Tiga Sahabat (5): Galau

Wesiati Setyaningsih

 

Malam gelap berbintang. Anung dan Aji duduk di kursi taman di halaman rumah pak Handoko. Jarang sekali mereka bisa duduk berdua seperti ini karena biasanya ada Juwandi. Keduanya menatap langit yang penuh bintang.

“Apa sih maksud bu Ratna tadi, Ji?” Anung menggumam.

“Yang mana?”

“Laki-laki butuh apa gitu…”

“Yah, mungkin kan laki-laki butuh bercinta. Itu maksudnya. Kalo kelamaan tidak begitu, bisa pusing. Kata orang kan gitu. Masak kamu nggak tau. Anung gitu loh,” kata Aji.

“Bukan gitu, aku kan jadi bertanya-tanya, memangnya bapakku kemarin itu sakit pinggang karena jarang bercinta dengan ibuku? Masak begitu sih? Lha kalo papamu, jelas lah. Namanya juga duda. Nggak ada teman yang bisa diajak begitu. Lha bapakku kan ada.”

“Kali waktu itu ada masalah. Ibumu sakit atau apa gitu?”

Anung diam mengingat-ingat lalu katanya, “iya juga sih. Ibu masuk rumah sakit karena sempat sakit apa gitu.”

“Jadi anak kok nggak tau ibunya sakit apa,” Aji menggerutu.

“Habis bapak nggak kasi tau. Aku tanya pada nggak jawab. Payah orang-orang tua. Dikira kita masih anak-anak tidak berhak tau apa-apa.”

Aji tak menjawab lagi. Memang demikian adanya para orang tua, meski itu tidak dilakukan papanya.

“Memangnya benar kata Juwandi kalo bu Nani sempat cemburu sama bu Ratna?” tanya Aji.

Anung mengangkat bahu.

“Kok Juwandi malah tahu sih?”

“Biasa lah. Ibunya juga langganan bu Ratna. Kali bu Ratna cerita kalo pas mijat gitu. Kayanya sih bu Ratna jadi omongan ibu-ibu sekitar kompleks. Mereka pada nggak suka.”

“Kenapa?” tanya Aji heran.

“Biasa, pijetannya enak. Suami-suami pada suka, istrinya pada cemburu,” Anung mengangkat bahu, “nggak tau lah. Lagian kenapa enggak pada dipijit sendiri suaminya? Giliran dipijit perempuan lain, eh, pada marah. Padahal itu memang profesi dia kan? Suami-suami itu pada bayar kok. Dan bu Ratna profesional. Enggak aneh-aneh kok.”

“Dari mana kamu yakin kalo bu Ratna enggak aneh-aneh?”

“Lha wong dia yang datang ke rumah pasiennya,” Anung menjelaskan.

Aji terkekeh mendengar kata ‘pasien’.

“Dia nggak terima pasien di rumah kok. Dia yang datang. Istrinya ada. Ngeliat sendiri waktu suaminya dipijat. Mau apa coba? Nggak tau tuh. Ibu kok bisa cemburu. Padahal kan pijitnya juga di rumah. Ibu liat sendiri kok.”

“Mesti cari tukang pijet laki-laki kali ya?” Aji menggumam.

“Iya, kali. Istrinya mijitin nggak mau. Suami pijit sama tukang pijit perempuan, cemburu. Ya mungkin gitu. Mesti cari tukang pijit laki-laki,” Anung tertawa.

“Ibumu nggak mau mijit bapakmu?”

“Kata bapak, kasian ibu nanti capek. Bisa sakit lagi, malah masuk rumah sakit. Malah repot. Mending nyuruh orang buat mijit.”

“Lagian kenapa mesti cemburu ya?” Aji menggumam.

“Cinta, Ji, cinta!”

“Cinta itu harus pakai cemburu gitu?”

“Iya lah! Kalo enggak ya hambar..”

“Kamu sok tau. Kamu kan belum pernah pacaran.”

Anung terdiam. Dipandangnya Aji dengan mata mengernyit.

“Iya juga ya?”

Aji tergelak.

“Reputasi kamu cuma sampai di PDKT doang Nung. Sejauh ini belum ada yang berhasil. Hahaha…”

Anung menggaruk kepalanya. Iyem keluar membawa dua gelas teh hangat dan keduanya melanjutkan obrolan mereka dengan asik.

Tanpa terasa dua jam sudah bu Ratna memijat pak Handoko dan segera mereka berpamitan. Aji menengok papanya di kamar.

“Gimana rasanya pa?”

Pak Handoko yang sedang tiduran menoleh.

“Enak banget. Badan jadi ringan..”

“Awas ketagihan. Biasanya kalo sudah cocok sama pijitan satu orang, lantas pengen lagi.”

Pak Handoko tertawa, “kamu bisa aja.”

Aji masuk dan duduk di samping papanya.

“Pa, memangnya papa sakit pinggang karena nggak gitu?” tanya Aji pelan-pelan.

“Nggak gitu apa?” tanya pak Handoko tak mengerti.

“Gitu… Itu lah. Hubungan suami istri gitu..”

Pak Handoko terbahak. “Siapa yang bilang?”

“Bu Ratna tadi itu.”

“Dia bilang begitu?”

Aji mengangguk.

“Ah, itu bisa-bisa dia aja,” kata pak Handoko mengelak.

Tiba-tiba Iyem sudah di ambang pintu.

“Bapak gimana? Sudah baikan?”

“Eh, Iyem. Sudah Yem. Terima kasih.”

“Gimana tulisan kamu Yem? Sudah selesai?” tanya Aji.

Sontak Iyem melengak menatap Aji.

“Kok mas Aji bisa tau?”

Aji langsung menutup mulutnya. Pak Handoko menoleh ke Aji.

“Ada apa ini? Tulisan apa?”

Aji tak menjawab hanya menunjukkan wajah penuh rasa bersalah.

“Jadi mas Aji baca-baca buku saya?”

“Buku?” pak Handoko bertanya heran sambil menoleh ke arah Iyem.

“Biar saya pembantu saya juga punya privasi. Mas Aji nggak boleh sembarangan seperti itu!” Iyem mulai menangis.

“Apa ini?” pak Handoko bingung.

Iyem berlari ke belakang dan segera masuk kamar. Pak Handoko menatap anaknya.

“Ada apa ini?”

Aji diam saja.

“Ayo, katakan ada apa?”

“Mmm…”

“Kita selalu sepakat memperlakukan siapapun dengan adil. Apa yang sudah kamu lakukan sama Iyem?”

Aji menggeleng.

“Nggak mungkin kalo kamu nggak ngapa-ngapain lalu dia begitu sakit hati.”

Aji menunduk takut.

“Kemarin itu..”

Kalimat Aji mengambang, Pak Handoko menunggu jawaban.

“Aku masuk kamar Iyem.”

“Apa?” pak Handoko terkejut. “Kamu nggak boleh masuk kamar orang sembarangan. Apalagi Iyem perempuan, kamu laki-laki.”

“Papa! Aku kan nggak mungkin begitu sama Iyem.”

“Iya, tau. Tapi itu nggak sopan.”

Aji menunduk lagi. “Aku tahu aku salah.”

“Lantas kamu ngapain di kamar Iyem? Iyemnya lagi di dalam?”

Aji menggeleng kencang. “Enggak ada orangnya kok.”

“Kaya maling dong.”

“Papa gitu banget.”

“Habis apa dong namanya?”

Aji terdiam.

“Di kamar kamu ngapain? Tulisan yang kamu bilang itu tulisan apa?”

“Jadi.. di meja itu ada buku tulis bekas. Entah dulu punyaku atau punya Sekar gitu. Kan buku-buku tidak terpakai ditaruh gudang gitu.”

“Kan nggak pa-pa kalo itu dipakai Iyem.”

“Memang nggak pa-pa kok. Cuma isinya…”

“Kenapa isinya?”

“Iyem nulis-nulis gitu.”

“Dia nulis curhatan?”

“Enggak.”

“Apa?”

“Cerpen.”

“Hah?”

“Iya, Iyem nulis cerpen.”

Kemarahan pak Handoko surut. “Iyem nulis cerpen?” pak Handok menggumam.

“Iya, bagus lho pa. Idenya keren. Nggak tau lanjutannya. Aku cuma sempat baca halaman pertama aja. Tentang orang-orang desanya gitu. Namanya juga ‘ndeso’..”

“Jadi gitu…” pak Handoko mulai paham.

“Kali nanti papa bisa ajarin dia nulis. Biar bagus sekalian.

Pak Handoko mengangguk. “Coba nanti.”

Aji merasa mendapat angin.

“Aku nggak salah kan?”

“Ya tetap saja salah.”

“Ah, kok gitu?”

“Tidak boleh masuk kamar orang tanpa ijin. Tidak boleh membuka-buka barang orang tanpa ijin! Tahu?”

guilty

Aji mengangguk. “Oke, pa! Janji.”

“Nah, itu anak papa.”

Aji tersenyum senang.

“Sekarang kamu minta maaf sama Iyem sana!”

Senyum Aji lenyap.

“Kenapa?” tanya pak Handoko melihat anaknya keberatan.

“Takut.”

“Takut apa?”

“Takut Iyem marah.”

“Iyem memang sudah marah, kan? Tapi kamu tetap harus minta maaf. Sudah salah itu ya minta maaf.”

Aji menunduk. “Iya deh.”

“Sana!”

Aji keluar kamar papanya dan menuju kamar Iyem. Pak Handoko bisa mendengar Aji mengetuk pintu kamar Iyem. Agak lama baru dibuka. Kemudian terdengar sedikit percakapan dan setelahnya terdengar pintu kamar ditutup pelan.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Tiga Sahabat (5): Galau"

  1. Edy  16 April, 2013 at 12:26

    huahahahahaha..reputasinya Anung hanya sampai PDKT doang???

  2. wesiati  15 April, 2013 at 15:06

    malah iyem jare karo aji ki piyeeee???
    ah komentatore ngono ding. malah penulise digasaki pisan…

  3. J C  15 April, 2013 at 10:49

    Akhirnya si Tukang Pijit atau si Iyem diterkam Anoew…

  4. [email protected]  15 April, 2013 at 10:18

    BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…… aji dengan iyem? hmm… iyem demen daun muda….

  5. MasTok  15 April, 2013 at 07:10

    aku milih pijit PLUS-PLUS plus makan… gratis….

  6. elnino  15 April, 2013 at 06:22

    Waduh, budhe Probo, kalo Iyem berani mbanting tukang pijetnya nanti bisa2 dia ditotok sarafnya. Jadi gak sexy lagi

  7. Lani  14 April, 2013 at 23:04

    wuahahahha………..Wesiati critanya sll nyambung trs, lakonnya ambil member Baltyra………ngikik2 aku kemekelen…….jian ini soal pijat memijat dan cemburu krn dipijat………bs mbleber kemana-mana

  8. Dewi Aichi  14 April, 2013 at 21:45

    Anoew…ada apa sih dengan dirimu, kok semua protes kalau dirimu dijadikan peran protagonis ? Kenapa dan ada apa ini ?

  9. Dewi Aichi  14 April, 2013 at 21:44

    Huahahahaha…para istri di komplek cemburu sama tukang pijit ha ha ha….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.