Inspirasi dari Sebuah Gambar

Neng Tatu

 

Assalamua’laikum, namaku Neng Tatu Rohma Tiah.

Bismillah…

September, 2012.

Kriiiiing…kriiiing. Alarm di hanphoneku pun berbunyi. Sejenak kulihat, ternyata menunjukkan pukul lima pagi, ku mencoba mengingat apa yang saja yang aku harus lakukan di hari ini. Magang. Kata itu yang terlintas di dalam pikirku. Ya, aku harus bersiap-siap untuk pergi magang. Alhamdulilah pada kesempatan magang ini, aku ditempatkan di suatu biro yang sangat sesuai dengan jurusanku kuliah, di sebuah kementerian. Rasanya berbeda sekali saat sebelumnya aku hidup dalam dunia perkuliahan dan tiba-tiba aku memasuki dunia kerja.

Ketika aku pamit dengan kedua orang tuaku, rasanya kedua orangtuaku sangat bahagia melihat aku belajar sulitnya mencari ‘uang’. Walau konon menurut temanku yang sebelumnya magang, tidak akan diberikan tunjangan. Sebenarnya tidak ada keinginan khusus, yang aku inginkan dari magang ini, selain pengalaman kerja dan mendapatkan kolega baru, karena bagiku memiliki sahabat baru bagaikan sebuah anugrah.

Hari pertama aku di kantor sangatlah menyenangkan, walaupun aku masih deg-deg an. Kak Rahma adalah orang pertama yang aku kenal di kantor, heheh orangnya cantik dan ramah sekali. Kemudian aku dikenalkan dengan staff lainnya dan juga seorang siswa magang. Staff di kantor ini amat baik dan memberikanku banyak inspirasi. Setelahku berkenalan dengan beberapa staff, aku dijelaskan pekerjaan apa saja yang sekiranya dapat aku lakukan, dan ternyata pekerjaanku tidaklah terlalu sulit dan memiliki banyak waktu kosong.

Iseng-iseng mengisi waktu kosong, ku buka handphone dan aku lihat “recent update”  dari kontak bbm kawanku, yang jika diartikan dalam gambar tersebut adalah: Seorang ustad berkata: “Pengen kaya? Ini rumusnya: Kerja+Dhuha, Gajian+Sedekah, Tidur+Tahajud”. Kemudian aku simpan gambar tersebut di dalam otakku, agar aku dapat melaksanakan dengan sebaik-baiknya.  Di hari pertama magang, aku ditugaskan untuk menghubungi beberapa kementerian untuk menghadiri sebuah rapat dan juga mempersiapkan rapat tersebut. Alhamdulillah aku diberikan kepercayaan itu.

inspire

Keesokannya aku datang ke kantor lebih awal, dan ternyata masih sepi, pikirku teringat akan gambar itu. Aku pun mencoba melaksanakan rumus no 1: Kerja + Dhuha, tak lupa aku panjatkan do’a solat Dhuha agar Allah memberikanku kemudahan dalam setiap langkahku dan memberikanku rezeki dari arah yang tak pernah kuduga. Seusai Dhuha, seorang atasan di kantor mengajakku untuk ikut serta dalam rapat kerjasama. Heem, memang suatu hal pasti ada positif dan negatifnya. Dalam rapat tersebut, aku kurang suka mendengarkan tawaran yang diajukan oleh negara tersebut, sehingga kemudian aku menuliskan ide-ide yang sekiranya dapat digunakan sebagai “bargaining position” untuk negaraku, kemudian aku memberikan ide tersebut kepada atasanku. Dan hal positif yang aku dapatkan adalah aku mendapatkan kawan baru.  Alhamdulillah, seperti buah manggis: putih-manis, walaupun kulitnya pahit.

Beberapa hari setelahnya hingga minggu kedua aku magang, aku ditugaskan untuk membantu mempersiapkan suatu event, yaitu: ASEAN Working Group dan ASEAN Food Festival. Dalam persiapan tersebut, aku banyak menghubungi Kementerian Pariwisata di negara-negara ASEAN, dalam kesempatan ini, aku belajar untuk mempraktekkan kemampuan bahasa dan juga belajar berkomunikasi yang baik. Memang tidak akan pernah ada yang sia-sia, sekalipun pengalaman kecil ini.

Siang yang amat terik, menyambut makan siang kami. Walaupun sebenarnya waktu makan siang, adalah waktu yang amat menyenangkan dalam melepas penat. Yaaa, ternyata waktu makan siang kami amat menyenangkan!! Seorang atasan mentraktir kami makan siang, Barakallah. Kebahagiaan yang Allah berikan di siang ini, aku coba bagi untuk orang lain pula. Kuberikan ‘jatah’ makan siangku untuk seorang nenek yang didorong dalam gerobak kayu. Ternyata siang ini, aku bisa melaksanakan rumus ke 2: Gajian+sedekah. Walaupun sebenarnya itu bukan gajian.

Jum’at, minggu kedua. Ternyata hari ini aku bangun kesiangan. Tidaaaaaaak. Aku pasti telat, begitu pikirku. Dalam perjalanan menuju ke kantor, aku membeli bubur untuk sarapan. Namun tak lama aku berjalan, aku melihat seorang nenek-nenek yang sedang berdagang. Tak tega aku melihatnya, dalam kondisi yang masih pagi dan umur nenek yang sudah senja, nenek masih harus bekerja. Aku berikan bubur itu untuk nenek. Siapa sangka, Allah telah berjanji kepada umatnya: barangsiapa bersedekah maka Allah lipat gandakan pahala tersebut. Seperti tertulis di dalam Al- qur’an surat Al- Baqoroh ayat 261, jika diartikan ayat tersebut berbunyi: “Perumpamaan seorang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) barangsiapa yang Dia kehendaki dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui”.  Barakallah, hari ini aku mendapatkan lebih dari apa yang aku berikan untuk nenek tersebut. Allah tak akan pernah ingkar terhadap janji-Nya.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah aku mendapatkan broadcast message yang isinya: kolektif uang untuk adik kelasku yang sedang sakit kanker. Kemudian aku berikan sebagian dari yang aku dapatkan kemarin untuk adik kelasku tersebut. Dan siapa sangka, Allah kembali memberikan ku rezeki yang berlimpah. Dan ternyata rumus ke-2 tersebut, aku laksanakan dalam kesempatan ini.

Begitupun selanjutnya hingga aku mengakhiri masa magangku di Kementerian ini. Bagiku, rezeki bukan hanya dilihat dari sebuah materi. Sesimpul senyum saja merupakan sebuah rezeki yang membuat hari kita menjadi indah.

Sesuai harapanku dalam kesempatan magang ini; mendapatkan kolega baru. Dan aku pun mendapatkan rezeki lagi, bukan rezeki materi tentunya namun memiliki arti lebih dari materi. Aku amat bersyukur, aku bisa bertukar pikiran, dengan kolega baruku, beliau membagi kisah dan nasehat untukku. Beberapa kalimat yang selalu aku ingat adalah: “Sesungguhnya alam mau bekerja untuk kita ketika kita bisa menarik energi-energi positif”. Dari kalimat tersebut, aku belajar untuk memberikan energi positif dalam bekerja, dan senyum adalah salah-satunya.

Selain nasihat yang selalu beliau berikan, jujur aku merasa iri dengan pengalaman beliau yang berkesempatan menginjakkan kakinya di banyak negara. Mimpi- itu mimpiku, bisa merasakan nikmatnya belahan bumi Allah lainnya. Dalam ‘mimpi’ ini beliau memberikan ku sebuah nasihat; “walaupun sepertinya mimpi itu terlihat jauh, namun tetaplah pacu tinggi-tinggi mimpi itu”. Terimakasih Pak, akan selalu aku ingat nasihat dan pengalaman hidupmu. Dan dari nasehat tersebut, aku manambahkan sebuah kalimat: “Gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan yang Allah berikan untuk mimpimu”.

Walau dari gambar tersebut, aku belum maksimal melaksanakannya. Namun aku merasakan limpahan rezeki yang Allah berikan untukku. Pengalaman kerja, kolega baru yang hingga saat ini, aku menjaga erat tali silaturahmi tersebut. Walaupun semenjak awal magang, aku tidak memiliki harapan khusus untuk mendapatkan sebuah tunjangan, namun ternyata Allah dengan segala kemurahan-Nya memberikan rezeki (rezeki materi) tersebut untukku. Sehingga aku pun bisa memberikan kebahagiaan-kebahagiaan kecil lainnya.

Ini lah sepenggal kisahku, yang ingin aku bagikan dalam kesempatan menulis ini. Semoga Allah menjawab mimpiku dalam kesempatan ini. Seperti sebuah kalimat yang selalu aku pegang: dream-believe-pray and make it happen.

 

Sekian,

Terimakasih

 

Note Redaksi:

Neng Tatu, selamat datang dan selamat bergabung dalam keluarga besar Baltyra. Semoga kerasan dan ditunggu artikel-artikel lainnya ya…

 

12 Comments to "Inspirasi dari Sebuah Gambar"

  1. Neng Tatu  15 April, 2013 at 10:21

    Salam Kenal mas JC, hehe terimakasih banyak

  2. J C  12 April, 2013 at 21:53

    Neng Tatu, salam kenal dan selamat datang…artikel perdana yang apik dan enak dibaca. Mengingatkan aku pas awal-awal lulus kuliah dulu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.