Hiroshi-san

Dian Nugraheni

 

Datang dan bertemulah denganku…
saat, deru angin berlari berkejar-kejaran

lihatlah kubah mengambang

hitunglah lima dari pancar….

 

“Pesan” itu disampaikan oleh angin malam yang mengetuk-ngetuk jendela kamar di apartemen Katrina…

Katrina segera berhening, mencoba mencerna kata-kata yang berisi teka-teki. Apa yang disampaikan angin kepadanya, hanyalah simbol-simbol, yang harus dia pecahkan sendiri, apa maknanya. Tapi belum sampai Katrina mengerti apa maksudnya, dia sudah tertidur, kecapekan karena seharian bekerja…..
****
Pagi masih menyisakan ketenangan subuhnya, ketika Katrina terbangun di hari Minggu, satu-satunya hari yang pasti dia tidak harus pergi bekerja. Satu hari bonus dalam satu minggu yang selalu disyukurinya dan selalu coba dia nikmati.

Sebentar kemudian, matahari telah bersinar genit. Ketika Katrina membuka jendela kamar, langsung terasa bahwa angin cukup keras berderak di luar sana. Tiba-tiba dia teringat pesan yang diterimanya semalam,“ketika deru angin berkejar-kejaran…”

Tak membuang waktu, selesai mandi dan sedikit minum kopi, dikenakannya baju untuk keluar rumah di awal musim Semi. Tak sengaja, Katrina kenakan warna serba biru. Sama sekali bukan warna kesukaannya, bukan warna yang membuatnya senang. Katrina tak sempat lagi memilih-milih pakaian yang disukai, mungkin beberapa diantarnya masih berada dalam keranjang pakaian kotor.

Sebelum melangkah keluar apartemen, ditatapnya sebentar raut wajahnya yang tertangkap oleh cermin  yang ada di kamar mandinya. Rambut ikalnya panjang melewati bahu, diurainya begitu saja, itung-itung untuk menghangatkan tengkuk dan kepalanya, karena di luar hawa masih dingin, berkisar sekitar 7 derajat Celsius. Katrina menyembunyikan matanya yang melamun dengan kacamata minusnya, memoles sedikit lip balm agar bibirnya tak perih karena kekeringan. Sesaput tipis bedak warna peach melengkapi penampilannya pagi itu.

Langkah kaki sepert otomatis menuju stasiun kereta bawah tanah di dekat apartemennya. Ya, memang kereta api bawah tanah adalah satu-satunya kendaraan umum yang selalu dia gunakan ketika berangkat pulang kerja, atau bila dia ingin bepergian ke suatu tempat di seputar Virginia dan Washington DC.

Ada beberapa jalur kereta api menurut tempat tujuannya. Dan untuk memudahkan, mereka dijuluki dan ditandai dengan nama warna. jalur Hijau, Biru, Kuning, Merah, dan Orange. Hanya ada satu jalur yang melewati stasiun terdekat dengan apartemen Katrina, yaitu jalur Orange, tujuan New Carrolton.

cherry blossom

Pagi itu, kereta menuju New Carrolton penuh sesak dengan penumpang, tua, muda, laki-laki, perempuan, anak-anak…, semua bercakap-cakap gembira dan penuh harapan. Tapi anehnya, semua percakapan di sekelilingnya seperti tak menyentuh kesadaran Katrina. Tak satu kata pun dia tangkap apa yang dikatakan mereka. Bukan karena Katrina tak mahir berbahasa Inggris, bahasa penduduk Amerika ini, tapi lebih karena, dia merasa berada di alam yang tidak bersentuhan dengan mereka.

Dari stasiun kereta Ballston, kereta meluncur melewati Virginia Square, Clarendon, Court House, Rosslyn, Foggy Bottom, Farrragut West, Mc Pherson, Metro Center, dan Federal Triangle. Meski di setiap stasiun itu kereta selalu berhenti untuk sekitar limabelas detik, tapi penumpang tak banyak berkurang. Baru setelah kereta berhenti di stasiun Smithsonian, rombongan penumpang, hampir semuanya turun. Katrina pun ikutan turun, keluar dari kereta, dan menggunakan tangga berjalan menuju ke atas, ke tempat yang rata tanah, sebab stasiun kereta itu berada dalam sebuah terowongan di bawah tanah.

