Tembak di Tempat (23)

Endah Raharjo

 

Berada di dalam kantor mewah dengan pakaian seadanya aku menjelma itik buruk rupa yang tersesat ke dalam istana. Apalagi Ronn tampak prima dengan setelan katun Mesir warna abu-arang rancangan Balmain, mirip yang kulihat di majalah GQ edisi terbaru. Namun dari caranya memandangku, ia tak peduli pada pakaianku.

Seorang perempuan muda berseragam dan bertopi keluar dari salah satu pintu, menawariku minuman. Kuminta kopi dengan krim dan sedikit gula.

Kami berbasa-basi seperlunya sebelum kukeluarkan tas kertas warna ungu cattleya dari ranselku. “Terima kasih banyak. Gelang giok ini cantik sekali, namun saya ingin mengembalikannya.” Kuletakkan benda itu di atas meja oval marmer merah bata.

“Oh? Why? That jade bangle is simply a friendly gesture,” ujarnya, duduk bermuka-muka denganku. “You dont like it? I can replace it with a better one. Or you may choose yourself.

“Bukan itu. Gelang itu akan menghubungkan Anda dengan pertambangan giok Hpakant,” lugas responku.

“Aaah…!” serunya, “jadi kamu sudah belajar lebih banyak lagi tentang pendosa tua bernama Terapong Rittinondh ini.”

Kuanggap ia berkelakar. Mungkin ia banyak berbuat dosa namun aku tak berniat menghakiminya.

“Baiklah,” lanjutnya, menjeling tas ungu di atas meja. “Aku harus berpikir keras memilih sesuatu yang kamu sukai.”

“Tidak perlu. Saya sudah punya pilihan.”

“Aaah… bagus sekali! Kira-kira apa itu?”

“Kita harus membahasnya.”

“Aaah… aku suka itu. Namun sebelum itu, aku ingin menyampaikan sesuatu.” Ia berhenti, memberi kesempatan pelayan menyajikan kopiku. “Kamu kuminta datang karena aku ingin menawarimu pekerjaan.” Tatapannya menembus mataku. Lelaki ini begitu yakin dunia telah ada dalam genggamannya.

Aku tidak langsung bereaksi. Aku berpikir.

“Kenapa? Apa aku tak terlihat seperti bos yang baik?”

“Anda tahu saya suka bekerja dengan Tim dan belum berniat cari pekerjaan lain.”

“Meskipun dia sudah kehilangan jabatannya?”

“Kehilangan jabatannya?” Meninggi suaraku.

“Oh! Maaf. Kukira dia sudah memberi tahu kalian.”

Kuraih cangkir di atas meja. Kusesap sedikit kopinya. Aromanya menenangkanku. Tim berkali-kali mengatakan kemungkinan dirinya akan dipecat, namun ketika jadi nyata rasanya pedih mendengar kabar buruk itu dari orang lain.

“Aku tidak berniat membocorkan. Menurutku dia wajib memberi tahu anak buahnya. Bukan begitu?” Kulihat ada penyesalan dalam matanya.

“Aku yakin dia akan segera memberi tahu kami.”

“Jadi? Aku ulangi lagi, maukah kamu bekerja untukku?”

“Saat ini saya belum bisa memutuskan.” Di benakku berlarian berbagai gagasan namun tak satupun berhasil kutangkap untuk kusampaikan.

Ia mengangguk-angguk. Rambut lurusnya bergerak-gerak pada ujung-ujungnya. “Ini pekerjaan yang sangat mudah, kalau kamu ingin tahu.”

“Terima kasih. Saat ini saya tidak ingin tahu.”

“Kalau begitu, aku akan menunggu saat yang lain. Ya?” Matanya membelalak lucu. Lelaki ini bisa meraba kebingunganku. “Aku tahu kamu sedang tidak bisa berpikir jernih. Memang bukan saat yang tepat untuk mengambil keputusan penting. Baiklah….” Ia bertepuk tangan. “Tadi kamu bilang ada sesuatu yang mau kamu minta? Apa itu?”

Kubenahi dudukku, menutupi kecanggunganku akibat merasa tak pantas berada di ruangan mewah dengan tubuh berbalut jeans tua dan blus katun putih tak tersentuh seterika serta kaki beralas sepatu kanvas berdebu.

“Ketika di Sangkhlaburi, saya bertemu beberapa wakil stateless people,” kumulai cerita, menatap matanya. “Saya seharusnya tidak berada di pertemuan itu, tapi saya justru diminta mendengarkan pengakuan dua perempuan muda. Mereka tidak bisa masuk sekolah di kamp-kamp resmi, hanya bisa ikut belajar, tapi tidak tiap hari. Atau sesekali mengikuti kegiatan di sebuah LSM, Angel’s Hand. Dua gadis ini, Khin Yu May dan Lin Lin Aung, atau May dan Lin, usia mereka 16-an. Kakak perempuan May diperkosa karena ketahuan sembunyi-sembunyi ikut sekolah. Dia hamil dan mati bersama bayinya yang masih dalam kandungan.” Suaraku bergetar. Aku berhenti, menunggu napasku yang melambat.

“Pasti kamu bingung saat itu.”

Aku mengangguk-angguk. “Saya ingin minta bantuan Anda. Tolong bantu mereka, May dan Lin, untuk mendapatkan status pengungsi resmi. Jadi mereka bisa sekolah atau ikut kursus-kursus ketrampilan lain. Dan bisa dapat identitas lain. Mungkin bisa dapat pekerjaan juga.”

Ronn memandangku sejenak. “Mengapa mereka?”

“Hanya mereka yang sempat saya kenal selama saya di lapangan kali ini. Sejak hari itu saya selalu ingat mereka. Wajah meraka menempel di mana-mana. Bila Anda bisa membantu mereka, itu sangat berarti. Saya pikir kalau saya bisa menolong mereka itu seperti menolong diri saya sendiri.”

I see.”

“Seluruh perstiwa ini, setelah saya renungkan, membantu saya membuka diri. Membuat saya menyadari betapa beruntungnya saya. Punya keluarga, punya tanah air, punya sahabat-sahabat baik, punya kebebasan untuk memutuskan nasib saya sendiri….”

“Ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk keperluanmu sendiri?”

“Anda sudah mendengarkan keluh-kesah saya. Itu sudah cukup.”

“Aaah! Saya justru merasa tersanjung ada yang mau berbagi. Jarang ada orang mau bicara terbuka di depanku. Kebanyakan hanya menyanjung untuk kepentingan mereka sendiri, untuk memperoleh sesuatu.”

“Bukannya saya juga minta sesuatu?”

“Untuk orang lain. Untuk May dan Lin. Setiap orang pasti ingin dan minta sesuatu dari orang lain. Tapi ada garis setipis rambut yang jadi batas antara keinginan dan permintaan yang wajar dengan keserakahan.”

Ia menunduk. Diam. Mungkin dia sedang memikirkan dirinya sendiri.

“Bantuan itu sangat besar artinya untuk kami.”

“Kami?”

“Ya. May, Lin, saya sendiri, dan semua perempuan dalam posisi mereka.”

Ronn mengangguk-angguk dan terlihat berpikir. Aku sedikit gelisah. Merasa telah mengambil banyak waktunya yang amat berharga itu meskipun pertemuan ini atas permintaannya.

“Aku masih merasa berhutang padamu, Mia. Aku berhasil bertemu Tim karena kamu. Sesuatu yang sudah puluhan tahun aku impikan. Bahkan Father Sap gagal mengatur pertemuan kami.” Ia berhenti, menuang air mineral berozon dari botol biru yang mewah ke dalam gelas berleher jenjang.

“Itu bukan karena saya. Rentetan kejadian ini secara bersama-sama telah mempertemukan Anda berdua. Saya cuma kebetulan berada di dalamnya.”

Ia tergelak. “Aku belum pernah bertemu perempuan pintar dan manis yang dingin dan sangat menahan diri seperti dirimu. Kamu seolah menggendong seluruh beban dunia di punggungmu. Mata indahmu itu seperti selalu menangis. Kamu punya banyak kualitas yang diidamkan perempuan, kamu tahu itu kan? Tapi kamu tidak menghargainya. Yang bisa kutangkap baru kecerdasanmu, ke mana kamu sembunyikan bagian dirimu yang lain? Apa yang telah terjadi padamu, Mia?”

Sengaja kubuat selengkung senyum palsu untuk menunjukkan kalau aku tidak berminat bicara tentang diriku.

injustice

“Dunia bukan hanya berisi penderitaan dan kejahatan. Banyak sekali keindahan dan kebaikan dan kebahagian dan kenikmatan. Kamu sudah banyak melakukan kebaikan, aku yakin itu. Namun kamu sepertinya tidak mengijinkan orang lain berbuat baik untukmu. Ada paradoks pada dirimu, Mia. Penampilanmu bersahaja tapi ada sesuatu yang rumit yang menyelimuti dirimu.”

“Anda belum mengenal saya… dan saya tidak suka dibahas seperti ini.”

“Baiklah… kamu benar. Saya berharap bisa mengenalmu lebih baik lagi.”

“Mungkin saya tak beda dengan Anda, seperti spektrum warna. Dan Anda baru melihat satu warna saja, yang buram dan kusam.”

Ia kembali tergelak. “Kamu benar-benar menghafal semua yang keluar dari mulutku. Aku harus hati-hati bicara denganmu.” Ia berdiri. “Kamu pasti tidak percaya bila kukatakan kalau mataku bisa melihat warnamu yang cemerlang.” Senyumnya setulus sahabat baik sejak masa kanak-kanak. “Soal tawaranku itu, tolong kamu pikirkan baik-baik. Ini pekerjaan yang menyenangkan dan sangat cocok untukmu.” Ia bertepuk sekali. “Fat akan kupanggil ke atas untuk mengantarmu ke… kamu mau ke mana? Ke rumah sakit atau ke rumahku?”

“Ke rumah sakit. Terima kasih banyak atas bantuan Anda untuk May dan Lin.”

Thats a piece of cake, my dear. I can give you more. But you know that expression ummm you cant have your cake and eat it too.” Ia tertawa oleh kelakarnya sendiri.

Sebelum ia membuka pintu aku berhenti. “Saya akan mempertimbangkan tawaran Anda.” Entah untuk apa aku mengucapkannya. Mungkin agar ia tidak kecewa. Mungkin untuk May dan Lin. Mungkin untuk diriku sendiri, untuk membuka diri lebih lebar lagi.

“Aah! Itu bagus sekali. Aku sudah langsung terkesan setelah membaca CV-mu.”

“Tim?”

“Siapa lagi? Aku yang minta. Sebelum kamu datang ke Petchaburi. Itu prosedur biasa. Aku selalu ingin mengenal orang yang datang ke rumahku.”

Pernyataannya itu menjawab keherananku. Sejak aku menjejakkan kakiku di ruang kerjanya di Petchaburi, dia seperti sudah banyak tahu tentang diriku.

*****

Sepasang mata coklat Tim mengawasiku di balik kacamata berbingkai hitam. “Apa saja katanya?”

“Ya, cuma itu, kamu kehilangan jabatanmu.”

Ia mendengus. “Ronn tampaknya ingin merebut hatimu. Email pemberitahuan itu baru kubaca pagi tadi. Aku memang sudah bilang ke Ronn tapi belum sempat bicara dengan kalian.”

Aku mengangguk-angguk, tak hendak berkomentar.

Actually Im not fired. Im suspended until they finish the investigation.” Ia membuka pintu lemari, mengambil ranselnya. “Mereka akan melunasi semuanya sesuai kontrak dan masih menunggu laporan akhir. Kita akan bahas hal itu nanti setelah Rudi selesai terapi.”

“Lalu kamu bagiamana?”

“Oh! Jangan kuatir. Aku akan baik-baik saja. Kupikir aku tidak akan kesulitan cari pekerjaan. Kalau terpaksa aku bisa jadi kasir di toko buku Faith,” guraunya. “Aku akan ke rumah Ronn sore ini. Kamu bagaimana?”

“Nanti aku kabari. Aku akan bicara dengan Rudi dulu.”

Tim sudah diberi tahu Ronn kalau ia menawariku pekerjaan. Kata Tim posisi yang ditawarkan adalah Direktur Program Pendidikan Pengungsi. Kalau aku bersedia, akan ada guru privat yang intensif mengajariku bahasa Thai.

“Aku mendukungmu, Mia. Ini pekerjaan bagus dan cocok untukmu. Ronn terkesan dengan kualifikasimu sejak sebelum kamu ke Petchaburi.”

“Kok bisa?”

“Semua staf ahlinya laki-laki, tidak ada yang perempuan. Mungkin karena dia melihatmu beda dengan perempuan-perempuan yang mengelilinginya. Istrinya. Istri-istri para kolega. Pacar-pacarnya… kalau ada. Bahkan anaknya…”

“Tapi anak sulungnya yang di Australia… katanya….”

“Ya. Itu. Dia sangat merindukan anak sulungnya itu, yang tidak menikmati hartanya, tidak memanfaatkan kekuasannya. Mungkin kamu mengingatkannya pada anaknya itu. Aku dengar dia pekerja keras, tidak mau menerima apapun dari Ronn.” Mata Tim menelitiku seperti biasa. “Cobalah lihat sisi baiknya.”

“Entahlah, Tim. Aku belum bisa memutuskan. Aku harap kamu bisa mendapatkan posisimu lagi setelah investigasi selesai.”

“Maaf, Mia. Sepertinya sementara ini tidak ada yang bisa kujanjikan.”

“Aku juga minta maaf.”

Aku duduk di sofa, mengawasi Tim mengemasi barang-barangnya. Sesekali kami saling memandang. Ada kalanya kata-kata gagal mewakili perasaan dan hanya berjejalan di dalam kepala.

*******

 

15 Comments to "Tembak di Tempat (23)"

  1. Budhiasih Kadek  9 April, 2017 at 06:49

    Endah baru ketemu lagi cerita ini yg lalu lenyap g ada di wall…krn hp hang/lemot dan trseok seok……
    Ceritamu memang menarik dan penokohannya mantap/pas/unik……dan sy suuukkkaaaaaaaa bgt.

  2. endah raharjo  15 April, 2013 at 08:03

    Bukan nasi goreng seafood, Yu Lani. Tapi nasi goreng trasi kebanggaan Pak DJ. Mak nyooossss…

    Kang Anoew: sebenarnya aku jg pingin nulis BH dan teman-temannya yg pada melorot, tp nggak tega :p

    Mawar: sami2, kasihmu kukembalikan utuh…

  3. Mawar09  13 April, 2013 at 06:13

    Sampai ngebut bacanya, abis ketinggal seri sebelumnya sih. Ngga sabar tunggu lanjutannya. Terima kasih ya Endah!

  4. anoew  10 April, 2013 at 16:47

    Mia dibelikan BH baru sama Rudy? Coraknya anak kucing lagi tidur atau corak terong ungu siap dimasak?

    Kang Josh, kowe sama juga tho, selalu menantikan adegan serintil pas Mia ketinggalan pakai BH

  5. Lani  10 April, 2013 at 14:49

    ER : nasi goreng seafood mmr wuenaaaaaaaak biangettttttttti……njur ngeces aku

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.