Bukan Aku (5 – habis)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Menurut Sekar dan Dwi, aku harus bisa bertemu Anti dan hati kecilku juga berkata demikian. Maka tanpa izin dari Yusman aku akan bertemu Anti. Setidaknya Yusman sekilas pernah berkata di bagian mana anaknya dirawat.

Anak-anak ku titipkan di rumah Ibuku, dan aku bertekad harus menemukan Anti. Kubawakan masakan buatanku, juga beberapa keperluan. Aku tidak tahu seperti apa rupanya Anti, namun biarlah hati wanita yang menuntunku.

*****

RSCM memang rumah sakit tua, hanya beberapa kali aku menginjakkan kaki di sini, itu pun saat menjenguk kawan yang sakit. Agak sulit mencari bangsal di mana Nuar dirawat. Hingga akhirnya kutemukan. Aku sempat ragu untuk masuk, apakah Anti akan marah melihatku? Apakah aku sedang belagak baik? Apakah aku siap? Pikiranku tiba-tiba penuh dengan berbagai kemungkinan. Namun aku akhirnya tetap melangkah masuk.

Ruangan itu jauh dari kesan indah, tak seperti Rumah Sakit yang biasa kukunjungi saat membawa anak-anakku berobat. Di dalam ruang itu ada tiga buah tempat tidur besi, yang pertama terbaring seorang anak sekitar 7 tahun didampingi seorang nenek dan itu jelas bukan Anti. Tempat tidur kedua kosong dan jantungku berdegub kencang saat menatap tempat tidur ketiga yang tirainya tertutup setengah.

Kuintip perlahan dan nampak seorang anak laki-laki sekitar 11 tahun yang tergolek lemah. Tubuhnya kurus, nafasnya nampak berat. Tak sanggup kutahan airmata ini, aku tak sanggup membayangkan saat aku adalah Anti, yang bertahun-tahun bergelut dengan kesendirian merawat buah hati yang sakit sepanjang waktu. Tanpa suami tanpa uang yang memadai.

Dan aku nekad menyibak tirai pembatas dan ….. Kulihat sosok wanita yang kurus dan pucat, seolah wajahnya lebih tua dari usia sebenarnya. Gurat-gurat penderitaan begitu tergambar di wajahnya yang sebenarnya cantik. Wanita itu nampak tercengang, dihapusnya segera airmata dari wajahnya. Ia menatapku dengan takut, sepertinya dari intuisi seorang wanita dia tahu aku adalah Ina, istri kedua Yusman.

Aku mendekati Anti, kuraih tangannya yang kurus hingga dia berdiri. Kupeluk dan aku menangis. Aku menangisi banyak hal. Penderitaan Anti, ketidaktahuan aku menjadi istri kedua, melihat kondisi Nuar yang memprihatinkan, benci menjadi salah satu pemeran poligami. Intinya aku menangis.

Anti juga menangis, di dalam isak tangisnya dia berkata, “Ina, maafkan aku yang sudah mengganggu rumah tanggamu, aku terpaksa … Sungguh terpaksa”.

Aku makin pilu, bagaimana mungkin Anti merasa sebagai pengganggu? Aku lah yang menjadi istri muda Yusman, akulah yang membuat Yusman kurang bertanggung jawab akan biaya-biaya untuk Nuar walau semua itu di luar kuasaku.

Kami akhirnya bisa duduk berdua berdampingan, aku segera teringat masakan yang aku bawa, dan segera kusiapkan agar Anti segera makan. Kami seolah piknik walau di sebuah Rumah Sakit.

“Aduh Na, kamu kok repot repot? Kamu baik sekali mau menjenguk Nuar” Anti bicara lirih dan kembali terisak. Aku sentuh lembut tangannya sambil kusodorkan hidangan makan siang yang kumasak dengan penuh kasih, dengan penuh persahabatan.

“Ahhh sudah lama aku tidak memakan hidangan semewah ini, rasanya sangat lezat”, Ujar Anti memuji masakanku.

Aku tersenyum, “Kamu bisa aja, mewah apanya, cuma udang balado, sayur bening sama teri kacang kok”.

“Beneran deh, aku di Palembang jarang makan enak, soalnya aku harus pinter-pinter nyimpan uang buat jaga jaga kalau Nuar butuh biaya mendadak, lagian aku nggak pinter masak sungguh aku ini bisanya cuma menjahit baju”, Anti menjawab dengan apa adanya.

