Berkah Allah yang Disia-siakan di NTT

F. Rahardi

 

BERITA utama Kompas Minggu, 13 Maret 2005, sangat menyentak: “Warga 31 Desa di Lembata NTT Alami Kelaparan”. Warga Lembata sebenarnya tak perlu mengalami kelaparan jika saja potensi alam digali dan dimanfaatkan.

Kabupaten Lembata terletak di Pulau Lomblen, satu deretan dengan Pulau Solor, Adonara, Antar, dan Alor. Lima pulau ini berderet di sebelah timur Flores, di utara Timor Barat. Provinsi NTT terdiri dari Pulau Flores, Sumba, Sawu, Rote, Timor Barat, dan lima pulau tadi. Selain masih banyak pulau-pulau kecil, termasuk pulau Komodo di sebelah barat Flores.

NTT map

Untuk ukuran Indonesia, iklim NTT memang ekstrem kering. Kecuali di Kabupaten Manggarai (Flores) dan Timor Tengah Selatan (TTS, Timor Barat) yang banyak air. Rata-rata hujan hanya turun selama tiga bulan, paling lama lima bulan. Selebihnya kering kerontang. Sebenarnya iklim yang ekstrem kering ini juga dialami NTB, terutama di Sumbawa. Itulah sebabnya di pulau ini budi daya padi dilakukan dengan sistem gogo rancah.

Sistem ini menuntut tanah diolah ketika kemarau panjang. Begitu hujan mulai turun, benih ditabur sambil dibuat pematang. Setelah hujan cukup banyak, lahan digenangi air hingga menjadi sawah biasa. Dengan cara ini, kemungkinan untuk gagal panen bisa diperkecil. Namun, pertengahan tahun 1980-an, pola ini sudah saya kritik. Sebab NTB, terlebih NTT, memang tidak cocok untuk tanaman semusim, baik jagung, kedelai, kacang tanah, singkong, dan terutama padi.

Komoditas NTT yang sudah dikenal sejak zaman Mesir Kuno adalah cendana. Selain itu, ada asam jawa, kemiri, dan mete. Kultur masyarakat NTT sendiri juga tidak cocok dengan tanaman semusim. Oleh karena itu, orang Flores banyak yang jadi TKI di Malaysia. Sebab, di sana mereka kerja di kebun sawit, karet, dan kakao. Bukan di pertanian tanaman semusim seperti di Jawa, misalnya. Kultur masyarakat NTT seperti inilah yang kadang menimbulkan salah paham hingga mereka dicap sebagai “pemalas”.

***

NTT sebenarnya bisa menjadi provinsi kaya di Indonesia. Bukan miskin seperti sekarang ini, lebih-lebih kelaparan. Sebab, Allah telah menurunkan berkahnya berupa sinar matahari paling optimal di provinsi ini. Sinar matahari adalah faktor pertanian lahan terbuka yang tidak mungkin direkayasa. Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang murah air, mustahil untuk “mengadakan sinar buatan” dalam pertanian lahan terbuka. Untuk menanam bunga krisan, anyelir dan lili, orang bisa memasang lampu. Namun, kebun jeruk seluas ratusan hektar tidak mungkin diberi lampu.

Faktor pertanian yang mahal di NTT adalah air. Namun, mahal bukan berarti tidak bisa dibeli. Lembah Hebron di Israel bisa menjadi areal pertanian sayuran dan buah-buahan untuk memasok kawasan Timur Tengah karena airnya diadakan. Padang Arafah di Arab Saudi sekarang hijau dengan tanaman Mimba dari Indonesia karena airnya diupayakan. Untuk ukuran Indonesia, NTT memang ekstrem kering. Namun, pasti tidak seekstrem Israel dan Arab Saudi. Meskipun hanya tiga bulan, hujan di NTT selalu rutin turun.

Di Thailand dan Australia, air hujan ditampung dalam embung (bilabong) atau bak-bak raksasa untuk mengairi tanaman dan padang rumput pada musim kemarau. Selain menampung air hujan, pertanian modern juga memanfaatkan air tanah dengan sumur bor (deep well). Cekungan air ini bisa dicari dengan alat sederhana bernama geolistrik. Pencarian air secara tradisional dengan ranting kayu atau bandul bisa membantu, tetapi tetap memerlukan geolistrik untuk akurasinya. Kalau debit air di atas lima liter/detik, satu titik sumur bisa untuk mengairi lahan tanaman keras seluas 10 hektar.

