Realita Kehidupan Poligami di Sekitar Kita

Ratman Aspari

 

KALAU – Kita mengikuti perkembangan film nasional era tahun 2006, beredar film yang mengangkat seputar kehidupan Poligami yang berjudul ‘Berbagi Suami’. Adalah sosok Nia Dinata, sutradara muda yang mencoba mengangkat persoalan poligami ke layar lebar.

Dalam pandangan sutradara muda ini, tradisi poligami sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Wacana beristri lebih dari satu ini selalu diikuti pro dan kontra, ada yang menentang, tidak sedikit pula yang mendukungnya.

Film itu berkisah tentang kehidupan tiga orang perempuan yang harus rela dimadu. Tiga perempuan berasal dari tiga kelas sosial, ekonomi dan suku yang berbeda membuka tabir tentang poligami mereka.

1-berbagi suami

Alur ceritanya begitu menarik, menghibur dan sarat dengan berbagai pesan yang hendak disampaikannya, paling tidak ada pelajaran untuk lebih memahami kehidupan keluarga yang berpoligami, sebelum kita sendiri memutuskannya untuk berpoligami. Paling tidak dalam film ‘Berbagi Suami’ tidak sekedar berkutat pada nafsu dan harta semata sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para penentang Poligami, namun di sana ada cinta, keikhlasan dan persahabatan.

Poligami atau beristri lebih dari satu, sebagaimana dipaparkan dalam film ‘Berbagi Suami’ memang bukan perilaku orang berada saja seperti Haji Ali Imron (El Manik). Pak Lik (Lukman Sardi), seorang sopir sebuah rumah produksi atau Koh Abun (Tio Pakusudewo), koki yang juga pemilik restoran bebek goreng pun bisa berpoligami.

Ada beragam alasan yang membuat mereka memilih berpoligami. Haji Imron, misalnya, punya alasan tersendiri untuk menikah lagi, dengan alasan menghindari zina, yang dilarang agama. Apalagi dalam ajaran Islam, memang tidak melarang seorang suami beristri lebih dari satu, asalkan mampu berlaku adil katanya. Salma (Jajang C.Noer), dokter kandungan berdarah Betawi, istri Haji Imron, awalnya memang tidak sudi dimadu. Salma awalnya berang. Tapi, Pak Haji selalu punya kalimat pamungkas. “Cuma ngindarin zina,” tuturnya.

Perempuan itu lama-kelamaan akhirnya bisa berdamai dengan sikap suaminya itu. Pilihan yang sulit, tapi harus diterimannya. “Ini sudah takdir,” pikir Salma. Ya, Salma pada akhirnya merelakan membagi suaminya dengan perempuan lainnya, Indri (Nungki Kusumastuti). Namun, Nadin (Winky Wirawan), anak semata wayangnya, justru bisa memberinya kekuatan untuk bertahan. Menjadi adil memang terasa gampang dibayangkan, tapi ternyata susah dilakukan.

2-berbagi-suami

Poligami, awalnya memang indah, tapi orang sehebat Haji Imron pun dibuat tak berdaya. Seadil-adilnya, Haji Imron tetaplah tak adil bagi istri-istrinya. Selalu ada perasaan diduakan dan rasa iri yang berkecamuk di hati para istrinya. Tapi, Haji Imron, meski dianggap ‘tidak adil’ oleh kedua istrinya, toh masih merasa perlu punya istri lagi.

Satu istri mudanya lagi-lagi muncul, justru ketika Pak Haji harus dirawat di Rumah Sakit lantaran terserang stroke. Kini tiga perempuan dinikahinya. Pada akhirnya, persaingan pun tak terhindarkan. Masing-masing merasa paling memiliki. Digambarkan bagaimana lucunya melihat ketiga istri berebut memperhatikan suaminya.

Inilah satu dari tiga kisah yang dihadirkan Nia dalam film ‘Berbagi Suami’ yang disutradarainya. Dalam babak kedua, lalu beralih kepada Siti (Shanty), gadis Jawa yang mencoba peruntungan ke Jakarta. Adalah Pak Lik (Lukman Sardi), yang mengajaknya ke Jakarta. Di rumahnyalah ia bakal menetap bersama dua istri, Dwi (Rieke Dyah Pitaloka) dan Sri (Ria Irawan).