Sesampainya di lapangan Smithsonian, Katrina lihat banyak orang tumpah ruah bersuka ria di seputar lapangan. Aparat pengaman pun berjaga tersebar di mana-mana. Ada polisi dengan anjing K9nya, ada pasukan Kavaleri dengan kuda-kudanya yang gagah dan bersih terawat, banyak pula Polisi berseragam yang mondar-mandir kesana kemari dengan sikap santai yang waspada.

Deru angin menampar-nampar, keras seperti berkejaran. Katrina mendekapkan tangan untuk mengurangi hawa dingin yang mengibas-ngibas mukanya. Kakinya tetap melangkah mengikuti langkah ratusan manusia yang berjalan bergegas menuju suatu tempat. Sekali lagi, keriuhan canda tawa orang-orang di sekitarku serasa tak menyentuhnya. Tubuhnya bergerak mengikuti orang-orang yang beriringan, tetapi matanya menatap kosong sesuatu di depannya.

Rombongan manusia yang nampak riang gembira dengan pakaian berwarna-warni itu menuju Danau Tidal Basin, sebuah danau yang berada di tengah kota Washington DC. Danau itu berbentuk sebuah mangkuk, atau baskom besar. Di sekeliling danau Tidal Basin ditumbuhi ratusan batang pohon bunga Pink Cherry. Bunga Pink Cherry adalah salah satu jenis bunga Sakura.

Dalam sejarahnya, pemerintah Jepang pernah menghadiahkan ribuan bibit pohon bunga Sakura kepada Amerika, seratus satu tahun yang lalu. Itu mengapa orang-orang berbondong-bondong menuju ke Danau Tidal Basin, karena minggu ini, ratusan batang pohon Pink Cherry akan memamerkan bunganya yang berwarna putih dengan sedkit semburat warna pink. Di danau Tidal basin, Washington, DC, setiap tahun selalu diselenggarakan Festival Cherry Blossom, sebuah acara pesta rakyat dengan banyak acara, seperti lomba menggambar, acara mencicipi makanan Shushi dan minuman Shake Jepang, panggung hiburan, dan lain-lain, untuk merayakan  bunga-bunga Pink Cherry yang mekar serempak, biasanya terjadi pada awal musim Semi. Ketika bunga Pink Cherry mekar bersamaan, memang keindahannya menjadi sangat terasa luar biasa…

SONY DSC

Seperti banyak manusia yang berbondong-bondong tersebut, maka Katrina pun juga sampai di tepian Danau Tidal Basin. Sejenak dia berhenti dan memandang lurus ke arah danau. Di seberang danau, ada bangunan kecil berbentuk kubah, itu Thomas Jefferson Memorial. Dari kejauhan, bangunan itu nampak mengambang di permukaan danau. Dalam bangunan berbentuk kubah itu berdiri patung Thomas Jefferson, sebagai penghargaan kepadanya sebagai Presiden Amerika yang ketiga, yang memegang jabatannya pada tahun 1801 hingga tahun 1809.

Dalam diamnya, kemudian Katrina teringat pesan yang sampai padanya semalam, “lihatlah kubah mengambang …”

Kubah mengambang..? Apakah itu yang dimaksud adalah kubah bangunan kecil Thomas Jefferson Memorial..? Yaa.., bukankah bangunan itu dari kejauhan nampak mengambang di permukaan danau..?

“Hitunglah lima dari pancar….”Itu yang perlu dipecahkan lebih lanjut. Menghitung apa, dari mana..?

Katrina berdiri lurus menatap kubah bangunan Thomas Jefferson Memorial. Dengan kamera digital, diambil nya foto bangunan itu, kemudian dari jendela kamera, Katrina lihat hasilnya. Meski jauh, patung Thomas Jefferson nampak tepat berada di tengah bangunan berkubah. Itu, kemudian dia coba jadikan pancar, patokan, untuk menghitung bilangan hingga ke lima.