Membangun tampungan air hujan atau membuat sumur dalam berikut instalasi irigasinya, paling sedikit akan memakan biaya Rp 200.000.000. Oleh karena itu, yang ditanam dan diairi dengan biaya mahal ini haruslah komoditas yang nilainya juga tinggi. Misalnya, zaitun, anggur, apel, makadamia, kurma. Saat ini TTS (Soe) masih menghasilkan jeruk keprok kualitas terbaik se-Indonesia. Namun, tanaman ini juga tidak diurus dengan serius. Ketika ada pihak yang berniat membantu membenahi, pihak pemerintah justru mengharapkannya untuk investasi dengan dana miliaran rupiah.

***

MATERI tulisan ini sudah sangat sering saya sampaikan ke banyak tokoh NTT, tetapi mereka menganggapnya sebagai “impian”. Para pejabat pemerintahan maupun gereja Katolik di NTT memang aneh. Untuk investasi gedung (termasuk gereja) dan mobil senilai miliaran rupiah, mereka sangat antusias. Namun, ketika diminta investasi membangun sarana air untuk pertanian hanya senilai Rp 200.000.000 mereka mengernyitkan dahi. Andaikan para petinggi ini memang benar ingin memakmurkan NTT, maka investasi air justru lebih penting dari gedung dan mobil.

Kalau para petinggi NTT mau investasi air dan menanam komoditas-komoditas mahal, rakyatnya tidak perlu diuber-uber Polis Diraja Malaysia dan dihukum cambuk. Sebab, upah mereka di kebun kakao hanyalah 6-8 ringgit Malaysia (Rp 14.400 sampai dengan Rp 19.200) per hari. Kalau di NTT ada kebun zaitun, anggur, apel, makadamia, dan lain-lain, upah harian Rp 20.000-Rp 25.000 per hari bukan hal mustahil. Saya yakin orang NTT bukan pemalas dan pemabuk. Namun, jangan disuruh bertani tanaman semusim.

Provinsi-Nusa-Tenggara-Timur

Memanfaatkan berkah Allah berupa sinar matahari yang optimal memang memerlukan perencanaan matang, modal banyak, dan kerja keras untuk jangka waktu 10-15 tahun. Hingga jangan diharapkan gagasan ini bisa memakmurkan rakyat NTT tahun depan, misalnya. Namun, kalau petinggi pemerintahan dan gereja masih mengernyitkan dahi ketika diminta investasi air, rakyatnya akan terus berdatangan ke Malaysia dan digebuki. Mereka yang di kampung halaman tetap miskin bahkan kelaparan, dan yang telah kaya di Jakarta terkantuk-kantuk di singgasana masing-masing.

 

F. RAHARDI
Penyair dan Wartawan

 

KOMPAS – Sabtu, 02 Apr 2005 Halaman: 5

 

5 Comments to "Berkah Allah yang Disia-siakan di NTT"

  1. J C  18 April, 2013 at 21:17

    Indonesia memang secara de-facto adalah Jawa dan Sumatera, sekarang mulai sebagian Sulawesi. Bali itu “bukan Indonesia”, sementara yang lain hanya “numpang nama saja”… guuuubbrrraaakkk…

  2. Linda Cheang  18 April, 2013 at 17:54

    anekdot untuk NTT : Nanti Tuhan Tolong….. semestinya bisa diubah jadi New Tourism Territory…..

    Kalau dari pemerintah pusat nggak ada niat untuk memberdayakan warga NTT, smestionya warga NTT sendiri yang mau berdayakan diri mereka sendiri. Percuma mengharapkan pemerintah yang lagi sibuk untuk politik Pemilu tahun depan.

  3. Dj. 813  18 April, 2013 at 14:39

    Terimakasih bung F.Rahardi….
    Kemungkinan, mereka harus belajar mendapatkan “Know-how ”
    untuk mengolah daerahnya sendiri.
    Mudah-mudahan dari pusat ada perhatiaan untuk memberi pertolongan
    yang bermanfaat.
    Salam,

  4. Matahari  18 April, 2013 at 13:12

    Mudah2 an tulisan ini bisa membuat harapan penulis…dan kita pemrbaca menjadi kenyataan….

  5. alfred tuname  18 April, 2013 at 10:24

    begitulah bang, paradoks terjadi di NTT… seperti kisah Hanibal di Roma, semua bermula dari political will pemimpin yang melempem…

    dengan kondisi masyarakatnya yang sengsara, lagu “bae sonde bae, tanah Timor lebe bae” hanya berarti biar miskin asal bahagia… antem untuk mengelabui rakyat NTT sendiri…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)