Seks Bebas dan Aborsi di Kalangan Remaja

Ida Cholisa

 

Berita tentang hamilnya salah seorang remaja di kampung kami merebak dengan cepatnya. Sebut saja Mary, gadis lulusan SMA yang baru satu tahun menjadi mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Berita yang terdengar, Mary telah melahirkan seorang bayi perempuan yang dititipkan di sebuah kampung terpencil di daerah Jawa Tengah. Aborsi percobaan yang dilakukan gadis cantik tersebut tidak membuahkan hasil. Sang bayi lahir dengan selamat.

Mary tidak sendirian. Banyak gadis-gadis lain yang bernasib sama dengannya. Hamil dan mencoba menggugurkan kandungan. Sebagian mereka  berhasil, sebagian lagi gagal dan membiarkan kehamilan mereka berujung dengan lahirnya bayi yang tidak mereka harapkan. Tentu saja, kehamilan dan bayi yang tidak diharapkan tersebut berefek pada beragam permasalahan yang melilit keluarga gadis  tersebut. Rasa malu, aib, hilangnya masa depan si gadis, dan beragam permasalahan lain adalah buah dari ‘kecelakaan’ tersebut.

dugem

 

Seks bebas

Apa sebenarnya penyebab dari munculnya kasus kehamilan yang menimpa remaja di negeri kita? Pengawasan orang tua yang longgar? Kebutuhan kasih sayang yang tidak didapatkan di dalam rumah? Pendidikan agama yang minim? Beredarnya foto-foto dan video mesum serta tayangan program televisi yang tidak mendidik? Jejaring sosial yang memberi peluang mendapatkan banyak teman tanpa mengetahui latar belakang yang bersangkutan, hingga si remaja terperosok dalam tipu daya persahabatan di dunia maya?

Penyebabnya tentu saja beragam. Bisa salah satu dari mereka, atau bahkan semuanya. Pengawasan orang tua yang longgar bisa menjadi penyebab kehamilan tak diharapkan. Orang tua terlalu permisif, memperbolehkan anak-anak mereka pulang malam dan bepergian ke mana saja. Orang tua memandang bahwa pacaran adalah hal yang wajar hingga ia tidak memberikan pengajaran pada sang anak tentang bahaya pergaulan bebas. Mereka menganggap anak-anak mereka akan baik-baik saja. Mereka tidak peduli apa yang diperbuat anak-anak remaja mereka.

Pendidikan agama yang minim juga menjadi salah satu alasan remaja di kalangan kita berbuat menyimpang. Bagaimana mereka akan tahu adab bergaul dan apa yang tidak diperbolehkan dalam pergaulan jika orang tua mereka tak pernah memberikan pengajaran  agama? Mereka akan mengabaikan dosa dan akibat dari perbuatan yang salah. Bahkan parahnya pula, mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak benar. Orang tua mereka tidak pernah menegur atau mengarahkan mereka dengan pendidikan agama yang memadai. Pengajaran agama yang diperoleh sang anak di lingkungan sekolah tidak memberikan hasil yang efektif jika orang tua tidak mendukungnya di rumah.

Sesibuk apa pun orang tua, mestinya mereka meluangkan waktu untuk memberikan perhatian dan kasih-sayang pada  anak-anak mereka. Sebab yang dibutuhkan oleh seorang anak, terlebih anak yang telah menginjak usia remaja,  adalah perhatian dan kasih sayang yang cukup. Pemenuhan materi dan fasilitas yang berlebihan tanpa memberi mereka perhatian dan kasih-sayang akan memberi mereka peluang mencari di luar.

Yang fatal adalah ketika mereka menemukan lingkungan di luar yang mampu memenuhi kebutuhan kasih sayang mereka, tetapi yang mereka temukan adalah lingkungan yang salah. Pertemanan yang diwarnaii kasih-sayang antara remaja laki-laki dan perempuan atas nama cinta, yang pada akhirnya membawa mereka pada pergaulan dan hubungan seks bebas. Remaja pada usia yang masih sangat labil tentu belum berpikir jauh tentang konsekuensi dari hubungan bebas mereka. Yang ada dalam pikiran mereka adalah, mereka happy, fun, dan akibat sesudahnya tak ada dalam pikiran mereka.

Orang tua berperan besar dalam memberikan ‘benteng’ agar anak-anak yang telah tumbuh remaja berjalan dalam koridor yang benar. Pengawasan yang benar dan bijaksana, pendidikan agama yang memadai, pengarahan program televisi yang tepat dan beragam kontrol lainnya. Yang patut diingat, kontrol orang tua haruslah seimbang agar tidak membuat anak tertekan. Sesekali, berikan nasehat terhadap apa yang mereka lihat di televisi dan internet. Dampingi mereka ketika perlu sehingga anak-anak tidak menelan mentah-mentah apa yang mereka lihat. Katakan mana yang boleh mereka tonton dan mana yang tidak boleh. Remaja tentu memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap apa yang mereka lihat dan apa yang terjadi di sekitar mereka. Di sinilah peran orang tua diperlukan agar mereka tidak salah jalan.

 

Aborsi

Pengertian aborsi tentu sudah tak asing bagi telinga kita. Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus”. Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi, yaitu aborsi spontan/alamiah, aborsi buatan /sengaja dan aborsi terapeutik /medis.

Mari kita cermati masing-masing jenis aborsi tersebut.

Aborsi spontan/alamiah berlangsung tanpa tindakan apa pun. Artinya terjadi dengan sendirinya tanpa bantuan siapa pun. Aborsi ini biasanya terjadi secara tiba-tiba tanpa disadari sebelumnya. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.

Aborsi buatan/sengaja adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak). Biasanya aborsi buatan atau sengaja dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena faktor kehamilan yang tidak diinginkan.

Aborsi terapeutik/medis adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik.  Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.

Dari tiga macam aborsi di atas, masuk kelompok manakah aborsi yang banyak dilakukan para pelaku seks bebas? Tentu saja aborsi buatan atau sengaja. Mereka sengaja mendatangi dokter atau bidan yang bisa diajak ‘kerjasama’, atau lebih amannya mereka mendatangi dokter beranak yang mau membantu mereka melakukan aborsi. Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh Robert H. Bork ia menyatakan bahwa sebagian besar aborsi dilakukan untuk kenyamanan, bukan untuk melindungi kehidupan atau kesehatan si ibu.

Aborsi adalah pilihan yang sangat tidak bertanggung jawab. Ketika remaja membuat keputusan untuk melakukan hubungan seks mereka harus memikirkan konsekuensi yang akan mengikuti. Jika remaja berpikir mereka cukup umur untuk berhubungan seks, mereka harus cukup tua untuk menangani dan membesarkan anak. Aborsi hanya memikirkan apa yang akan menguntungkan diri kita sendiri dan bukan apa yang akan menguntungkan anak kita. Aborsi mungkin dibenarkan untuk alasan tertentu, tetapi bukan untuk menyelamatakan remaja yang telah melakukan hubungan free sex.

Jika kita merasa cukup tua untuk berhubungan seks, maka kita harus merasa cukup tua untuk mengambil tanggung jawab yang mungkin datang dengan itu.

Sebagai orang tua, kita perlu mengajar anak-anak kita tentang tanggung jawab dan tidak membiarkan mereka menemukan cara mudah keluar dari segala sesuatu. Anak-anak harus dibimbing  bahwa setiap apa yang mereka lakukan pasti mengandung resiko. Tanggung jawab terbesar kita terhadap anak-anak kita adalah memberikan pendidikan dan pendekatan yang tepat untuk mereka. Apalah arti kesuksesan dan harta melimpah yang kita miliki tetapi anak-anak kita terjatuh dalam jurang free sex. Nauzubillahimindzalik. Jauhkan anak-anak kita dari bahaya seks bebas dan aborsi yang tentu saja akan mendatangkan murka Tuhan. Kesalahan anak kita, tentu tak lepas dari peran kita.

Dalam buku The Terrible Choice dikatakan “Imam atau rabi mungkin menasihati Anda, pengacara mungkin mengatakan kepada Anda hak-hak Anda, tetapi ketika penasehat telah selesai dan pergi  dengan cara mereka, hanya Anda, ibu, akan membuat keputusan akhir tentang aborsi. Berdoa pada Allah bahwa keputusan Anda bijaksana dan jujur, adil dan penuh cinta.”

 

26 Comments to "Seks Bebas dan Aborsi di Kalangan Remaja"

  1. Mawar09  13 April, 2013 at 05:19

    Sama dengan DA, aku sih setuju saja dengan komentar teman-teman.

  2. Lani  13 April, 2013 at 01:37

    KANG JUWANDI : lurah+kang anuuuuuu= para ahli……..boleh diisi sesuai dgn keahlian mrk hahaha

  3. juwandi ahmad  13 April, 2013 at 00:58

    ha ha ha ha..la yo kuwi: kang Anung ahlinya

  4. Lani  13 April, 2013 at 00:51

    KANG ANU : hahahahahaha

  5. Lani  13 April, 2013 at 00:50

    21 KANG JUWANDI : nah, jok ngarang kang………..aku ora ahli opo2……..yg lainnya lbh ahli……….aku manut2 wae

  6. juwandi ahmad  12 April, 2013 at 23:33

    ha ha ha ha…malah ketekanan ahline Yu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)