Tembak di Tempat (24 – Tamat)

Endah Raharjo

 

Dengan cepat Rudi mahir memakai kurk. Sebenarnya ia bisa jalan tanpa bantuan alat, dengan sedikit berjingkat. Namun ia tak ingin mengundang masalah, lalu ia putuskan memakai tongkat, bukan kurk.

Kami meninggalkan rumah sakit sekitar pukul 3 sore, menuju rumah Ronn. Rumah yang dia bilang kecil itu mungkin empat kali rumah orang tuaku. Ada setengah lusin kamar di dalamnya dan sebuah perpustakaan berdesain modern dengan dua set sofa di tengah-tengahnya.

Begitu aku dan Rudi masuk ke ruang depan, Tim menyambut, bercelana pendek dan kaus putih lengan panjang. Mungkin ia agak kedinginan karena semua ruang di rumah itu berpendingin udara. Ia mengajak kami berkumpul di ruang tengah. Di meja sudah tersaji aneka snack dalam nampan-nampan bulat kecil bertutup kaca dan sekeranjang buah-buahan. Rudi menyenderkan tongkatnya di punggung kursi lalu duduk pelan-pelan. Kubantu dia mengganjal punggungnya dengan bantal.

Tim cerita kalau dirinya sudah bertemu Arianne dan Larry sambil makan siang di salah satu restoran yang biasa dipakai Ronn bernegosiasi dengan mitra-mitranya. Sebuah restoran yang tidak terdaftar dan tak dibuka untuk umum, hanya untuk undangan dan pertemuan-pertemuan rahasia; terletak di salah satu lantai sebuah gedung perkantoran di pusat kota.

“Ada kabar soal Tong Rang?” tanyaku tak sabar.

“Tidak banyak. Masih kabar yang sama. Dia sedang berada di sebuah kapal menuju Eropa. Tidak jelas kapal apa dan akan merapat di mana. Dia akan menghilang, entah untuk berapa lama. Pasti tahunan. Larry dan Arianne tidak bisa bertemu, bahkan bicara lewat telepon pun tidak bisa. Dia benar-benar hilang di balik udara bolong. Kupikir risiko ini sudah disadari Tong Rang. Arianne tampak sangat tertekan. Aku yakin dia kehilangan banyak berat badan selama seminggu ini.”

Tim lalu menggambarkan kalau ibu angkat Tong Rang itu rambutnya kusut dan kelopak matanya membiru. Aku ingat, beberapa waktu lalu, matanya terus-terusan membasah sembari bercerita, tubuhnya gemetar dan suaranya parau menahan pilu.

“Kalau ada kabar lagi pasti kalian akan kuberi tahu. Saat ini sama sekali tidak ada yang bisa kita lakukan.” Tim mengeluarkan napas kuat-kuat. “Kalian pulang dengan pesawat pertama besok pagi. Ronn meng-upgrade tiket kalian ke kelas satu. Akan nyaman untuk kakimu.” Tim melihat kaki Rudi, sama sekali tidak tersenyum menyampaikan kabar itu.

Aku dan Rudi pun tidak gembira meskipun seumur hidup belum pernah terbang dengan tiket kelas satu. Untuk 3 jam terbang dari Bangkok ke Jakarta mungkin tak banyak bedanya, baru terkantuk-kantuk sehabis membaca separuh novel tahu-tahu sudah mendarat; belum sempat tidur diselimuti pramugari seperti gambar-gambar di majalah itu.

Tim meninggalkan kami sebentar, masuk ke salah satu kamar di seberang perpustakaan. Ia keluar dengan map kulit hitam.

“Ini tiket kalian. Dicek dulu.”

Kulihat tiket Jakarta-Jogja juga di-upgrade ke kelas bisnis. Begitu pula tiket Jakarta-Semarang untuk Rudi.

“Kamarmu yang di sudut itu, Mia. Dekat dengan ruang makan. Rudi di situ.” Tangannya menunjuk kamar di sebelah kamar yang ia tempati. “Koper dan barang-barang kalian sudah di dalam. Ada minibar di semua kamar. Sepertinya kulkasnya penuh.”

Semua kemewahan layanan di rumah – yang dianggap mungil oleh pemiliknya – ini tak membuatku bersemangat. Ada kabut membungkus hatiku. Bisa kulihat pula asap menabiri mata Rudi dan beban memberati suara Tim.

*****

Tim mengetuk pintu kamarku. Katanya Ronn datang untuk ketemu aku. Jantungku berdegup dua kali lebih kencang. Ronn bukan jenis orang yang mendatangi; ia didatangi atau mendatangkan orang. Segera kubenahi rambutku dan kusapukan selapis bedak ke wajahku. Kutertawai tingkah konyolku itu.

Packing?” tanyanya, begitu kakiku menuruni tiga anak tangga yang memisahkan ruang tengah dengan perpustakaan.

Nothing to pack. I decided to leave everything behind except my laptop and some little thingies.

Little thingies? My daughter said something about that too.”

Basa-basi itu sama sekali tak meredakan kecanggunganku. Akupun tak bertanya anak perempuan yang mana.

“Kamu sudah menerima tiketmu?” tanyanya, duduk bersilang kaki dengan kaki kanan di atas kaki kiri, seperti biasa. Setelan necis Balmain sudah ia ganti dengan jeans dan kaus polo putih yang membuatnya tampak seperti lelaki umumnya yang kukenal – dan lebih muda.

“Ya. Sudah. Terima kasih banyak. Anda sungguh tidak perlu melakukan itu semua.” Aku tersenyum. Entah mengapa aku selalu ingin merendah di depan Ronn. Mungkin tanpa sadar aku memang merasa lebih rendah di depannya.

“Untuk membuatmu lega, urusan May dan Lin sudah mulai ditangani. Aku juga sudah bicara dengan Father Sap dan beberapa orang lainnya. Kamu akan menerima kabar tentang hal ini langsung dariku.”

“Terima kasih banyak.”

“Aku akan meninggalkan Bangkok malam ini. Ke Eropa. Aku ingin pamit. Aku berharap kamu menerima tawaranku. Aku akan sabar menunggu jawabanmu, tapi jangan terlalu lama.” Ia tertawa.

“Saya akan memutuskan setelah bisa menata diri. Situasi saat ini seperti gelombang dahsyat yang menenggelamkan semuanya. Mungkin saya hanya perlu berlama-lama menangis untuk merasa lega.”

Sejak penembakan di perbatasan Three Pagodas Pass keinginanku untuk menangis keras-keras memang belum terpenuhi.

Suasana rumah yang kami tempati nyenyat. Tim dan Rudi di kamar. Lamat-lamat kudengar suara-suara di belakang. Pasti para penjaga rumah dan pengawal Ronn.

“Kamu tahu, Mia. Sejak aku remaja, mungkin malah kanak-kanak, aku lupa tepatnya. Nyaris tiap hari aku mengalami hal-hal yang membingungkan. Tapi hari berikutnya ternyata semua baik-baik saja. Begitu seterusnya. Aku jadi terbiasa dan percaya bahwa keindahan hidup salah satunya justru ada pada ketidakpastiannya. Hmmm… sok filosofis, ya…. Manusia dirancang untuk bisa mengatasi segala kejadian yang akan dihadapinya. Ia bisa mengingat dan melupakan, bisa merasakan dan mengabaikan. Tergantung apa yang dipilihnya, apa yang dilakukannya. Lupakan hal-hal yang menyakitkanmu dan ia pelan-pelan akan meninggalkanmu.” Ia tertawa. “Aku ke sini untuk pamit dan menyalamimu, bukan jadi bapakmu. Baiklah.” Ia berdiri. “Semua sudah diatur untuk besok pagi. Fat dan Hommer akan mengantarmu sampai Jogja.”

“Sampai Jogja?”

“Ya. Fat ke Jogja dan Hommer ke Semarang.”

Sebelum aku sempat mengucap terima kasih, Ronn sudah ada tepat di depanku.

“Aku akan merasa terhormat kalau boleh memelukmu. Bagaimana?”

Aku mengangguk; antara mau, suka, dan bingung.

“Kamu akan baik-baik saja,” bisiknya persis di telinga kananku. Bisa kuhirup aroma lembut musk dari tubuhnya. Pelukan ia lepaskan, lalu ia mundur selangkah. “Kamu boleh mengirim email, teks, atau menelepon kapan saja. Aku menyimpan nomor teleponmu dalam daftar khususku. Seperti janjiku dulu. Ingat? Bila kamu bisa mempertemukanku dengan Tim, aku akan jadi sahabatmu selamanya.”

Aku mengangguk. Senyumnya masih tersungging ketika ia menuju kamar Tim.

Kuketuk pintu kamar Rudi selagi kakak beradik satu ibu itu berbincang. Rudi keluar dan tampak makin mahir berjalan dengan tongkat. Ia menyalami Ronn dan berterima kasih atas semuanya.

“Salam untuk keluarga kalian. Hati-hati.”

Kudengar derap kaki dari belakang menuju ke depan lewat halaman samping.

Ronn melambai sekali lagi lalu hilang di balik pintu mobil yang ditutup oleh  pengawalnya.

*****

Aku melihat-lihat koleksi buku di perpustakaan sambil mendengarkan lagu dengan iPod, menunggu Tim dan Rudi siap. Tim mengajak kami makan di luar. Hommer akan menyetir van sedangkan Fat akan mengikuti dengan sedan merahnya. Aku sudah minta Tim untuk ikut Fat saja, ingin bertanya-tanya soal sepatu-sepatunya, namun tidak diijinkan. Tidak masalah, pikirku, Fat akan terbang bersamaku sampai Jogja, aku bebas bertanya apa saja.

Tim berdandan sempurna, terlihat tampan dengan setelan serba gelap. Begitu juga Rudi, meskipun katanya hampir terjengkang saat memakai celana. Tak sia-sia aku mengenakan gaun mini batik sutera warna soga yang – menurut cermin di kamarku – membuat kulitku seakan transparan bila tertimpa cahaya.

Kami makan seafood di sebuah restoran di tepi sungai Chao Phraya. Kami bertiga tak henti bercanda, sama sekali tidak menyinggung urusan pekerjaan dan nasib Tong Rang. Apalagi Naing Naing. Jurnalis berambut panjang hingga ke punggung itu tak lagi kudengar namanya.

Sebelum pukul 10 kami sudah tiba di rumah. Baru kusadari kalau pintu pagarnya dioperasikan dengan remote control oleh penjaga yang entah berada di bagian mana dalam rumah itu. Sedan merah yang dikendarai Fat terus pergi, tidak ikut masuk ke halaman.

Hommer mengatakan akan datang besok pagi sebelum pukul 6 bersama Fat. Kembali kudengar langkah-langkah kaki seseorang di halaman samping, menuju ke depan. Entah ada berapa penjaga di rumah berkamar 6 ini, rasa-rasanya ada 2 atau malah 3 orang.

*****

“Mengapa barang-barangmu kamu tinggal?” tanya Tim, duduk di kursi di seberang meja.

Kututup novel Haruki Murakami, Hear the Wind Sing, kuletakkan di meja. Tim sudah berganti dengan celana pendek dan kaus lengan panjang yang tadi siang ia kenakan. “Aku ingin pulang dengan tangan kosong. Semua dokumen sudah kusimpan dalam DVD dan eksternal harddisk. Jangan kuatir, Sandro akan membakarnya.” Kusebut nama salah satu penjaga rumah – yang akhirnya dikenalkan Tim pada kami – yang bersedia mengurus koperku dan isinya. “Tidak ada barang mahal, cuma celana kargo,” kucoba melucu.

“Gaun batikmu yang tadi itu cantik sekali.”

“Itu akan kupakai pulang, biar sepadan dengan Fat,” selorohku.

How are you feeling, Mia?” halus suara Tim. Sorot matanya selembut mentega yang tidak disimpan di dalam kulkas.

Im okay. Ive had better days. Weve had better moments. Dont you think?”

Anggukan kepala Tim selunak tatapannya. Ia menengok ke pintu kamar Rudi. “Rudi tidur atau….”

Pintu kamar itu terkuak dan Rudi muncul tertatih-tatih berjalan tanpa tongkat. Rambutnya ia ikat ke atas, terayun-ayun seirama jingkatan kakinya. Kutegur agar ia tidak memaksa diri. Namun lelaki itu hanya tertawa.

“Aku nggak ingin tidur. Besok saja di pesawat. Apa gunanya terbang dengan first class kalau nggak pakai tidur.”

Kami bertiga tertawa. Lalu tiba-tiba mata mereka dilempar ke wajahku, seperti ada aba-aba.

“Apa?” protesku.

“Mengapa tawaran Ronn nggak kamu terima saja?” tanya Tim.

“Ya. Mengapa?” susul Rudi.

“Mengapa kalian tiba-tiba tanya urusan itu?”

