Pelajaran Agama dan Etika di TK – SMA Jerman

Indriati See

 

Dalam prakteknya, pelajaran etika pada anak-anak diberikan lebih dahulu dari pelajaran agama.

Seorang bayi belajar memberikan salam dimulai pada usia kira-kira 8 bulan dimana orang tua mengambil inisiatif terlebih dulu dengan mengulurkan tangan ke arah si bayi sambil berkata “salam atau selamat pagi sayang” dst atau dengan mengatakan “terima kasih” jika si bayi mengulurkan sesuatu yang berada di genggamannya.

Perbuatan dan dialog seperti contoh di atas akan terus dilakukan sampai si bayi tumbuh menjadi anak balita, remaja dan dewasa.

Lalu, kapan kita harus mulai memberikan pelajaran agama pada anak kita?

Menurut pengalaman kami sebagai orang tua, anak-anak baru bisa dijelaskan dengan sederhana tentang pelajaran agama yaitu melalui ritual sehari-hari seperti melakukan doa pagi, doa sebelum dan sesudah makan, doa malam/sebelum tidur, mengikuti upacara keagamaan di rumah ibadah yaitu pada usia TK, dimana anak kita mulai bisa membentuk kalimat dengan sempurna.

Ritual keagamaan dan pelajaran etika yang dipraktekkan dengan konsekwen membentuk sikap dan pengenalan pada anak itu sendiri akan keyakinan/agama yang diwariskan oleh orang tua dan bagaimana anak tersebut harus bersikap dalam hidup bersosialisasi.

 

Kerja sama antara Sekolah dan Rumah Ibadah dalam pelajaran agama dan etika di Jerman

Di Jerman, ritual keagamaan sudah diperkenalkan kepada anak-anak dari usia TK misalnya tentang peristiwa Natal, Paskah, Hari Ibu, Hari Ayah, Pesta St. Martin dst melalui buku-buku bacaan anak-anak yang direkomendasi oleh Kementerian Pendidikan Jerman. Buku bacaan anak-anak ini kebanyakan sama dengan buku yang dibaca oleh kakek, nenek dan orang tua mereka dimana anak-anak bisa menarik “pesan moral” dari buku-buku bacaan tersebut.

Kerja sama antara sekolah dan rumah ibadah sangat erat seperti mengadakan misa untuk anak-anak di gereja pada saat menjelang Natal, Puasa, Paskah dst.

Misa Rabu Abu (Mulai Puasa) bagi murid TK usia 3-4 tahun

agama-etika

Pemberian abu di dahi anak oleh Pastor (berlutut)

Ketika anak-anak masuk Sekolah Dasar, pelajaran agama mulai disesuaikan dengan keyakinan masing-masing dengan izin dari orang tua, mengapa demikian? Karena ada juga orang tua yang tidak menghendaki anak-anak mereka untuk menerima pelajaran agama. Untuk anak-anak yang tidak mengikuti pelajaran agama, mereka berkumpul di kelas khusus untuk menerima pelajaran etika saja.

Pelajaran agama dan etika ini berlanjut ke SMP dan SMA dengan materi tentang pengenalan akan seluruh keyakinan/agama yang ada dalam kebudayaan manusia. Bagaimana kita harus hidup berdampingan satu sama lain dalam hidup bersosialisasi dst.

Bahkan di kelas 11, bukan pelajaran agama lagi yang mereka pelajari, melainkan sudah ke arah filosofi … luar biasa !

Dari pengalaman kami yang mempunyai putra dan putri remaja, juga dengan memperhatikan sikap mereka dalam memandang “perbedaan” yang ada dalam hidup bermasyarakat, tidaklah mengherankan jika rasa toleransi dan humanitas mereka cukup tinggi bagi usia belia.

Semoga info diatas berguna …

Image:  doc pribadi

 

24 Comments to "Pelajaran Agama dan Etika di TK – SMA Jerman"

  1. Indriati See  11 April, 2013 at 05:08

    @Mas Anoew
    Saya setuju dengan pendapat Mas Anoew kedua pelajaran tsb (Etika dan Agama/keyakinan) memang lebih baik dikasih secara paralel. Juga materi pelajaran agama hendaknya tidak hanya untuk satu agama saja melainkan anak2 juga harus mempelajari tentang apa yang diyakini oleh penganut diluar agama yang diwariskan oleh orang tua mereka termasuk juga ttg Atheis dan keyakinan2 lainnya yang ada dalam sejarah peradaban manusia

    @JC
    Mungkin Itsminya segan berdiskusi di artikel saya ini

    @Dewi Aichi
    Setuju sist

    @Mbak Lani
    Terima kasih Mbak saya sependapat dengan Mbak dan salam hangat selalu

  2. Lani  10 April, 2013 at 23:50

    11 DA : halah kok cm golok………kan udah pakai arit…….pisau…….parutan………sampai nguncalke iPad………..BB……..hahaha

    INDRI : artikel yg sgt menarik………bagaimanapun mmg kedua hal itu tdk bs dipisahkan salam dr Kona

  3. Dewi Aichi  10 April, 2013 at 22:40

    Mba Indri…tulisan seperti ini sangat bagus sebagai tukar wawasan dan pengetahuan….

  4. Dewi Aichi  10 April, 2013 at 22:30

    Komen 18 ..piye kok plin plan..iki yo iki, kuwi yo kuwi..

    komen 19 ha ha..ikutan ketawa ahhh..

    komen 20, setuju, P mau dikemanain?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.