Praktek Etika dari Remaja Indonesia dan Jerman

Indriati See

 

Setiap mudik ke Jakarta, saya lebih suka memakai jasa angkutan publik untuk bepergian didalam kota. Itupun hanya untuk pergi ke satu tujuan karena sulit untuk membuat program lebih dari satu mengingat macetnya lalu lintas dimana-mana.

Siang itu di musim penghujan, saya ada janji dengan seorang relawan (pria) di bilangan Salemba, tepatnya di KFC yang tak jauh dari Rumah Sakit dimana almarhum ayah saya saat itu sedang dirawat.

Saya perhatikan kira-kira 80% dari pengunjung KFC adalah para pelajar. Mereka duduk berkelompok sambil berinternetan, makan, minum, merokok atau mungkin sedang menunggu seseorang bagi yang duduk sendirian.

Karena teman saya seorang perokok maka saya yang datang terlebih dahulu di KFC langsung memilih ruangan yang terbuka khusus untuk para perokok.

Sambil menunggu teman yang masih terjebak dalam kemacetan kota Jakarta, perhatian saya tertuju pada sekelompok remaja putri yang sedang merokok. Mereka merokok dengan asyiknya tanpa merasa risih atau sungkan terhadap pengunjung lainnya. Jika dibandingkan dengan zaman saya sekolah dulu, masa sekolah di SMP dan SMA (+30 tahun yl) tak ada seorang putripun yang berani merokok di tempat publik. Itu berarti remaja putri sekarang lebih bebas atau mungkin para ibu mereka lebih “lengah” dalam mengasuh mereka ketimbang para ibu dari generasi orang tua saya.

Akhirnya, teman yang ditunggupun datang dengan muka sedikit tegang. Duh … ada apa nih ?

Setelah agak tenang, teman sayapun bercerita tentang kejadian yang baru saja dia alami di dalam Busway yang ditumpanginya. Kejadiannya sebagai berikut:

Zitat:

“Halte Transjakarta Harmoni adalah halte transit ke semua jurusan, banyaknya penumpang yang mau transit atau yang naik dari Harmoni mengakibatkan halte tersebut padat dan antriannya luar biasa parah.

Terlihat seorang nenek yang ikut dalam antrian Transjakarta jurusan HARMONI-PGC CILILITAN, terjebak di tengah antrian yang sangat parah. Pada saat bus datang, seluruh penumpang yang antri berebutan naik supaya bisa dapat tempat di bus yang datangnya sangat lama dan jumlahnya tidak seimbang dengan jumlah penumpang yang mengantri.

etika02

Karena nenek tersebut berada di tengah, pada saat penumpang yang berada di barisan depan sedang naik, penumpang yang di belakang terus mendesak dan mendorong secara paksa penumpang di depannya untuk segera naik karena semua sudah capek berdiri dalam hitungan jam dan berpacu dengan waktu, untuk segera sampai ke tujuan.

Nenek tersebut terdorong sana sini oleh penumpang yang sangat padat di belakang, beliau terjebak di tengah kerumunan anak muda yang akan lulus SMA dan sedang membicarakan kampus favorit yang mereka pilih.

Lalu anak-anak muda tersebut dengan mulut lancangnya mencela si nenek karena merasa nenek tersebut berusaha menyerobot antrian mereka dan mendorong-dorong anak-anak muda tersebut. Celaan mereka sangat kasar dan tidak mencerminkan anak-anak yang terdidik dengan baik.

“GAK TAU DIRI! UDAH TUA MAU LAWAN ANAK MUDA. MAIN DORONG-DORONG NYEROBOT ANTRIAN. NIH ORANG TUA, TINGGAL DIDORONG SEKALI, LANGSUNG JATUH. RESE BANGET SIH!”

Ketika saya dengar kata-kata tersebut, saya langsung tengok ke belakang, melihat nenek tersebut sedang dalam posisi bingung dan tak berdaya karena terjebak dalam suasana yang semrawut dan sedang dibully oleh kerumunan anak muda yang berjumlah sekitar 8 sampai 10 orang.

Dengan rasa marah dan dongkol, saya tegur kerumunan anak muda tersebut dengan kata-kata pedas yang mereka tidak bisa bantah dan membuat mereka malu, menjadikan mereka sebagai pusat perhatian di tengah-tengah orang yang apatis dan tidak perduli lagi karena mereka sudah terlalu sibuk dan terlalu capek untuk memperdulikan kejadian tersebut, walau mereka semua tahu kalau sikap anak-anak muda tersebut salah.

Saya tegur dengan kata-kata, “PUNYA OTAK GAK? GAK DIAJARIN SOPAN SANTUN SAMA ORANG TUA? BUKANNYA NGALAH SAMA ORANG YANG SUDAH TUA! BELAJAR APA AJA DI SEKOLAH? PERCUMA BICARAIN ABIS SMA MAU LANJUT KE UNIVERSITAS BAGUS”

Anak-anak muda tersebut menunjukkan reaksi menantang. dan saya tegur ke arah adu fisik, karena saking marahnya saya. “KENAPA? GAK SUKA? MAU BERANTEM SAMA SAYA? SELAMA INI DI SEKOLAH DIAJARIN MORAL GAK? DIAJARIN UNTUK NGASIH TEMPAT DUDUK KE NENEK-NENEK GAK KALAU LIAT ADA ORANG TUA BERDIRI DI BUS?”

Mereka tidak terima saya tegur seperti itu, dan menanggapi teguran saya dengan kata-kata mengejek, untuk membela diri dan malu jadi pusat perhatian orang-orang sekitar: “UDAH GAK USAH SOK! USIL AMAT SIH IKUT CAMPUR”.

Saya jawab balik: “SONGONG BANGET YA KALIAN! UDAH BERANTEM AJA SINI! SEKOLAH CUMA SAMPE DEPAN GERBANG SEKOLAH DOANG YA? PANTES AJA GAK TAU SOPAN SANTUN! NENEK TUA KALIAN PERLAKUKAN KAYAK GITU. DAN GAK MERASA ITU SEBAGAI HAL YANG SALAH DAN GAK BERETIKA. PERCUMA SEKOLAH! PERCUMA MAU KULIAH DI UNIVERSITAS BAGUS!”

Para penumpang di sekitar yang tadinya apatis, mulai bereaksi dan ikut menegur anak-anak muda tersebut. Sadar dengan situasi panas akibat kesalahan mereka, anak-anak muda tersebut tidak berani bereaksi lagi, tapi tetap menunjukkan sikap menantang.

Dengan rasa dongkol, saya suruh mereka untuk minta maaf  kepada nenek tersebut. Mereka tidak mau sama sekali minta maaf dan tetap menunjukkan sikap menantang.

Orang-orang di sekitar menyarankan saya untuk mengakhiri suasana panas tersebut, karena saya kekeuh kalau mereka harus minta maaf.”

 

Kita bandingkan kasus di atas dengan kasus yang dialami oleh putra saya (Jo) ketika berusia 12 tahun (6 tahun yl) :

Siang itu, seperti biasa saya menjemput putra sulung dari sekolah di Halte Bus yang terletak cukup jauh dari rumah kami. Perjalanan yang harus ditempuh oleh Jo yaitu 50 menit untuk jarak Sekolah – Halte Bus desa A yang berjarak 24 Km.

Tidak lama saya menunggu, akhirnya bus yang ditumpangi oleh Jo tiba sesuai dengan jadwal. Begitu pintu bus terbuka, Jo berlari ke arah saya dan memeluk saya dengan erat. Sambil membelai rambutnya, saya bertanya mengapa dia terlihat sedih dan membimbingnya ke mobil tuk pulang ke rumah.

etika01

Dalam perjalanan, Jo bercerita dengan nada sedih dan menyesal kalau dia tidak sigap memberi tempat duduk kepada wanita asing paruh baya (berkulit sawo matang). Jo membayangkan kalau wanita asing tersebut sebagai saya (ibunya). Wanita asing tersebut naik dari salah satu halte bus, dengan membawa 2 koper besar, wajahnya terlihat letih dan melihat sekeliling kalau-kalau ada tempat duduk yang masih kosong. Jo pun ragu-ragu untuk berdiri menawarkan tempat duduknya kepada wanita asing tersebut. Di halte berikutnya, wanita asing tersebut turun.

Dalam pikiran Jo saat itu; mungkin wanita asing tersebut turun lagi karena bus penuh? Dan mengapa dia tidak menawarkan tempat duduknya kepada wanita tersebut ?

Terus terang, dengan mendengar cerita putra saya di atas, saya terharu dan bangga terhadap kepedulian Jo dan berpikir bahwa betapa pentingnya pelajaran etika bagi anak-anak, baik yang diberikan di rumah, sekolah, maupun di/oleh masyarakat.

Dan sayapun menghibur Jo bahwa; mempunyai rasa “perduli terhadap sesama” baik adanya bahkan sangat terpuji walaupun saat itu Jo belum bisa memberi.

Terlihat kalau Jo kembali ceria, sambil memeluk saya dia berkata: “Danke Mama, Du bist die Beste !”

 

Salam Baltyra

 

ImageImage2

 

30 Comments to "Praktek Etika dari Remaja Indonesia dan Jerman"

  1. Lani  17 April, 2013 at 14:40

    9 INDRI : maunya sih bs diubah, berubah……….menuju kearah yg baik, tp rasanya kok susah banget………bukannya tdk bs lo ya……..cm ada kemauankah? niatkah?????? sptnya semakin ndableg……..perlu dijewer semua tuh telinga biar merah kayak kepiting direbus hahahahah

  2. Osa KI  17 April, 2013 at 14:33

    Mbak Indri, saya selalu senang membaca tulisan-tulisan Anda karena tengah memuridkan kedua anak saya yang kelas 5 dan 2 SD. Dari tulisan Anda saya banyak dapatkan inspirasi bagaimana mendidik anak-anak. Benar, generasi sekarang tumbuh tanpa peradaban etika.

    Salam,
    Osa KI

  3. Mawar09  17 April, 2013 at 12:09

    Indri: terima kasih ya tulisannya. Sayang memang pelajaran budi pekerti seperti jaman dulu sudah ditiadakan disekolah, padahal menurut saya itu cukup penting disamping bekal teladan dari rumah (orangtua).

  4. Linda Cheang  16 April, 2013 at 21:33

    Ya, Indri, karena aku tedrmasuk sering di Halte Harmoni untuk gant bus, peristiwa seperti yang diceritakan teman Indri memang gampang terjadi karena memang situasinya penuh orang dan suasana panas…

    Memang sudah saatnya pelajaran etika diajarkan di semua sekolah di negeri ini. Bukan cuma sekedar mengejar nilai angka eksak.

  5. juwandi ahmad  16 April, 2013 at 20:43

    Mbak Idri: Wao, Heroik dan menyentuh….!! I Love You Jo….!

  6. J C  16 April, 2013 at 20:37

    Etika, budi pekerti memang semakin menghilang dari Bumi Pertiwi yang segala sesuatu lebih diukur dari segi materi… [sigh]

  7. Handoko Widagdo  16 April, 2013 at 18:44

    Kadang religiositas tidak berhubungan dengan tingkat etika.

  8. Dewi Aichi  16 April, 2013 at 17:44

    Mba Indri, terima kasih atas tulisannya, Jo anakmu seperti itu, tidak lain karena teladan yang bagus dari orang tuanya . Sungguh bersyukur, karena dari kecil sudah mempunyai pondasi yang kuat, yang akan tertancap kuat dalam jiwa dan kepribadian yang baik, akan terbawa hingga sepanjang hidupnya,

    Prihatin memang dengan kebanyakan pelajar di Indonesia yang punya kelakuan seperti yang Mba Indri lihat di halte busway itu.

  9. anoew  16 April, 2013 at 17:20

    bahwa betapa pentingnya pelajaran etika bagi anak-anak, baik yang diberikan di rumah, sekolah, maupun di/oleh masyarakat.

    Dan…, di negeri ini yang pendidikan agama sangat sering diberikan baik di sekolah, di luar sekolah, bahkan di media massa cetak terlebih elektronik, ternyata hasilnya (maaf) sangat jauuuuuuuuuuuuh dengan negeri di mana pendidikan etika dan budi pekerti lebih diutamakan.

    Padahal seharusnya, dengan pendidikan agama yang intens di ‘setiap penjuru tanah air,’ cerita segerombolan anak muda seperti tersebut di atas tak perlu bahkan tak mungkin terjadi. Kenapa? Ya karena tentunya agama mengajarkan pastinya, yang baik-baik. Menghormati orang tua, salah satunya. Peduli ke sesama, salah duanya. Saling mengasihi, salah tiganya dst dst dst.

    T
    A
    P
    I

    Hal hal berikut malah semakin ‘meriah’ terjadi:
    - tawuran
    - cap halal / haram
    - surga / neraka
    - perbincangan kawin siri
    - poligami (lho, kok ke kawin-mawin lagi sih..)

    Namun terlupakan untuk menenggang rasa, peduli lingkungan, saling menghormati…

    Aaaah, dasar selang……

  10. Swan Liong Be  16 April, 2013 at 16:27

    @Indriati See: mau tanya nih, apakah anda tinggal diMünchen, sebab difoto ada bis kota pake nomerplaat dari München.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)