Kutatap wajah Anti yang nampak asik menikmati hidangan yang kubawa. Aku maklum kalau dia rela sengsara demi buah hatinya, semua Ibu akan melakukan hal yang sama, berkorban demi anak-anaknya. Sungguh aku sedih, di saat hidupku berkecukupan, aku memasak aneka hidangan lezat, kedua anakku tumbuh sehat, aku tidur terlelap di pelukan suamiku, Nun jauh di Palembang ada seorang wanita yang hidupnya susah. Makan seadanya, anaknya sakit, kebutuhan banyak yang tak terpenuhi dan tidur dalam sepi, tak ada belaian cinta tak ada harapan untuk dicintai. Dan dia juga milik Yusman, wanita yang lebih dahulu memiliki Yusman.

Kami mencintai dan memiliki laki-laki yang sama, namun seolah aku pemenangnya, padahal ini jelas bukan perlombaan, pun andai ini perlombaan jelas ini sangat tak terpuji.

*****

Pulang dari Rumah Sakit aku janjian dengan Sekar dan Dwi. Kami bagai tiga gadis lajang. Sambil menikmati kopi di coffee shop, aku bercerita hasil pertemuanku dengan Anti.

“Sungguh Anti wanita yang tulus, aku sedih mendengar dirinya berkali-kali meminta maaf karena mengganggu rumah tanggaku, sungguh hatinya terbuat dari emas”, Ujarku sambil mengusap airmata yang belakangan ini begitu mudahnya keluar dari mataku.

Dwi memandangku dengan lembut, “Ya kamu benar Na, Anti itu wanita yang sungguh berjiwa besar, aku belum jumpa dengannya, namun aku kok merasa dia itu sahabat yang baik ya? Bener nggak sih yang aku bilang? “.

Sekar dan aku bersamaan menjawab, “Yaa kamu benar Wi, Anti itu memang wanita yang sangat baik hati”.

*****

Aku rajin mendatangi Anti, kadang aku juga mengajak Sekar dan Dwi, kadang juga anak-anakku. Semua nampak menyukai Anti. Sayangnya Nuar tidak dapat berkomunikasi, sepertinya anak itu sudah sangat payah kesehatannya.

Aku paling membenci poligami, namun membiarkan Yusman menceraikan Anti jelas sangat tidak manusiawi. Hidup dengan ikatan poligami sungguh aku tak inginkan, aku tahu pasti Yusman mencintaiku, artinya tidak ada keadilan. Dan andai Yusman kuminta kembali pada Anti, dari awal jelas dia sudah tak mencintai wanita itu.

Ah mengapa semua ini harus ku alami, aku tak mengira kisah hidupku seperti ini, aku harus membuat keputusan dan apapun resikonya aku harus sanggup menjalaninya, biarlah orang menilai aku wanita bodoh, mereka tidak tahu rasanya menjadi seorang Ina.

*****

Kupandangi Yusman yang sedang makan di hadapanku. Aku jarang bicara dengan Yusman, namun aku sudah tidak lagi membenci dia, hanya saja aku masih bingung akan langkah yang harus kutempuh. Laki-laki dihadapanku ini harusnya membuatku merasa sangat beruntung, dia tampan, sukses, sangat mencintaiku. Namun dia juga memberi kisah muram.

Yusman sadar sedang kuamati, dia melihat kearahku sambil tersenyum dan kubalas senyum tipis. Lalu saat kami menikmati hidangan penutup aku mulai berbicara, “Yus, sebenarnya aku sudah bertemu Anti. Dia seorang wanita yang baik hati”.

Yusman wajahnya nampak tercengang, lalu dia berbicara lambat, “Ngapain kamu nemuin dia? Aku sudah cukup memberinya uang dan juga sedang menyiapkan gugatan cerai”.

Ku tatap wajah Yusman dalam-dalam, “Aku sudah bertemu dengannya, berkali-kali, aku sudah menemaninya. di saat seperti ini kamu masih belum puas mau menghancurkan hidupnya? Kami sama-sama wanita, dan aku tahu betul apa yang ada di hatinya, tidak bisakan kamu menjadi suami yang setia bagi dirinya? Uangmu yang banyak tidak bisa membeli cinta dan tanggung jawab!!”

