karcis juga.
    Di Jerman, mau keluar-masuk 100X juga tidak ada yang pusing atau yang tanya.

    Salam Sejahtera dari Mainz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.