Linda Pergi

Ida Cholisa

 

Linda menyayangiku, aku sungguh tahu itu. Meski aku sering berdiam membunuh rasa itu, Linda tak henti menyayangiku. Bukan hitungan minggu atau bulan. Tetapi tahun.

butterfly

Aku menemukan Linda di antara kawat berduri. Aku melihatnya tertatih-tatih melawan kesakitan diri. Aku datang. Aku menjumpai cahaya bintang bertaburan di kelam malam, dan malam itu adalah Linda. Ia bukan rapuh, tapi ia perempuan tangguh. Aku melihat sesuatu yang berkilau, tetapi tersembunyi.

Aku menyibak tirai gulita, membawa Linda pada terang dunia. Aku membuka kilau Linda, hingga ia bersinar adanya.

Kuakui aku jatuh hati, dalam hitungan hari. Aku menyanyikan lagu cinta untuk Linda, aku menyenandungkan kidung asmara untuknya. Entah apa yang membuatku mabuk rasa, sedang Linda hanyalah sekuntum bunga biasa.

Linda adalah mawar di tengah belukar.  Ia kuat dan tegar.

Linda jatuh hati padaku, aku tahu itu. Linda teramat menyayangiku, aku tahu itu. Dan kubiarkan Linda terbang di antara mega-mega, jauh di angkasa raya.

Aku salah? Entahlah.

Linda jatuh hati padaku, semua berawal karenaku.

“Aku menyukaimu, Linda. Aku mencintaimu. Andai kau ada di depanku, aku akan memeluk dan mencium bibirmu.”

Itu adalah kalimat gila pertama yang kuberi pada seorang lugu bernama Linda. Hingga waktu terus berjalan, rayuanku surut dan pasang. Tapi Linda tak berubah. Ia tetap memberi sepenuh cinta padaku.

Aku mungkin gila. Berapa banyak Linda-Linda terjerat rayuanku? Berapa banyak perempuan bertekuk lutut padaku? Apakah aku tega menyakiti Linda, seperti aku mencampakkan perempuan-perempuan lainnya?

Linda pasti tahu siapa aku. Tapi yang tak aku mengerti, Linda tak pernah berubah menyayangiku.

***

Aku tak bisa berlama-lama berada dalam  keadaan begini. Linda harus tahu masalah ini. Kukatakan banyak hal tentang hubungan persaudaraan yang beriak ini.

Linda sedih. Ia memintaku menghapus semua akses yang bisa membuatnya mengerti aku. Ia ingin aku melangkah tanpa ia tahu. Ia ingin bersembunyi dan menghilang dari aku.

Linda menyayangiku sepenuh jiwa. Seharusnya aku bahagia, sebab setia tak mudah didapat begitu saja.

Tapi kami salah. Linda perempuan bersuami, dan aku, Anggoro, adalah pria beristri.

Haruskah kubiarkan Linda pergi?

***

 

Cileungsi, 25 Maret 2013

 

6 Comments to "Linda Pergi"

  1. Dj. 813  6 April, 2013 at 18:45

    Siapakah Linda…
    Kupu-kupu…??? Mawar…??? Wanita…???
    Atau…???

    Ooooooo Lnda, aya naon eta teh Lind….???

  2. Nur Mberok  6 April, 2013 at 15:52

    ah linda…ha ha ha

  3. Linda Cheang  6 April, 2013 at 15:45

    hahahaha, rayuan gombal dari playboy cap dua cula, makanya nggak asyik, hihihi..

  4. Ida Cholisa  6 April, 2013 at 11:26

    Aduh… tulisan ini nongol di Baltyra… wah-wah.. Mbak Dewi Murni ini….

  5. Dewi Aichi  6 April, 2013 at 09:44

    Ha ha ha..sepakat dengan Alvina, jangan coba coba merayu Linda baltyra…

  6. Alvina VB  6 April, 2013 at 09:43

    “Aku mungkin gila. Berapa banyak Linda-Linda terjerat rayuanku? Berapa banyak perempuan bertekuk lutut padaku? Apakah aku tega menyakiti Linda, seperti aku mencampakkan perempuan-perempuan lainnya?”

    Saya rasa… Linda yg di Baltyra gak akan termakan sama rayuan gombalnya Anggoro..he..he…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.