Duapuluh Tahun Menunggu Sunset

Handoko Widagdo – Solo

 

Terima kasih sudah bersedia menunggu sunset selama 20 tahun.

Aku tidak pernah mengharapkannya. Tapi aku tahu kau terus mengupayakannya.

Sekali lagi terima kasih. Bukankah sunset itu indah, setelah kita berlelah-lelah dalam terik matahari dan deburan ombak?

sunset01

Memang indah. Seindah kebersamaan kita saat di bawah sengatan mentari dan gulungan ombak kehidupan. Terima kasih sudah memilihku untuk mendampingimu.

Lihatlah laut yang memeluk mentari. Semburat surya yang penuh sukacita.

Aku melihatnya.

Demikianlah cinta kita berdua. Kupeluk cintamu dan tak akan aku lepaskan. Bagai laut yang menelan mentari.

Dua puluh tahun hanyalah awal. Kita masih akan bersama lebih lama lagi.

sunset02

sunset03                                                                         

Aku kuat jika bersamamu.

Kita kuat karena Tuhan beserta kita.

Mari kita lanjutkan perjalanan cinta kita.

 

Antara Kuta dan Uluwatu Maret 2013

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

57 Comments to "Duapuluh Tahun Menunggu Sunset"

  1. Handoko Widagdo  25 May, 2013 at 07:14

    Maturnuwun Mbakyu Clara. Ini semua berkat dukungan doa panjenengan. Saya meneladani panjenengan.

  2. Clara  25 May, 2013 at 00:21

    Dimas Han , meskipun terlambat , tetap saya ucapkan : Selamat atas ulang tahun perkawinan yang ke 20 !! Better late than never !!!
    Semoga tetap jaya sampai kakek nenek buyut dll!!
    Kapan punya cucu seperti saya ?
    Salam sejahtera dari negara yang hawanya masih plin plan !!

  3. Handoko Widagdo  19 April, 2013 at 10:12

    Terima kasih Mbak Wiwit. Saya sengaja tidak ikut berfoto supaya keindahan sunset dan kecantikan istri saya tidak tercemar.

  4. Wiwit Arianti  18 April, 2013 at 12:08

    Mana mas foto berduanya, kok hanya mbak Indra to yang difoto?
    Kemarin waktu saya lagi baca artikel ini, teman2 yang tidak dikirmi pada ikutan lihat, termasuk bu Feiny katanya ingin tahu istrinya pak Handoko. ya udah, saya sebarin deh, maaf ya mas he he…

  5. Handoko Widagdo  13 April, 2013 at 17:44

    Ratna Elnino, saat di Nepal saya melihat gunung Himalaya.

  6. elnino  13 April, 2013 at 16:58

    Padahal waktu di Nepal, saya yakin saat itu sempat lihat sunset juga. Cuma sayangnya gak sama sang belahan jiwa…

  7. Handoko Widagdo  13 April, 2013 at 09:59

    Gandalf, itulah kesalahan yang aku sesali. Kenapa dulu tidak mencoba tidur bersama dulu, sehingga aku tak perlu mengorbankan prinsip.

    Tapi bagi pasangan yang aku kasihi, aku bersedia menegosiasikan prinsip.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *