Dongeng di Kamarku

Dwi Klik Santosa

 

“Mas Nggantheng … mas Nggantheng ….. bisakah kau ceritakan kepada kami tentang kehidupan Kunang-kunang?” kata Dogi Si Lembut Hati.

“Iya, kunang-kunang …. kunang-kunang … hiiii … kunang-kunang,” seru Beruang Padi.

“Tapi .. tapi .. aku juga ingin tahu cerita tentang Kelelawar!” sela Manuk Nesu.

“Kelelawar … hmmm …. kelelawar,” tambah Panda Pink, “ayo ceritakan pada kami tentang kelelawar.”

dongeng-di-kamar

Malam yang merambat senyap. Suara gaduh para boneka, segera membangunkanku dari capek. Merekalah selama ini teman mainku di kamar. Dan jika sudah bawel begitu rupa ….

“Baiklah … baiklah, teman-temanku yang baik. Akan kuceritakan kepada kalian kisah tentang Kunang-kunang dan Kelelawar sekaligus. Nah, pasang telinga kalian baik-baik, ya ….  Oaaahhmmm …..”

Setelah menguap secukupnya, aku pun lekas mengambil ancang-ancang. Kutatapi satu per satu keempat sato manis ini. Merah si manuk nesu, Si  Panda Pink, Si Beruang Paddington dan Dogi si lembut hati. Semuanya saja selalu diam jika nafasku mulai menghembus menghempasi bulu-bulunya yang halus.

~

KUNANG-KUNANG DAN KELELAWAR adalah binatang malam yang misterius. Kedua binatang ini seperti saja makhluk yang malu-malu tapi jika mereka telah keluar dari persembunyiannya serasa menghidupkan dunia malam yang gelap dan sunyi.

Konon, pada zaman dahulu kala. Terjadilah percintaan antara Pangeran Surya, yaitu matahari dan Dewi Candra, yaitu bulan. Hasil dari percintaan pasangan yang berbahagia itu menghasilkan keturunan kembar yaitu Dewi Terang dan Dewa Muram.

Dewi Terang adalah bidadari yang sangat jelita dan wajahnya senantiasa bercahya terang. Sedang Dewa Muram adalah dewa perkasa berwajah serba murung. Namun, dewa-dewi putra Matahari dan Bulan ini tidak akur satu sama lain.

Dewa Muram meski sangat perkasa, tapi perilakunya buruk belaka. Ia memiliki ambisi besar hendak menguasai kehidupan bumi. Berbeda dengan Dewi Terang. Bidadari ini murah senyum dan memiliki sifat gemar berderma.

“Aku ingin sekali berguna bagi kehidupan bumi sebagaimana ayah dan ibu,” begitu cita-cita Dewi Terang.

Pada suatu ketika, terjadilah pembicaraan antara Dewi Terang dan Dewa Muram.

“Dewa Muram, saudaraku. Hendaknya jangan kau teruskan keinginanmu untuk menguasai bumi yang damai itu,” kata Dewi Terang, “hanya akan menjadikan sesuatu yang buruk belaka.”

“Ah, kau Dewi Terang. Apa pedulimu! Sudah menjadi niatku, bahwa suatu saat nanti, pasti aku akan dapat menguasai kehidupan bumi yang bagus itu. Aku akan minta restu pada ayah dan ibu, dan lalu segera akan kuregam sepenuhnya kehidupan di bumi,” kata Dewa Muram.

“Cita-citamu itu sangat buruk, Muram, saudaraku. Ayah dan Ibu pasti tidak akan merestuimu.”

“Kenapa kau berkata seperti itu.”

“Sebab ayah dan ibu adalah panutan bagi kehidupan seluruh bumi. Dengan sinar agungnya yang suci, ayah dan ibu kita selalu saja dan tak lelah mengalirkan kasih sayangnya kepada kehidupan bumi. Jika siang tiba, ayah kita akan muncul memberkati semua makhluk bumi dengan terik panasnya yang hangat. Ketika sinar matahari datang, semua kehidupan berbungah dan ceria. Suasana menjadi terang-benderang dan ramailah kehidupan dengan aktifitas makhluk hidup untuk bertahan dan melanjutkan keberlangsungan hidup. Jika malam tiba, ibu hadir mencurahkan sinarnya yang teduh dan melelapkan. Pada saat itulah makhluk hidup dapat beristirahat dengan tenang, setelah sesiang bekerja keras dan lalu mereka dapat masyuk dalam buaian cinta kasih untuk memadu naluri melanjutkan tradisi meregenarasi dan berkembang-biak,” kata Dewi Terang, “jika kau ingin lanjutkan cita-citamu, maka hanya akan menjadi mimpi buruk bagi seluruh kehidupan di bumi.”

“Aku tidak peduli! Pendeknya, segera akan kumulai saja niatku ini. Meski tanpa izin ayah dan ibu,” seru Dewa Muram, “apa gunanya datang kepada mereka, jika hanya akan menghambat saja cita-citaku.”