Batinnya membawa tubuh Katrina untuk melangkah ke arah kanan menyusuri tepian danau Tidal Basin dan  berhitung sampai lima langkah. Katrina berhenti dan menatap sekelilingnya, tak ada sesuatu yang istimewa.Yang ada hanyalah gerombolan manusia yang sedang asyik berfoto-foto dengan bunga Pink Cherry. Antara berharap mampu memecahkan teka-teki, dan kepasrahan karena merasa tak mampu menterjemahkan pesan semalam, Katrina meneruskan langkah, terus ke arah kanan sepanjang tepian danau, masih dengan bersedekap menghalau dingin akibat angin yang berkejar-kejaran menampar-nampar tubuh.

Kira-kira duapuluh menit berjalan santai sambil melamun, akhirnya Katrina tiba di suatu padang rumput kecil. Sekelilingnya nampak beberapa batang pohon bunga Pink Cherry yang sudah sangat tua dan tak lagi berbunga. Di bagian ini, tak terlalu banyak turis yang bersliweran, mungkin karena sisi ini sudah cukup jauh dari jalan raya yang menuju stasiun kereta api Smithsonian.

Ada bangku taman panjang yang kosong, Katrina pun beristirahat di sana, sambil mengarahkan kamera digitalnya ke arah bangunan kubah Thomas Jefferson Memorial, mengambil gambarnya, dan menilainya dari jendela kamera. Dari sisi tempatnya berhenti tersebut, patung Thomas Jefferson tak lagi nampak, alias dia memotretnya bukan dari arah  lurus seperti pertama tadi. Kemudian pada buku notes yang selalu di bawa kemana-mana, dia coba menggambarkan posisi di mana dia duduk sekarang ini, dengan Kubah Thomas Jefferson sebagai pancar, patokan, dan ternyata adia berada di posisi jam 5, dalam sebuah lingkaran yang dia gambar. Hay…hay…inikah hitungan ke lima yang dimaksud..?

Katrina masih duduk di bangku kosong, sendirian. Dia melihat dirinya sendiri berada dalam sikap bersiap yang takzim. Sedang menunggu siapakah dia..? Katrina pun tak tau, hanya batinnya mengatakan, bahwa dia harus tetap duduk di bangku ini untuk menunggu seseorang yang akan bertemu dengannya.

Angin semakin keras berkebat-kebat, membuat rambutnya berantakan. Lebih dirapatkannya tangan bersedekap, Katrina kedinginan, ketika tiba-tiba, dari jarak beberapa langkah seorang lelaki berjalan tenang menuju di mana dia sedang berada.

Ketika lelaki sudah berada tepat di hadapan Katrina, pelahan Katrina beranjak dari bangku di mana dia sedang duduk, dan segera mengambil sikap berjongkok, lutut kanannya ditekuk bertumpu pada tanah untuk menyangga tubuhnya, sedang kaki kirinya terlipat dengan lutut berada di atas, setengah tegak, persis sikap para bawahan ketika menghadap Rajanya di cerita jaman Kerajaan masa lalu. Tak lupa Katrina menghaturkan sembah dengan menangkupkan kedua tangannya. Katrina tak berani  memandangnya. Wibawa lelaki di hadapannya itu meredam semua keinginan Katrina untuk melakukan apa pun, selain diam menunggu apa yang akan terjadi.

Katrina merasa tangan lelaki itu mengelus kepalanya lembut, “Berdirilah, Raden Ajeng…” sambil berkata demikian, dia mengambil tangan Katrina yang masih tertangkup membentuk sikap menyembah, dan dipandunya Katrina untuk berdiri. Tapi kenapa dia memanggilku Raden Ajeng..?

Katrina pun menurut, pelahan berdiri, dan didapatinya, dia sedang berhadapan dengan seorang lelaki tengah baya dengan rambut lurus yang dikucir rapih ke belakang. Busana lelaki itu adalah busana seorang Samurai berwana hitam, pendekar lelaki Jepang dalam cerita yang pernah aku baca ketika masih remaja.

Diberanikannya bertanya, “Siapakah gerangan anda..?”

Lelaki itu tersenyum ceria, “Waw…, benarkah kau tak mengenali aku, Raden Ajeng..? Aku.., Hiroshi….”

“Apakah kita pernah bertemu..? Dan.., aku bukan Putri Kraton, mengapa kau panggil aku Raden Ajeng..?” protes Katrina.

