Bahasa

Anwari Doel Arnowo

 

Saya kurang ingat apa yang pernah saya tuliskan mengenai bahasa, karena sudah beberapa tahun yang lalu. Menurut daya ingat yang masih tersisa di dalam kepala, saya pernah menunjuk angka sekitar 6000an bahasa. Bukan mudah untuk menghitungnya, karena harus membuat batasan-batasan dulu, misalnya apakah yang pantas disebut sebagai bahasa itu? Atau apa beda bahasa Jawa Yogyakarta dengan bahasa Jawa Kebumen / Banyumas dengan bahasa Jawa Banyuwangi. Bahasa Banjar di Banjarmasin apa sama dengan di Pontianak? Papua, Sumatra? Saya pernah menemukan angka ratusan bahasa dan dialek daerah di kepulauan Nusantara ini.

Banyak batasan harus didefinisikan dan banyak diskusi harus dilakukan dengan kepala dingin sehingga mendapatkan hasil yang mendekati kategori masuk di “akal sehat”. Barangkali bahasa yang paling morat-marit dan sengkarut adalah bahasa Inggris. Bukan saja ada British English, American English, Australian English, Singaporean English, tetapi ada Pidgin English bahkan barangkali Indonesia English (??).  Di Indonesia saja ada Bahasa Inggris, dipakai dan diucapkan para penyiar televisi yang hanya bermodalkan bonek (bondo nekat), juga para tokoh pimpinan masyarakat maupun pemerintah.

Belum lagi para remaja kita yang membuat bahasa baru yang rajin menggunakan segala perasaannya sendiri, menggunakan indranya sendiri, yang penting mereka bisa berkomunikasi antar sesamanya sendiri, kan tidak ada larangn untuk hal seperti itu? Orang di luar kalangan mereka tidak mengerti? Makin banggalah mereka karenanya. Coba ambil contoh misal: suuwer yang mula-mula saya bingung menagkapnya dari cucu saya yang di SMP waktu itu. Saya diam-diam saja, dan mencari tau dari orang lain. Eh, ternyata maksudnya kata bahasa Inggris swear yang dimaksudkannya. Sumpah atau benar, tetapi bernuansa pengertian Aku Serius. Sekali lagi tidak ada larangan. Saya tidak pernah melarang apapun. Pernah sedikit mengingatkan saja bahwa bila mereka tidak mau belajar bahasa Indonesia yang Baik dan Benar, maka bila datang saatnya harus menulis skripsi kesarjanaan, maka akan ditemui kesukaran-kesukaran yang bertumpuk. Mungkin di antara mereka yang kaya uang, akan segera berpikir memakai uang untuk menyuruh orang lain membuatkan skripsi yang baik. Ya kali ini hal seperti itu pasti ada larangannya.

Silakan buka link berikut ini:  http://1howmany.com/how-many-languages-in-the-world  Di sini disebutkan angka sekitar 6800 sampai 6900 bahasa yang ada di dunia. Itu tentu saja tidak termasuk bahasa prokem atau bahasa alay.

language-of-the-world

Saya sungguh menghargai upaya para ahli dan pemerhati bahasa sampai mampu memberikan kepada kita sebuah PETA BAHASA di dunia dan di mana dipakainya serta sebesar berapa persen. Seperti ditulis di dalam link tersebut, bahasa bisa saja sirna dan hilang lenyap dari peredaran karena ras terakhir yang menggunakannya ikut lenyap dan habis dari muka bumi. Dahulu ada data bahwa bahasa yang mati atau lenyap dari muka bumi itu sekitar enam buah per tahunnya.

Saya lihat di sekeliling saya sendiri di rumah, penggunaan bahasa Jawa hanya tinggal seperlunya saja. Kromo Inggil amat terbatas, saya bisa dan istri saya bisa tetapi juga terbatas waktu pemakaiannya. Dalam upacara pengantin Jawa apa yang diucapkan oleh Master of Ceremony Jawa (ha ha ha) sayapun tidak tau bahasa Jawanya apa, lebih dari 80% persen saya tidak mengenali kata-katanya. Saya malu? Tidak sama sekali, karena bahasa yang tidak digunakan sehari-hari selama saya hidup lebih dari tujuh puluh lima tahun itu toh tiada gunanya bagi diri saya. Biar sajalah. Alam memang mengatur dirinya sesuka kemauannya, saya tak akan kuat mencegah ataupun menghentikannya.. Mungkin saja suatu saat nanti Bahasa Prokem atau Alay akan menjadi bahasa resmi yang diakui di daerah yang lebih luas. Bukankah saya tidak mampu melihat jauh ke masa depan, apalagi itu akan pasti bukan menjadi urusan saya juga.

Yang penting di dalam berbahasa saya dan lawan bicara saya itu bisa saling mengerti dan sesuai dengan kaidah dan sopan santun yang berlaku pada saat komunikasi itu terjadi. Saya hidup hanya pada saat ini, bukan di masa lalu apalagi di masa depan. Tanpa bosan-bosannya untuk ke sekian kali lagi saya sebutkan sebagian dari doa di dalam ajaran agama Islam:  ……. fi dunia hasanah  ….. wa fi akhiroti …….. . Saya mengartikannya bahwasanya urusan dunia didahulukan baru urusan akhirat. Pasti bukan kita yang membuat urutan kata-kata yang  seperti itu.

Anwari Doel Arnowo  –  2013/04/10

 

12 Comments to "Bahasa"

  1. Dj. 813  17 April, 2013 at 00:31

    Menurut Dj.
    Ya, gunakan bahasa yang Dj. bisa.
    Bisa satu bahasa, ya baik.
    Bia lebih, ya lebih baik.
    Karena kalau ada orang bicara, kan tidak merasa terjual.

    Linda…
    Kalau bingung, ya pegangan tiang, agar tidak jatuh…
    Lha apalagi seperti Dj. yang hanya setiap 2-5 tahun sekali mudik.
    Linda yang sehari-hari di Indonesia, bisa bingung….

    Tapi Dj. juga senang kalau melalui telpon dengan teman di USA, atau di England
    bisa menggunakan bahasa ibu, yaitu bhs Jawa.
    Rasanya lebih dekat, rasa persaudaraaan, walau secara fisik, kami berjauhan.

    Salam,

  2. probo  16 April, 2013 at 23:35

    kalau RA Kartini menulis dalam bahasa dan aksara Jawa, adakah yang mau membacanya? adakah yang mau menerbitkannya?
    Andai Kartini bukan anak bupati, akankah disebut pahlawan?
    siapa bisa menjawab? yang saya tahu: dia (eh..beliau) tidak minta dilahirkan jadi anak siapa-siapa…kita juga…..tak bisa pesan orangtua…
    jadi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.