Ambilkan Bulan, Ma!

Wendly Jebatu

 

Rumahku kini gelap, anakku sakit. Ia berbaring tak berdaya di atas tikar lusuh di sudut ruang depan rumahku yang reot ini. Anakku sakit dalam miskin, dan baring dalm gelap beralas tikar lusuh tak berkasur. Sesekali ia cuma diterangi oleh seberkas cahaya rembulan malam yang masuk menembusi atap rumah yang tercabik karena usur. Atap alang-alang itu memang sudah tua, sepantasnya kalau dia harus segera diganti, tapi siapa yang mau menggantinya? Apakah yang bisa aku perbuat kalau bukan terima kenyataan apa adanya? Aku sudah belajar kian lama untuk menerima semua kenyataan yang harus aku hadapi. Aku cumalah seorang ibu tak bersuami. Aku melahirkan putraku di luar pernikahan. Orang tuaku dulu mengusirku dari rumah, sementara laki-laki yang meniduriku lari tak tahu rimbanya. Aku membangun rumah ini dengan bantuan masyarakat yang iba kepadaku. Dan inilah satu-satunya hartaku yang aku punyai. Atap dari alang-alang, dinding dari bambu yang dicincang, berlantai tanah.

Rumahku gelap! Anakku sakit!

Anakku dilahirkan di rumah ini, rumah yang menurut orang tuaku tempat pembuangan. Tempat anak haram bernaung. Lima tahun lalu ia lahir tetapi tanpa ayah. Tetapi aku tidak menerima kalau orang menyebutnya anak yatim, karena aku merasa akulah ibu sekaligus ayahnya. Ada dua pribadi dalam diriku kini. Aku merangkap sebagai ayah dan ibunya. Ia lahir dalam kemiskinan dan bertumbuh dalam kemelaratan. Lima tahun sudah umurnya, dan aku merasa dialah harta terindah yang Tuhan berikan untukku.

Rumahku memang gelap dan anakku memang sakit!

Aku tak mampu mencari penerangan lagi, juga tak mampu mencari obat untuk putraku. Aku memang mempunyai sebuah pelita, tetapi aku tak bisa berjalan mencari minyak. Aku mempunyai kaki untuk berjalan, tetapi tidak mempunyai keberanian untuk meminta tolong. Aku tidak mau dipanggil pengemis. Mending aku tinggal dalam gelap, dari pada dibilang pengemis.

Rumahku gelap!

Pelita satu-satunya tak bisa menyala, minyak tak mampu aku beli. Tapi aku masih beruntung dan layak kalau aku bersyukur kepada Tuhan, karena ia memberiku cahaya rembulan yang mampu menembusi atap rumahku dan membuatku bisa menatap putraku walau samar-samar saja.

Anakku sakit!

Tapi aku tak mampu mengobatnya, obat ada diluar jangkauanku. Selain karena tidak dijual di sini, tepi juga tidak sanggup dibeli. Di kampungku tak ada kios yang menjual obat. Pernah sesekali pedagang obat datang dan menawarkan obat untuk anakku. Mereka juga dengan penuh keyakinan menjelaskan penyakit anakku sambil mempromosikan obat mereka. Tetapi sia-sia, karena aku tidak membelinya. Aku tidak mebeli bukan lantaran aku tidak percaya tetapi lebih karena aku tak punya uang untuk membeli obat. Pernah mereka memberi keringanan untuk sistem bon, tapi aku tak mempunyai jaminan. Maka aku biarkan mereka berlalu dan aku terus membiarkan anakku berbaring dalam sakit. Maaf aku memang keterlaluan karena membiarkan anakku sakit, tetapi mau bilang apa? Inilah risiko dari pilihanku dulu bemain-main sebelum menikah yang kemudian membuatku terusir dari orang tuaku. Aku diusir dari kebahagiaan bersama orangtua.

Bertahun-tahun aku selalu bergulat dengan gelap, bertahun-tahun pula aku bergumul dengan sakitnya anakku! Siang  hari memang tidak kesulitan karena terang itu datang sendiri. Tetapi malam? Satu-satunya harapan kami berdua adalah sinar rembulan yang lagi-lagi menerobos masuk lewat atap yang tercabik itu. Syukur kalau dia bersinar, kalau tidak maka kami bergulat dalam gelap. Hanya suara desahan yang  terdengar. Kadang anakku terbangun dalam gelap dan berceloteh memintaku cari penerangan, tetapi aku selalu katakan padanya, bahwa cahaya di dunia tak ada yang gratis. Kalau ingin api menyala, kita mesti beli sumber apinya. Yang gratis hanya terang siang dan cahaya bintang yang tersenyum dan sinar rembulan yang kabur. Tapi kita harus bersyukur karena kita masih mendapatkan yang gratis dari atas sana.

Penjelasanku selalu kuulangi saat dia berceloteh memintah cahaya. Rupanya dia mengerti maksudku, atau mungkin saat itu memang dia sudah mengantuk berat sehingga penjelasanku tidak didengarnya. Buktinya ia tak pernah protes dengan penjelasanku.

Anakku sakit dalam gelap!

Dalam gelapun ia selalu mengeluh dan merintih meminta tolong. Beruntung aku masih berada di sampingnya. Walaupun tidak melihatnya tetapi aku masih bisa merangkul dan merasakan panas dingin tubuhnya. Demikian sebaliknya. Hanya itu yang bisa aku beri untuk anakku yang malang ini.

Anakku memang selalu mengeluh dan berceloteh. Kadang celotehannya aneh-aneh.

Suatu malam, ketika rembulan tengah bersinar, seberkas cahaya menembus masuk dan tepat di muka anakku.

Ma! Sakit ma, aku mau pipis! Tolong bukakan atap rumah kita ma, biar cahaya bulan menerangi seluruh rumah kita. Biar aku bisa pergi pipis dan bisa lihat mama.

Air matakupun bercucuran, tetapi aku berusaha menahan tangis. Aku biarkan air mata itu menetes membasahi pipiku toh anakku tidak melihat ekspresi kesedihanku. Aku tak mau ia mendengar isakanku. Memang aku tak pernah menangis di hadapan dia. Aku tak mau penderitaannya semakin bertambah. Aku hanya mempunyai obat satu saja yaitu menghibur dia dan sesekali membuatnya tertawa dalam duka.

Tahan nak! Biar mama dukung ade berdiri di ujung tempat tidur dan kencing ke tanah!

Lalu aku mengangkatnya dan membiarkan dia bediri dan pipis. Setelah itu aku mengarang sebuah dongeng tentang seorang anak yang tidak mempunyai rumah. Saat hujan ia hanya berlindung di bawah pohon. Anak itu kemudian jatuh sakit dan mati.

Lalu aku katakan kepada anakku:

“Nak kalau atap rumah kita dibuka, terus waktu hujan atau panas terik datang kita berlindung di mana? Nati kita mati dalam hujan atau terpanggang sinar mentari yang panas.”

“Kalau begitu, ma biar kita gelap saja, jangan buka atap rumah kita, tetapi biar jangan diperbaiki saja. Biar ade bisa melihat rembulan dan bintang lewat atap yang tercabik itu.”

Akupun mengangguk walaupun aku tahu dia tidak melihat anggukanku.

Anakku terus sakit, dan waktu bulan purnama tiba ia masih sakit. Ia menyaksikan bulan purnama lewat atap yang tercabik. Malam itu kami bisa baku pandang, walau hanya mata saja yang nampak jelas. Dalam hening ia mengeluh sakit! Dan satu permintaan aneh yang mengagetkanku dan membuatku tak mengerti. Ia merintih dan memintaku agar segera mengambil rembulan.

“Ma tolong ambilkan bulan, kalau mama tidak bisa, biar ade sendiri yang ambil!”

Oh Tuhan! Mungkinkan anakku bermimpi memetik bulan? Ataukah dia sedang berhayal?

Aku tak mengerti, aku hanya bisa mencucurkan air mata haru; tapi lagi-lagi aku tidak mau ia mendengar isakanku.

“De, nanti kalau ade sembuh, kita sama-sama pergi ambil bulan ya! Yang penting ade cepat sembuh ya!”

Setelah itu diapun tertidur.

Malam ini rumahku masih gelap! Rembulan sedang enggan bersinar! Anakku pun masih sakit!

Seperti biasa aku berbaring di sampingnya.

Tiba-tiba saja tadi ia terjaga. Aku pikir ia mengeluh lagi. Aku sedang tunggu apa lagi yang akan dimintanya sebentar.

Tetapi kini ia tidak mengeluh kepadaku. Ia memanjatkan doa yang membuatku pilu.

rising-full-moon

“Tuhan! Aku sudah sembuh, tetapi mamaku sakit!

Dan kami masih bersatu dalam gelap.

Berikanlah kami bulan itu, biar rumah kami terang.

Berikanlah kami bulan itu, biar aku dan mama saling memandang

Berikanlah kami bulan itu, biar malam kami bercahaya.”

Lalu ia mencari tanganku dalam gelap dan memintaku memeluknya. Dalam pelukanku dengan suara parau ia berkata

“Ma aku sudah sembuh, sekarang aku pergi mengambil bulan itu dan aku akan membawanya untuk mama!”

Tapi tak lama berselang, dalam pelukanku ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Akupun hanya bisa menjerit, tetapi menjerit dalam gelap.

Aku menjerit dalam sunyi karena aku tidak mau anakku tahu dia pergi diantar sedih sang ibu. Seperti dulu aku tidak mau dia tahu aku sedang menangis.

Aku mendekap jasadnya yang kurus dan kaku itu, dan meminta Tuhan agar dia memberi Bulan itu. Aku sadar, anakku sudah sembuh, tetapi sekarang ia telah pergi memetik bulan.

Tuhan berikanlah dia bulan itu, biar jalannya tak mengenal gelap.

RIP buat putraku!

 

Sudah diterbitkan di Harian Pos Kupang tanggal 19 Oktober 2008.

Juga diterbitkan dalam Mingguan Hidup Maret 2009.

 

 

Nice Place, 3 Oktober 2008

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Wendly Jebatu! Make yourself at home ya…dan ditunggu artikel-artikel lainnya… Terima kasih Dian Nugraheni yang mengenalkan Baltyra ke Wendly Jebatu…

 

14 Comments to "Ambilkan Bulan, Ma!"

  1. Hennie Triana Oberst  7 April, 2013 at 03:29

    Selamat bergabung Wendly.
    Kisahnya sedih.

  2. Alvina VB  6 April, 2013 at 10:34

    Wendly…kok ya ceritanya sedih sich….

  3. juwandi ahmad  5 April, 2013 at 23:43

    kisah yang mentuh…mengharukan….terimakasih, selamat datang dan salam kenal

  4. EA.Inakawa  5 April, 2013 at 22:58

    Wendly Jebatu : Pasti nya dia pergi ke Syurga……..selamat berkumpul dirumah kita Baltyra, salam sejuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.