Sial, niat bekerja di Jakarta, eh Siti malah dinikahi Pak Lik. Lain istri-istri terdahulu Pak Lik. Tak ada cekcok di antara mereka. Malah saling dukung di antara ketigannya. Mereka hidup akur meski harus tinggal berdesak-desakan di satu rumah.

3-berbagi suami

Nia memang boleh jadi amat berhasil memotret fenomena yang ada di sekeliling kita. Tidak hanya mampu membuat cerita yang menarik, tetapi plot cerita pun terjaga. Meski film itu punya tiga bagian dengan cerita yang berbeda, tetapi keterkaitan antara ketiganya memang terasa begitu mulus. Tak terkecuali di bagian ketiga, Ira Maya Sopha yang tampil memerankan karakter Cik Linda, istri Koh Abun, yang jutek dan dominan pada suaminya.

Sederhana, namun bermakna, itulah yang hendak disampaikan dalam “Berbagi Suami’. Nia seolah ingin mendobrak tabu tentang Poligami, dan membuka pikiran masyarakat tentang pembagian cita dalam perkawinan. Bahwa baik laki-laki maupun perempuan, masing-masing punya pilihan dalam hidup, semua harus siap dengan konseskuensi dan tantangannya. Paling tidak di zaman sekarang, kita sendiri yang memilih jodoh dan pasangan hidupnya, sekalipun harus ‘Berbagi Suami’.

Pro kontra persoalan Poligamipun terus bergulir, bahkan di tengah kita pernah disibukkan dengan terkuaknya pernikahan seorang ustadz kondang asal Bandung dengan janda beranak tiga mantan model, waktu itu. Tidak tanggung-tanggung konon akibat persoalan tersebut sampai-sampai seorang presiden SBY,  harus turun tangan untuk ikut mengurusi persoalan Poligami.

Kabarnya waktu itu SBY segera memanggil Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, Meutia Hatta dan Prof. Nasaruddin Umar (Dirjen Bimas Islam Depag) untuk merealisasikan penentangannya terhadap Poligami. Dengan serta merta pihak pemerintah akan merevisi PP No.10/1983 tentang Perkawinan, yakni memperluas larangan berpoligami bagi masyarakat umum. Padahal PP itu sudah direvisi menjadi PP No.45 tahun 1990, mau direvisi kembali supaya lebih represif.

Padahal ajaran Islam, Alqur’an dan Hadist merestui dan membolehkan praktik poligami, dengan syarat disertai kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan oleh suami, misalnya berlaku adil. Disamping itu praktik Poligami bisa menjadi solusi dalam menyelesaikan problem-problem sosial, seperti menjamurnya praktik prostitusi, perselingkuhan, dll.

Pelarangan poligami di berbagai negara barat justru melahirkan banyaknya anak-anak gelandangan akibat perbuatan seks bebas yang dibiarkan oleh pemerintah. Ditinjau dari aspek kemasyarakatan pun, poligami dapat memberikan solusi sosial bagi mereka yang mampu berlaku adil sesuai denga syariat. Terserah anda, mau terjerumus dalam perselingkuhan, prostitusi atau mau menjalankan syariat Islam dengan berpoligami.

Mengapa Allah mengizinkan poligami?

Perlu kita ketahui bersama sebuah kaidah dalam agama kita (Islam) bahwa ketika Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan sesuatu, maka syariat yang Allah turunkan tersebut memiliki maslahat yang murni ataupun maslahat yang lebih besar. Sebaliknya, ketika Allah melarang sesuatu maka larangan tersebut pasti memiliki bahaya yang murni maupun bahaya yang lebih besar.

Allah berfirman,

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl: 90)

Sebagai contoh Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk bertauhid yang mengandung maslahat yang murni dan tidak memiliki mudarat sama sekali bagi seorang hamba. Demikian pula, Allah subhanahu wa ta’ala melarang perbuatan syirik yang mengandung keburukan dan sama sekali tidak bermanfaat bagi seorang hamba.

Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan jihad dengan berperang, walaupun di dalamnya terdapat mudarat bagi manusia berupa rasa susah dan payah, namun di balik syariat tersebut terdapat manfaat yang besar ketika seorang berjihad dan berperang dengan ikhlas yaitu tegaknya kalimat Allah dan tersebarnya agama Islam di muka bumi yang pada hakikatnya, ini adalah kebaikan bagi seluruh hamba Allah.

Allah berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Demikian pula, Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan judi dan minuman keras, walaupun di dalam judi dan minuman keras tersebut terdapat manfaat yang bisa diambil seperti mendapatkan penghasilan dari judi atau menghangatkan badan dengan khamar/minuman keras. Namun mudarat yang ditimbulkan oleh keduanya berupa timbulnya permusuhan di antara manusia dan jatuhnya mereka dalam perbuatan maksiat lainnya jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang didapatkan.

Allah berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat keburukan yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi keburukan keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al Baqarah: 219)

Setelah kita memahami kaidah tersebut, maka kita bisa menerapkan kaidah tersebut pada syariat poligami yang telah Allah perbolehkan. Tentu di dalamnya terdapat manfaat yang sangat besar walaupun ada beberapa mudarat yang ditimbulkan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dengan syariat tersebut. Sebagai contoh misalnya: terkadang terjadi kasus saling cemburu di antara para istri karena beberapa permasalahan, maka hal ini adalah mudarat yang ditimbulkan dari praktek poligami.

Namun, manfaat yang didapatkan dengan berpoligami untuk kaum Muslimin berupa bertambahnya banyaknya jumlah kaum Muslimin dan terjaganya kehormatan wanita-wanita Muslimah baik yang belum menikah maupun para janda merupakan kebaikan dan maslahat yang sangat besar bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, jika kita melihat kebanyakan orang-orang yang menentang syariat poligami adalah orang-orang yang lemah pembelaannya terhadap syariat Islam bahkan terkadang melecehkan syariat Islam. Pemikiran mereka terpengaruh dengan pemikiran orang-orang kafir yang jelas-jelas tidak menghendaki kebaikan bagi kaum Muslimin.

Bolehnya melakukan poligami dalam Islam berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisaa: 3)

Bolehnya syariat poligami ini juga dikuatkan dengan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatan para sahabat sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata, “Anehnya para penentang poligami baik pria maupun wanita, mayoritas mereka tidak mengerti tata cara wudhu dan sholat yang benar, tapi dalam masalah poligami, mereka merasa sebagai ulama besar!!” (Umdah Tafsir I/458-460 seperti dikutip majalah Al Furqon Edisi 6 1428 H, halaman 62). Perkataan beliau ini, kiranya cukup menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang menentang poligami tersebut, hendaknya mereka lebih banyak dan lebih dalam mempelajari ajaran agama Allah kemudian mengamalkannya sampai mereka menyadari bahwa sesungguhnya aturan Allah akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Berikut kami sebutkan beberapa hikmah dan manfaat poligami yang kami ringkas dari tulisan Ustadz Kholid Syamhudi yang berjudul “Keindahan Poligami dalam Islam” yang dimuat pada majalah As Sunnah Edisi 12/X/1428 H sebagai berikut:

  1. Poligami adalah syariat yang Allah pilihkan pada umat Islam untuk kemaslahatan mereka.
  2. Seorang wanita terkadang mengalami sakit, haid dan nifas. Sedangkan seorang lelaki selalu siap untuk menjadi penyebab bertambahnya umat ini. Dengan adanya syariat poligami ini, tentunya manfaat ini tidak akan hilang sia-sia. (Syaikh Muhammad Asy Syanqithi dalam Adhwaul Bayaan 3/377 dinukil dari Jami’ Ahkamin Nisaa 3/443-3445).
  3. Jumlah lelaki yang lebih sedikit dibanding wanita dan lelaki lebih banyak menghadapi sebab kematian dalam hidupnya. Jika tidak ada syariat poligami sehingga seorang lelaki hanya diizinkan menikahi seorang wanita maka akan banyak wanita yang tidak mendapatkan suami sehingga dikhawatirkan terjerumus dalam perbuatan kotor dan berpaling dari petunjuk Al Quran dan Sunnah. (Syaikh Muhammad Asy Syanqithi dalam Adhwaul Bayaan 3/377 dinukil dari Jami’ Ahkamin Nisaa 3/443-3445).
  4. Secara umum, seluruh wanita siap menikah sedangkan lelaki banyak yang belum siap menikah karena kefakirannya sehingga lelaki yang siap menikah lebih sedikit dibandingkan dengan wanita. (Sahih Fiqih Sunnah 3/217).
  5. Syariat poligami dapat mengangkat derajat seorang wanita yang ditinggal atau dicerai oleh suaminya dan ia tidak memiliki seorang pun keluarga yang dapat menanggungnya sehingga dengan poligami, ada yang bertanggung jawab atas kebutuhannya. Kami tambahkan, betapa banyak manfaat ini telah dirasakan bagi pasangan yang berpoligami, Alhamdulillah.
  6. Poligami merupakan cara efektif menundukkan pandangan, memelihara kehormatan dan memperbanyak keturunan. Kami tambahkan, betapa telah terbaliknya pandangan banyk orang sekarang ini, banyak wanita yang lebih rela suaminya berbuat zina dari pada berpoligami, Laa haula wa laa quwwata illa billah.
  7. Menjaga kaum laki-laki dan wanita dari berbagai keburukan dan penyimpangan.
  8. Memperbanyak jumlah kaum Muslimin sehingga memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk menghadapi musuh-musuhnya dengan berjihad. Kami tambahkan, kaum Muslimin dicekoki oleh program Keluarga Berencana atau yang semisalnya agar jumlah mereka semakin sedikit, sementara jika kita melihat banyak orang-orang non-Mulism yang justru memperbanyak jumlah keturunan mereka. Wallahul musta’an.

Demikian pula, poligami ini bukanlah sebuah syariat yang bisa dilakukan dengan main pukul rata oleh semua orang. Ketika hendak berpoligami, seorang Muslim hendaknya mengintropeksi dirinya, apakah dia mampu melakukannya atau tidak? Sebagian orang menolak syariat poligami dengan alasan beberapa kasus yang terjadi di masyarakat yang ternyata gagal dalam berpoligami. Ini adalah sebuah alasan yang keliru untuk menolak syariat poligami. Dampak buruk yang terjadi dalam sebuah pelaksanaan syariat karena kesalahan individu yang menjalankan syariat tersebut tidaklah bisa menjadi alasan untuk menolak syariat tersebut.

Apakah dengan adanya kesalahan orang dalam menerapkan syariat jihad dengan memerangi orang yang tidak seharusnya dia perangi dapat menjadi alasan untuk menolak syariat jihad? Apakah dengan terjadinya beberapa kasus di mana seseorang yang sudah berulang kali melaksanakan ibadah haji, namun ternyata tidak ada perubahan dalam prilaku dan kehidupan agamanya menjadi lebih baik dapat menjadi alasan untuk menolak syariat haji?

Demikian juga dengan poligami ini. Terkadang juga banyak di antara penolak syariat poligami yang menutup mata atau berpura-pura tidak tahu bahwa banyak praktek poligami yang dilakukan dan berhasil. Dari mulai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para ulama di zaman dahulu dan sekarang, bahkan banyak kaum Muslimin yang sudah menjalankannya di negara kita dan berhasil.

Sebagaimana syariat lainnya, dalam menjalankan poligami ini, ada syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seseorang sebelum melangkah untuk melakukannya. Ada dua syarat bagi seseorang untuk melakukan poligami yaitu (kami ringkas dari tulisan Ustadz Abu Ismail Muslim Al Atsari dalam majalah As Sunnah Edisi 12/X/1428 H):

  1. Berlaku adil pada istri dalam pembagian giliran dan nafkah. Dan tidak dipersyaratkan untuk berlaku adil dalam masalah kecintaan. Karena hal ini adalah perkara hati yang berada di luar batas kemampuan manusia.
  2. Mampu untuk melakukan poligami yaitu: pertama, mampu untuk memberikan nafkah sesuai dengan kemampuan, misalnya jika seorang lelaki makan telur, maka ia juga mampu memberi makan telur pada istri-istrinya. Kedua, kemampuan untuk memberi kebutuhan biologis pada istri-istrinya.

Adapun adab dalam berpoligami bagi orang yang melakukannya adalah sebagai berikut (kami ringkas dari tulisan Ustadz Abu Ismail Muslim Al Atsari dalam majalah As Sunnah Edisi 12/X/1428 H):

  1. Berpoligami tidak boleh menjadikan seorang lelaki lalai dalam ketaatan pada Allah.
  2. Orang yang berpoligami tidak boleh beristri lebih dari empat dalam satu waktu.
  3. Jika seorang lelaki menikahi istri ke lima dan dia mengetahui bahwa hal tersebut tidak boleh, maka dia dirajam. Sedangkan jika dia tidak mengetahui, maka dia terkena hukum dera.
  4. Tidak boleh memperistri dua orang wanita bersaudara (kakak beradik) dalam satu waktu.
  5. Tidak boleh memperistri seorang wanita dengan bibinya dalam satu waktu.
  6. Walimah dan mahar boleh berbeda dia antara para istri.
  7. Jika seorang pria menikah dengan gadis, maka dia tinggal bersamanya selama tujuh hari. Jika yang dinikahi janda, maka dia tinggal bersamanya selama 3 hari. Setelah itu melakukan giliran yang sama terhadap istri lainnya.
  8. Wanita yang dipinang oleh seorang pria yang beristri tidak boleh mensyaratkan lelaki itu untuk menceraikan istri sebelumnya (madunya).
  9. Suami wajib berlaku adil dalam memberi waktu giliran bagi istri-istrinya.
  10. Suami tidak boleh berjima’ dengan istri yang bukan gilirannya kecuali atas seizin dan ridha istri yang sedang mendapatkan giliran.

Demikian semoaga bermanfaat. Wallahu a’lam.

(Ratman Aspari/disarikan dari berbagai sumber)

 

112 Comments to "Realita Kehidupan Poligami di Sekitar Kita"

  1. CEMOT  25 April, 2013 at 11:09

    kok gak disinggung / ditanggapi blas seeh masalah perbandingan jumlah pria dan wanita, ato jangan2 penulis takut n bingung njawabe karena termasuk salah satu pelaku poligami?

  2. ratman aspari  25 April, 2013 at 01:51

    Terima kasih,atas komentar dari para senior, rekan-rekan (baltyrawan/baltyrawati) semuanya yang sangat saya hormati. Saya tidak menyangka sama sekali tema ini akan menjadi sebuah diskusi yang ‘gayeng’ (entah apa artinya, ini bahasa Jawa Timuran).

    Suatu tema diskusi kalau semuanya setuju kan kurang sedap, pro dan kontra dalam alam demokrasi tentu menjadi hal yang sangat indah, yang terpenting usai diskusi, kita kembali dengan hati yang ikhlas dan kepala dingin, tetap saling sapa dalam suasana hangat penuh kekerabatan (tidak usah pakai banting piring dan gelas,sehingga bikin repot kita sendiri), begitulah kira-kira.

    Oh, ya menjawab pertanyaan beberap komentar mengenai pribadi saya, pelaku poligami atau bukan, saya kira itu tidaklah penting, biarlah mengalir apa adanya, tidak usah di publikasikan disini, biar menjadi diri saya sendiri, sebgai orang yang “merdeka”.

    Sebenarnya artikel ini sudah lama/tahunan saya tulis, mengendap begitu saja, dan terus terang selama ini saya juga banyak berinteraksi dengan para pelaku poligami (mengamati, berdiskusi dan melihat secara langsung kehidupam keseharian mereka, riset kecil-kecilan, istilah kerenya begitu kurang lebih).

    “Merendahkan” derajat kaum hawa dan merupakan “kejahatan kemanusiaan”, praktik poligami telah membunuh hak-hak perempuan dan membuka lebar-lebar dominasi kaum Adam atas kaum Hawa, begitulah kira-kira alasan mereka yang tidak sependapat dengan poligami. Fakta-fakta yang disampaikan adalah praktik poligami yang menyimpang.

    Kekerasan, kehancuran rumah tangga, dan terbengkalainya pendidikan anak , bukan hanya terjadi dalam keluarga berpoligami, keluarga monogami juga sering mengalami hal yang sama, penyebabnya bisa bermacam-macam, bisa karena suami tidak bertanggung jawab, tergoda oleh wanita/laki-laki lain,dll.

    Mengkambinghitamkan poligami sebagai satu-satunya biang kerok kekerasan dan kehancuran rumah tangga, tentu kurang bijak. Kita tentu bertanya, apa yang didapatkan jika ada wanita single berselingkuh (tanpa adanya ikatan perkawainan) dengan laki-laki beristri yang kemudian karena sesuatu hal berpisah, termasuk dalam hal ini mohon maaf, masalah kumpul kebo. Bukankah mereka semua tidak mendapat apa-apa karena hubungannya tidak pernah dianggap terjadi oleh negara, termasuk dalam hal ini nikah dibawah tangan, dan kenapa pula penentangan terhadap masalah ini kurang bergaung, padahal kita tahu yang paling menderita jelas pihak wanita.

    Disinilah saya melihat ada semacam ketidak adilan, poligami senantiasa dipojokan dan dikambinghitamkan. Bukankah suami akan lebih jantan mengaku terus terang kepada istrinya untuk menikah lagi dari pada bermain “petak-umpet/serong”, dengan berbagai alasan, senantiasa berbohong saat pulang kerja atau tidak pulang ke rumah demi menyembunyikan perselingkuhannya dengan wanita lain.

    Tak dapat dihindari memang pelaksanaan poligami memiliki praktik buram, sebagaimanan telah diuraikan diatas, tetapi semua itu bukan disebabkan kesalahan ajaran poligami. Semua itu timbul akibat para ‘oknum’ pelaku poligami tidak mempraktikan poligami secara benar. Oleh karena itu tidak dapat menyalahkan ajaran poligami, tapi oknum pelakunya yang kita salahkan. Saya masih melihat dengan mata kepala sendiri, mereka yang mempraktikan poligami secara benar (sesuai ajaran agama-red), cukup harmonis, bahkan saling menguatkan dalam kehidupan rumah tangganya.

    Kita akui bahwa jika berbicara perasaan, tidak ada seorang wanita pun yang mau dimadu. Ini adalah sifat alamiah seorang wanita. Tapi sejatinya seorang wanita tidak bersikap egois, mementingkan diri sendiri dan “cuek” terhadap kondisi disekitarnya. Perasaan simpati dan empati ini akan menimbulkan “solidaritas kewanitaan”, yang akan membawa kerelaan wanita “berbagai suami” dengan wanita lain, agar mereka juga bisa mengenyam indahnya bersuami.

    Kerelaan wanita untuk berbagai suami bukan hanya memberian kebahagiaan bagi wanita lain, tetapi juga mendapatkan pahala di sisi Tuhan, karena memberikan jalan kepada suami untuk mengikuti sunnah nabawi dan menghalangi suami terjerumus dalam lembah dosa.

    Realita disekitar kita tidak sedikit kaum hawa yang sampai telat menikah (dengan berbagai alasan) termasuk karena sibuknya dalam berkarier, mengejar kehidupan duniawi, mereka tidak salah berkarier setinggi langit, (dan mereka bisa saja mengklaim itu sebuah pilihan hidup) namun sejatinya mereka hidup dalam kehampaan, perlu diingat kodrat seorang wanita. Lelaki dan perempuan tidak dapat disamakan kewajibannya karena perbedaan fisik dan psikis, perbedaan ini tentu juga mendatangkan kewajiban yang berbeda pula. Ajaran dan praktik poligami sejatinya adalah untuk memposisikan/menempatkan kaum wanita dalam kondisi yang mulia dan derajat yang terhormat (hayoo siapa yang tidak percaya ngacung…..!!!)

    “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,”

    Sekali lagi saya haturkan banyak terima kasih atas komentar dan diskusi yang cukup gayeng ini, disini saya tidak akan memberikan kesimpulan atau apapun, sebagai warga masyarakat yang “merdeka”, kita bebas dan terbuka, mau pro atau kontra terhadap “Poligami”, ya monggo-monggo saja. Salam kompak dan tetap guyub rukun sesama warga Baltyra…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.