Yusman menghisap rokoknya, tangannya agak gemetaran “Seperti yang aku katakan, aku tidak mencintai Anti, dia hanya kesalahan masa lalu Na”

Aku kesal mendengar jawaban Yusman, “Kesalahan atau apapun itu, kamu kan yang merenggut kesuciannya, kamu yang menanam benih hingga hadir Nuar ke dunia ini, semudah itu kamu sekarang berkata dia hanya suatu kesalahan masa lalu? “.

Tanpa menunggu jawaban Yusman, aku kembali bicara panjang lebar, semua ini sudah kupikirkan secara matang, terus menerus memeras otakku untuk mendapat langkah yang terbaik, “Aku paham apa yang kamu rasakan, cinta memang tidak bisa diarahkan, namun kamu tetap harus bertanggung jawab. Biayai Nuar sampai dia sembuh. Aku yakin apapun dulu kamu pernah cinta kepada Anti.

Namun yang membuatku masih tetap mencintaimu, karena kamu begitu sangat mencintaiku. Kamu tetap bersikeras menceraikan Anti, namun kamu tidak bisa lepas tanggung jawab. Dan kalau kita berdua masih sama-sama bersuamikan kamu, jelas aku tak sudi hidup dalam poligami karena jelas kamu tak akan berlaku adil.

Dengan berat hati, aku ingin meminta cerai darimu Yus. Bukan karena aku tak cinta lagi atau membuat semuanya kian kusut, tapi aku ingin mencoba hidup tanpamu, tanpa hadirmu. Banyak hal yang harus kupelajari sebagai wanita sejati. Aku menikahimu karena cinta, aku melakukan segalanya karena cinta dan ternyata cinta saja tidak cukup. Aku ingin melakukan sesuatu karena aku tahu benar apa yang kuinginkan. Dan itu bisa kupelajari saat aku sendiri menjadi diriku sendiri”, Ujarku lugas dan panjang lebar.

*****

Yusman menatapku tanpa berkedip, dia sepertinya sangat tak menduga mendengar pernyataanku barusan, “Na kamu bicara apa? Kenapa sampai bicara cerai? Kamu tahukan kamu satu-satunya cinta dalam hidupku? Apa kamu demikian mendendam? Apa tak ada maaf untukku? “, Yusman bicara dengan suara bergetar.

Aku diam sejenak, lalu bicara, “Kamu selalu menjadi laki-laki yang ku cinta, tak akan tergantikan. Aku hanya ingin kamu belajar bertanggung jawab atas segala perbuatanmu. Aku mau di saat kita pisah kamu lebih banyak peduli kepada Anti. Dia wanita yang baik, dia tak layak kamu perlakukan bagai sampah.

Dan aku hanya meminta talak satu, aku pasti kembali, bila kita jodoh pasti aku kembali menjadi istrimu dan aku ingin kita memulai dari awal, seolah pertama kali bertemu. Ini keputusan yang berat Yus, sangat berat, tapi ini sudah kupikirkan berkali kali. Pun kalau kamu tetap menceraikan Anti, setidaknya dia tidak sendirian, dia memiliki saudara senasib yang sama-sama janda.

Nantinya andai kita resmi bercerai, aku hanya ingin kamu membiayai anak-anak kita yaitu Nuar, Zakaria dan Nadya. Aku tidak butuh tunjangan pribadi, aku akan seperti Anti, membanting tulang demi memenuhi kebutuhan. Aku sudah bicara pada Ayah Ibuku, mereka jelas tidak setuju, namun aku berhasil menjelaskan alasanku, bahkan aku pun menolak tawaran Ayah agar bekerja di biro arsitektur miliknya, aku akan coba berjuang dengan jalanku sendiri Yus”.

Yusman menangis, dia berlutut, memeluk kakiku, dia tak ingin bercerai namun tekadku sudah bulat, kami semua bisa belajar bertanggung jawab. Dan tak ada niat membuka permusuhan dan menghalangi Yusman bertemu anak-anak, ini memang perceraian namun sekaligus pembelajaran bagi kami.

*****

Aku menemui Anti di Rumah Sakit, aku utarakan segala yang aku bicarakan dengan Yusman. Anti menangis sedih, dia tak ingin aku bercerai, bahkan dia bersujut berusaha mencium kakiku. Aku kewalahan memaksanya bangun, hingga akhirnya aku terjungkal dan terjatuh, kami menangis berpelukan duduk di koridor.

