Gerdi WK Mengurai Cinta dalam “Cinta Itu Buta”

Dwi Klik Santosa

 

Cinta itu indah. Pada pokoknya pastilah semuanya saja setuju dengan diksi itu. Hanya saja soal derajat atau level menuangkan rasa indah sebagai makna, barangkali bisa beragam dan aneka.

Cinta itu luka. Saya rasa, buih-buih dan liku perjalanan yang lantas menyebabkannya. Bahkan barangkali, jika tidak ada luka-luka, bagaimanakah lalu bisa diyakini bahwa cinta itu indah?

Cinta itu buta. Nah, menjadi rasa dari sebuah kandungan nilai-nilai sebuah nuansa. Seorang Gerdi WK, yang selama ini dalam penangkapan saya lebih muncul dan mengiangkan sebagai sosok seorang ilustrator. Namun kiranya melalui sebuah karyanya “Cinta itu Buta” bagi saya mendapatkan lagi kekayaan lain yang tidak saja begitu. Komik atau cerita bergambar, memang memiliki dunianya yang tersendiri. Dan, secara umum, seorang pencipta karya komik, oleh penggemarnya disoroti lebih pada karakter gambar yang dicoretnya.

Will Eisner, seorang kreator Amerika yang konon ditandai sebagai pelopor novel grafis dan melejit sejak munculnya karya “A Contract WithGod” menurut saya, menonjol dan fenomenal bukan saja dari sudut pandang karakter gambar sebagai basis. Namun secara integral, saya mencoba memahami, paling awal dari pemilihan judul yang dipilihnya. Dan kalau sudah begitu, saya mencoba meraba isi sebagai bakal esensi yang akan dipaparkan. Benar belaka, faktor “idea” yang meluncur sebagai narasi atau bagan kepenulisan yang menyertai gambar-gambar dan integral sebagai yang tersusun dan terbingkai dalam pengertian ‘grafis’ lebih melatari kuatnya warna dari pikir seorang Will Eisner.

Cinta-Itu-Buta

Begitupun, ketika suatu saat saya beli sebuah novel grafis berjudul “Different Ugliness, Different Madness – Balada Seorang Penyiar” karya seniman Perancis Marc Males. Kisah balada yang menghanyutkan, saya cerna dan nikmati dari cara Marc bercerita. Tidak saja dari gambarnya, yang meski sederhana saja, dan memiliki khasnya yang tersendiri sebagai gaya . Namun kekuatan kata-kata sebagai narasi yang mengalir dari para tokohnya, demikian hidup dan dialektik. Membenamkan perasaan saya yang sok nyastra ini masuk dan merasuk ke dalam ranah pemikiran Balada Penyiar yang unik dan mengiris hati diceritakan Marc.

Begitupun, atas karya “Cinta itu Buta” karya Gerdi WK. Pemandangan tersendiri bagi saya menikmati sebuah nuansa untuk menemukan cakrawala lain. Bahkan karena sebuah pertemuan yang tak terduga rasanya, pada suatu malam itu di Bentara Budaya,Jakarta. Ingin saya pertegas saja keyakinana saya, dari cara beliau ngobrol, lepas dan antusias, memberikan pandangan dalam pencernaan saya, bahwa ia bukan saja berdiri atas nama sosok seorang ilustrator atau si tukang gambar. Namun,apa yang telah diguratkan lewat karya ”Cinta itu Buta”, menerbitkan kekaguman saya. Betapa indah setiap kata yang dipilihnya untuk mengurai sebuah persoalan, yang secara general dan universal menjadi ranah dan barangkali mitos. Soal cinta berikut dengan irama dan nadanya.Yang lantas bisa dimaknakan sebagai indah, sebagai luka, sebagai buta. Yang bisa menyebabkan manusia serasa menikmati sorga, begitupun mudah putus asa, dan juga menjatuhkan apriori sebagai yang menyebabkan manusia masuk ke dalam pusaran prahara jelaga api neraka.

Gerdi, seorang yang sangat sederhana. Kata-katanya sebagai narasi, terjalin tidak mendayu-dayu dan mencoba menjauhkan dari pengertian hiperbolik. Kesederhanaan itu yang lantas memudahkan saya menikmati apa maunya dengan apa yang hendak dikisahkannya. Tidak juga barangkali terbesit untuk masuk ke dalam penggunaan bahasa baku. Tapi kiranya, ia bercerita saja lepas. Sebagaimana ia sendiri adalah tokohnya. Karakter yang hidup sebagai cerita. Bahasa yang terpilih karena ia masuk ke dalam cerita dan memasuki plot. Jika sudah begini, saya meyakini Gerdi WK sejatinya orang yang romantis dan sangat konsern dengan humanisme.Apa yang digambar dan lalu berkisah, adalah apa yang meluap dan meletup dalam benak dan hatinya dan ingin dibagikan kepada yang lain.

CintaItuButa

Sebagai seorang peng’ide” buku ini adalah sebuah makna lain dari eksperimen yang dilakukan Gerdi untuk ikut berpartisipasi mengekspresikan dan memberikan sumbang sarannya terhadap suatu klausul persoalan yang universal dan melatari manusia sebagai makhluk yang unik. Kisah Malinkundang, misalnya, yang secara umum menjadi cerita yang baku sebagai cerita rakyat, pada ending atau akhir cerita, dikisahkan oleh Gerdi, ”tidak sebagai yang membatu dan abadi sebagai yang kilaf dan terkutuk”. Tapi kiranya, hati yang lembut dan tumbuh dari seorang Gerdi, lantas menajamkannya, betapa tangis setiap ibu semestinya adalah tangis bahagia bagi setiap anak yang dilahirkannya. Dan pada tangis ibunda itulah, menerbitkan tangis Malinkundang, si saudagar kaya yang insyaf akan harkat lahir dan adanya. Kedua tangis yang menyatu, tangis ibu dan anak dalam dekap, bagi saya, adalah cerlang dalam unsur cerita. Begitupun, yang lantas selalu menjadikan tangis saya pada setiapkali menikmati kandungan sebuah cerita. ’Buta’ dari kacamata seorang ibu yang rela dihina oleh anak sebagai penyebab hadirnya penderitaan baginya, dan, begitulah Gerdi berhasil menjadikan pembaca bukunya ikut menitikkan airmata.

Begitupun, kisah-kisah buta yang lain, yang sengaja dipilih Gerdi, barangkali berdasarkan dari derivat sifatnya yang buta. Misalnya pada kisah Ekalaya, yang terlampau menghormat Durna, sang mahayogi. Apa saja akan diberikan, nyawa bila perlu, demi hanya ingin menunjukkan bakti dan patuh itu pada yang dicintainya. Dan kisah-kisah buta yang lain yang secara umum dalam kesatuan buku ”Cinta itu Buta” menjadi akumulasi sebuah kekayaan akan keunikan manusia sebagai perilaku budaya. Berliku-liku dengan keunikannya itu dan lantas menjadikannya makhluk yang kompleks dan tidak mudah dipahami seolah-olah, namun memberikan pemandangan yang dinamis untuk menguatkan sebuah etos: manusia itu indah karena akhlaknya.

 

Pondokaren

13 April 2013

08.2o

 

12 Comments to "Gerdi WK Mengurai Cinta dalam “Cinta Itu Buta”"

  1. Rosida  22 April, 2013 at 19:33

    Gerdi WK,
    wow mengingatkan saya pada serial komik GINA, pokoknya saya suka banget, hebat dan kagum.. itu itu usia saya masih sangat muda…

  2. J C  18 April, 2013 at 21:05

    Membaca nama Gerdi WK, yang terlintas dalam pikiran adalah GINA, si wanita berbaju merah yang bisa terbang. Paling suka adalah serial petualangannya GURUN GOBI, muantep banget alur ceritanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.