“Aku sudah ingin tanya dari tadi tapi nggak ingin ngrusak suasana.”

“Sama,” ujar Tim.

Aku mendecak kesal. “Aku nggak bisa mengabaikan hal-hal buruk yang dia lakukan.”

“Semua orang punya sisi gelap,” tukas Rudi.

“Ya. Tapi ini kegelapannya menyengsarakan ratusan ribu orang.”

“Kamu maksudkan tambang giok?” tegas Tim.

“Dan bisnis-bisnis lainnya. Segepok dokumen yang kamu berikan itu sudah kubaca.”

“Kalau pertambangan giok, Ronn justru berusaha memperlunak semuanya. Dia sukarela menjadi donor dan membiayai sekolah anak-anak pengungsi itu, memberi ketrampilan dan pekerjaan ke perempuan, kamu tahu sendiri. Ribuan, mungkin belasan ribu jumlahnya. Beda dengan ayahnya yang hanya berbuat sesuatu atas paksaan ibuku. Ronn itu yaaa… tipikal orang kaya dan berkuasa. Siapa sih yang mau melepas harta sebanyak itu dan kekuasaan sebesar itu?”

“Cuma orang suci….” sahut Rudi.

“Kalian bersekongkol.”

“Hey! Aku merasa kamu menyukainya.” Tim menatapku serius.

“Ngawur kamu! Dia berkeluarga dan aku sama sekali nggak sepadan.”

Ouch! Thats not what I meant. It’s not about him. It’s all about you. Isnt it good that you’re able to like someone?” Seringainya. “Siapa orangnya tidak penting. Kalau kamu sudah bisa menyukai orang, laki-laki maksudku, tandanya kamu sudah membuka hati….”

“Itu juga kataku!” seru Rudi seakan baru memenangi pertandingan.

Mereka tak kutanggapi, namun dalam hati kuakui kalau aku menyukainya. Dengan mengakuinya – meskipun hanya untuk diri sendiri – aku berharap rasa takutku pelan-pelan akan sirna. “Soal tawarannya akan kuputuskan setelah merasa tenang. Kalian sendiri bagaimana?”

“Ah! Aku nggak masalah. Banyak tabungan foto yang bisa kujual ketengan,” gurau Rudi.

“Aku akan di sini seminggu lagi. Ada beberapa hal yang perlu kuurus. Kalau soal pekerjaan aku harus bicara dengan Faith dan Tammy.”

forget-the-past-quote

Kesenyapan meliputi ruang perpustakaan. Bisa kudengar denting alat-alat makan dari dapur. Sandro dan teman-temannya tampaknya ikut begadang.

Rudi bangkit pelan-pelan, menawari kami minum teh atau kopi. Tim mencegahnya, dia yang akan melakukannya. Rudi memaksa. Ia ingin belajar jalan tanpa tongkat sekalian melemaskan otot-ototnya. Kuraih novel Haruki Murakami yang tergeletak di meja, halamannya kubukai kembali.

Kami bertiga tak hendak tidur malam ini. Kami sama-sama ingin menyaksikan sang malam tua menapaki waktu pelan-pelan, menyambut si pagi muda dengan hari baru di genggamannya.

t a m a t

 

14 Comments to "Tembak di Tempat (24 – Tamat)"

  1. [email protected]sP4mPr3s  20 April, 2013 at 08:56

    Wuiiih… kirain di tembak sama RON…
    maaf baru bisa baca baltyra lagi….

  2. Endah Raharjo  18 April, 2013 at 11:05

    Dewi, Yu Lani, Alvina, Mawar, Pak DJ, Kang Anoew… terima kasih byk udh rajin ninggalin komentar dan maaf sy suka telat responnya. Maaf banget nget nget nget… kalo Mia nggak jafian sm siapa2…

    Juragan JC: aku sementara nulis yg non-fiksi ya. Ntar aku cerita soal kampungku…

  3. Lani  17 April, 2013 at 14:42

    ER : lo kok njur wis tamat????? tiwas aku msh nunggu gmn kelanjutan perseteruan Ron dan Tim memperebutkan cinta si Mia………wis rodo gelo iki

  4. Alvina VB  17 April, 2013 at 03:19

    Akhirnya tamat juga cerita ini ya, si Tim atau si Ronn gak ada yg jadian sama si Mia ternyata….
    Thanks Endah sudah menamatkan cerita ini….ditunggu cer-bungnya yg lain…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.