Kami akhirnya saling menerima, biarlah kami menjanda, walau Anti berkata serius padaku, “Suatu hari nanti kamu harus kembali kepada Yusman, kamu lah cinta dalam hidupnya bukan aku, dan jangan risaukan aku, aku sudah biasa sendiri, doa-kan saja aku bisa jatuh cinta lagi ya Na, dengan laki laki yang benar-benar mencintai aku, yang benar-benar ingin menghabiskan hari tua-nya bersamaku”.

Aku mengangguk pasti, “Anti, apapun kita sudah menjadi keluarga, anak-anak kita hadir dari laki laki yang sama. Aku sangat mencintai Yusman, tapi aku butuh waktu untuk menjauh darinya. Semoga dia belajar banyak dari segala kejadian ini ya?!”. Dan Anti kembali memelukku, dia sangat terharu sekaligus terpukul melihatku yang sangat mencintai Yusman namun rela bercerai.

*****

bukan-aku5

Malam itu aku mampir sejenak di sebuah bukit, menatap gelapnya malam dan kerlip lampu di Kota Bogor. Aku paham, kadang untuk memperkuat cinta yang ada kita perlu diuji dahulu, tiap orang beda ujiannya. Mungkin ini ujian yang harus ku lewati. Aku yakin saat nanti aku kembali menikah dengan Yusman untuk kedua kalinya, aku benar benar melaluinya dengan benar, tanpa harus melukai hati wanita lain dan merobek harapan orang lain juga tak perlu berkabut dusta … Bukan aku yang salah namun ini cara agar aku lebih bisa bersikap dewasa, mengabdi pada suami melalui ilmu bukan hanya mengandalkan cinta belaka.

 

Aku seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja. Anakku 2 orang, pria dan wanita. Si Sulung kini berusia 17 tahun dan si Bungsu berusia 13 tahun. Namaku Ina dan usiaku 35 tahun. Aku bekerja sebagai kasir di pasar swalayan dan belakangan beralih profesi menjadi pengusaha toko kue juga restoran kecil-kecilan. Sejak si Bungsu berusia 2 tahun, aku sudah hidup menjanda, dan sejak itu aku tak ada keinginan menikah lagi, hatiku sudah kututup rapat-rapat. Hanya kedua buah hatiku yang menjadi cahaya hidupku.

 

9 Comments to "Bukan Aku (5 – habis)"

  1. J C  8 April, 2013 at 20:07

    Kapokmu kapan, Yusman…

  2. Linda Cheang  8 April, 2013 at 16:27

    aeh…

  3. Dewi Aichi  8 April, 2013 at 09:41

    Walah..Phie malah mencari Yusman…naksir ya he he he he he…Yusman sedang di rumahku nih…curhat sama aku..

  4. Phie  8 April, 2013 at 09:09

    Yusman nengdi. .??

  5. Alvina VB  8 April, 2013 at 02:59

    Jadi ceritanya ini lagi2 korban laki2 yg gak tanggung jawab….untungnya para wanitanya taguh2 semuanya….
    Ini cerita fiktif/ non-fiktif bung Enief?

  6. probo  7 April, 2013 at 16:09

    duuuh, jadi gini ya akhirnya…

  7. Dj. 813  7 April, 2013 at 14:36

    Woooow….
    Cerita yang sangat bagus….
    Jadi ikutan haru…
    Terimakasih bung Anief Andhara.

    **** Aku seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja. Anakku 2 orang, pria dan wanita. Si Sulung kini berusia 17 tahun dan si Bungsu berusia 13 tahun. Namaku Ina dan usiaku 35 tahun. Aku bekerja sebagai kasir di pasar swalayan dan belakangan beralih profesi menjadi pengusaha toko kue juga restoran kecil-kecilan. Sejak si Bungsu berusia 2 tahun, aku sudah hidup menjanda, dan sejak itu aku tak ada keinginan menikah lagi, hatiku sudah kututup rapat-rapat. Hanya kedua buah hatiku yang menjadi cahaya hidupku. *****

    Lalu… Yusman kemana…..???

    Salam,

  8. wiwie  7 April, 2013 at 11:43

    Cerita yang mengharu biru. Sediiih…bacanya…apapun sangat salut dengan para wanita dalam cerita. Wanita-wanita yang tangguh…

  9. James  7 April, 2013 at 11:42

    SATOE, Bukan Aku

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Image (JPEG, max 50KB, please)