“Yaa, kita pernah bertemu di suatu masa, Raden Ajeng, maka aku kirimkan pesan untuk bisa bertemu denganmu… Soal namamu, Raden Ajeng, sekarang ini kau berhak menyandang nama Raden Ajeng. Putri Kraton adalah para Raden Ajeng yang menyandang nama itu sejak lahir karena posisi dari para orang tuanya yang memang anggota keluarga Kraton, sedangkan kau menyandang nama Raden Ajeng karena apa yang kau raih selama menjalani hidupmu sampai hari ini…”

Katrina diam sejenak, “Mari, Raden Ajeng, ijinkan aku memelukmu…, aku sungguh kangen padamu…”

Katrina menurut, masih dalam pelukan Hiroshi, Katrina memandangi wajah Hiroshi. Katrina tersenyum, dan sejenak kemudian, dia merasa bahwa memang dia pernah sangat dekat dengan lelaki yang memeluknya tersebut. Katrina mengelus pipi Hiroshi pelahan, “kau pucat, Hiroshi…, mengapa lama sekali kau baru datang padaku..?”

“Maafkan aku, angin utara menghalangi perjalananku, Raden Ajeng, dan Sang Salju seperti cemburu ketika tau aku akan menemuimu…”

“Ha..ha..ha.., benarkah..?” Katrina tergelak. Dia teringat bagaimana dia sangat mencintai Sang Salju, dan selalu menyempatkan waktunya untuk bermain-main dengan Sang Salju ketika dia tiba.

Hiroshi tersenyum, “Kenapa sinar matamu menghilang, Raden Ajeng..? Siapa mencuri bintang di matamu..?”

Katrina tertunduk, “haruskah aku katakan padamu..?”

Hiroshi tersenyum, “sebaiknya…”

“Hidupku sunyi…, banyak hal terjadi.., aku merasa, ini semua tak adil bagiku. Orang menyakitiku ketika aku menyayanginya, orang mengkhianatiku ketika aku bersetia kepadanya, orang memukulku ketika aku sangat mengusahakan kebahagiaan buatnya…Dan terakhir kemaren, belum lama ini, seseorang melukai perasaanku, kurasa dia menipuku dengan mengatakan bahwa dia mencintaiku, dan kemudian, entah bagaimana, dia menghinakan kasih sayang yang aku berikan padanya…”

“Sakitkah peasaanmu Raden Ajeng..?”

Katrina mengangguk, “Sangat…”

Hiroshi menggandeng tangan Katrina, berjalan mendekat tepian danau, dan mereka berdua tidur-tiduran di tanah beralaskan rerumputan di dekat tiga pohon bunga Pink Cherry yang sudah sangat tua. Hiroshi dan Katrina, berdua berbaring berdampingan, tangan kiri Hiroshi menggenggam tangan kanan Katrina, seperti dua orang yang sedang bergandengan dalam posisi berbaring. Mereka sama-sama menatap langit yang tertutup gerumbul jutaan bunga Pink Cherry yang sedang mekar berbondol-bondol, menghirup aroma harumnya. Yaa, aroma harumnya sampai melingkupi mereka berdua, meskipun bunga Pink Cherry itu sendiri, sama sekali tidaklah wangi…

“Raden Ajeng, tetaplah menyayangi, tetaplah bersetia, tetaplah mengusahakan kebahagiaan bagi orang lain, dan berterimakasihlah pada orang-orang yang telah melukai dan menghinakan perasaanmu itu…”

“Kenapa begitu..?” sergah Karlina.

“Karena dengan mereka menyakitimu, maka kamu mengenal rasa sakit itu…Itu juga berarti, bahwa mereka adalah  Guru bagimu, Guru yang mengajarkan rasa sakit…nahh, selanjutnya, kamu akan belajar bagaimana mengatasi rasa sakit itu…Karenanya, kamu juga jadi mengenal rasa-rasa tentang pengkhianatan, penghinaan, ketidaklembutan… Itu semua adalah pelajaran yang sangat berharga bagimu, Raden Ajeng.. Pada setiap peristiwa yang terjadi padamu, sebenarnya kamu sedang melalui banyak pembelajaran. Maka kamu tak boleh membencinya. Aku tau, kamu bukan makhluk bodoh yang selalu jatuh pada lobang yang sama, kamu adalah insan pembelajar yang giat dan penuh semangat….”

Yaa, aku memang tak mampu mengubah rasa-rasa cinta kasihku pada mereka menjadi suatu kebencian, meski mereka berbuat buruk padaku, aku tetap mencintai dan mengasihi mereka.., meski kadang aku merasa…ahhh….”

Hiroshi, “Sudah benar sikapmu itu, seperti apa yang aku sampaikan tadi, tetaplah pada sikap yang indah dan baik, dan jangan bilang kamu capek, Raden Ajeng…, jangan bilang kamu tak sanggup…, karena kamu memang salah satu yang terpilih untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik, lebih tenteram, lebih nyaman, lebih beraroma kelembutan dan cinta kasih…Ingat itu, Raden Ajeng…”

“Hiroshi, mengapa aku tak punya kemampuan untuk membenci…? Rasa itu kadang menyakitiku….,” Katrina bergumam lirih, seolah-olah dia sedang mengeluh.

Hiroshi mengelus kepala Katrina dengan lembut, “Itulah mengapa kamu menjadi salah satu sosok manusia yang berbeda dengan yang lain, Raden Ajeng…karena kamu tak mampu membenci…bahkan pada orang-orang yang sungguh sangat kejam padamu…Aku paham itu…”

Katrina, “May I..?”

Tanpa dijelaskan, Hiroshi langsung mengerti, “Sure…kemarilah Raden Ajeng, tidurlah dalam dekapanku…”

Katrina memiringkan tubuhnya, memeluk dada Hiroshi, merasakan sejuk yang sangat membuatnya nyaman. Diletakkannya telapak tangannya di dada Hiroshi, dan satu tangan Hiroshi melingkar memeluk punggung Katrina. Sejenak kemudian, Katrina merasa dirinya tertidur dengan sangat tenang, semua kelelahan hatinya, terasa terserap oleh sejuknya kasih sayang Hiroshi.****

“Raden Ajeng…, bangunlah, Sayang.., watashi wa ikanaikya….(*)

Katrina menggeliat, memandang pada Hiroshi dan menggumam, “kenapa harus secepat ini kau pergi Hiroshi..? Aku masih ingin bersamamu…, please…? Atau, ijinkan aku ikut bersamamu kemana pun engkau pergi…”

Hiroshi menggeleng, “Berdirilah Raden Ajeng….”

“Please..?” pinta Katrina.

“Tidak Raden Ajeng.., masih banyak hal yang harus kau selesaikan di sini…mata rainen no Sakura no hana ga saiteiru toki ni, o genki de ne….(**)

Katrina menggeleng, air matanya mengalir, tapi, sekali lagi, aura kewibawaan Hiroshi telah membuatnya tak mampu berbuat apa pun. Kembali Katrina mengambil sikap jongkok seperti awal ketika Hiroshi tiba, ditangkupkannya kedua telapak tangannya untuk menyampaikan sembah takzim. Hiroshi kembali mengelus rambut  Katrina, pelahan, sedikit membungkuk, dan mencium kepala Katrina, sebelum dengan sangat cepat dia berlalu, tanpa jejak….

***

Tiba-tiba, Katrina merasa ada seseorang yang menepuk pelahan pada pundaknya, “Young Lady.., are you oke..?”

Katrina tersentak, dan memandang pada seseorang yang menepuk pundaknya barusan, seorang lelaki bule yang sudah tua, “ehh, yaa.. I think…, mmm…, I’m fine…, thank you….”

Lelaki tua itu mengangsurkan sebotol air mineral, “Minumlah.., ini juga ada beberapa cookies, sengaja aku beli di toko sebelum jalan-jalan kemari…”

Katrina menerima botol air mineral yang diberikan kepadanya, dan meminumnya. Tiba-tiba dia merasa sadar, dan mendapati dirinya berada dalam keramaian ratusan bahkan ribuan turis yang sedang menikmati pemandangan mekarnya bunga Pink Cherry di seputar danau.

Lelaki tua itu bertanya, “Apakah anda sedang berlatih drama..? Sedari tadi aku perhatikan, anda bicara sendiri, tapi kedengarannya seperti anda sedang berdialog dengan seseorang. Aku pikir anda pasti sedang menghafalkan dialog dalam suatu skenario cerita..? Apakah anda akan mementaskan suatu cerita bersama kelompok teater anda..?”

Jeda sebentar, ketika Katrina hanya diam, Lelaki tua itu berkata, “ohh, maaf, saya terlalu banyak bertanya.. Maksud saya, saya khawatir, karena adegan terakhir ketika anda menangkupkan kedua tangan dan diangkat ke depan wajah anda, kemudian anda menangis tersedu…saya harap anda baik-baik saja..”

Katrina tertawa dan segera menguasai keadaan, “Benar, Sir, saya sedang berlatih drama, saya kebagian peran yang endingnya cukup menyedihkan, maka saya tadi menangis..he..he..he… By the way, makasih banyak minuman dan cookienya yaa..? Saya harus segera beranjak, karena saya ada janji dengan seorang teman di Georgetown…Senang bertemu anda, semoga Tuhan memberkati anda…” Katrina terpaksa berbohong sedikit agar segera bisa beranjak dari tempat itu. Katrina sedikit membungkukkan badannya, dan tersenyum pada Sang Lelaki Tua..

“Okay, senang bertemu anda juga…, have a great day, yaa..” jawab sang Lelaki Tua.

Kemudian Katrina beranjak, masih tersenyum, melambaikan tangan pada Sang Lelaki Tua, “bye…”****

Seputaran Danau Tidal Basin masih penuh sesak dengan para pengunjung. Jutaan bunga Pink Cherry melambai-lambai dari batangnya yang tanpa daun. Sejauh mata memandang, Danau Tidal Basin nampak memutih bersemu kemerahan, dikepung ratusan pohon Pink Cherry yang sedang mekar serempak. Tapi kemudian langit tiba-tiba mendung. Katrina bergegas segera pulang.  Sepanjang jalan, Katrina masih terus mengenang dan merasakan pertemuannya dengan Hiroshi, mengingat semua kata-kata dan pesan yang disampaikannya….

Meski ada rasa sedih, Katrina tau, pertemuannya dengan Hiroshi pun, berisi sebuah harapan, sebab tadi didengarnya Hiroshi berkata, “mata rainen no sakura no hana ga saiteiru toki ni, o genki de ne….”

“Ohhh…, Hiroshi san…” keluh Karlina dalam hati.

Sayup-sayup, di dalam kepalanya, terdengar suara Phill Collins mengalunkan sebuah lagu kesukaan Katrina…

How can I just let you walk away, just let you leave without a trace
When I stand here taking every breath with you, ooh
You’re the only one who really knew me at all

How can you just walk away from me,
when all I can do is watch you leave
Cos we’ve shared the laughter and the pain and even shared the tears
You’re the only one who really knew me at all

So take a look at me now, oh there’s just an empty space
And there’s nothing left here to remind me,
just the memory of your face
Ooh take a look at me now, well there’s just an empty space
And you coming back to me is against all odds and that’s what I’ve got to face

I wish I could just make you turn around,
turn around and see me cry
There’s so much I need to say to you,
so many reasons why
You’re the only one who really knew me at all

So take a look at me now, well there’s just an empty space
And there’s nothing left here to remind me, just the memory of your face
Now take a look at me now, cos there’s just an empty space

But to wait for you, is all I can do and that’s what I’ve got to face
Take a good look at me now, cos I’ll still be standing here
And you coming back to me is against all odds 
It’s the chance I’ve gotta take

Take a look at me now….

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Jumat, 12 April 2013, jam 9.42 malam

(Kau ada di mana..?)

_________

(*)aku harus pergi

(**)sampai bertemu tahun depan ketika bunga sakura sedang mekar, kamu akan baik-baik saja…

NB: terimakasih banyak buat Dewi Murni yang telah membuatkan kalimat dalam bahasa Jepang…hixixixixi…

 

20 Comments to "Hiroshi-san"

  1. diannugraheni  25 April, 2013 at 09:37

    Mbak Indri, makasih banyak yaa…salam dari Raden ajeng dan Hiroshi san…

  2. diannugraheni  25 April, 2013 at 09:36

    Wahh, iya, sempet email2an sama mbak Mawar pengen ketemuan di Cherry Blossom Washington, DC kemaren itu, tapi sayang sekali belum terlaksana karena jadwal yang sama2 belum pas…saya juga waktu ke sana belum sepenuhnya mekar, Mbak..dia kemaren itu mekarnya mulai hari Selasa, rabu, skitar tanggal 10an, mundur dari yang dijadwalkan karena hari2 itu spring masih sangat dingin, ajdi bunganya telat mekar….moga2 kapan2 bisa ketemu ya mbak…makasih banyak…

  3. diannugraheni  25 April, 2013 at 09:34

    Mbak nu2k…, iya Mbaak, kalau lagi blossom yang namanya pink cherry ini memang luar biasa indahnya, apalagi jenis bunganya macam2 dan sengaja ditanam berderet2 seperti pagar, jadi kalau pas mekar serempak…seputar mata memandang hanya indah bunga yang nampak…apalagi di negeri asalnya Jepang yaaa..seperti yang diceritakan putri mbak nu2k…makasih banyak yaa…

  4. diannugraheni  25 April, 2013 at 09:32

    Mas Juwandi Ahmad, ketidakmampuan merubah cinta kasih dan sayang menjadi benci, ketika seseorang jelek pada kita, kadang berbuah rasa sakit dan sedih juga, tapi rasa sakit dan sedih kayak apa pun tetep nggak mampu bikin benci…hixixixi..piye jaaal…let it flow lah yaa…makasih banyak yaaa…

  5. diannugraheni  25 April, 2013 at 09:30

    Dewi Aichi, makasih banyak ya Wie…banyak kalimat sering bersliweran di otakku, kadang banyak juga yang digarisbawahi, ditintain merah dan berebut minta disebutkan dalam bentuk nyata (ulisan)…ini salah satu buah hobby nongkrong ngopi udud di kamar mandi…sering juga bikin resaaah…karena ide2 datang cepat2 minta ditulis, sedang awake sok wes kesel bar mbutge..ha2…

  6. diannugraheni  25 April, 2013 at 09:27

    Elnino, makasih banyak yaa…aku ini memang seorang pengembara…hixixixi, ngayale mengendi2..wes tah…

  7. diannugraheni  25 April, 2013 at 09:27

    JC, makasih banyak..yaa, sebenere memang aslinya aku ini sering tersesat (atau menyesatkan diri yo) ke sebuah dunia yang aku sendiri merasa melihat tapi tak melihat, mendengar tapi kayaknya bukan suara, menyentuh tapi kok sesuatu yang transparan, dan seterusnya, aku sok mawut2 dewe nek sudah gini…haruuuussss…memecahkan teka-teki sendiri, apa yang menjadi kesimpulan atau pesannya…lha nek tak critakno mbek wong sing ra sepaham malah aku diarani kenthir tenan mengko..ha2..

    *JC soal yang diemail Dewi itu, aku kok njur tiba2 kehilangan jejak editorku yaa, naskah yang sudah diedit beliau sudah aku kembalikan, dan soal permintaanku padamu itu sudah aku sampaikan, wong memang beliaunya yang minta, sampai hari ini aku belum dapet jawaban dari beliau. Cross the finger for me, please…makasih banyak sebelumnya, kalau ada kabar segera aku hubungi yaa…*

  8. diannugraheni  25 April, 2013 at 09:22

    Mbak Lani, makasih banyak satoenya yaa…dan..he2…yaa, memang kalau itu terjadi pada kita, rasanya ampuuuuhhh tenan je mbak..mak sedut senut…he2..dan benar, hidup harus terus dijalani, maka tabah, tegar, dan sabar adalah keseharian, dan jangan lupa, tetep enjoy lah ya…hixixixi..

  9. Indri  18 April, 2013 at 00:38

    Bagus sekali ceritanya, terutama dialog antara Raden Ajeng en Hiroshi San mengharukan……

  10. Mawar09  17 April, 2013 at 11:47

    Dian : cerita yang sangat bagus. Cherry Blossom nya begitu indah bermekaran, sayang waktu kami kesana Hari Kamis belum mekar, tapi sempat lihat 1 pohon yg mulai mekar. Sayang kami tidak bisa tinggal sampai hari Sabtu, mungkin dilain waktu ya. Salam!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *