Anugerah

Wesiati Setyaningsih

 

Saya sedang curhat dengan seorang teman di FB ketika Izza mendekat. Tahun ini saya mendapat anugerah yang luar biasa menjadi wali kelas dari kelas yang benar-benar lengkap. Dari anak yang suka bolos sekolah, rame di kelas, sampai tertangkap polisi karena hampir tawuran hingga sebagai wali kelas saya harus datang ke POLSEK segala. Semester dua sudah berjalan dan beberapa anak masih saja belum berubah dari perilaku mereka di semester lalu, malas dan suka ngobrol ketika guru menerangkan. Yang paling mengesalkan adalah ketika saya sebagai wali kelas merasa tidak dihargai. Setelah apa yang mereka lakukan dan menimbulkan masalah, dalam pelajaran saya masih juga ada yang malas dan ngobrol sendiri waktu saya bicara. Saya kesal luar biasa. Bingung mesti bagaimana, saya curhat dengan teman saya yang saya anggap tahu tentang pendidikan juga.

Saat itulah Izza mendekat.

“Ma, temenku to, ternyata mamanya galak. Masak Diva tuh teriak aja, mamanya nampar mulutnya sambil marah.”

Bisa jadi mama Diva cuma menampar pelan, tapi di mata anak saya, itu tindakan yang kasar karena saya tidak pernah melakukannya pada dia.

“Udah gitu temenku yang lain juga cerita, mamanya suka bentak-bentak gitu. Enggak bikin PR dimarahi.”

Saya meneruskan mengetik chatting sambil mendengarkan dia bicara.

“Aku bersyukur punya mama kaya mama yang enggak pernah marah.”

Saya berhenti mengetik. Saya menoleh menatap wajahnya yang begitu dekat. Dia sedang menghimpit di sebelah saya yang tengkurap di kasur. Dia balas menatap saya. Saya ciumi pipinya yang tidak lagi gembul. Izza terkikik-kikik dan saya terus menciumi pipinya sampai puas.

“Sudah, sana sikat gigi, bobok.” Kata saya akhirnya.

Dia beranjak untuk sikat gigi dan gantian kakaknya yang masuk minta diciumi. Ketika Izza masuk terjadi keributan sedikit karena dia tidak suka saya menciumi kakaknya yang sudah kelas dua SMA. Akhirnya kakaknya keluar dan Izza berbaring di kasur. Saya menyusul di sebelahnya.

“Peluk,” katanya.

Dia memang suka dikeloni meski sudah kelas 4 SD. Beberapa malam sebelumnya dia tidur dengan uti-nya. Malam ini ketika tidur dengan saya lagi, dia punya waktu untuk curhat jadinya.

“Aku masih mikirin teman-temanku. Lutfi itu ya, diguyur air sama ibunya waktu dia bangun tidur tidak langsung solat subuh.”

Saya terbayang seorang anak kecil, laki-laki, diguyur air pagi-pagi. Saya tidak tahu apakah Lutfi membual pada Izza atau tidak. Anak-anak kadang mengarang cerita juga. Setidaknya saya jadi mendengar kata-kata Izza,

“Pokoknya aku bersyukuuuur banget punya mama yang enggak galak. Jarang marah-marah.”

Sejuk rasanya hati saya.

“Sekarang aku jadi tahu kenapa teman-temanku itu malas, nakal, kasar. Lha mamanya aja pada kaya gitu.. Suka marahin anaknya. Ada yang mukul segala.”

Saya tercenung. Tiba-tiba dia sudah menganalisa seperti saya biasa menganalisa cerita sulung saya tentang teman-temannya. Kalau Dila, sulung saya, curhat tentang temannya, biasanya saya bilang, “pasti ada masalah sama orang tuanya, coba cari tau.” Besoknya ketika dia menceritakan latar belakang orang tua temannya itu, saya akan bilang, “nah, iya kan?”

Saya baru sadar begitu cepatnya anak-anak menyerap apa yang dia teladani dari orang tua. Orang tua membentak-bentak, anak-anak juga suka membentak. Saya menganalisa dengan melihat latar belakang orang tuanya, itu juga yang dilakukan Izza. Padahal dia baru kelas 4 SD.

