Kisah Isma dan Langit Biru (1)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Sebenarnya aku malas untuk memperkenalkan diri. Toh orang orang nggak bakal peduli. Paling sebentar aku sudah dilupakan. Maklum aku cuma cewek biasa biasa saja. Aku cewek yang sederhana, berbadan subur dan bisa dibilang cewek rumahan.

Namaku Isma, aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku cewek sudah 4 tahun lalu menikah. Adikku cowok masih kelas 1 SMU dan aku sendiri kini baru lulus SMU. Aku cuma mau cerita tentang sulitnya menjadi cewek gendut bernama Isma. Cuma airmata aja yang bisa aku hasilkan, itu saja sudah kering. Namun berjalan waktu aku akhirnya belajar banyak dari berbagai hal yang aku alami …. Dan ini dia kisahku ….

*****

Dari lahir aku merasa beda, tubuhku selalu lebih besar dari teman-teman sebaya. Waktu TK lanjut SD semua sih biasa-biasa saja. Namun memasuki bangku SMP hidupku bagai mimpi buruk. Dari 213 cewek satu angkatanku, hanya aku yang nggak pernah pacaran. Hasrat dicintai bagaikan air terjun Niagara …. Asli gede banged. Tapi fakta yang ada, aku bagaikan sumur kering di tengah Gurun Sahara.

Semua cowok hanya tertarik cewek-cewek dengan pinggang ukuran 27 – 28 dan aku yang ukuran 34 bagaikan seekor semut di atas tiang listrik, alias nggak ada yang ngeliat. Asli pengen marah tapi sama siapa?

Oh iya, aku pernah satu kali pacaran. Waktu kelas 3 SMP. Nama cowok itu Benny Simanjuntak. Orangnya cakep, putih, atletis dan anak orang kaya. Tau nggak perasaan Cinderella waktu dia dilamar pangeran? ? Aku sih jujur aja nggak tau, tapi yang jelas aku bagaikan seorang putri yang terjebak di atas menara SUTET dan tiba-tiba ada cowok rela manjat dan menggendongku turun ke bawah. Padahal selama aku di atas menara itu, di bawah berkeliaran ratusan cowok dan mereka malah nyukurin aku.

Aku sebenernya malas sekolah tapi sejak hadirnya Benny dalam hidupku, hari Minggu pun aku ingin sekolah. Aku dimabuk asmara ABG. Benny selalu aja bilang “Cintaku … Kamu itu nggak gemuk kok, kamu cuma agak lebih besar untuk ukuran orang Indonesia”. Aku sih waktu itu merasa tersanjung, pasti Benny mau bilang kalau aku ini cocoknya jadi orang bule.

Kami hanya pacaran sebulan, dan itu bukan cinta yang seperti aku kira alias bukan cinta biasa. Si Benny itu ternyata taruhan sama gank di kelasnya. Kalau dia mau pacaran sama aku selama sebulan, temen-temannya bakal rela kasih duit sejuta perak. Gila aja harga diriku dihargai sejuta, dasar laki-laki sialan.

Kesimpulannya aku gak pernah punya pacar yang bener-bener pacar. Tapi ya aku santai aja, toh aku punya keluarga yang sayang sama aku (SROOOOTTTTT !!!! – buang ingus di tissue).

*****

Aku menghabiskan masa SMU dengan penuh cobaan. Aku sejujurnya males berteman, karena aku pikir semua sama aja, bakal jadiin aku bahan ejekan. Tapi aku punya temen deket dan satu-satunya selama di SMU. Namanya Puput. Dia ini sebenernya kurang asik tapi prinsipku gak ada kayu, rotan pun jadi.

Kenapa aku bilang gak asik??? Karena Puput tiap hari selalu curhat, ada aja masalah dia, misalnya nih, dia suatu pagi mewek di kelas gara-gara harga cabe dan bawang melonjak. Nah gara-gara itu duit jajan dia dikurangin, penting gak seeeehh curhat gituh????? Padahal aku juga mau curhat dan lebih bersifat gawat darurat, kapan coba giliranku? Tapi anehnya saat aku berhasil curhat, dia bisa mendadak bijak lho.

Aku ceritain dulu ya tentang Puput. Dia wanita berkulit item eksotis, walau nggak terlalu tinggi tapi dia itu langsing. Wajahnya manis dan dia juga punya cowok. Aku kadang minder kalau jalan berdua Puput, tapi dia beneran tulus jadi lama-lama aku santai aja kalo jalan sama dia.

Tapi jelas Puput ini baik banged, dia suka ngasih permen dan aneka kue. Lumayan lah nyelamatin duit jajan aku dan kadang dia sering kalah start untuk curhat, kaya siang itu di kantin sekolah.

“Put … Aku mau curhat”, Ujarku sambil menepuk punggung Puput dari belakang. Puput yang lagi makan bakso sampai melotot karena nyaris saja tersedak bakso. Setelah akhirnya sukses berjuang menelan bakso yang belom waktunya ditelan itu, Puput ngoceh.

“Ma, sialan amat sih kamu ngagetin? Tu bakso nyaris aja bunuh aku”, Puput bicara dengan mata berair karena tadi tersedak bakso.

“Maap Put, abisan aku lagi kesel deh. Tau si Langit Biru kan anak baru di kelas kita? Yang rada Kurus? Dia tuh cakep banget. Aku ingin bisa deket sama dia deh, pinter sama matematika dan bahasa Inggris lho!”, aku bicara sambil nyomot bakso yang ada di mangkok Puput.

Puput memandangku dengan tak rela saat melihat aku mengunyah bakso dari mangkoknya, lalu dia bicara, “Ma, terus apa masalahnya? Kenalan donk, kemarin dia ngajak aku pulang bareng tapi aku kan dijemput yayankku”.

“Ciyus??? Diajak pulang bareng? Ahh andai aja aku langsing, aku pasti akan punya kesempatan kaya gitu ya?” , Ujarku sedih dan lagi-lagi aku comot bakso dari mangkok Puput.

Puput mengerutkan kening, ditariknya mangkok bakso itu agak menjauh dari aku, “Ma kok kamu bilang gitu? Emang dia ngatain kamu gendut? Emang kalo gendut gak boleh pulang bareng cowok cakep??? Kamu harus PD Ma, Percaya diri”.

Aku diam, pandanganku kosong namun di alam khayalku aku melihat seraut wajah tampan sangat mempesona

(mimpiku, mimpi-mimpi manis) Di balik pintu hati tersimpan rinduku (mimpiku, mimpi-mimpi manis) ………. Matamu bak panah asmara, Bibirmu bak telaga madu, aduhai …..stop, engkau mencuri hatiku, hatiku stop,kau mencuri hatiku – lho kok jadi nyanyi??? …… Tapi aku memang tanpa sadar tengah bermimpi siang hari bolong, tiba-tiba Langit menghampiriku dan mengajakku pulang bareng.

Tiba-tiba aku tersentak, memang betul ada laki-laki datang, tapi tukang siomay yang datang membawa pesananku. “Mbak !! Ngapain nyengir-nyengir ke saya?? Naksir ya?” , Ujar Abang siomay dengan lantang. Kontan anak-anak yang ada dikantin kompak cekikikan sambil bisik-bisik. Sialan si Abang siomay bikin malu aja!

“Ma?! Kenapa sih kamu selalu saja merasa dirimu itu jelek??? Kamu menyalahkan dirimu lebih banyak dari yang orang lain lakukan padamu. Harusnya kamu bisa membebaskan dirimu dari pemikiran, bahwa apa yang orang nilai tentang dirimu tidak selalu benar adanya. Kamu tidak harus selalu sepakat dengan apa yang orang katakan tentang dirimu”, Ujar Puput dengan bijak.

Aku menunduk, aku bingung, faktanya semua orang mengejekku, aku nggak pernah punya kawan. Dari ratusan anak kelas 3, aku hanya punya Puput. Sedang si Ani, Sari, Budi, Mimin dan lain-lain bisa dikenal dan mengenal banyak orang. Aku menatap siomay di hadapanku dengan pandangan hampa. Dalam hati aku sadar bahwa aku berkawan dengan aneka makanan dan itu membuatku selalu nampak gendut.

“Nggak tau deh Put, yang jelas aku ini emang bukan siapa-siapa, mana mau si Langit itu dekat sama aku? Aku kalah pamor sama yang langsing-langsing di kelas. Aduh ngapain sih aku bahas ginian? Nggak penting juga kan?” , Ujarku sendu dan mellow.

Puput melirikku dengan lesu, “Kamu itu bukan kalah pamor, tapi kalah sebelum berperang, jadi orang kok ngeluh soal gendut terus …. Ketik C spasi D …. Capee deeehhhh”

“Karauuukkkkkkk !!!!!”, Aku menggigit kerupuk dengan biadab, membayangkan kerupuk itu adalah orang-orang yang suka mengejekku.

*****

Di kelas aku duduk beda dua bangku dari Langit Biru. Melihat dia dari belakang rasanya bagai berada di Surga Cinta. Namun saat melihat Septi yang duduk di samping Langit Biru, aku bagai melihat bencana alam. Septi yang genit tapi cantik selalu saja mencari perhatian. Pura-pura minta diiketin pita ke rambutnya, pura-pura pinsilnya ilang, pura-pura tangannya salah urat, pura-pura kelilipan sendal dan banyak pura-pura yang lain.

Aku sungguh merasa terasing, bagaikan aku dibuang ke Planet Mars dan tak lagi bisa kembali ke Bumi. Namun aku diam, buat apa juga cemburu? Toh kalau pun harus bersaing dengan Septi, jelas aku kalah mutlak. Aku tak ingin memikirkan namun pikiranku kacau.

Tiap hari aku hanya bisa berharap dan berdoa, agar Langit Biru menyadari ada seorang gadis yang ingin dekat dengan dirinya, aku bagai punguk merindukan bulan. Tapi apa salah kalau aku jatuh cinta?? Atau setidaknya merasa bahagia memiliki sahabat cowok bernama Langit Biru? Maka izinkan lah aku mencintaimu atau kalau hanya tuk sekedar sayang padamu (huft aku jadi nyanyi lagi deh.

*****

Pagi itu Ibu membuat ketan. Aku duduk di teras berdua Ibu, kami bicara dengan asyik dan tanpa sadar aku sudah makan ketan sampai 2 piring. Taburan bubuk kedele di ketan buatan Ibu membuatku lupa diri.

“Kenapa sih aku harus gendut Bu?” , aku bicara kepada Ibuku dengan mulut penuh ketan.

Ibu melirikku tajam sambil meletakkan cangkir teh keatas meja. “Nak gendut itu bukan bencana alam, jadi stop merepet!”.

Aku menarik nafas, Ibu apa nggak tahu ya deritaku di sekolah? Tapi memang aku tidak pernah bercerita dengan jelas, aku malu kalau Ibu sampai tahu betapa kawan-kawanku berlidah tajam, setajam silet ! “Bu, aku bukannya mau merepet, tapi aku bosan jadi bahan ejekan, belom lagi bosan hidup sendiri tanpa kekasih. Aku pingin kurus Bu”.

“Kalau ingin kurus, kamu harus usaha nak, pertama kurangi porsi makan dan kedua kamu harus berolah raga. Kamu mau nggak Ibu kenalin sama Mbak Yayan yang juara aerobik? Dia itu anak Bu Sri teman Ibu di arisan RW”, Ibu bicara sambil menikmati ketan.

Aku diam, aku melempar pandanganku ke deretan bunga mawar. Hmmm apa aku harus ikutan aerobik? Tapi mana aku bisa? Bergerak pun aku sulit.

*****

Dan tanpa perlu menunggu waktu 1×24 jam, Ibu menelpon Bu Sri. Ibu bilang akan ke rumahnya nanti sore mau membahas masalah tour bersama Ibu Ibu arisan. Dan jelas aku diajak serta oleh Ibu.

“Nak nanti ikut Ibu ya ke rumah Ibu Sri, biar kenal Mbak Yayan, lumayan dapat ilmu baru dan siapa tahu ini tiket menuju pelangsingan tubuh seperti yang kamu inginkan”, Ibu bicara tegas dan menghilang menuju dapur.

Aku menguap, asli rasanya ngantuk sekali. 3 piring ketan membuat mataku berat. Kulihat jam menunjukan pukul 11.00 siang. Aku tanpa ragu langsung tiarap di atas ranjang, aku nggak mau tiarap di jalanan, takut disangka polisi tidur.

Belum juga terlelap tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara nyaring, aku kira suara serombongan panci yang tiba-tiba terjun bebas ke lantai, ternyata itu suara Ibuku yang mengomel.

“Masyaallah, anak gadis jam segini udah mau tidur? Bantu bantu beresin rumah kek … Ingat, banyak tidur bisa sakit gula lho nak??”, Ibu berkata sambil membawa wadah berisi adonan bakwan.

“Yaa ampun Bu? Aku nggak tidur kalee, ini aku lagi belajar konsentrasi, ehh Ibu malah bikin kaget aku, buyar deh segala konsentrasi di kepala aku!”, Jawabku penuh dusta.

*****

Dan sore itu aku sudah duduk di teras rumah Bu Sri berdua dengan Mbak Yayan. Ibuku sibuk mengobrol di Ruang Tamu. Mbak Yayan orangnya langsing dan tubuhnya sexy. Dia melakukan segala hal tanpa pernah lupa sembari menyisipkan gerakan aerobik dan senam. Misalnya waktu mau mindahin sendal, tiba-tiba dia khayang lalu salto dan langsung split.

Aku memandang iri, aku ingin khayang tapi apa daya? Aku tak bisa, yang ada aku nantinya akan jatuh terlentang. Oh andai aku bisa ….

“Isma katanya mau ikut aerobik yaa?? Mau Mbak kasih gerakan dasar? Biar lentur dulu badannya”, Ujar Mbak Yan sambil loncat-loncat.

Aku diam sambil ragu-ragu, sekarang gitu aku harus gerak??? Aku kan capek tadi habis nyapu rumah. Tapi aku juga nggak berani membantah, nanti Mbak Yayan ngira aku pemalas.

Akhirnya sore itu teras Bu Sri bagaikan gelanggang arena dan juara. Aku gerak loncat-loncat seadanya sementara Mbak Yan dengan lincah bergerak mengikuti irama lagu. Baru 5 menit aku sudah nggak sanggup, asli babak belur.

“Isma ayo putar pinggulnya, nih ikutin Mbak ya … Wan tu tri for …”, Dan Mbak Yan meliuk dengan lincah dan penuh semangat. Aku berusaha mengikuti tapi hasilnya bagai angin puting beliung, putaran pinggul yang tak beraturan membuahkan bencana, aku kehilangan keseimbangan dan menabrak Mbak Yan yang dengan sukses nyungsep di kolam ikan yang tepat berada di bibir teras.

langit-biru

“Ya ampun Isma, lihat nih gara gara kamu Mbak masuk kolam”, Pekik Mbak Yan sambil terduduk dikolam dengan tubuh basah kuyup. Aku hanya bungkam sambil berusaha menolong Mbak Yan keluar dari kolam.

*****

Esoknya aku langsung ngerumpi sama Puput di kelas. “Put! Aku kemaren aerobik lho, ih cape gela tau ….”.

“Sumpe??? Di mana? Mau donk ikutan, kayanya lucu juga aerobik. Ehh kamu tuh aerobik berapa jam?” , Ujar Puput dengan suara riang.

“Ya elah nggak sampe 15 menit, asli aku jadi sesak nafas. Apa aku harus cek ke dokter ya?” , Aku menjawab sambil curi curi pandang ke pintu kelas berharap Langit Biru muncul.

Puput melotot, “Apa??? Itu sih gak niat mana ada hasilnya? Kamu itu sesak nafas karena jarang gerak. Yuk kita lari pagi secara rutin Ma, itu rahasia kecantikan ku yang alami selama ini”

Dan tiba-tiba ada suara pria yang agak cempreng namun ramah, “Boleh dong ikutan lari pagi? Aku suka lari pagi”. Aku mengucek mata Puput, menampar pipi Puput, mencubit lengan Puput untuk memastikan semua ini nyata. Langit Biru berdiri di sebelah bangku aku dan dia bicara padaku, Ya Tuhan aku selalu berdoa padaMU namun tak kusangka secepat ini KAU jawab doa-ku.

Aku komat kamit berusaha menjawab namun tak sepatah katapun keluar. Aku benar benar tidak siap berbicara dengan Langit Biru yang cakep. Aroma parfumnya begitu membuatku sangat terlena dan tiba-tiba “KRIIIINGGGGG” bel sekolah berbunyi tanda belajar dimulai, sialan!!!

 

7 Comments to "Kisah Isma dan Langit Biru (1)"

  1. Dewi Aichi  15 April, 2013 at 09:43

    Aku hanya bisa ngakak ha ha…ngambilin bakso temen, makan ketan 3 piring, heehhhhh…

  2. J C  12 April, 2013 at 21:55

    Huahahahaha…serial baru mas Enief asli kocak bener…

  3. Sasayu  12 April, 2013 at 06:11

    Jiahhh cape deh, ngeluh mau kurus makan ketan 3 piring. Sumprit ngakak mba yayan njegur kolam

  4. juwandi ahmad  12 April, 2013 at 02:38

    he he he..lucu lucu, geli

  5. Linda Cheang  11 April, 2013 at 15:04

    aeh….

  6. Alvina VB  11 April, 2013 at 11:30

    Cerita anak ABG dan bhsnya ringan nich…bhs gaul anak sekarang ya mas Enief???

  7. James  11 April, 2013 at 11:19

    SATOE, Gemuk Msh Bisa Loncat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.