Arti Sebuah Kebebasan

Bunda Riga Magistra

 

Tanggal 21 April 2012. Entah ini Hari Kartini yang ke berapa puluh bagiku. Ketika masih bersekolah di SD, SMP, dan SMA dulu sekolah kami sering memperingatinya dengan aktivitas bagi siswa perempuan atau mengadakan lomba-lomba keperempuanan seperti merangkai bunga, memasak, wajah mirip Kartini atau mengarang dan membacakan karya tulis tentang R.A. Kartini. Lalu tahun demi tahun peringatan itu seolah menguap…hanya tinggal aromanya. Aroma emansipasi yang selalu digembar gemborkan oleh kaum wanita yang sepertinya belum puas dengan apa yang telah diperjuangkannya sejak dulu.

gender-equality

Mari kita lihat lebih mendalam…Secara lahiriahnya, kaum perempuan sudah bisa mencapai prestasi kerja dan kepandaian yang setara atau bahkan melebihi kaum pria. Ada yang menjadi dokter, astronot, ilmuwan, pilot, olahragawan, politikus dan legislatif, penulis, budayawan, atau pekerja di luar negeri yang mendatangkan devisa bagi negara…dan sebagainya. Di sisi lain mereka juga adalah wanita yang harus menjadi ibu: melahirkan dan mendidik putra putrinya. Perempuan dituntut lebih dari sekedar persamaan hak yang diperjuangkannya. Mereka harus mampu menjadi seorang wonder woman, perempuan super yang sanggup berprestasi dalam karir dan juga mendidik anak sekaligus menjadi pasangan serasi bagi suaminya. Dan tidak semua wanita bisa mengendalikan kesuksesan dalam karirnya sekaligus sukses dalam rumahtangganya.

Ini masalah klise memang…. Tetapi akhirnya kembali kepada pribadi masing-masing. Setiap orang memiliki versinya sendiri untuk istilah emansipasi ini. Ada yang mendidik putra putrinya dengan memberikan hak yang sama dalam pendidikan tinggi; atau menghargai pendapat dari anak laki-laki atau perempuan; atau memberikan tanggungjawab yang sama dalam melakukan tugas-tugas keseharian di rumah. Itu juga merupakan didikan emansipasi yang sederhana.

Karena di dalam agama Islam pun dikatakan bahwa kita semua, baik laki-laki ataupun perempuan adalah khalifah Tuhan yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpinnya. Setiap khalifah adalah pemimpin. Setiap khalifah memiliki otoritas yang sama untuk memilih, dan bertanggungjawab terhadap resiko setiap pilihannya itu. Jadi sudah jelas, jika Islam dijalankan dengan benar, maka secara otomatis wanita memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki dalam hal ibadah. Islam membolehkan kaum perempuan berbisnis, seperti yang dicontohkan oleh Siti Khadijah dan Siti Hafsah.

Agama Islam membedakan tugas laki-laki dan perempuan karena keadaan fisiknya yang memang berbeda. Karena sifat ulet dan kelembutan wanita, maka wanita memang sepantasnya melahirkan dan mengasuh/mendidik anak, mengatur keuangan. menjadi manajer di rumah tangganya.  Karena sifat kuat dan tegas laki-laki, maka memang pantas untuk mencari nafkah dan melindungi keluarga. Keduanya sama-sama memiliki tanggungjawab untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran serta menjaga kehormatan keluarga. Sedang perbedaan itu membentuk keserasian. Saling melengkapi.  Dalam perbedaan ada rahmat yang luar biasa dari Allah. Subhanallah…

Kembali kepada Hari Kartini 2012…

Secara pribadi, kali ini menjadi peringatan penting bagi saya sendiri. Seperti menyatakan suatu perasaan “merdeka” dari suatu belenggu yang tidak jelas tetapi sangat nyata, bahwa untuk pertama kalinya saya bisa menghadiri suatu acara diskusi dan launching buku kumcer Sdr. Toni Lesmana: Jam Malam Kota Merah di Gedung Indonesia Menggugat dengan pembicara Dian Hardiana dan Zaki Yamani. Lalau berkenalan dengan beberapa teman baru penggemar sastra yang aktif di Majelis Sastra Bandung.

(Karena kesehariannya, saya adalah seorang perawat yang tak punya waktu luang untuk bepergian, tetapi kali ini Alhamdulillah, sungguh saya beruntung ada yang menggantikan tugas rutin saya. Dan pekerjaan ini seperti menjalin benang-benang air. Menjalin kesabaran yang luar biasa.)

Terus terang, dari dulu saya mengharapkan sebuah buku kumpulan sajak Toni Lesmana. Ketika yang muncul kumcernya, saya tidak begitu  gembira. Tetapi setelah membaca bukunya, ternyata sangat puitis dari awal sampai akhir. Saya kagum bahwa imajinasinya mampu membuka wawasan pembacanya dan penulis seolah mempunyai nafas yang panjang, dia tidak kehabisan stok metafor dan imajinasi yang luas. Meskipun sebagai orang awam saya membacanya seperti menikmati suatu masakan tanpa tahu racikan bumbunya….namun tetap lezat!

Wiiiihhh….Sungguh hal ini menumbuhkan perasaan baru  bersilaturahim dengan para pecinta sastra! Menambah semangat untuk selalu menulis, apapun bentuk karya tulisnya. Karena dengan menulis kita mendalami suatu pemikiran lebih dari sekedar yang dilihat dari luar. Inilah arti emansipasi bagi saya saat ini….terjadi bertepatan dengan Hari Kartini.

Salam kreatif dan selalu berkarya!

RIGA
Bandung 21 April 2012

 

8 Comments to "Arti Sebuah Kebebasan"

  1. juwandi ahmad  12 April, 2013 at 23:13

    JC: ….kebebasan hakiki adalah: “nek ora gelem dijiwit aja njiwit, eling selalu nguwongke uwong” (kalau tidak mau dicubit jangan mencubit, memanusiakan manusia —> memperlakukan sesama seperti yang kita ingin diperlakukan oleh orang lain), itu selalu pesan mendiang orangtua…..”

    Sipp…! La iyo to wong kita sudah punya konsep kebebasan yang begitu top, sederhana, mudah dipahami..gitu kok…….

    ning aku gelem dijiwit manoharo…….

  2. Lani  12 April, 2013 at 23:02

    MBAK PROBO : merdekaaaaaaaa………..!

  3. J C  12 April, 2013 at 22:12

    Setuju Gus Wan, kebebasan hakiki adalah: “nek ora gelem dijiwit aja njiwit, eling selalu nguwongke uwong” (kalau tidak mau dicubit jangan mencubit, memanusiakan manusia —> memperlakukan sesama seperti yang kita ingin diperlakukan oleh orang lain), itu selalu pesan mendiang orangtua…

  4. juwandi ahmad  12 April, 2013 at 21:59

    JC: Selain kebebasan tidak obsolut, ia juga memerlukan kedewasaan.

  5. J C  12 April, 2013 at 21:51

    Yang pasti aku semakin sadar bahwa tidak ada kebebasan absolut. Kebebasanku dibatasi dengan kebebasan orang lain…

  6. Dj. 813  11 April, 2013 at 16:44

    Manusia ( baiuk laki atau wanita ) diberi kebebasan.
    Hanya sayang, satu mau tidak bebas dan satunya mau menang sendiri.
    Ya jadilah klop juga….
    Salam,

  7. probo  11 April, 2013 at 12:03

    bebaaaaasss!

  8. James  11 April, 2013 at 11:26

    SATOE, Kebebasan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.