Tiga Sahabat (4): Tukang Pijit

Wesiati Setyaningsih

 

Siang panas terik. Anung dan Juwandi telentang di teras rumah Aji dengan seragam lengkap dan sepatu masih bertengger di kaki masing-masing.

“Masuk napa?” Aji keluar dari dalam rumah sudah mengganti hemnya dengan kaos Hello Kitty.

“Panaas…” Juwandi mendesis.

“Iya, di sini aja dulu. Silirr…” Anung menyahut.

“Di dalam lebih adem. Kan nggak kena panas matahari malah. Sini masuk,” Aji membujuk kedua sahabatnya untuk segera masuk. “

Juwandi bangkit dan melepas sepatunya.

“Masuk yuk Nung,” ajaknya.

Anung yang diajak bicara diam saja, masih telentang dengan mata terpejam.

“Entar ah…”

Juwandi tidak mengajak lagi. Berdua Aji dan Juwandi masuk ke dalam, kembali duduk di lantai yang dingin.

“Iyem mana?” tanya Juwandi pada Aji.

“Nyari Iyem apa Iyem?”

“Ya, kan biasanya Iyem itu bawa apa gitu, kalo kita ke sini, “ Juwandi terkekeh.

“Bentar lagi. Iyem pengertian kok. Tenang aja.”

Tak lama Iyem keluar membawa tiga gelas es sirop frambozen.

“Lah, mas Anungnya mana?” tanya Iyem sambil meletakkan gelas ke meja.

“Tuh,” Juwandi menunjukkan dengan mukanya.

“Oalah… Malah mlumah di situ…” Iyem beranjak ke luar. “Mas Anung! Bangun. Nanti dikira tetangga ada apa-apa kalo bobok di sini.”

“Emang dikira apa?” Anung membuka matanya menatap Iyem yang kini berdiri di sampingnya.

Matanya mengerjap-ngerjap melihat Iyem dengan pemandangan ‘Iyem tampak dari bawah’.

“Yaaa… kali aja dikira korban perkosaan gitu, ” Iyem meringis.

Aji dan Juwandi langsung ngakak dadi ruang tamu.

“Iyem! Kebangetan deh kamu. Masak ya ada yang mau memperkosa Anung. Yang ada juga dia jadi pemerkosanya,” Juwandi tergelak.

“Tauk nih Iyem. Daya imajinasinya terlalu liar,” Aji menimpali.

Anung segera bangkit dan duduk menatap Iyem.

“Aduh Yem..” Anung memegangi dadanya.

“Kenapa mas Anung? Apanya yang sakit?” Iyem prihatin dan berjongkok di sebelah Anung.

“Enggak tahan aku liat kamu dari bawah gitu…” Anung pura-pura sesak nafas.

“Asem…” Iyem kesal lalu berdiri.

Baru saja Iyem akan masuk rumah, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Seorang gadis manis dengan kuncir ekor kuda turun dari motor lalu bergegas masuk lewat garasi di samping rumah.

“Lah, Sekar…! Sekaaar…!” Anung meneriaki gadis itu tapi tak ada tanggapan sama sekali.

Iyem menyaksikan adegan itu dengan tersenyum.

“Oalaaah…itu yang ditunggu to?” katanya.

Sebelum masuk dia berhenti sebentar untuk bicara pada Aji, “mas, ini temannya mau diajak makan siang apa enggak?”

“Makan siang? Memang kamu masak apa Yem?”

“Ayam goreng sama sayur asem.”

“Alah enggak usah. Nanti ngabisin aja,” kata Aji pura-pura.

“Ya sudah. Iyem siapin ya…”

Aji tertawa, “tau banget kamu Yem. Iya, nanti kalo sudah siap kasi tau ya…”

“Iyem hapal banget sama kata-kata kamu. Dia tahu kalo kamu cuma pura-pura pelit,” kata Juwandi pada Aji sambil tertawa.

Aji mengiyakan. Anung sudah masuk ke ruang tamu dengan wajah cemberut. Aji menyenggol Juwandi. Keduanya memandan Anung lalu meringis.

“Ada playboy cap kaki badak lagi patah hati… “ Juwandi meledek sambil membuka halaman majalah Kawanku milik Sekar.

“Apaan sih?” sergah Anung kesal.

“Eh, Nung, kamu tau tukang pijit yang bagus nggak?” tanya Aji tiba-tiba.

“Buat apa? Siapa yang sakit?”

“Papa kemarin pinggangnya sakit gitu. Sampai susah jalannya.”

“Tukang pijit?” Anung menggumam sambil mengingat-ingat.

“Bukannya dulu bapakmu pernah punya langganan tukang pijit ya Nung?” Juwandi mengingatkan.

Anung menatap Juwandi sambil terus berusaha mengingat.

“Kapan ya?” tanyanya.

“Ituuu, waktu bapak kamu sakit pinggang juga.. Tapi katanya lantas bikin ibu kamu cemburu gitu,  ya? Eh, iya nggak sih?”

“Alaah! Kamu ini ngomong yang bener napa Ju?” Aji kesal.

“Itu sinetron kali Ju..” Anung ikut meledek.

“Kok sinetron sih? Wong aku ingat namanya tu kaya badai apa gitu… Sinetron apaan?” Juwandi tak mau kalah.

“Badai?” Anung berusaha mengingat lagi.

“Dasar orang kalo otaknya di bokong ya gitu. Bisanya mikir kalo liat bokong, “ kata Juwandi pada Anung.

“Asem kamu, Ju.”

“Coba aja, “ Juwandi bangkit dan memanggil Iyem.

Tergopoh Iyem keluar dengan heran.

“Coba sini Yem, di punggung kamu ada apanya?” tanya Juwandi.

“Ada apanya?” Iyem berbalik dengan bingung.

Begitu melihat Iyem dari belakang, mata Anung yang tadinya menyipit mengingat-ingat, kontan membelalak.

“Oh, iya! Aku ingat, “ seru Anung.

Aji tergelak. Juwandi tersenyum penuh kemenangan.

“Sudah Yem, ternyata di punggung kamu nggak ada apa-apanya,” kata Juwandi pada Iyem yang pergi lagi ke dapur dengan wajah bingung.

“Tuh kan? Mesti liat bokong dulu baru ingat dia,” Juwandi menjelingkan matanya.

“Nah, jadi ada kan?” tanya Aji.

“Ada. Nanti aku tanya sama bapak contact number-nya,” kata Anung.

“Siip!” Aji senang.

“Gara-gara Iyem dia ingat,” Juwandi menggumam.

Anung menoleh pada Juwandi, “sialan kamu bro. Tau banget kalo aku baru bisa mikir kalo liat bokong.”

Aji tergelak lagi. Juwandi Cuma meringis ketika Anung meninju lengannya pelan. Pada saat yang sama Iyem mengabarkan bahwa makan siang sudah siap. Tiga sahabat itu berebutan berlari ke meja makan.

***

“Pak, “ bisik Anung pada pak Iwan yang sedang membaca buku tentang Pramudya Ananta Toer.

Pak Iwan menoleh heran.

“Ada apa sih bisik-bisik gitu?”

“Sshh…! “ Anung menoleh ke belakang mencari-cari ibunya.

Ketika dia tidak melihat ibunya, dia kembali berbisik, “mau tanya nomornya tukang pijit langganan bapak dulu itu.”

“Oh,” pak Iwan langsung maklum.

Dengan segera diambilnya hape dari sakunya. Dia memencet-mencet sebentar lalu menyerahkan pada Anung.

“Ini,” katanya.

Anung menatap hape itu dengan heran.

“Paidi?” bisik Anung heran.

Pak Iwan tersenyum sambil melirik ke belakang.

“Oh..” Anung mengangguk paham.

Segera Anung mencatat nomor itu ke hapenya dan segera mengirim sms pada Aji.

Aji sedang belajar ketika hapenya bergetar. Dia ambil hapenya, dia lihat sebentar lalu memencet-mencet. Kemudian dia menghampiri papanya yang sedang tiduran di kamar.

“Pa, papa jadi mau dipijit nggak?” tanya Aji sambil berdiri di pintu kamar papanya yang terbuka.

Pak Handoko menurukan koran yang sedang dibaca dan melihat wajah anaknya.

“Pijit? Memang kenapa?”

“Kan kemarin papa sakit pinggangnya. Ini ada tukang pijit langganan pak Iwan, ayahnya Anung. Katanya kemarin juga sakit pinggang gitu, terus sembuh.”

pijat

Pak Handoko masih menatap wajah anaknya, menimbang-nimbang.

“Gimana pa?”

“Oke deh. Papa coba. Kali jadi sembuh nanti. Ini masih sering pegel meski tadi papa sudah ke dokter dan sudah dikasi obat.”

“Siip.”

Aji pergi dari kamar papanya sambil memencet-mencet hapenya lagi.

Satu jam kemudian terdengar suara pintu diketuk. Sekar keluar membuka pintu dan melihat Anung sudah ada di balik pintu.

“Malam, cantik, “Anung menyapa.

Tanpa menanggapi, Sekar berteriak memanggil Aji.

“Mas Ajii! Temannya nih.” Lalu dia bergegas ke kamar.

Dengan gembira Aji menyambut Anung.

“Gimana? Mana tukang pijitnya?”

“Ini,” Anung membalikkan badan dan ada seorang perempuan separuh baya yang masih cantik berbaju panjang dan celana panjang dan tutup kepala.

“Kenalkan, ini ibu Ratna Elnino,” Anung memperkenalkan perempuan itu pada Aji.

Perempuan itu tertawa kecil.

“Mas Anung bisa aja. Nama saya Ratna mas. Elnino itu bisa-bisa dia aja.”

Aji tertawa.

“Saya Aji,” tangannya menyalami bu Ratna, “papa saya sakit pinggangnya, bu. Bisa dipijit?”

“Oh, bisa. Mamanya ada?” tanya bu Ratna.

Aji menggeleng.

“Mama saya sudah lama meninggal.”

“Oh, “ hanya itu yang keluar dari mulut bu Ratna dengan wajah penuh maklum.

“Kaya bapak saya dulu ya bu?” tanya Anung.

Bu Ratna menoleh pada Anung sambil tersenyum kecil dan mengangguk.

“Kira-kira begitu. Laki-laki, kalau kurang kesempatan melampiaskan hasratnya, bisa begitu.”

Anung memandang Aji. Aji memandang bu Ratna lalu memandang Anung. Keduanya saling berpandangan tak mengerti.

“Ah, nanti juga kalian tau,” kata bu Ratna lembut.

Anung dan Aji mengangguk.

“Ada tamu siapa mas?” tiba-tiba Iyem sudah di depan pintu.

“Tukang pijit, Yem. Papa kan sakit pinggang dari kemarin.”

“Lha kok nggak diajak masuk? Mari bu, masuk dulu. Saya beri tau pak Han,” Iyem mempersilahkan dengan sopan.

“Eh, iya.. sampai lupa. Masuk bu,” Aji tergeragap.

Anung dan bu Ratna masuk ke ruang tamu lalu duduk di sofa.

Aji dan Iyem ke kamar pak Handoko untuk memberi tahu pak Handoko. Bergegas Iyem mencari selimut untuk menutupi tempat tidur agar sprei tidak kotor oleh sisa-sisa pijat.

“Kamu baik sekali Yem,” pak Handoko yang sudah berganti sarung menatap Iyem.

Iyem tersenyum malu lalu bergegas keluar. Tak berapa lama Iyem sudah datang lagi bersama bu Ratna.

“Ini bu Ratna pak. Bapak bisa baring dulu di kasur,” kata Iyem.

“Anak-anak di mana?” tanya pak Han.

“Mbak Sekar belajar di kamar. Mas Aji sama mas Anung di luar.”

“Ada Anung?”

“Lha kan bu Ratna tadi ke sini sama mas Anung, pak.”

“Ya sudah,” kata pak Han sambil berbaring, “biarkan pintunya tetap terbuka, Yem.”

“Baik, pak. Mangga, bu. Bapak sudah siap.”

Dengan gemulai bu Ratna mendekati pak Handoko.

“Permisi, mohon ijin untuk memijat,” katanya lembut.

Iyem beranjak ke belakang. Bu Ratna sudah berdiri di samping pak Handoko.

Mangga,” kata pak Handoko gemetar.

Perlahan bu Ratna mulai memijit kaki pak Handoko.

“Yang sakit pinggang saya, bu,” kata pak Handoko gelisah.

“Iya, tapi saya mulai dari kaki dulu pak. Bapak keberatan?”

“Oh, tidak.”

Pak Handoko berusaha tenang, tapi matanya yang terpejam bergerak-gerak cepat. Bu Ratna memijat dengan pelan namun penuh tenaga. Pak Handoko perlahan mulai rileks.

Iyem yang di belakang menyiapkan teh hangat untuk bu Ratna. Sesekali dia melirik ke arah kamar. Tampak jelas hatinya gelisah. Setelah dia mondar mandir dari dapur ke ruang tengah agar bisa melihat bagaimana bu Ratna memijat pak Handoko, akhirnya dia putuskan untuk ke kamar dan mulai menulis di buku tulis banteng sampul biru.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

44 Comments to "Tiga Sahabat (4): Tukang Pijit"

  1. probo  10 April, 2013 at 22:52

    aku ya isih duwe simbok yeeee

  2. Dewi Aichi  10 April, 2013 at 22:41

    Tak kandakke simbokku…

  3. probo  10 April, 2013 at 22:31

    ana cah wadullll sedhele meneh mewek kuwi…..
    yeee…DA gembeng…..

  4. Dewi Aichi  10 April, 2013 at 22:27

    mas JC lha..ituuuu…bu Gucan jiannnn..pethakilan..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *