Sunyi tak Berbunyi

Atra Lophe

 

silence

Riak-riak  kenangan rembes membasahi relung jiwa yang kian kerontang dalam sebuah kebisuan. Suara-suara  tak lagi kuat menghampiri gendang telinganya. Ataukah mungkin gendang telinganya yang tak mampu menangkap frekuensi suara yang masuk. Entalah. Sebab ia hanya memilih untuk diam dan masih menikmati kesunyian.

Mengawini  sepi adalah sebuah keputusan yang indah, baginya.  Tetapi kini  kesetiaanya terhadap sepi seakan mulai goyah. Sebab  cinta yang masih mekar itu semakin subur dan kini  bermitosis menjadi tunas-tunas baru. Tunas itu menjalar, merambat  ke seluruh ruang kosong dalam jiwanya. Bahkan  ia  terpenjara di antara tunas-tunas cinta itu.

Sadar bahwa ia masih bersama sepi, maka kembali ia  merangkai puisi. Menarik ulur segala  resah dan mengais rindu pada setumpuk kenangan. Berkhayal tentang harapan, bahwa sepi datang dalam kenyang dan mengisi lapar  pada kemesraan.  Mereka bercinta di antara riak kenangan, dengan  hati tak  berpintu. Dan desahan suaranya kecil menembusi telinga tetapi nyaring memukul dadanya. Ia hampir terkapar.

Semua khayal itu hanya dinikmatinya sendiri.  Rangkaian puisi berhenti pada satu   kata “dengan”.  Ia bingung mencari kata yang pas sehingga kalimat itu  tidak menggantung.  Juga bimbang hendak disandingkakn dengan tanda baca apa. Toh, pada akhirnya ia hanya bisa menyimpulkan bahwa kisah itu seperti sebait  puisi yang belum selesai. Menggantung  di penghujung kalimat tanpa makna apalagi cerita.

Ia sedang pasrah  pada keadaan atau belajar untuk tulus ikhlas bersama sepi, entalah. Tetapi inilah cerita itu. Ia tulus menguping gaung yang tertangkap sepi.  Menuruti nyaringnya suara hati. Tak banyak lagi yang bisa dilakukannya. Mengikuti aliran seperti sungai yang mengalir,toh akhirnya akan bermuara juga.

Ya, memang begitu. Bersama sepi adalah sebuah petualangan yang direncanakan akal, yang mungkin surut pada sesal yang terlambat.  Tetapi ia masih berharap bahwa ia diikat bukan dipenjara.

“Aku telah siap diperbudak oleh rohmu. Karena memang cinta harus diikat.”

Lalu ada bunyi yang tak tertangkap gendang telinga. Sunyi.

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Sunyi tak Berbunyi"

  1. atra lophe  16 April, 2013 at 09:51

    bang J C : ya, ini hanya sebuah aforisme mas…. kebetulan saja sedang ingin menulis tentang yang sepi2. hehehehheehe.. Baru nyadar juga kalau kemarin juga cerita tentang sepi….

    Mba Dewi : begitulah mba… hehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.