Adegan (Tujuhbelas Setengah Tahun)

Dewi Aichi – Brazil

 

“Tutup mata!” teguran untuknya.
Dijawabnya, “aku telah biasa melihat adegan yang mesra.”
“Tekas tutup mata!” teguran kedua.
“Kau belum cukup usia!”

 

Itu sebait lyric lagu tahun 80-an yang berjudul “tujuh belas setengah tahun”, yang dinyanyikan oleh K3S(Kelompok Tiga Suara), yaitu Bagoes AA, Dian Permana Putra, dan Deddy Dukun.

Bolehlah kalau di Indonesia, dengan cara memotong adegan-adegan yang tidak layak ditonton bagi yang masih dibawah usia, atau juga tayangan-tayangan sinetron yang tidak ada adegan ranjang atau adegan mesra, bukan mesra lebih tepatnya adegan bercumbu. Pengaturan jam tayang misalnya, untuk acara yang menayangkan adegan dewasa, ditayangkan pada jam tengah malam . Agar tidak ditonton oleh anak-anak di bawah umur.

Di Brasil, hal itu sangat sulit dihindari atau dijauhkan dari jangkauan anak-anak. Pasalnya, adegan dewasa yang biasanya bisa dilihat di layar lebar, atau di layar kaca, di Brasil bisa di lihat dimana saja, disetiap sudut tempat, dan jam berapa saja. Seperti yang akan saya ceritakan sekarang ini.

Seperti biasanya, pada setiap kesempatan, saya selalu menemani anak saya bermain skate di taman dekat rumah. Dan saya hanya membaca buku sambil sekali-kali melihat keberadaan anak saya. Biasanya saya pesan ke anak, agar selalu berada di tempat dimana saya bisa melihatnya setiap saat. Begitulah, baca buku namun sekali-kali melihat anak saya.

adegan (1)

adegan (2)

adegan (3)

adegan (4)

Dari tempat saya duduk, tidak pernah berpindah tempat. Biasanya saya menghabiskan 4 jam berada di taman itu. Dan biasanya pula, disekeliling saya, banyak sekali orang yang duduk-duduk di bawah pohon, bersama keluarga, atau juga pasangan-pasangan muda yang asik pacaran. Tidak aneh lagi sih, miriplah dengan Kebun Raya Bogor, atau Kaliurang. Tempat-tempat asik untuk berpacaran.

adegan (5)

Minggu kemarin, saya iseng. Sepertinya menarik untuk dijadikan sasaran nih. Diam-diam saya menjepret pasangan-pasangan yang berada disekitar saya. Satu, dua, tiga, empat, lima dan masih banyak lagi pasangan yang susah terjangkau oleh kamera saya. Dengan sedikit rasa khawatir, takut ketahuan, namanya saja mencuri , iya ngga?

Tak sedikitpun saya beranjak dari tempat duduk. Hanya menolehkan kepala, ke samping kanan, samping kiri, dan belakang, sedikit pura-pura berteriak memanggil anak saya untuk melihat saya, seakan-akan saya ingin memotret anak saya.Padahal kamera saya arahkan ke pasangan-pasangan yang sedang bermesraan. Kalau posisinya berada di depan saya, ya tinggal klikkkk…kena deh.

adegan (6)

adegan (7)

adegan (8)

adegan (9)

adegan (10)

adegan (11)

adegan (12)

adegan (13)

adegan (14)

adegan (15)

Jadi di Brasil, mau tidak mau, suka atau tidak suka, anak-anak di bawah umur sudah terbiasa melihat adegan mesra, adegan dewasa, tanpa melalui media seperti TV, sinetron atau film. Di rumah, TV kabel mempunyai password untuk acara-acara yang tidak layak tonton oleh anak-anak. Internet juga di blokir untuk situs-situs pornô. Kalau untuk film dan sinetron, itu bagaimana orang tua berperan saja. Jika belum layak untuk anak-anak, maka seharusnya orang tua yang bertindak dan mengatur tontonan untuk anak.

Anak-anak di Brasil pada umumnya sudah terbiasa melihat, baik itu di rumahnya, bisa kakaknya, saudara lainnya, atau siapapun itu, bisa di dalam kereta, bisa di restoran, bisa di jalanan, di mall, di taman, dimanapun mudah sekali ditemukan adegan dewasa.

adegan (16)

adegan (17)

adegan (18)

adegan (19)

adegan (20)

adegan (21)

adegan (22)

adegan (23)

adegan (24)

adegan (25)

Sinetron di Brasil memang luar biasa bagus, saya akui itu. Untuk adegan dewasa sangat banyak, dimulai dari jam 5 sore hingga jam 10 malam, ada 4 judul tayangan sinetron. Jam 5 sore, meski banyak adegan ciuman, namun ditulis label “segala umur”. Tayangan jam 6 dan jam 7 diberi label “10 tahun ke atas”, untuk tayangan terakhir, labelnya “12 tahun ke atas”, tapi dari semua tayangan itu, untuk yang 12 tahun ke atas, yang dimulai jam 9 sampai jam 10:30, adegan ranjangnya sangat sering muncul. Mungkin sudah sekelas film pornonya Indonesia.

Inilah yang jadi masalah jika kita berasal dari budaya timur , kemudian harus tinggal di negara yang bebas, liberal geral. Basic moral yang terlalu berbeda. Hal yang tak bisa di hindari. Dibutuhkan sikap bijak, dan memberikan penjelasan yang tepat kepada anak.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

69 Comments to "Adegan (Tujuhbelas Setengah Tahun)"

  1. Sierli FP  25 April, 2013 at 09:12

    Mba Dewi, berarti kalo di sana berpelukan, berciuman berkasih2an..itu hal yang biasa ya..? ehmm..seger mulu dong liat adegan live..hahhahaa…

  2. Lani  13 April, 2013 at 05:03

    63 KANG JUWANDI : ngeri??????? halah yg bener aje……….jangan2 hahahaha……….njur kemekelen dewe aku…………

  3. Mawar09  13 April, 2013 at 04:42

    DA : foto2 nya seru banget, bisa di pahami sih soal kerisauanmu dengan lingkungan seperti itu utk perkembangan anak, tapi mau gimana lagi. Apa berencana pindah balik ke Indonesia? Cara terbaik ya mungkin anak harus di ajak diskusi dan sering ngumpul sehingga mereka merasa di anggap spt teman (itu yg dilakukan temanku disini dan ternyata berhasil tuh, anak2nya selalu terbuka dan kalau ada masalah malah di bahas ramai2!.) Konon kabarnya banyak juga anak2 sekolah di Indonesia yg sdh kebablasan, terutama di kota besar. Salam!

  4. Matahari  11 April, 2013 at 23:18

    Foto foto diatas..lumayan”seru”tapi seseru apapun tetap saja masih mamakai pakaian.. …artinya tidak sampai ke” titik teratas”..mereka melakukannya dengan pacar atau suami atau istri karena itu tidak takut melakukannya di muka umum….yang lebih seru justru sangat banyak di negri kita… terjadi didalam kamar kamar hotels-motels dengan pintu tertutup… juga marak terjadi di -kos kos-an..spa..karaoke…dll Menjadi ”pura pura baik”pura pura sosial”pura pura suci’masih dijunjung tinggi dinegara kita…manusia manusia ini paling pintar menyembunyikan kotorannya ..tapi baunya sampai tercium dari puncak Machu Picchu

  5. Lani  10 April, 2013 at 04:08

    61 LINDA ke doke

  6. juwandi ahmad  10 April, 2013 at 03:19

    nyawang gambare-gambare, sih kroso ngeri aku

  7. Dewi Aichi  8 April, 2013 at 09:31

    Lani, komen 49, iya betul Lani itu salah ketik, pakai ipad kadang malih sendiri , lupa ngga baca ulang he he..

    Alvina, iya sih di indonésia juga ada, tapi belum seterbuka dan sebeas itu menurut saya, saya belum menemukan pasangan yang berciuman lama sambil lumat di depan kasir, di halte, di angkutan umum, di tamna-aman, atau di tempat umum lainnya, kalau di kebun raya paling sekedar pada berduaan, pangkuan, ya kadang ada yang kelewatan hi hi…tapi masih belum terlalu bebas. Kalau di kamar iyalah..itu sudah rahasia umum, sebenarnya sudah dari jaman dulu..tapi di Indonesia masih ditutupi.

    Angela, terima kasih ya atas komentarnya, betul beda negara, beda budaya, tinggal kita yang bisa menggunakan filter, mana yang baik untuk diri kita , mana yang tidak, itu tergantung pada setiap individu.

    Komen 52, Linda…ha há…iya iya…bocoran dikit dari yang tau, memang begitu, temenku itu juga cerita…tapi ngga sengaja katanya melihat mereka…ya salah mereka yang melakukan he he..

    Selamat pagi Mpek Dul…bang Dul…hahhhh…3 hari 3 malam tidorrrrr??? Wah..entahlah Mpek, ada legalisasi ngga , saya sih main ambil saja, itu tidak beranjak dari tempat duduk saya, semua disekeliling di mana saya duduk, ahh..polusi visual buat saya dan anak-anak he he…saya diem-diem saja jepret mereka, kalau ketahuan dan saya kena hukum ya saya aja yang apes he he..mereka begitu di tempat umum, kalau di Brasil kan biasa tidak ada yang usil, berhubung saya orang Sleman, keusilan saya terusik he he..Oya, foto-foto teman saya itu nanti, bukan yang ini.

    Anoew, budaya timur yang selama ini dimengerti dan dipahami, adalah budaya yang penuh sopan santun, etika, tidak boleh ada pergaulan bebas, apalagi free sex, itulah yang sering dipahami tenang budaya timur, sedangkan budaya barat itu penuh maksiat…begitu kan pengertian yang dipahami pada umumnya.

    Elnino..ya ..begitulah sehari-hari yang saya temui di selama di Brasil, banyak yang menurut ukuran kita terlalu dini untuk beradegan mesra, coba siapa yang pernah melihat anak-anak SD bermesraan? di Indonesia terutama di kampung, ya jaang banget anak umur 11 tahun, 12 tahun, 13 tahun sudah pacaran dengan sangat bebas di tempat umum. Sepertinya anak-anak masih mbocahi(anak-anak banget), dalam usia segitu..kecuali SMU ya atau paling awal SMP.
    Itu salah satu kerisauan ku di sini Elnino…

    mas Juwandi sama Lani..silahkan gereh petheknya di makan dulu keburu dingin tuh nasinya, sambelnya jangan dihabisi ya…cabe mahal tau..

    Hennie betul, saya juga tau, banyak juga kok di Indonesia, tapi kalau soal berhubungan seksual pasti ngga terbuka, orang pacaran atau belum menikah, banyak yang sudah sangat jauh , tetapi pasti tetap masih ditutupi, ngga bakal cerita kalau mereka sudah jauh berhubungan. Padahal kan banyak sekali yang melakukan sex pra nikah. Adegan pacaran seperti di foto itu ada, tapi ya itu adi sudah aku bilang, tidak seterbuka seperti itu.

    Tossss.. juga Linda sama Lani..

  8. Linda Cheang  7 April, 2013 at 21:30

    Yu Lani : TOSSS balik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *