Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis (2)

Juwandi Ahmad

 

Layar proyektor kembali menampilkan slide powerpoint-presentation dengan sebuah judul besar, Beberapa Alasan Mengapa Kalian Perlu Menulis. Seperti sebelumya, berisi uraian singkat tentang inti pembicaraan, termasuk bagan dan ilustrasi untuk menarik perhatian dan mempermudah pemahaman. Dan kali ini musik instrumental yang mengiringinya Tai Chi–The Gentle Energy.

“Saya ingin memulai pembicaraan tentang menulis ini dengan sesuatu yang lebih bersifat pribadi, yang tidak begitu jauh dari diri dan kehidupan saya, termasuk dari diri dan kehidupan kalian. Saya kira, saya belum terlalu tua untuk bicara tentang hal hal yang masih sangat akrab dengan dunia kalian sebagai orang muda. Secara angkawi, saya hanya sedikit lebih tua dari kalian, dan karena itu getar hati kita tak jauh beda. Dalam banyak kesempatan, saya lebih berminat untuk berbagi tentang apa yang saya alami ketimbang apa yang saya tahu. Sangatlah sedikit yang saya tahu. Dan yang sedikit itu pun telah banyak yang terlupakan. Ada banyak orang yang tahu tentang apa yang saya tahu. Bahkan lebih tahu ketimbang saya. Dari sisi kalian, itu tak spesial. Kalian bisa mendengar dari yang lain, dapat membacanya di lain waktu. Namun apa yang saya alami, tidak akan sama persis dengan yang lain. Sekiranya serupa, tentu beda nalar-batinnya. Bila mirip nalar-batinnya, bedalah konteks dan latarnya. Dan itulah yang ingin saya bagikan pada kalian. Saya akan mulai dari masa kecil saya, sampai kemudian orang-orang menyebut saya sebagai penulis. Dan selanjutnya, saya akan uraikan beberapa hal tentang mengapa kalian perlu menulis.”

taiji

“Saya menulis sudah sejak usia dua belas tahun. Dan itu sepenuhnya adalah pengaruh ayah saya yang menjadikan buku sebagai istri pertamanya. Bahkan ibu saya, seringkali hanya bertindak sebagai asisten yang bertugas mencari dan mengambilkan buku-buku di perpustakaan pribadi rumah kami yang beribu-ribu jumlahnya, tertata rapi, dalam rak-rak yang tinggi, yang nyaris menyentuh atap. Persis seperti toko listrik dan bangunan milik Koh Ahong. Ketika sedang menulis, ayah saya akan bilang, “Mulla Shadra, Al-Asfar Al-Arba`ah.”  Ibuku segera bergegas mencari dan menyerahkannya kepada ayah. Berselang lima belas menitan kemudian berkata lagi, “Ibn al-Arabi, Futuhat al-Makkiyyah.” Dan ibuku kembali mencarinya, dengan cinta, kesetiaan, dan antusiasme yang susah difahami. Kadang saya kasihan melihat ibu. Bila perintah tak kunjung datang ia membaca di sudut ruang. Dan bila mata terasa lelah, ia tiduran di samping ayah. Di atas kursi panjang serupa dipan, berbahan kayu mahoni. Perempuan yang dua puluh tahun lebih muda dari ayah itu pun terlelap. Dan ayah: menulis sampai pagi.

“Adapun tentangku lebih berat. Ayah mewajibkan buku-buku untuk kubaca. Tidak cukup sampai disitu, ayah juga meminta penjelasan tentang apa yang dikandungnya. Dan terakhir aku harus menuliskannya. Itu berlaku sejak usiaku dua belas tahun, dan baru berhenti pada usia ke enam belas ketika ayah berangkat lagi ke kota Qom, Iran.

“Apa yang kita sebut sebagai pengalaman jauh lebih kuat dari pengetahuan. Pengetahuan kebanyakan dari kita mengatakan cintai ilmu, akrabi buku, membacalah. Dan ayah memilih untuk mengalaminya. Ia menunjukkan padaku bagaimana melakukannya. Dan itulah yang kulakukan. Mengalami, seperti menanam benih terbaik di tanah subur. Ia akan tumbuh, berakar kuat, susah ditumbangkan. Mengalami, menumbuhkan jiwa, membentuk seorang pribadi. Kerena itulah, meski ayah jauh di Iran, aku tetap membaca buku, masih menulis, bahkan hampir setiap hari.

“Namun, semua itu tidaklah segila ketika saya bertemu seorang perempuan yang karena dia, saya begitu rajin menulis surat, dan terobsesi sajak cinta. Dan sejak itulah, hanya tentang dan untuk dia saya menulis. Bukan yang lain. Sungguh sangat banyak: tak tuntas dibaca dalam semalam. Dan setiap kali kuberikan padanya, ia menangis dalam keharuan yang amat sangat. Allah Robbi, dalam wajah lucu dan manisnya, dengan lesung pipit dan jilbab cream-nya, runtuhlah sudah jantung hatiku. Saat itu usiaku delapan belas tahun. Usia terbaik untuk menggilai wanita dan sajak cinta. Dan ketika pada akhirnya, dia benar-benar pergi dari kehidupan saya, tak sesuatu pun menarik untuk kutulis, tak ada lagi yang penting untuk dipikirkan. Dan karena itu, tak pernah lagi saya menulis. Berhenti sudah. Saya berada di garis tepi kesadaran yang menarik paksa seluruh energi yang saya miliki. Saya benar-benar tenggelam dalam luka hati yang amat parah, dalam pengalaman batin yang mengguncang, dan dalam kenyataan abstrak yang terlampau sulit kumengerti: cinta, kerinduan, keharuan, kasih sayang, harapan, kenyataan, ratapan, kepedihan, Tuhan. Dan tak seorang pun dapat jelaskan, apa dan mengapa saya begitu. Bila itu suatu penyakit. Sekiranya sebentuk luka: tak kutemukan obat mujarab. Sungguh, tak ada cara mudah melaluinya.”

“Dua tahun kemudian, kubawalah segalanya ke kota Qom, Iran, dengan harapan dapat temukan banyak jawaban. Di tempat itulah aku merasa, bahwa Tuhan akan lebih mudah kujumpai. Dan wajah-Nya, dapatlah kupandang lebih jelas. Sebelum pergi ke kota Qom, kubilang pada-Nya, di pintu subuh yang tersiram hujan:

Bersediakah Engkau membuka cadar-Mu

agar aku yakin bahwa itu sungguh Engkau yang kucari

Bersediakah Engkau membicarakan dengan terbuka

tentang caraku memandang-Mu, dan cara-Mu memandangku

Bisakah, kita membicarakan dengan tulus tentang apa yang

Engkau ingin agar aku melakukannya, dan tentang

apa yang aku ingin lakukan untuk-Mu      

Bisakah kita membicarakan semua ini dengan

senyuman, dengan gurauan, dan tawa lepas

berdua saja     

 

”Demikianlah, di setiap kesedihan yang amat dalam, dan duka lara yang sungguh berat, dibutuhkan tempat yang sepadan. Dan di kota Qom itulah, pada akhirnya, kutemukan kesadaran dan pemikiran selain dia. Aku bisa menulis lagi, dengan kegembiraan dan gairah yang meluap-luap, seperti percikan api sang pande besi: lebih dan lebih dari sebelumnya. Dan tentulah, bukan hanya tentang dia. Banyak dan terlalu banyak, melampui kesanggupan tubuhku mengerjakannya. Menulis dan menulis, sampai menjadi sebentuk panggilan jiwa, serupa tugas kehidupan, dan semacam jalan hidup. Saya mendapatkan kepuasan batin dan merasa bermakna karenanya. Dan sampai akhirnya, orang-orang mengenal saya sebagai seorang penulis. Itulah apa yang saya alami yang turut membentuk dunia kepenulisan saya.”

Sejenak hening. Dari belakang, tiba-tiba Muhammad Syukri bertepuk tangan sambil berdiri. Dan seketika itu juga, diikuti empat puluh dua peserta yang juga bertepuk tangan sambil berdiri. Sangat meriah. Dan itu mengejutkanku. Barangkali sebagai penyegaran, dari lamanya berkonsentrasi. Dan itu sungguh berhasil. Wajah-wajah kembali cerah. Tak lama kemudian seorang peserta mengajukan pertanyaan:

“Namanya siapa?”

“Fauzan.”

“Lengkapnya.”

“Fauzan Vevikananda.”

“Fauzan Vevikananda. Meski agak tak lazim, tapi itu nama yang keren. Romantis. Melankolis. Dan wajahmu juga cukup enak dipandang. Itu wajah yang futuristik. Artinya, dalam 200-an tahun ke depan, wajah-wajah sepertimu masih akan menarik dan diminati. Tapi tak usah kau hidrosepalus. Itu tidak selalu berarti tampan.” Ekspresi wajah dan ucapanku yang terakhir membuat para peserta sontak tertawa. “Silahkan, apa pertanyaanmu?”

“Terima kasih. Sebelum ke pertanyaan, saya ingin bilang sedikit saja bahwa acara ini sangat menyenangkan, menginspirasi. Mengungkap banyak hal yang saya tidak mengerti, dijelaskan dengan gamblang dan menarik. Ada banyak pertanyaan yang saya yakin akan terjawab. Oiya, satu lagi. Ini sangat penting: tentang wajahku yang enak dipandang dan futuristik ini. Memang ada banyak yang bilang begitu. Itulah aku: Fauzan Vevikananda.” Beberapa siswa langsung meneriakinya. Dan lebih banyak lagi yang tertawa. Bukan saja karena hidrosepalus yang ternyata ditepatinnya, tapi juga ekspresi wajahnya yang gila. Butuh lebih dari satu menit hanya untuk komentari tingkah Fauzan, si pribadi gila yang diberkati wajah lumayan.

“Pertanyaan saya ini barangkali dapat mewakili perasaan teman-teman yang lain. Dari pengakuan Mas Nizam, kami jadi tahu bahwa perempuan, cinta dan luka batin sepertinya sangat mempengaruhi kepenulisan Mas Nizam. Bila diperkenankan, saya ingin mengetahui lebih dalam: bagaimana Mas Nizam benar-benar sembuh dari luka batin dan kemudian bangkit dengan semangat baru. Lihat, betapa banyak wajah-wajah menderita di sini. Apalagi kalau bukan karena cinta. Dan saya ajukan pertanyaan ini untuk mewakili dan sekaligus wujud empati yang mendalam pada mereka. Kalau saya, si wajah futuristik ini, sudah pastilah baik baik saja.” Semakin ke ujung, perkataan Fauzan kian menggila. Masih seperti pembukaannya: menyulut teriakan dan tawa teman-temannya. Gayanya lumayan menghibur.

“Pertanyaanmu menarik tapi agak susah untuk dijawab. Begini: perasaan cinta itu persis seperti anak-anak. Dan pemiliknya, tak ubahnya seorang ibu. Anak-anak meminta segala pada ibunya, dan ibu akan berkeras memenuhinya. Ada kalanya, seorang ibu, tak dapat penuhi yang anak minta, dan itu menimbulkan keperihan luar biasa. Dan anak anak, tidaklah tahu, dan tak mau tahu semua itu. Sebab sifatnya hanya meminta, dan kesenanganlah dunianya. Bila tak dapat yang ia minta, tak beroleh yang ia senangi, menangis dan berontaklah dia. Kapan sang anak akan mengerti? Nanti, bila ia cukup dewasa. Dan itu lama. Karena itulah, tak ada luka batin yang tersembuhkan dengan cepat. Apakah ada jaminan, sang ibu sanggup menahan pedih, sampai anaknya cukup dewasa? Tidak. Karena itulah, banyak orang jatuh dan runtuh karena cintanya. Bila sudah begitu, orang ramai beri nasehat: sabar, berdoa, tabah, dan terimalah yang terjadi. Nasehat itu tidak salah. Hanya saja ia tak faham, bahwa cinta adalah anak, yang miliki jiwa dan dunianya. Ia juga tak faham bahwa pemilik cinta adalah ibu, yang miliki jiwa dan dunianya. Karena itulah ada yang namanya konflik batin. Ingin menjauh, ingin membuang, ingin lepas, ingin bebas, namun tak sanggup, tak bisa. Mengapa? Rasa cinta bukan tumor di dalam tubuh, yang dapat diangkat begitu saja. Rasa cinta adalah jiwa, yang hidup, memiliki sifat, dan dunianya sendiri. Di sini, di dalam diri kita.

“Dan namanya anak-anak, walaupun marah, teriak, menangis, memberontak, bergulingan, tetap saja ikut ibunya. Oleh karena itu, dibutuhkan ibu yang sabar, tenang, dan bijak, yang dengan suka cita menerima sifat anaknya. Ia tetap menggendongnya, menyusuinya, memandikannya, dan merawatnya, sampai anak itu cukup dewasa, memahami penjelasan. Hanya dengan begitu, sang anak tetap bertumbuh, dan sang ibu, dapat jalankan misi besarnya. Dan kelak, mereka akan tertawa bila mengenang masa lalunya. Begitulah, ketika pengertian telah datang, pengetahuan telah berkembang, diri dan jiwa cukup dewasa. Selesailah konflik batin, antara ibu dan anaknya, antara cinta dan pemiliknya.

“Pertanyaannya adalah bagaimana agar bisa menjadi ibu yang sabar, tenang, dan bijak, yang dengan suka cita menerima sifat anaknya? Atau, bagaimana caranya agar bisa menjadi pemilik cinta yang sabar, tenang, dan bijak, yang dengan suka cita memahami sifat cintanya? Ketahuilah Fauzan, pada akhirnya, apapun keadaannya, setiap orang harus menyadari bahwa misi terbesarnya adalah tumbuh, bermetamorfosis, bertransformasi, temukan diri. Hidup dan kehidupan ini dan bahkan Tuhan, tidak peduli, kita berada dalam keharuan atau kepedihan, bahagia atau derita. Apapun keadaannya, kita harus terus tumbuh, bermetamorfosis, bertransformasi, temukan diri. Bila kita tak mau tumbuh dan mengutuk keadaan, kita sendirilah yang berantakan.

“Kita bukan sebongkah batu di tepi sungai. Atau biji kacang yang tak sengaja jatuh dan tumbuh di tanah gersang. Kita menampung perbendaharaan semesta jagad raya. Nalar batin kita terlalu canggih untuk hanya membusuk dan mati tanpa evolusi. Dia yang tak berevolusi akan mudah hancur oleh dunia, tergerus hidup dan kehidupan, terguncang oleh pikiran, perasaan, dan perkataan. Dia yang tak berevolusi, akan melihat segalanya selalu lebih besar dari kesanggupan menghadapinya. Ia seperti ulat yang diserbu kawanan semut sebelum tuntas menjadi kupu. Siapa yang salah, semut yang memenuhi seluruh daratan, ataukah ulat yang terlambat merubah diri?

“Itulah gambaran dari apa yang kau sebut sebagai benar-benar sembuh dari luka batin dan bangkit dengan semangat baru. Saya merasa bahwa Tuhan benar-benar enggan ambil bagian dalam apa yang saya alami. Saya memilih untuk berpikir bahwa Dia ingin, hamba-Nya ini, memahami dan mengobati luka batinnya seorang diri. Ia tak mau melihat saya cengeng. Meratapkan pada-Nya tentang sesuatu yang sesungguhnya sanggup saya lalui. Dan bahkan kemudian, saya berkeras untuk membuat-Nya kehilangan cara, menimbulkan luka batin dan rasa sakit dalam hati saya.

“Begitulah bahwa apapun keadaannya, saya harus tetap tumbuh, mengambil tanggungjawab atas hidup dan segala yang saya alami. Banyak orang yang dengan terpaksa tumbuh bersama kepedihan, bersama rasa sakit. Ada yang menyerah dan jatuh. Ada yang tergoda mengutuk diri, menyalahkan keadaan, dan terus meratap kepada Tuhan. Dan saya lebih memilih untuk hidup bersama rasa sakit itu, mengenalinya, memahaminya, mendengarkannya, dari waktu ke waktu, seperti kasih ibu pada anaknya. Dan dari hari ke hari, saya berusaha mengajarinya, mendidiknya, membuatnya cepat mengerti, cepat dewasa. Sampai pada suatu titik, saya dapat membuatnya mengerti, faham, dan sadar. Rasa sakit itu pun menyerah dan mengucapkan selamat tinggal kepadaku dengan hati yang puas. Dan rasa cinta, yang dari hari ke hari saya mendidiknya, kemudian tumbuh dewasa, menjadi teman baik dalam diri dan hidup saya. Begitulah Fauzan. Ada tanggapan?”

“Itu penjelasan yang sangat bagus dan mudah sekali untuk difahami. Meskipun begitu, masih terlalu rumit dan kompleks untuk saya bayangkan, bagaimana kejadiannya.”

“Fauzan, di dunia ini, dalam ranah batin manusia, ada hal-hal yang tak dapat kau bayangkan sebelum kau benar-benar mengalaminya. Bagaimanakah rasanya rindu yang membuncah, yang memercik, yang memancar, yang menukik tajam dalam hatimu? Bagaimanakah rasa manis segenggam gula? Kau harus mengalaminya. Bahkan apa yang kau alami tidak menjamin kau akan dengan mudah memahaminya. Sangatlah banyak yang tidak kita mengerti tentang pikiran, perasaan dan mengapa kita begini. Ada banyak yang kita tidak temukan kata yang tepat untuk mengungkapkannya. Mengapa? Sebab mereka adalah jiwa-jiwa yang hidup dan tumbuh diantara jiwa-jiwamu yang lain. Ranah batinmu jauh lebih misterius dari apa yang kau kira. Ketika kau merasa sedang bicara dengan dirimu sendiri, maka pada saat itu, sesungguhnya kau sedang bicara dengan jiwa-jiwa lain yang ada dalam dirimu. Dan setiap pengalaman memungkinkan kemunculan jiwa-jiwa baru, yang hampir selalu sulit untuk difahami.”

gus-wan

Fauzan menganggukkan kepala. Lebih karena ia menerima penjelasanku, dan bukan karena faham benar apa yang kualami. Kali ini, tak ada canda dari wajahnya. Ia terlihat begitu serius. Juga wajah-wajah lain: tampak diselubungi keheningan. Agaknya, kisahku cukup menarik bagi mereka. Dan itu terbukti dengan pertanyaan yang susul menyusul. Mengapa ke kota Qom, Iran: tidak ke Mekah, Madinah, Mesir, India, atau China? Apa yang membuat perempuan itu akhirnya pergi dari kehidupan Mas Nizam? Dimana dia sekarang? Dan beragam pertanyaan tentang diri mereka sendiri, yang alhamdulilah, mereka senang dan puas dengan jawaban yang kuberikan. Lebih dari itu, suasana dan hubungan menjadi jauh lebih akrab dan terbuka. Dan akhirnya, sampai kepada judul besarnya, Beberapa Alasan Mengapa Kalian Perlu Menulis.

“Kawan-kawan, itulah yang saya alami, yang kemudian turut membentuk dunia kepenulisan saya. di sana, saya memukan beberapa alasan yang sangat jelas mengapa saya perlu menulis. Bahkan kemudian, mewajibkan diri saya sendiri untuk terus menulis: apapun keadaannya. Dan tentulah, ada banyak alasan yang setiap orang boleh berbeda. Saya hanya ingin merangkum beberapa saja yang menurut saya sangatlah penting.

“Menulis dapat menjadi cara yang canggih untuk menguak pengetahuan yang tidak lagi kita ingat, membongkar kecerdasan yang tidak kita sadari. Kita menyimpan begitu banyak memori sepanjang hidup kita. Dan hal itu tidak dapat kita ingat dengan mudah ketika kita membutuhkannya. Bahwa sesungguhnya kita lebih cerdas dari apa yang kita kira adalah berkah yang juga tidak mudah untuk kita sadari. Nah, menulis serupa kunci dari sebuah pintu gudang barang berharga, yang kita tidak tahu berapa banyak jumlahnya, seperti apa bentuknya, dan apa saja jenisnya. Dan semua itu menjadi mungkin kita dapatkan, kita temukan, manakala kita menulis. Bagaimana penjelasannya?

“Segumpal jagad di kepala kita, otak kita, pikiran kita, tidak dapat mengingat atau memikirkan beberapa hal dalam satu waktu. Bahkan dua hal saja agaknya tak mungkin. Dengan begitu menjadi mustahil untuk dapat mengingat atau menyadari secara bersamaan semua ingatan, memori, atau segala hal yang pernah kita alami, kita pelajari, kita ketahui. Dan terlebih lagi, bila hal itu tersimpan dalam memori kita secara acak, tak beraturan, tak disengaja, tak sungguh-sungguh. Bila kita terbiasa berpikir secara runtut, berpola, tertata, sistematis, terstruktur, dan sungguh-sungguh menyimpannya dalam memori kita dalam suatu bentuk, gambaran, dan kisah-kisah yang hidup, maka hal itu akan lebih mudah untuk diingat. Dan apalagi kalau kita terbiasa mengingat, memunculkan, atau sering menggunakannya.

“Namun, karena terlalu banyak yang kita lihat, kita pelajari, dan kita alami, maka beragam ingatan kita tentang sesuatu, tertutup oleh ingatan-ingatan yang lain, terus-menerus, bertumpuk, berlapis lapis, dan tersimpan, tertimbun jauh di bawah sadar. Akibatnya, kita lupa dengan apa yang kita ketahui. Lupa dengan apa yang pernah kita alami. Tidak menyadari bahwa kita menyimpan memori-memori penting dan berharga dalam diri kita. Padahal, antara satu ingatan dengan ingatan yang lain, atau antara satu kesadaran dengan kesadaran lainnya, dapat saling terhubung, berkaitan, membentuk pengetahuan dan kesadaran baru terus-menerus, serupa rajutan jaring yang belum tuntas, dan tak akan tuntas.

nun

“Nah, dengan menulis, kita telah menempatkan diri pada suatu titik simpul sebuah jaring yang dengan sendirinya akan memicu kerterhubungan dengan simpul-simpul lainnya, terus menerus, beruntun, seperti aliran listik yang mengalir, menerangi jutaan rumah yang pemiliknya bahkan tak saling kenal. Karena keterhubungan itulah, secara tanpa sadar, kita dapat mengingat banyak hal yang kita lupa, menyadari memori penting yang tertimbun jauh di bawah sadar, dan menemukan banyak hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Orang menyebutnya sebagai ide atau gagasan baru. Dan secara teknis, itu tidak lebih dari pertemuan dan pergumulan antara satu ingatan dengan ingatan yang lain, atau antara suatu bentuk kesadaran dengan kesadaran lainnya. Dari situ, tercetuslah apa yang oleh banyak orang disebut sebagai ide, pemikiran, gagasan, atau wawasan baru.

“Bila kesadaran akan ilmu berpadu dengan kesadaran akan Tuhan, maka lahirlah kesadaran alam semesta. Apakah kesadaran alam semesta hanya terbentuk dari perpaduan antara kesadaran akan ilmu dan kesadaran akan Tuhan? Tentu tidak. Pada saat yang sama, pertemuan, pergumulan, dan perpaduan antara satu ingatan dengan ingatan yang lain, atau antara satu bentuk kesadaran dengan kesadaran lainnya, melahirkan kecerdikan untuk menciptakan suatu keterhubungan antara satu hal dengan hal lain yang tampak tak berhubungan. Sebuah contoh kecil: apa hubungannya antara selembar daun yang jatuh dengan kerinduan kepada Tuhan? Sekilas tak relevan, tak berhubungan. Namun, hal itu bukan saja mungkin tapi juga mudah bila tersedia cukup ingatan atau kesadaran yang berpadu, bersenyawa dengan kesadaran-kesadaran lain, yang sebelumnya tak disadari.

“Sekali lagi, dengan menulis kita telah menempatkan diri pada titik simpul kesadaran atau ingatan tertentu, yang kemudian dengan sendirinya memicu kerterhubungan dengan simpul-simpul ingatan lain, yang tidak kita ingat, tidak kita sadari. Itulah maksud perkataan saya di awal bahwa menulis dapat menjadi cara yang canggih untuk menguak pengetahuan yang tidak lagi kita ingat, membongkar kecerdasan yang tidak kita sadari. Bila satu ingatan terhubung dengan ingatan yang lain, atau suatu kesadaran bertemu dengan kesadaran lainnya, maka memungkinkan lahirnya suatu wawasan, gagasan, atau ide-ide baru.

“Menulis juga dapat menjadi cara ampuh untuk mencapai ingatan yang kuat dan pemahaman yang tajam tentang sesuatu. Mengapa? Mendengar, membaca, atau menghapal, seperti menaruh sesuatu di dalam otak, dalam pikiran. Adapun menulis adalah mengolah, mencipta, menemukan, menyusun, dan menancapkannya. Tidak seorang pun mengatakan bahwa menaruh sesuatu akan lebih kuat daripada menancapkannya. Dan tak seorang pun mengatakan bahwa sekedar melihat, mendengar, menghapal, atau mengambil pengetahuan, akan lebih faham dari mengolah, mencipta, menemukan, menyusun, menancapkan, dan menuliskannya.”

nun1

“Menulis juga dapat menjadi penyembuh dari luka-luka batin atau psikis yang paling cerdas, kreatif, dan produktif. Kita dapat menumpahkan kemarahan pada seseorang dengan mengumpat, memikirkannya siang dan malam. Kita juga dapat menyatakan kerinduan pada seseorang dengan menangis. Atau mendatanginya sebisa mungkin. Saat kesedihan dan penderitaan terlampau berat boleh saja kita menangis, meratap, menyalahkan diri sendiri, mengutuki orang lain. Namun, tidak ada cara yang lebih baik, kreatif, cerdas, obyektif dan produktif untuk melampiaskan semua itu, selain menuangkannya dalam tulisan. Mengapa? Menulis mengharuskan seseorang untuk berkonsentrasi, memusatkan pikiran terhadap sesuatu yang akan ditulis. Selain bahwa secara fisik ia juga menuliskannya. Dengan begitu, energi negatif akan terbagi, terbelah, dari sepenuhnya mimikirkan tentang kesedihan atau rasa sakit menjadi berpikir tentang sesuatu yang akan ditulis, dan sekaligus menuliskannya. Menjadi sangat mudah untuk dipahami bila kemudian kesedihan, rasa sakitnya jauh berkurang. di sini, lebih dari sekedar terjadi keterpecahan energi, melainkan juga transformasi energi dari negatif ke positif.

“Selanjutnya, dengan menumpahkan segala pikiran dan perasaan dalam tulisan, maka beban psikologisnya akan berkurang. Ini sebentuk proyeksi, melampiaskan atau mengeluarkan beban di dalam diri dan melemparkannya ke tempat lain. Secara psikologis, itu memuaskan, menimbulkan ketenangan, dan kenyamanan. Dengan begitu, kesedihan atau rasa sakitnya juga akan menurun. Meskipun semua itu adalah level terendah dalam mengatasi masalah dengan menulis, namun secara psikologis sudah sangat membantu. Nah, pada level yang paling puncak, seseorang dapat menjadikan kesedihan atau rasa sakitnya sebagai objek. di sini, seseorang seperti memasukkan luka-luka batinnya ke dalam gelas. Ia memandanginya sebagai suatu objek kajian. Ia berusaha memahaminya, mencari penyebabnya, menganalisa dinamikanya, mencari pemecahannya, dan selanjutnya menuliskannya. Dari luka batin yang berpotensi untuk membunuh, berubah menjadi gugusan ilmu, membentuk pengetahuan.

“Menulis juga dapat menjadi salah satu cara intelek dan romantis untuk memberikan peninggalan, kenangan, dan ucapan selamat tinggal pada dunia. Sebagaimana kita ketahui bahwa kebanyakan manusia hanya mendengar. Sebagian kecil membaca. Dan lebih sedikit lagi yang menulis. Orang-orang yang sedikit inilah yang kemudian memberikan hal-hal terbaik dari nalar batin mereka untuk siapa saja. Orang-orang yang sedikit itu memiliki kesempatan yang lebih luas untuk bicara pada dunia dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya yang bahkan tak berkesempatan melihat wajahnya. Dan hasrat pribadi saya yang paling sederhana adalah, suatu hari saya ingin ada banyak anak-anak yang membaca buku yang ditulis oleh ayahnya sendiri. Saya ingin mengajarkan banyak hal kepada mereka. Bahkan saat saya hanya dapat mereka kunjungi di pemakaman.”

religious-experience

“Menulis juga merupakan salah satu cara terbaik untuk meneguhkan kemampuan, keahlian atau kepakaran seseorang dalam suatu bidang. Dan terlebih bila kalian berhasrat menjadi seorang pengajar, ilmuan, intelektual, menulis menjadi suatu keharusan. Kita lihat seorang William James. Ia tidak perlu mengatakan kepada orang-orang bahwa ia faham tentang ragam pengalaman keagamaan. Orang akan dengan sendirinya mengakui kepakarannya melalui buku yang ia tulis: The Varieties of Religious Experience. Dan seorang Bentrand Russell tidak perlu berkisah panjang lebar kepada anak-anaknya tentang sejarah filsafat Barat. Anak-anaknya dapat dengan mudah dan kapan saja membaca buku yang ia tulis: History of Western Philosophy. Dan mustahil kalian meminta saya untuk bicara tentang menulis bila saya tak tahu tulis menulis. Sekecil apapun, pasti akan ada pengakuan dan penghargaan. Bila kalian tidak membutuhkan, menginginkan, atau berharap semua itu, maka dunia dan kehidupan ini akan tetap melakukannya. Dan apapun itu, kalian telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar pantas untuk dilakukan.

“Dan pada akhirnya, pertanyaan tentang mengapa kita perlu menulis terasa lebih penting dibandingkan lima belas atau dua puluh tahun yang lalu ketika teknologi dan model komunikasi belum secanggih sekarang ini. Dulu apa yang kita sebut menulis adalah dunia para bangsawan, kaum intelektual, terpelajar. Sekarang menulis telah menjadi bagian hidup dan keseharian hampir setiap orang diseluruh belahan dunia. Bila kalian tak keberatan menjadi bagian dari komunitas global dunia maya, maka hampir wajib bagi kalian untuk cukup cakap dalam menulis. Mengapa?

“Setidaknya dalam 100 tahun ke depan, manusia akan jauh lebih interaktif dan lebih banyak berkomunikasi, berbagi pengetahuan, ide, dan pengalaman hidup mereka melalui simbol, diantaranya melalui huruf-tulisan. Dengan begitu, dalam komunitas global dunia maya, kemampuan mengungkapkan pikiran, perasaan, atau suatu maksud secara tertulis menjadi sesuatu yang amat penting. Mereka yang tidak cukup cakap dalam menulis bisa jadi akan terasing. Atau setidaknya, akan susah dimengerti dan diterima orang lain. Mereka berpotensi untuk disalahpahami dan menimbulkan kesalahpahaman. Oleh karena itu, setidaknya sebisa mungkin untuk dapat menulis dengan tepat dan benar. Dan bila memungkinkan, ditulis dengan baik, menyentuh rasa, merangsang nalar.”

Para peserta terlihat begitu serius mendengarkan uraianku, diantara sayup sayup musik instrumental yang terus mengalun: Dear Friend dari Sina Vodjani. Ruangan terasa begitu hening. Hanya ada kata-kataku dan musik instrumental yang seolah mengiringiku dari belakang. Dan itu membuatnya mirip dengan pelatihan meditasi. Selanjutnya, kutawarkan kepada para peserta untuk bertanya. Ada banyak yang tunjuk jari: tidak kurang dari lima belasan peserta. Seorang laki-laki berpenampilan rapi, dengan kaca mata di wajah ovalnya mendapat giliran pertama. Kata-katanya tertata rapi, dengan gestur dan intonasi yang serasi, seperti motivator di televisi. Itu menjadi kekuatan atas ukuran tubuhnya yang agak kurang. Namanya Iqbal. Di kemudian hari, pria belia ini sering datang kerumahku, menunjukkan beberapa tulisan yang ia ingin aku menilanya. Inilah pertanyaan Iqbal waktu itu:

“Kelak saya berharap bisa mengajar di sebuah universitas. Itu cita-cita saya. Bagi saya menjadi seorang pengajar, menjadi seorang dosen adalah tugas yang heroik dan menyenangkan. Baru beberapa saat yang lalu, setelah Mas Nizam menjelaskan alasan-alasan mengapa kita perlu menulis, saya benar-benar tersadar bahwa menulis adalah bagian yang tak terpisahkan dari kerja-kerja ilmiah, intelektual. Saya belum pernah sekalipun menulis tentang sesuatu yang merupakan keinginan atau ide pribadi saya. Apa yang saya tulis, sekedar tugas yang mau tidak mau haru saya kerjakan. Dan tiba-tiba, saya merasa sudah terlambat untuk menulis. Itu membuat saya agak gelisah. Apa saran Mas Nizam? Terima kasih”

“Pertanyaanmu menandakan bahwa kau sadar apa yang mesti kau lakukan. Dan itu yang terpenting. Selain bahwa kau harus segera melakukannya. Berapa usiamu?”

“Sembilan Juni besok genap delapan belas tahun.”

“Baik. Saya ingin cerita sedikit. Saya punya seorang teman. Ketika saya sudah menulis buku, dia bahkan masih sering bertanya bagaimana cara menulis. Dia sepertimu, Iqbal, belum pernah sekalipun menulis sesuatu yang merupakan keinginan atau ide pribadinya. Semua yang ia tulis sekedar tugas yang harus ditulis dengan aturan-aturan baku, standar karya ilmiah. Dan sudah lumrah bahwa apa yang disebut karya ilmiah seringkali hanya sekedar kumpulan gagasan orang. Saya tidak merasa bahwa saya mengajarinya. Dan tak ingin pula mengajarinya. Namun, apa yang hari ini saya kemukakan pada kalian tentang perlunya kita menulis, dibanyak kesempatan, berulang-ulang saya katakan padanya. Itu saya lakukan karena saya melihat ia begitu bersemangat untuk dapat menulis.”

“Setelah lulus magister sains psikologi, dia menjadi seorang dosen di Jakarta. Dan seperti biasa, ketika musim liburan tiba, ia ke Yogya untuk bertemu dan berkumpul dengan teman-teman lain, termasuk saya: sekedar untuk berbincang tentang masa lalu, makan-makan, jalan-jalan. Singkatnya: melakukan hal hal yang tampak remeh dan sepele. Dan suatu hari, di masa liburan, dia ke Yogya, dengan membawa oleh-oleh spesial. Ia menunjukkan sebuah buku yang baru saja terbit, bahkan masih terbungkus rapat dengan plastiknya. Dan namanya tertulis dalam cover buku itu, lengkap dengan gelar, dan sekaligus nama tokoh terkenal yang memberikan pengantar untuk bukunya. Saya benar-benar terkejut, senang, dan bangga bukan main. Sungguh di luar dugaan saya bahwa ia benar-benar menulis, dan bahkan menerbitkan sebuah buku. Itulah buku pertamanya, yang ia tulis pada usia ke-30. Dua tahun setelah ia menjadi seorang dosen.

“Dan usiamu Iqbal baru 18 tahun, dan belum menjadi seorang dosen yang kau cita-citakan itu. Mari kita analisis. Sekiranya buku pertama wajib ditulis pada usia ke-30, maka kau masih punya waktu 12 tahun untuk memikirkannya, mengumpulkan materinya, dan menuliskannya. Itu waktu yang berlimpah untuk belajar dan sekaligus melahirkan sebuah buku. Dan itu, berkali-kali lipat lebih banyak dari waktu yang digunakan temanku untuk menulis buku. Bila kau punya semangat dan sedikit saja kecerdasan yang dapat diandalkan, maka di usiamu yang ke-30 kau dapat terbitkan lebih dari satu buku. Bagaimana caranya? Mari kita lihat. Bila mulai hari ini kau punya gairah dan konsisten untuk menulis satu halaman setiap hari, maka dalam dua belas tahun kau sudah membuat 4320 halaman. Itu adalah halaman yang cukup tebal untuk menjadi delapan buku. Dan dikenalah seorang Iqbal, setidaknya di kalangan mahasiswanya: Pak Iqal, seorang dosen muda berusia 30 tahun yang telah menulis delapan buku. Hebat bukan? Itu bukan hal abstrak, ajaib, atau impian kalut. Itu terlalu nyata dan logis untuk dicapai, tak perlu doa yang aneh-aneh apalagi mantra yang njlimet-njlimet. Kau bisa melakukannya.”

Iqbal terlihat puas. Ada semangat yang menyala-nyala di matanya. Senyumnya yang mengembang dan terima kasihnya yang berulang-ulang membuatku begitu senang: seakan-akan dia telah menunjukkan delapan buku yang kuharapkan. Satu demi satu pertanyaan kujawab tuntas, dengan beragam kejutan dan kemeriahannya.

 

bersambung…

 

38 Comments to "Nun, Demi Pena dan Apa yang Mereka Tulis (2)"

  1. juwandi ahmad  22 April, 2013 at 22:26

    Mbak Elinino: he he he..wah, Ocha ki mbak to. Waah, maaf dan matur thank you mbak Elnino, memberi tahu. Yah, begitulah cinta dana pemiliknya. Ibu dan anaknya.

    He he he..saya suka ungkapan ini: “Bingkai tulisan ini nyaris kupercayai sebagai nyata adanya, ayah yang penulis dan ibu yg begitu mendukung ayah, seandanyai tidak pernah kubaca tulisan mengenai cinta emak yang begitu berat..” ha ha ha…….

  2. elnino  22 April, 2013 at 11:15

    Saya sependapat dg Ocha (ini mbak2 lho Guswan..), hubungan luka hati dan cinta dengan pemiliknya yang dianalogikan dengan hubungan antara seorang ibu dan anaknya itu sungguh jenius menurut saya. Sangat mencerahkan. Alih2 mengusir si anak dg segala cara utk memupus masalah, sang ibu justru merawat si anak dg bijak sehingga bertumbuhlah dia menjadi dewasa dan bisa menerima pemahaman…
    Superb

    Bingkai tulisan ini nyaris kupercayai sebagai nyata adanya, ayah yang penulis dan ibu yg begitu mendukung ayah, seandanyai tidak pernah kubaca tulisan mengenai cinta emak yang begitu berat. Itu semakin menunjukkan kelasmu yg sudah menyelami dunia tulis menulis sampai sebegitu kuyupnya. Bravo! Ditunggu lanjutannya ya…

  3. juwandi ahmad  20 April, 2013 at 23:45

    Ya pak Ocha, saya kira deskripsi tentang luka hati dan cinta yang saya gambarkan sebagai Ibu (pemilik cinta) dan anak (perasaan cintanya) adalah penjelasan paling mudah dan sedehana untuk mengambarkan dinamika antara cinta dan pemilknya.

    Saya sepakat sekali dengan uraian pak Ocha bahwa: “Keretakkan rumah tangga, dengan perceraian ataupun dgn dapur lebih dari satu, secara tidak sadar melahirkan anak2 yang mempunyai luka hati karena mereka mencintai ayah ibunya, anak-anak ini tumbuh besar dengan luka hati yang tak tersembuhkan, emosi yang labil, kedewasaan yang tak kunjung datang karena mereka seperti hidup di masa lalu saat ayah ibunya masih bersama. Bagaimana memahami luka hatinya dengan mendeskripsikannya sesuai dengan uraian anda?”….. Barangkali suatu saat nanti, saya akan menjelaskannya dalam artikel yang berbeda. Terimakasih telah meyempatkan diri untuk membaca dan membrikan komentar untuk tulsian saya

  4. Ocha  20 April, 2013 at 09:31

    Mas Juwandi, uraian anda mengenai luka hati dan cinta yang anda deskripsikan sebagai seorang ibu dan seorang anak, WOW !!!!
    Keretakkan rumah tangga, dengan perceraian ataupun dgn dapur lebih dari satu, secara tidak sadar melahirkan anak2 yang mempunyai luka hati karena mereka mencintai ayah ibunya, anak-anak ini tumbuh besar dengan luka hati yang tak tersembuhkan, emosi yang labil, kedewasaan yang tak kunjung datang karena mereka seperti hidup di masa lalu saat ayah ibunya masih bersama. Bagaimana memahami luka hatinya dengan mendeskripsikannya sesuai dengan uraian anda, kayanya membuat saya jadi keder sendiri. Mungkin sampai saya tutup usia, saya tak kan bisa memahami luka hati tersebut.

  5. juwandi ahmad  19 April, 2013 at 01:22

    Yu Lani: ha ha ha ha….yu lani..yu lani, komentmu selalu kurindukan. Rindu untuk bersama sama mengkoplak kan prof pakem

  6. Lani  19 April, 2013 at 01:15

    DA, KANG JUWANDI, AKI BUTO : biar saja buto mo meledak……..toh aku adoh, sing kecipratan ledak-annya yg cedak2 dgn dia………tp klu bener buto bs meledak………jgn dekat2……..memedenikan, cari selamat ajalah……….

  7. Lani  19 April, 2013 at 01:12

    31 KANG JUWANDI : hahahahahahahha………..baca komentarmu alinea terakhir……….aku se7777777 banget!!!!

  8. juwandi ahmad  19 April, 2013 at 00:12

    Nah, itu dia Kang Josh, kenapa saya kasih catatan akhir di artikelku. Sebab saya sadar betul kedigdayaan orang-orang baltyra dalam menulis dan olah batin. Dan karena itu pula, secara diam-diam saya banyak belajar dari para baltyrans, termasuk ya dari sampean itu kang Josh.

    Wah dulu meledek-ledak to? ha ha ha…..wah, sampean kalem saja saya takut, apalagi sampean meledak ledak ha ha ha. Mas Josh, Mak Dewi, aku ki yo wes tingkat dewo….he he he..dewondaru. Yu lani: aku lebih bahagia nek prof pakem sakit abadi ha ha ha…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *