Syukur

Nyai EQ – di keremangan senja

 

Jum’at siang di kampus yang tenang. Di halaman daun-daun kecil-kecil berwarna kuning bertebaran di lantai aspal, seperti menir emas yang ditabur di jalan pengantin. Bercak-bercak sinar matahari yang tercetak di aspal menimbulkan pola-pola indah bergaris-garis di antara taburan keemasan dedaunan yang rontok dibawa angin.

Siang panas. Matahari bersinar dengan sangat terik dan menyengat. Tapi saya duduk dengan posisi yang nyaman di keteduhan. Ada sebuah tempat di dekat gerbang masuk, samping ruang satpam, yang disebut sebagai segitiga pasca, di situlah mahasiswa bisa akses internet dengan nyaman 24 jam. Teduh saat hari panas, karena di atasnya adalah ruangan-ruangan kelas. Hanya kurang nyaman jika hari hujan deras, karena tempias. Tapi tetap saja tidak mengurangi kenikmatan berselancar di dunia virtual.

Bagaimanapun juga, tempat ini adalah tempat favorit saya untuk nongkrong berlama-lama di kampus, selain kantin tentu saja.

Siang ini, suasana segitiga begitu tenang. Hanya ada saya, satu teman yang juga asyik berselancar, anaknya bu kantin yang rupanya juga ketularan para mahasiswa, dan seorang kawan baik yang tertidur dengan nikmatnya di bangku panjang sebelah saya.

Udara memang sangat panas, tapi angin yang bertiup semilir membuat suasana menjadi sedikit enak. Apalagi ada segelas jus jambu merah yang segar. Dan pemandangan yang mengingatkanku pada musim gugur, membuat dunia ini menjadi begitu indah. Ditambah dengan suara piano dari iTunes, mengalir seperti air sungai yang jernih dan sejuk. Beberapa teman bersepeda datang dan pergi. Sungguh siang yang indah.

Seorang teman perempuan datang, mengenakan baju kaos berwarna biru terang. Senyumnya manis, kulitnya putih, rambutnya terurai sampai ke bahu. Perawakannya cukup tinggi besar, bongsor, mengingat tingkah lakunya yang masih seperti anak-anak dan manja. Kami bersahabat dengan baik. Tapi siang itu kedatangannya hampir saja memporakporandakan siangku yang cerah. Keluhannya akan udara panas benar-benar membuatku risih.

Belum lagi status fesbuk seorang teman lain yang isinya seringkali lebih kepada keluhan ketimbang hal-hal konyol lainnya. Keluhan akan ketidakmampuannya, keluhan akan segala macam hal, padahal dia sebenarnya adalah seorang musisi yang hebat. Musikalitasnya tak diragukan lagi. Permainan biolanya sangat cantik. Tapi memang karena penampilan dan tingkah lakunya yang agak freak dan nyentrik, kata orang-orang, dan punya hoby khusus seperti “temannya” kang Anung dan kanjenge Josh Chen, sehingga dia sering jadi bahan gurauan teman-temannya, jika mengenai soal lawan jenis. Dan satu hal lagi, rambutnya. Rambutnya yang direbonding. Dia punya kebiasaan mengelus rambutnya, bahkan pada saat dia sedang berdiri di panggung sebagai seorang dirigen yang mempimpin sebuah konser, kebiasaan mengelus rambut itu tidak terlupakan, dan ini yang sering jadi bahan gurauan teman-teman. Dia jelas menikmatinya, tapi kebiasaannya mengeluhkan segala sesuatu yang berkenaan dengan kemampuan musikalitasnya dan kegagalannya mendapatkan pacar, membuat saya menjadi risih.

Tidak hanya dua orang itu saja yang sering kali mengeluhkan banyak hal. Hujan mengeluh, panas mengeluh. Punya pacar mengeluh, tidak punya pacar mengeluh.

Pada suatu hari, beberapa teman mengeluh dan merasa stress dengan tugas-tugas kampus. Mereka menanyakan pada saya yang sepertinya tidak memikirkan tugas-tugas tersebut. Saya jawab, ah, tugas itu tidak usah dipikirkan, tapi dikerjakan saja. Tentu saja itu jawaban sambil guyon, bercanda. Namun itulah yang membuat saya tidak pernah telat mengumpulkan tugas, bahkan ketika saya nekat mengambil sit in kelas penciptaan (komposisi) musik dan meminta diberi tugas-tugas yang sama, saya biesa mengerjakan semuanya tepat waktu. Dan tentu saja dibantu oleh teman-teman sekelas.

“Oalaaaaah mbaaak, maaas…mbok ya belajar bersyukur, begitu komentar saya pada suatu hari. Hidup ini indah sekali. Nikmat sekali, jika kita tahu bagaimana caranya bersyukur. Mengeluh itu boleh, komplen itu ya wajar, namanya juga manusia, tapi mbok ya gak usah terlalu-terlalu gitu…biasa aja…..*senyum”

Bersyukur bukan berarti kita harus mengucapkan kata syukur setiap hari. Bukan pula harus bikin bancak’an syukuran dibagi-bagikan pada teman dan tetangga. Bahkan juga bukan berarti kita harus komat-kamit berdoa tiap menit. Bersyukur yang saya maksud adalah dengan tidak terlalu banyak mengeluhkan segala sesuatu. Bersyukur adalah menikmati apa pun yang kita dapat dan yang tidak kita dapat.

Ketika terik matahari menyengat, tidak perlu kita mengeluhkan udara yang panas, membuat kulit jadi hitam, berkeringat dan gerah. Tapi cobalah berpikir, setidaknya kita tidak perlu basah kuyup kehujanan, kamar saya tidak basah karena genteng yang bocor, jemuran saya kering dengan bau yang segar, jalanan tidak becek, dan jika ada angin yang berhembus, nikmati itu sebagai karunia alam. Memang mungkin kita akan merasa gerah, lembab dan tidak nyaman, tapi kita bisa mandi supaya segar, minum jus buah yang dingin, makan sayur yang menyegarkan, memakai pakaian yang ringan dan nyaman, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi cuaca panas dan gerah. Bagi saya, cuaca panas sangat menyiksa, kulit saya akan bentol-bentol merah, gatal-gatal akibat keringat yang hanya berada di bawah kulit, bahkan bisa sampai mimisan (keluar darah dari hidung) jika udara terlalu panas, tapi itu bukan halangan bagi saya untuk tetap menikmati hidup. Ya kalau sudah mepet, saya akan pergi ke mall, sekedar ngadem dan jajan es krim. Tentu saja mampir toko buku untuk sekedar membaca gratis, dan menikmati barang-barang cantik lainnya. Tidak perlu membeli kalau memang tidak punya dana untuk membawanya pulang. Cukup dengan memuaskan mata, membawa pulang sebagai ide untuk berkarya.

Ada sebuah cerita pendek. Konon jaman dulu kala, ada seorang nenek yang selalu menangis. Sehingga dia dijuluki nenek penangis. Kemudian pada suatu sore dia didatangi oleh seorang guru Zen, dan ditanya, mengapa dia selalu menangis. Si nenek menjawab, nenek itu memiliki dua anak gadis. Yang satu penjual payung, yang lainnya adalah penjual sandal jerami. Jika hari hujan, si nenek akan menangis sedih karena teringat anaknya yang menjual sepatu jerami, sebab sepatunya pasti tidak akan laku dan jeraminya akan menjadi busuk. Sedangkan ketika cuaca panas, dia akan menangis sedih karena teringat anaknya yang menjual payung. Orang-orang tidak akan memerlukan payung karena tidak ada hujan yang turun. Payung-payungnya menjadi tidak laku. Guru Zen tersenyum mendengarnya, kemudian berkata kepada si nenek, katanya, “mengapa nenek tidak berpikir begini saja : ketika musim hujan, ingatlah anakmu yang menjual payung. Payung-payungnya pasti akan laku karena orang-orang memerlukannya. Sedangkan ketika musim panas, ingatlah akan anakmu yang menjual sepatu jerami. Sepatunya pasti akan laku karena jeraminya kering dan bagus. Dengan begitu, kedua anak akan selalu bahagia.”

Si nenek berpikir sejenak, kemudian tersenyum lebar, katanya, “ benar sekali, Guru, dengan begitu aku akan tahu, bahwa anak-anakku bahagia karena dagangan mereka laku dan hidup mereka sejahtera.” Sejak saat itu, nenek penangis disebut dengan nama nenek tersenyum.

Ilustrasi tadi menggambarkan bahwa di setiap kejadian yang tidak menyenangkan, selalu ada sisi baiknya, jadi sebaiknya kita berusaha untuk melihat sisi baik tersebut. Bersyukur bahwa kita diberi kesempatan untuk menjadi manusia-manusia yang berbeda dari yang lainnya. Bersyukur bahwa kita diberi berbagai macam keahlian dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Bahkan bersyukur ketika kita diberi kekurangan, dengan begitu kita mempunyai kesempatan untuk belajar lebih banyak, mendapat ilmu, pengetahuan dan kesempatan lain yang lebih baik.

Ada banyak cara untuk bersyukur. Dengan tidak terlalu banyak mengeluh, terutama mengeluhkan hal-hal yang sepele, seperti masalah cuaca misalnya. Bersyukur dengan cara tidak mengumbar kemalasan. Bersyukur dengan mau menerima keadaan apa pun itu. Bersyukur ketika kita diberi pasangan, meskipun mungkin dia kadang-kadang menyebalkan, tapi pasti ada sisi-sisi baiknya yang membuat kita memilihnya, dan dengan begitu berarti kita juga punya keistimewaan karena kita dipilih olehnya. Bersyukur bahwa kita punya teman, kerabat, sahabat, saudara dan tetangga yang beraneka warna. Bersyukur bahwa kita masih bisa menikmati Baltyra.

grateful

Tak akan ada habisnya jika kita mau bersyukur. Dan dengan bersyukur, hidup ini akan menjadi menyenangkan. Seperti siang yang sudah bergulir menjadi senja. Matahari sudah tidak lagi menyengat. Alam tidak lagi megah ceria namun berubah menjadi redup. Dan tetap cantik. Tetap tenang dan nyaman.

Hidup ini benar-benar indah, jika kita tahu bagaimana caranya menikmati.

 

23 Comments to "Syukur"

  1. elnino  10 April, 2013 at 11:08

    Makasih Nyi… Artikelmu mencerahkan hariku

  2. Nyai EQ  8 April, 2013 at 21:25

    weeeeh…..malah dho rebutan pupu…..sesuk dho tak bagi wis…njaluk pira ? rasah rebutan……matur nuwun Gustiiiii……isih iso dho rebutan pupu dengan penuh semangat

  3. juwandi ahmad  6 April, 2013 at 22:38

    ha ha ha ha..iyo yo kang..wah nyesel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.