Kami Bukan Bangsa Tempe, tapi Kami Bangsa Penjual Tempe

Cechgentong

 

Memang benar apa yang dikatakan oleh salah satu Proklamator bangsa Indonesia, Bung Karno yaitu Jangan jadi Bangsa (Bermental) Tempe. Pengertian saya terhadap ucapan Bung Karno adalah sebagai bangsa besar sudah sewajarnya bangsa Indonesia bermental baja dan mempunyai sikap kemandirian yang kuat. Jadi tidak ada yang salah dengan tempe. Tempe tetap menjadi makanan khas Indonesia yang mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi terutama kandungan proteinnya dan panganan favorit bangsa Indonesia.

Hampir setahun lebih saya tidak mengkonsumsi tempe. Rasa kangen terhadap panganan ini sudah sampai di ubun-ubun. Kapan ya saya bisa mencicipi nikmatnya tempe. Perlu diketahui, tidak ada penjual atau produsen tempe di Fiji. Yang ada justru tahu (tofu), inipun rasanya kurang pas di lidah. Ingin membuat tempe sendiri terkendala oleh ketersediaan ragi tempe. Ada sih ragi tapi ragi tape yang dibawa oleh masyarakat Indonesia di Fiji. Beberapa kali pesan kepada teman yang pulang ke Indonesia untuk dibawakan ragi tempe tetapi selalu saja kelupaan. Ya sudah, saya harus menanti lagi keinginan menikmati tempe.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kacang Chana sebagai bahan dasar tempe (dok. cech)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tempe dari kacang chana (dok. cech)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tempe goreng dari kacang chana (dok.cech)

Setiap saya selalu berharap ada orang Indonesia yang membawakan ragi tempe. Ternyata keinginan saya dikabulkan oleh Allah SWT. Pada saat berkunjung ke rumah teman di daerah Tamavua, tiba-tiba pembantu teman ini bercerita kalau dia seringkali kesulitan untuk membuat tempe. Padahal pembantu tersebut sudah lama membawa ragi tempe dari Indonesia. Mungkin sudah 5 bulan lamanya ragi tempe disimpan di dalam lemari es. Beberapa kali pembantu teman membuat tempe, selalu saja mengalami kegagalan. Getirlah rasanya, cepat busuk bahkan tidak jadi tempe sama sekali karena kebanyakan ragi.

Seperti mendapat berkah, saya segera bertindak dan memohon kepada teman agar diberikan beberapa gram ragi  tempe yang tersisa. Siapa tahu saya berhasil membuat tempe sekaligus mengembangkan ragi tempe sendiri.

Ragi tempe sudah diperoleh tetapi ada kendala berikutnya yaitu sulitnya mendapatkan kedelai putih sebagai bahan dasar tempe. Di Fiji, kedelai yang dijual di pasaran  adalah kedelai hitam. Tetapi saya tidak putus asa, percobaan awal pembuatan tempe, saya menggunakan kacang chana (kacang khas India). Kacang Chana ini banyak dipakai oleh masyarakat India di Fiji untuk membuat sup Dhal. Berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh sewaktu kuliah, setiap kacang-kacangan dapat digunakan untuk membuat tempe. Dan ternyata benar, kacang Chana dapat diolah menjadi tempe walaupun membutuhkan waktu fermentasi selama 2 hari. Tetap saja rasa tempe khas dari kedelai lebih baik dari kacang Chana yaitu rasa tempe kacang Chana pahit dan getir.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perbedaan penampakan tempe dari bahan dasar kedelai hitam dan putih (dok.cech)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tempe dari kedelai hitam (dok. cech)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Irisan tempe dari kedelai hitam (dok.cech)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Irisan tempe dari kedelai putih (dok.cech)

Keberhasilan saya membuat tempe dari kacang Chana belum disampaikan kepada teman yang memberikan ragi tempe. Karena saya pikir masih banyak kekurangan terutama rasa tempe dari kacang Chana. Selanjutnya saya mencoba kedelai hitam sebagai bahan dasar tempe.  Saya sudah menduga kalau membuat tempe dari kedelai hitam perlu pengolahan khusus terutama dalam proses perendaman dan pemasakan. Proses perendaman dan pemasakannya dilakukan 2-3 kali untuk menghilangkan bau menyengat yang dihasilkan dan terlihat air rendaman/pemasakan berwarna hitam pekat. Memang kedelai hitam yang ada di Fiji sedikit berbeda dengan kedelai hitam yang saya lihat di Indonesia. Konon kedelai hitam ini diimpor dari India. Saya kurang paham mengenai pemanfaatan kedelai hitam oleh masyarakat India di Fiji. Belum pernah, saya melihat atau mencicipi panganan dari kacang kedelai di Fiji.

Setelah beberapa kali menggunakan bahan dasar selain kedelai putih, akhirnya saya menemukan satu toko Cina yang menjual kedelai putih. Rupanya toko Cina menjadi pemasok tunggal kedelai putih di Fiji. Sebagian besar kedelai putih ini disuplai untuk keperluan industri tahu di Fiji yang kebanyakan dimiliki oleh warga Cina. Harga eceran satu kilogram kedelai putih adalah FJD 4,6. Kalau kita membeli 25 kg (1 karung) maka 1 kg kedelai putih dihargai FJD 4,2. Untuk tahap uji coba, saya membeli 1 kg dulu. Dari 1 kg kedelai putih diperoleh 5 bungkus tempe dengan berat 200 gram.

Dari tahap uji coba inilah maka saya mulai memberanikan diri untuk memberikan tempe kepada teman yang memberikan ragi. Responnya sangat positif. Hal ini membuat semangat saya bertambah untuk membuat tempe yang lebih baik. Selain itu sayapun mencoba-coba untuk mengembangkan ragi tempe sendiri dari tempe yang dihasilkan karena sukarnya memperoleh ragi tempe di Fiji.

Keberhasilan saya membuat tempe, rupanya terdengar oleh masyarakat Indonesia dan beberapa ekspatriat yang pernah tinggal di Indonesia. Mulai banyak pesanan yang datang dan ini membuat saya kewalahan karena awalnya saya tidak ada niat untuk memproduksi dan menjual tempe secara komersial serta keterbatasan waktu (kesibukan aktivitas di kantor). Tetapi antusiasme para pengkonsumsi tempe di Fiji, saya berpikir mengapa tidak mengembangkannya dan menjadikan tempe sebagai komoditi bisnis.

Dengan mengucapkan Bismillah, saya mengambil keputusan untuk memproduksi tempe walaupun permintaan belum banyak seperti di Tanah Air tetapi setidaknya beberapa restoran Jepang dan Korea menawarkan kepada saya untuk memasok tempe ke restorannya. Tetapi saya belum mengiyakan karena mengingat uji coba pengembangan ragi tempe masih terus dilakukan agar diperoleh biakan ragi tempe yang berkualitas baik. Insya Allah kalau uji coba tersebut berhasil maka saya memberanikan diri untuk memasok keperluan restoran Jepang dan Korea di Fiji sehingga makin mempertegas  identitas sebagai bangsa Indonesia yaitu ” Kami Bukan Bangsa Tempe tetapi Bangsa Penjual Tempe “ yang mempunyai nilai nutrisi yang tinggi dan menyehatkan.

 

Bisa juga dibaca di: http://ruddabby.wordpress.com/2012/11/26/kami-bukan-bangsa-tempe-tapi-kami-bangsa-penjual-tempe/

 

19 Comments to "Kami Bukan Bangsa Tempe, tapi Kami Bangsa Penjual Tempe"

  1. Linda Cheang  30 April, 2013 at 22:52

    selamanya tempe panjang umur

  2. cechgentong  11 April, 2013 at 12:33

    Aminnnnn mbak Alvina. Terima kasih

  3. Alvina VB  11 April, 2013 at 11:47

    Semoga bisa jadi juragan tempe di Fiji ya Cechgentong…

  4. cechgentong  11 April, 2013 at 10:24

    Mbak Lani, Mbak Dewi, Mas El Nino… sukses selalu dan Tempe tetap menjadi kebanggaan bangsa Indonesia terima kasih

  5. cechgentong  11 April, 2013 at 10:23

    Kang Anoew, hidup tempe hidup badan subur wakakakaka

  6. cechgentong  11 April, 2013 at 10:21

    Pak DJ, tetap untung dong. dari 1 kg kedele menghasilkan 5 bungkus tempe dengan berat masing2 bungkus 200 gr yang dijual per bungkusnya FJD 3,6. Jadi total pendapatan dari 1 kg kedele 5 x 3,6= 18 (harga kedelenya FJD 4,6) artinya menguntungkan dong hehehe

    salam pisgor

  7. cechgentong  11 April, 2013 at 10:18

    Mbak Sasayu, awalnya saya ragi tempe yang ada di pasaran Indonesia bawaan teman. kemudian saya biakan sendiri sehingga jadi ragi tempe. Saya paham dengan ragi PT Rapima karena dulu pernah beli ke sana juga. Terima kasih atas tanggapannya.

  8. cechgentong  11 April, 2013 at 10:16

    Terima kasih Kang JC. Maaf saya belum sempat kirim tulisan lagi karena lagi sibuk banget. oh ya bulan mei saya ada di Indonesia.. mungkin berminat ketemuan

  9. J C  10 April, 2013 at 10:48

    Kang Cech, ikut senang dengan perkembangan berita dan cerita dari Pasifik sana. Yang aku sering dengar adalah para perantau dari Indonesia “berjuang” sendiri berusaha memenuhi kerinduan akan tempe ini…semoga terus berkembang dan sukses ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.