“Untung mamaku enggak kaya gitu,” lagi-lagi dia mengucap syukur,” coba kalo kaya gitu. Udah tiap hari dimarahin guru,” gurunya di kelas 4 ini galak, “ di rumah dimarahin mamanya. Haduh. Bisa stress aku. “

Saya tersenyum, takjub dia bisa berpikir sejauh itu. Tak lama dia sudah pulas dalam pelukan saya. Saya sendiri berulang kali membalikkan badan tak bisa juga memicingkan mata. Benak saya penuh dengan apa yang harus saya lakukan kalau besok masuk kelas perwalian saya. Apakah saya akan marah lagi? Apakah saya mampu mengajar dengan memaafkan semuanya? Saya mesti gimana?

Kesal dengan pikiran saya sendiri saya membuka mata lagi. Saya lihat wajah Izza. Wajahnya yang polos tampak tak berdosa ketika tidur.

“Sudah di sekolah dimarahin guru, di rumah dimarahin mamanya, bisa stress… “ kalimatnya terngiang di benak saya. Berulang-ulang. Terbayang wajah murid-murid saya. Saya tahu latar belakang orang tua mereka. Saya sebenarnya paham kenapa mereka sulit diatur. Entah kenapa saya sampai kehilangan kesabaran.

Teringat nasehat teman saya di fb tadi : “Dalam Kitab Injil, hampir semua nabi mengeluh akan tugasnya dan memohon supaya hak kenabiannya diambil. Bahkan Yesus berdoa supaya ‘cawanNya’ dilewatkan. Tapi doa Beliau ditutup dengan ucapan: “Namun biarlah kehendakMu (Allah) yang jadi”

Saya seperti tertampar karena saya pernah menulis di status FB bahwa saya merelakan diri saya sebagai alat bagi kehendakNYA. Tapi kali ini saya mengeluh.

Saya tahu saya bukan nabi. Tapi ketika sebuah situasi itu dihadapkan pada saya dan saya tak bisa melarikan diri darinya, saya harus tahu itu memang untuk saya. Anugerah yang akan membuat saya memahami kehidupan ini secara lebih dalam. Sebagaimana Tuhan menganugerahkan Izza dengan kata-katanya yang menyadarkan saya malam ini.

terang-dan-syukur

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

30 Comments to "Anugerah"

  1. wesiati  15 April, 2013 at 15:03

    mas anoea ki ngapa to jane?

  2. anoew  14 April, 2013 at 23:45

    makanya tho Nia…, cepat pulanglah….

  3. nia  13 April, 2013 at 15:32

    Mawar… selama msh bs minta disuapin n dikelonin sampe tua jg sy ttp minta hehehe… krn skr cm ada ibu jd ya disuapin n dikelonin ibu tok kadang kangen waktu bpk msh ada dua2nya ngelonin
    kang Anoew itu klo ke kampung sy kelonannya sm karung dagangannya hahaha… krn berharga tinggi dan susah dicari makanya klo dpt dikekep terus…

    oya sy jg selalu bersyukur walo ibu sy suka ngomel tp sy dikasih telinga ‘tebal’ hehehe…

  4. wesiati  13 April, 2013 at 14:14

    mbak nur mberok : aku meh njempalik maca komenmu. wakakkaka….. asem tenan.

    pak han : Iyem bikinin apa hari ini pak?

  5. Handoko Widagdo  13 April, 2013 at 13:49

    Guru di sekolah, guru di rumah dan tidak gerumutan di luar rumah.

  6. Nur Mberok  13 April, 2013 at 12:36

    JC, berpikirlah 2x kalo mau ketemu iyem. Ilmu mu iso ilang kabeh… Siap cepak minyak GPU, gebuk pijat uang eh urut! Maksude bar mbok gebuk trus njaluk dipijet, trus lanjutin sendiri… Ha ha ha

  7. wesiati  13 April, 2013 at 12:19

    JC pengen ketemu aku? Tiba-tiba merasa sangat kuatir.. Nggak tau kenapa…

  8. Mawar09  13 April, 2013 at 05:33

    Wesi : terima kasih ya tulisannya. Bisa jadi panutan nih ! Salam!

    Nia : aduh………. udah gede masih minta di suapin? he…he…… berbahagialah yang masih bisa bermanja ria dengan orang tua!!

  9. J C  12 April, 2013 at 21:59

    Guuubbbrraaaakkk malah ada yang dulang-dulangan, kelon-kelonan…abis itu dublak-dublakan, kampleng-kamplengan, dan lain sebagainya lah…

  10. J C  12 April, 2013 at 21:56

    Wesi, di balik kegemblunganmu, tersimpan nilai-nilai sebagai orangtua yang aku masih perlu belajar terus menerus…semoga one day bisa ketemu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.