Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis (1)

Juwandi Ahmad – Yogyakarta

 

nun01UNIVERSITAS Muhammadiyah- Yogyakarta. Sang pemandu acara mengenalkanku kepada para peserta, dengan membacakan biografi yang dibumbui sanjung puji. Cukup rinci, dengan penegasan-penegasan sarat gurauan dan kekaguman. Seolah ingin yakinkan bahwa mereka telah berjumpa dengan ahlinya. Muhammad Syukri, sang pemandu acara hari itu, tak hanya pandai beri pujian, tak sekedar pintar meyakinkan, tapi juga membuat para peserta merasa nyaman, serasa berjumpa dengan saudara. Ada saja caranya membuat peserta banyak tertawa. Sungguh perkenalan dan pembukaan yang sempurna: sebuah awal yang menyenangkan. Dan itu sangat membantu pekerjaanku. Perkenalan berlangsung kira-kira lima belas menit. Dan tibalah giliranku: Nizam Cheracatras.

Aku berdiri. Lalu melangkah mendekati tempat duduk para peserta yang membentuk setengah lingkaran. Dari sisi kanan, membentuk lima barisan kursi, dan melingkar sampai ke sisi kiri. Aku berdiri diantaranya. Ada empat puluh dua peserta yang kesemuanya adalah mahasiswa. Tepat di samping kananku, layar proyektor menampilkan slide powerpoint-presentation dengan sebuah judul besar, Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis. Dan seketika seluruh pandangan tertuju padanya. Bersamaan dengan itu, sayup-sayup terdengar musik instrumental Rain of Blessing–Sina Vodjani yang mengalun, menjamah sisi terlembut kehidupan. Sungguh, musikalisasi kedalaman yang menenggelamkan, dalam ketukan nada-nada meditatif gelombang alpha. Serasalah rindu terlelap tidur meski kantuk tidak mendera. Ada sebentuk ketenangan yang meluapkan banyak gairah. Dan perkataanku mengalir bersenada bersamanya, di antara wajah-wajah segar sembilan pagi.

“Senang sekali dapat bertemu dan berbagi dengan kalian semua tentang sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan saya, yang hari ini, kalian ingin mempelajarinya. Bagi saya itu menyenangkan. Bagi kalian tentulah penting. Dan dengan begitu, kita telah memiliki ketertarikan dan gairah yang sama, yang akan membuat apa yang akan kita bicarakan hari ini benar-benar dapat dinikmati. Dan sesuai dengan permintaan untuk bicara tentang menulis pada tataran yang paling dasar, saya memilih tema, Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis–Nun walqolami wamaa yasthuruun. Itu adalah ayat pertama surat al-Qalam.

“Dan tentulah saya tidak hendak berkhutbah, membanjiri kalian dengan ayat-ayat Tuhan. Saya hanya ingin mengambil inspirasi darinya untuk sekedar membuka dan mengingatkan kembali tentang horizon, cakrawala, atau khasanah alam pikir kepenulisan. Itu samalah artinya ketika saya mengambil inspirasi dari Gitanjali-nya seorang Tagore, Zarathustra-nya Nietzsche atau Tafsir Mimpi-nya Carl Custav Jung. Dalam khasanah keilmuan, relevansi lebih bermartabat ketimbang apa yang kita yakini sebagai suatu kebenaran. Dan apa yang kita sebut-sebut sebagai kebenaran, sungguh serupa rambut yang dapat tumbuh di atas kepala siapa saja. Selain relevan, perlulah untuk juga kontekstual. Dan selanjutnya, tema yang saya angkat itu, dapatlah kita mengerti bukan hanya berkaitan dengan apa dan bagaimana menulis, tapi juga sebagai suatu cara bertumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh. Barangkali itu agak berlebihan, tapi saya akan mencoba menunjukkannya.