Lalu Dewa Muram cepat terbang dari planet kahyangan menuju bumi. Dengan kekuatannya yang besar, ia mampu berubah menjadi hawa kelam. Saat Dewa Muram datang, maka seluruh kehidupan bumi menjadi gelap seolah-olah. Seluruh benda dan makhluk hidup di bumi menjadi pucat seketika.

Dewi Terang sangat sedih menyaksikan penderitaan umat bumi. Maka dengan sinar terangnya ia mencoba menghancurkan hawa kelam yang ditebarkan Dewa Muram.

“Ah, Dewi Terang, kau ini selalu saja menggangguku,” kata Dewa Muram, “kalau begitu aku akan tega kepadamu.”

Dewa Muram lalu menyerang Dewi Terang. Tapi Dewi Terang juga memiliki kesaktian yang tak kalah hebat. Terlibatlah perkelahian antara dua saudara itu. Begitu serunya, sehingga menjadikan pergantian hawa di seluas semesta kacau tak keruan. Banyak makhluk hidup mengalami sakit yang aneh dan menjadikan kematian belaka.

“Duh, Kanda Surya, lihatlah akibat ulah kedua keturunan kita. Perkelahian mereka yang tak berkesudahan, telah mengakibatkan makhluk bumi mengalami kehancuran,” kata Dewi Candra.

“Ya, isteriku. Jika tidak dihentikan, niscaya kehidupan bumi lambat laun akan layu dan punah,” kata Pangeran Surya, “kalau begitu kita harus cepat bertindak menghentikan perkelahian mereka.”

Cahaya Terang yang bersinar-sinar dan Cahaya Muram yang serba gelap yang bergumul di seluas angkasa, lalu didatangi Pangeran Surya dan Dewi Bulan.

“Wahai, Muram dan Terang, kedua keturunanku. Akibat perbuatanmu ini, kalian telah menjadikan kehidupan bumi serba kacau dan tak keruan. Maka atas perbuatan yang buruk itu, kalian pantas menerima hukuman,” kata Pangeran Surya.

“Muram, karena sifatmu yang sombong dan mempunyai cita-cita yang buruk, maka kau kuhukum menjadi binatang Kelelawar,” ujar Pangeran Matahari.

“Dan kau Terang, disebabkan sifatmu yang asih dan suka berderma, maka kau kujadikan binatang Kunang-kunang,” ujar Dewi Bulan.

Seketika kehidupan bumi menjadi tenang dan damai seperti semula. Dewa Muram yang telah dihukum menjadi Kelelawar menjadi sangat malu kepada ayah dan ibu mereka. Maka, ketika menjalani kehidupannya di bumi, bangsa Kelelawar menjadi binatang yang pemalu. Ia jarang sekali menampakkan diri. Ia akan keluar dari persembunyiannya hanya seperlunya saja atau saat perutnya lapar dan ingin mencari makanan.

Tapi, beda dengan Dewi Terang. Ia yang telah menjelma sebagai Kunang-kunang, justru merasa sangat senang. Karena dengan sinarnya yang terang ia sangat berguna bagi kehidupan malam. Ketika Bulan sedang redup karena tertutup mendung, maka cahya Kunang-kunang yang terang di malam hari akan membantu menerangi kehidupan di bumi.

“Begitulah, pada akhirnya cita-cita Dewi Terang telah terwujud. Seperti ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Hatinya yang baik dan cinta pada hidup yang damai itu telah menjadikannya Kunang-kunang sebagai binatang yang sangat berguna bagi kehidupan di bumi,” kata Mas Nggantheng.

 

6 Comments to "Dongeng di Kamarku"

  1. J C  15 April, 2013 at 10:48

    Kalau mas Dwi istilahnya Manuk Nesu, kalau saya bilang Manuk Ngamuk…

  2. anoew  14 April, 2013 at 23:50

    waaah mas nggantheng ik…

  3. Dewi Aichi  14 April, 2013 at 21:43

    Mas Nggantheng….kok ngga ada tokoh yang namanya Dewi Murni? Malah ada Dewi Muram wakakakaka

    Tuh kan Pak Handoko mulai tertawan dengan mas Dwi…

    Ceritanya apikkkkk….suka sekali dengan cara penyampaiannya….mas Dwi….kali ini boneka gpp lah…..lain kali cerita tentang kisah cinta…..tapi fotonya mas Dwi jangan sendirian yaaa hi hi hi……kompor dot com.

  4. Dj. 813  14 April, 2013 at 17:22

    Dwi K.S.
    Terimakasih, ingat saat anak-anak masih kecil…
    Dj. cerita tentang si kancil anak nakal…
    Setiap malam cerita si kancil, sehingga mereka hapal sekali.
    Kadang malah mereka yang cerita sampai tertidur…
    Tapi tidak pernah bosan, karena sebenarnya bukan hanya ceritanya saja yang penting.
    Tapi saat mereka mau tidur, Dj. ada diamping mereka dan menunggu sampai mereka teridur.
    Salam,

  5. elnino  14 April, 2013 at 14:54

    Cerita yang bagus mas Nggantheng..

  6. Handoko Widagdo  14 April, 2013 at 11:32

    Kemasan baru yang menawan Mas DKS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.