nun02

“Kita mulai dari nun yang tidak lebih dari sebuah huruf. Itu sama dengan huruf-huruf yang lain: alif, lam, ha, ra, dan sebagainya. Bahwa huruf itu berada dan mengawali sebuah ayat dalam al-Qur’an, yang diyakini sebagai wahyu, firman atau perkataan Tuhan, maka huruf-huruf itu tiba-tiba menjadi terhormat, jauh lebih terhormat dari huruf nun, alif, lam, ha, atau ra, di sebuah papan iklan di jalanan kota Madinah. Dan bahwa ada dua puluh sembilan surat yang ayat pertamanya diawali dengan huruf-huruf abjad, seperti alif-lam-mim, alif-lam-mim-shad, kaf-ha-ya-ain-shad, ha-mim-ain-sin-qof, sampai pada huruf nun pada surat al-Qalam, bertambahlah minat dan perhatian umat Islam untuk menafsirkan-memaknainya. Ada yang menafsirkan dengan sangat sederhana hingga nyaris tanpa makna. Ada yang berkata bahwa hanya Allah yang tahu akan maksudnya. Dan tidak sedikit yang memaknainya dengan konsepsi-konsepsi keghaiban bahasa langit yang memukau, hingga nyaris tak terjangkau.

“Berangkat dari pengakuan al-Qur’an, maa anjalna ‘alaikal qur’ana litasqo–Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini agar kamu menjadi susah, in huwa illa dzikru wa qur’annum mubin–al-Qur’an itu tidak lain adalah pelajaran dan suatu bacaan yang nyata, jelas, memberi penerangan, dan walaqod yasarnal quranna lidzikri fahal mimmudzakir–Sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an sebagai pelajaran: adakah orang-orang yang mau mengambil pelajaran, maka saya ingin memaknai nun walqolami wamaa yasthuruun dengan lebih kontekstual, sederhana, nyata, membumi, dan manusiawi, yang setiap orang dapat mengambil pelajaran dari padanya.

nun03“Saya kira sangat logis dan tidak terlalu ghaib bila Allah mengawali perkataan-Nya dengan huruf-huruf abjad secara berulang-ulang dan puncaknya pada huruf nun yang diikuti dengan sumpah demi pena dan apa yang mereka tulis. Bila diawali dengan huruf alif, qof, atau nun, bukankah itu huruf-huruf yang digunakan masyarakat Arab untuk menulis, dimana al-Qur’an hadir dengan huruf dan bahasa mereka? Bukan huruf dan bahasa Arab itu yang istimewa, ghaib, atau menjadi bahasa resmi ketuhanan lantas Allah menurunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab, tapi bahasa umat yang Muhammad diutus untuk bicara kepada mereka itulah yang membuat al-Qur’an diturunkan dengan huruf dan bahasa Arab. Allah sendiri yang memberi argumentasi: bila al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa selain Arab, tentulah orang-orang akan berkata: apakah pantas al-Qur’an ini berbahasa asing sementara Muhammad adalah orang Arab. Bahwa bila dalam faktanya, bahasa Arab diakui kecanggihannya, itu lain perkara. Dan bahwa setiap muslim sangat ditekankan untuk dapat mengetahui dan membaca dalam huruf Arab-al-Qur’an, serta memahami artinya, itu adalah konsekuensi yang sulit ditolak.

“Karena itu, kita-kita ini yang bukan orang Arab, bisa jadi mendapat semacam kemudahan atau keistimewaan yang lebih besar dari Allah ketimbang orang Arab. Mengapa? Karena al-Qur’an hadir di rumah kita dengan bahasa asing. Hal itu membuat kita harus berusaha lebih keras, selain harus pula mensenyawakan nalar-batin untuk dapat menangkap pesan-Nya. Adalah kabar gembira bahwa Allah terlampau jeli untuk membuat perhitungan: berapa selisih berat antara setitik debu dan sehelai rambut. Dan lebih jauh lagi, tidak ada yang namanya al-Qur’an selain dalam huruf dan bahasa Arab. Dan kita, diseru bukan untuk meng-Arab-kan, melainkan meng-Qur’anik-an diri. Itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Kabar gembiranya adalah bahwa Allah memudahkan jalan bagi setiap orang yang sungguh menginginkan-Nya. Allah Robbi, bahkan karenanya, Ia harus mengirimkan surat-surat cinta-Nya kepada manusia: Taurat, Injil, Qur’an, dan baragam surat yang Ia tidak beritahukan kepada kita.

“Dan apapun itu, dalam kecanggihan setiap bahasa, apakah Indonesia, India, China, Persia, atau Inggris, tidak ada yang tidak menganggap penting untuk berterima kasih kepada yang namanya huruf. Bila kemampuan berbicara manusia yang sangat kompleks adalah suatu keajaiban, maka penciptaan-penemuan huruf adalah keajaiban yang hadir setelahnya. Dan bukankah al-Qur’an itu menjadi nampak karena susunan huruf?

“Dari sanalah saya berpikir bahwa seakan-akan, Allah hendak menegaskan, mengakui, betapa pentingnya penemuan huruf dalam sejarah dan peradaban manusia, terlebih ketika hal itu diikuti dengan sumpah, walqolami wamaa yasthuruun, demi pena dan apa yang mereka tulis. Surat al-Qalam, dimana nun walqolami wamaa yasthuruun menjadi ayat pertamanya itu, menempati urutan terakhir diantara dua puluh sembilan surat dimana Allah mengawali perkataan-Nya dengan huruf-huruf abjad.

“Agak susah dibayangkan, apa yang menginspirasi manusia sehingga mereka menciptakan huruf. Itu sungguh ide dan penemuan luar biasa mengaggumkan. Mereka membuat simbol-simbol, mencipta huruf, memberinya nama. Ini yang serupa dayung perahu namanya huruf alif. Itu yang seperti perahu di atas batu kecil adalah huruf ba. Di sana itu yang mirip perahu dengan dua penumpang kecil namanya huruf ta, dan seterusnya, sampai segala suara miliki bentuk, yang terdengar menjadi nampak. Ketika huruf-huruf dikumpulkan, disusun, terbentuklah kata dan kalimat yang punya makna. Bila huruf ba disusun berurutan dengan huruf sin, mim, alif, lam, lam, ha, alif, lam, ra, ha, mim, nun, alif, lam, ra, ha, ya, mim, maka akan membentuk kalimat pengakuan, pujian, dan cinta: bismillahirrohmanirrohim. Orang Jawa boleh mengartikannya, Kanthi nyebat Asma Allah, ingkang Moho Mirah lan Moho Asih, dengan huruf Hanacaraka-nya. Bagi orang China, itu semakna dengan, Shang di de mingyi, zui qinqie, zui renci de, dengan huruf Hanzi-nya: 上帝的名义 最亲切最仁慈的. Mereka yang berbahasa Inggris biasa menterjemahkannya dengan, In the Name of Allah the Most Gracious, the Most Merciful, dengan huruf Latin-nya.

nun04

“Dan dari huruf, apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kita, yang tak berbentuk, tak terlihat, tak teraba, tak terdengar, dan tak bersuara, kemudian mewujud dalam kata dan kalimat-kalimat yang bermakna: dapat dilihat dan dibaca orang lain. Sampai hari ini, saya masih merasakan penemuan huruf sebagai suatu keghaiban. Saya masih mentakjubinya.

“Suatu hari, saya melihat seorang ibu menghadiahkan sekeranjang huruf dengan bentuk dan warna yang beragam pada anaknya. Dan dengan riang gembira sang anak menyusunnya. Memilih dan menyusun huruf, berpikir dan membentuk kata: mewujudkan pengertian. Mereka dapat melihat alif, menyentuh lam, menggenggam ha, menyimpan dan membawanya kemana-mana. Dan tiba-tiba saya merasa terharu dan sekaligus iri. Sebab dulu, sewaktu kecil, saya hanya bisa melihat alif, lam, dan ha pada papan yang buram, diantara lampu minyak yang temaram. Saya tak dapat menyentuh, menggenggam, menyimpan, dan membawanya kemana-mana. Alif, lam, dan ha terasa begitu sepi dan sunyi. Sungguh tak terpikir bahwa kemudian, alif, lam, ha dapat tampil begitu cantik, menarik, dan menyenangkan.

“Dan mengapa Allah harus bersumpah demi pena? Bersamaan dengan penciptaan huruf, manusia menciptakan qalam-pena-alat tulis yang merupakan penghubung alam abstrak dan alam nyata. Perantara pikiran, tulisan, dan bacaan. Penentu kehadiran ide dalam tulisan. Bayangkan, bagaimana jadinya tanpa qalam-pena-alat tulis: suara tak kan berbentuk, huruf-huruf tak kan lahir, dan kata-kata tak kan terlihat, kalimat tak kan terbaca. Dan kita yang muslim tak kan pernah lihat al-Qur’an. Nasrani mustahil melihat Injil. Yahudi tak kan mungkin pegang Taurat. Mereka yang Hindu, tak kan baca Baghavad Gita.

“Dan firman tanpa qalam, pemikiran tanpa pena, serupa pohon tumbang tersiram hujan, tersengat panas berbulan-bulan: lapuk dan rapuh. Ia seperti Sulaiman yang duduk dan tersungkur jatuh ketika sekawanan rayap melahap tongkatnya. Dan baru tahulah sekawan jin yang bekerja untuknya, bahwa sesungguhnya Sulaiman telah wafat. Pena serupa Jibril, sang perantara antara Tuhan dan makhluk, antara yang ghaib dan yang nyata, antara yang tersembunyi dan yang nampak–aladzi ‘alama bilqolam ‘alamal insaana maa lam ya’lam. Dialah yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam-pena-tulis-baca. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lihatlah, sebegitu penting dan menentukannya sebuah pena. Dan pastahlah bila Allah bersumpah: demi pena.

“Mengapa Allah bersumpah demi apa yang mereka tulis? Dari apa yang mereka tulis, banyak orang dapat belajar, pengetahuan diwariskan, ilmu disebarkan. Bila mereka tidak menulis, gugusan ilmu dan pengetahuan hanya akan hidup sejenak untuk kemudian mati, membusuk bersama pemiliknya.  Huruf telah dicipta dan pena digunakan. Ribuan tahun silam mereka menulis Taurat, Injil, dan Qur’an. Dan hari ini, milyaran orang dapat berguru kepada Musa, Yesus, dan Muhammad. Dari apa yang mereka tulis, banyak orang bisa bertanya tentang aljabar pada al-Khawarizmi, tentang cinta pada Rumi, atau tentang semesta kepada Newton. Allah Robbi, betapa kita memiliki guru-guru dan tempat bertanya yang sungguh hebat.

“Ketika kalian berpikir, mencetuskan ide, dan mengalirkan energi pada sebatang pena, maka lahirlah huruf-huruf yang membentuk kata, kata membentuk kalimat, dan kalimat-kalimat terbaca, terkumpul, membentuk kitab, ditulis ulang, digandakan, dan terbacalah oleh yang lain, berpindah dari alam pikirmu ke alam pikir yang lain, dari satu tempat ke tempat lain, menjelajah ke negeri-negeri yang jauh, dan terbagi, tersebarlah pengetahuan kepada orang-orang yang tak kau kenal, tak pernah kau lihat, tak kau mengerti pula bahasanya. Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis–nun walqolami wamaa yasthuruun. Dan begitulah kita belajar kepada Musa, Yesus, Muhammad, Sidarta Gautama, Konfusius, Lao Tzu. Dan begitu pula kita menyelami alam pikir seorang Plato, Ibn al-Arabi, Hegel, Karl Marx, Rabindranat Tagore, Jung, Nietzsche, dan banyak lagi.

“Dan pada akhirnya, nun walqolami wamaa yasthuruun, adalah kesadaran dan kebenaran universal. Suatu kenyataan yang kita semua mengakuinya. Bisalah kita katakan bahwa ia tidak terkait dengan agama dan keyakinan apapun. Dan karena itulah, akan mudah kalian jumpai mereka yang Yahudi lebih islami dari yang Islam, yang Injil lebih Quranik dari sekumpulan pemuja Qur’an: lebih sadar nun walqolami wamaa yasthuruun–sadar huruf, pena, tulis, dan baca. Bahwa huruf, pena, tulis, dan baca begitu ditekankan dan tertulis dalam al-Qur’an, maka itu sekedar peringatan, suatu penegasan ulang tentang apa yang saya sebut sebagai kesadaran dan kebenaran universal. Sebelum al-Qur’an mengatakannya, umat manusia sudah mencipta huruf, membuat pena, menulis, dan membaca. Dan surat al-Qalam itu sendiri ditutup dengan pernyataan universal: wamaa huwa illa dzikrul lil’alamin–dan al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam, diantaranya tentang pentingnya huruf, pena, tulis, dan baca. Karena itulah kawan-kawan, ingat dan bersegeralah:

 

Iqro,

bacalah yang tersurat,

huruf-huruf, kata-kata, dan kalimat

Bacalah yang tersirat,

diri, hidup, dan semesta tak bersekat

Bacalah, dan Dialah yang Maha Pemurah

yang mengajar dengan perantaraan qalam

Mengajarkan yang tersembunyi di dalam diri,

menunjukkan gugusan tanda di jagad raya

 

Nun,

demi pena dan apa yang mereka tulis 

Bawalah yang abstrak ke alam nyata,

renungkan gagasan dalam pikiran,

dan nyatakan dalam tulisan

 

Katakan pada pikiranmu,

pada segumpal jagad di kepalamu,

duhai yang lembut, yang cantik, layanilah aku

Bawakan untukku anggur-anggur pengetahuan

yang tak pernah dipetik dan jatuh dari tangkainya

 

Cari, temukan,

dan tunjukkanlah, anggur-anggur pengetahuan

yang tak lagi dapat kuingat. Pertemukanlah,

dengan gugusan pengetahuan yang tak kusadari.

Dan padukanlah, dengan semesta kecerdasan yang

yang jauh tersembunyi di keghaiban

 

“Demikianlah, nun, demi pena dan apa yang mereka tulis yang saya mengambil inspirasi darinya untuk sekedar membuka dan mengingatkan kembali horizon, cakrawala, atau khasanah alam pikir kepenulisan. Harapan saya tentu, kalian tergugah dan menyadari perlunya bagi kita untuk menulis. Sadar bahwa menulis itu penting sehingga tergerak untuk belajar melakukannya. Sadar bahwa menulis berakar pada karakteristik paling dasar manusia, sehingga menjadikannya cara bertumbuh. Dan itulah yang saya maksudkan bahwa tema kita, nun walqolami wamaa yasthuruun, dapat dimengerti bukan hanya berkaitan dengan apa dan bagaimana menulis, tapi juga terkait erat dengan cara bertumbuh. Bagaimana penjelasannya?

“Ketika orang bertanya bagaimana caranya agar bisa menulis, maka saya menjawab: belajarlah. Dan ketika orang bertanya bagaimana cara bertumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh, maka saya menjawab: menulislah.

“Menulis sungguh unik. Ia adalah salah satu bentuk kemampuan yang mesti dipelajari untuk dapat melakukannya. Disini konteksnya adalah belajar untuk bisa menulis: memilih kata, menyusun kalimat, dan mengasah beragam pengungkapan. Itu samalah artinya dengan belajar bahasa, latihan vokal, musik, dan sebagainya.

nun05

“Menulis juga merupakan salah satu cara terbaik untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh, penuh, dan menyeluruh. Disini konteksnya adalah menulis untuk bisa belajar: membaca pikiran dan perasaan, melakukan pemenungan, menancapkan pemahaman di bawah sadar. Atau lebih jelasnya: menggali hal-hal terbaik di dalam diri, di segala tempat, ruang, dan waktu, terus-menerus. Dengan terus menulis, berarti kita terus belajar, dan dengan terus belajar kita akan dapatkan hal hal terbaik di dalam diri, di segala tempat, ruang, dan waktu, terus menerus. Itu samalah artinya dengan petani yang terus menanam, atau sang salik yang tak henti mencari. Karena itulah, apa yang tertulis dalam sebuah buku, atau bentuk-bentuk yang lain, hampir dapat dipastikan merupakan hasil dari nalar-batin terbaik penulisnya. Setidaknya, pada saat ia menuliskannya. Mengapa bisa begitu?

“Mari kita cermati beberapa hal yang seakan tak penting dan catat kesimpulannya: berkata-kata belum tentu menulis, tapi menulis sudah pasti berkata-kata. Artinya, menulis itu lebih baik dari sekedar berkata-kata. Membaca sudah pasti tidak menulis, tapi menulis pastilah membaca. Dengan demikian, menulis itu lebih baik dari sekedar membaca. Belajar belum tentu menulis, tapi menulis sudah pasti belajar. Dengan begitu, menulis lebih baik dari sekedar belajar. Berpikir belum tentu menulis, tapi menulis sudah pasti berpikir. Artinya, menulis itu lebih baik dari sekedar berpikir. Dan kesimpulannya: menulis itu lebih baik dari berkata-kata, membaca, belajar, dan berpikir sekaligus.

“Menjadi mudah untuk dipahami, mengapa yang tertulis dalam sebuah buku hampir dapat dipastikan merupakan hasil dari nalar-batin terbaik penulisnya. Dengan menulis, seseorang telah memborong empat jalan pengetahun sekaligus: kata-kata, membaca, belajar, dan berpikir. Dan semua itu, tidak lain adalah karakteristik paling khas dan kualitas terbaik yang melekat pada diri manusia. Menulis benar-benar menghunjam, berakar pada karakteristik paling dasar manusia. Karena itulah, menulis dapat menjadi salah satu cara terbaik untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh. Sebab seperti saya uraikan tadi, bahwa apa yang didapat dari menulis adalah hal-hal terbaik di dalam diri, di segala tempat, ruang, waktu, terus-menerus. Dengan terus menulis, berarti terus belajar, dan dengan terus belajar, maka pengetahuan tetap mengalir. Artinya, akan selalu ada pembaruan pengetahuan yang memungkinkan seseorang untuk terus bertumbuh dan mencapai kesadaran-kesadaran yang lebih tinggi.

“Sesungguhnya, yang paling berbahaya bukanlah apa yang dipelajari manusia, melainkan ketika manusia berhenti belajar. Apakah hanya akan berhenti pada huruf alif? Apakah huruf-huruf itu telah habis untuk menyatakan apa yang kita pikirkan dan kita tahu? Sudah berapa milyar kali huruf-huruf itu kita susun dan kita padu-padankan dengan huruf yang lain? Sudah tidak adakah sesuatu yang bisa dinyatakan oleh huruf-huruf yang kita miliki? Sungguh, bila kita terus menulis, akan selalu ada yang perlu dan harus dinyatakan oleh huruf-huruf yang kita miliki, tiada habisnya, dan tak akan mungkin habis.

Para peserta kuminta mencermati slide powerpoint-presentation pada bagian bagan dan ilustrasi untuk menegaskan ulang tentang sistem, struktur, dan dinamika psikologis bahwa menulis berkaitan erat dengan cara bertumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh, penuh, dan menyeluruh. Pandangan para peserta yang sebelumnya tertuju padaku, beralih pada slide powerpoint-presentation, dalam posisi duduk yang tegak dan rona wajah yang beragam. Ada yang menyiratkan keterpakuan, termangu-mangu, dan ada pula yang mengernyitkan dahi. Dan tiga diantaranya, memintaku untuk kembali menjelaskan beberapa bagian yang belum begitu mereka fahami. Kupastikan ulang bahwa mereka benar-benar faham apa yang kubicarakan. Hanya dengan begitu, ada kemantapan untuk melanjutkan pembicaraan.

bersambung

 

51 Comments to "Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis (1)"

  1. sergent mustofik  24 March, 2014 at 09:12

    Hebat Mas Ju, smoga slalu apa yg dituliskannya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *