Komos Award Sebagai Stimulus Konservasi Moral di Sekolah Dasar

Dian Marta Wijayanti

 

Gagasan Oleh:

 Dian Marta Wijayanti, 2013, Alumni Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Semakin maraknya tawuran yang terjadi di Indonesia memberikan keresahan tersendiri bagi dunia pendidikan. Semarang sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah pun mengalami keresahan yang sama. Hal ini dikarenakan terjadinya berbagai tawuran antar pelajar yang terjadi di kota tersebut. Seperti yang tertulis dalam Suara Merdeka pada hari Sabtu 11 Februari 2012, tawuran terjadi antara puluhan siswa SMK Negeri 10 Semarang yang terlibat perang batu dengan siswa SMK 4 Semarang. Maka dari itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang (Bunyamin) bermaksud ingin mengumpulkan seluruh kepala SD, SMP, SMA dan SMK negeri di kota Semarang termasuk jajaran pengawas, kepala unit pelaksana teknis dinas (UPTD), Dewan Pendidikan Kota Semarang hingga DPRD untuk menjalin komunikasi dan mengantisipasi adanya tawuran antar pelajar.

Sekolah sebagai satuan pendidikan mempunyai peran yang penting dalam pembentukan karakter. Menurut McCarrol (Megawangi, 2007: 5) karakter terbentuk karena latihan setiap hari. Hal tersebut sesuai dengan arti karakter secara bahasa yaitu “mengukir”, dalam kegiatan mengukir dibutuhkan proses, keahlian serta ketelitian pengukir sehingga menghasilkan ukiran yang kokoh begitupun dengan proses pembentukan karakter individu yang harus dilakukan sejak dini sehingga karakter tersebut melekat kuat dalam diri individu. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis. Hal ini mengindikasikan bahwa sekolah memerlukan peraturan tegas  yang secara tidak langsung akan menciptakan jiwa kompetitif pada diri setiap siswa.

Menurut Baker, dkk (dalam Soeparwoto, 2004: 32) hubungan antar pribadi yang menyenangkan, terutama dengan anggota keluarga, akan mendorong anak mengembangkan kecenderungan menjadi terbuka dan menjadi lebih berorientasi kepada orang lain, karakteristik yang mengarah kepada penyesuaian pribadi dan sosial yang baik. Sekolah sebagai keluarga kedua anak dapat mengambil peran dengan memberikan kebijakan kepada siswa untuk menyukseskan program konservasi moral. Karena pada usia awal karakter siswa akan lebih mudah dibentuk, maka kebijakan ini dapat diterapkan pada perkembangan dasar seperti di Sekolah Dasar.

Bukti bahwa perkembangan dasar awal sangat penting yang pertama, karena dasar awal lebih cepat berkembang menjadi pola kebiasaan yang akan mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak sepanjang hidup. Kedua, karena hasil belajar dan pengalaman semakin memainkan peranan secara dominan dalam perkembangan dengan bertambahnya usia anak. Ketiga, karena pola sikap dan perilaku yang dibentuk awal kehidupan, cenderung bertahan, baik hal itu baik atau buruk. Keempat, karena ada kalanya diinginkan perubahan tentang yang diajarkan, maka semakin cepat perubahan itu dibuat, akan semakin mudah bagi anak-anak dan akibatnya mereka semakin lebih bersedia pula bekerja sama dalam mengadakan perubahan itu.

Komos Award merupakan kepanjangan dari Konservasi Moral Siswa Award atau dapat dikatakan sebagai kompetisi berkelakuan baik antar kelas. Siswa akan berkompetisi antar kelas untuk mendapatkan predikat sebagai pemenang Komos Award. Komos Award diberikan sekali dalam satu periode (satu periode=satu bulan). Satu bulan sekali sekolah akan mengumumkan pemenang Komos Award. Adapun untuk mencapai predikat pemenang, kelas akan dinilai oleh tim Komos yang setiap hari akan memberikan penilaian.  Tim Komos merupakan beberapa guru yang telah ditunjuk oleh sekolah dengan tugas membuat instrumen dan melakukan penilaian.

Instrumen penilaian Komos Award disusun dengan memperhatikan sembilan komponen karakter yang harus dikembangkan di sekolah dasar.

  1. Cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah, trut, reverence, loyalty)
  2. Tanggungjawab, kedisiplinan dan kemandirian (responsibility, excellence, self relience, discipline, orderliness)
  3. Amanah (trustworthiness, reliability, honesty)
  4. Hormat dan santun (respect, courtessy, obedience)
  5. Kasih sayang, kepedulian, kerjasama (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation)
  6. Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah (confidence, assertiviness, creativity, resourcefulness, courage, determination and enthusiasm)
  7. Keadilan dan kepemimpinan (justice, fairness, mercy, leadership)
  8. Baik dan rendah hati (kindness, friendliness, humility, modesty)
  9. Toleransi dan cinta damai (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)

Indikator yang dinilai dalam Komos Award adalah berikut:

  1. Kerajinan beribadah (sesuai poin a)
  2. Kedisiplinan mengikuti upacara dan datang sekolah tepat waktu (sesuai poin b)
  3. Rajin mengerjakan PR (sesuai poin c)
  4. d.      Santun terhadap guru (sesuai poin d)
  5. e.       Kepedulian terhadap taman kelas (sesuai poin e)
  6. Kreatif mengisi mading sekolah (sesuai poin f)
  7. Ketua kelas yang bertanggungjawab (sesuai poin g)
  8. h.      Saling menolong sesama teman (sesuai poin h)
  9. i.        Menghormati teman yang berbeda agama (sesuai poin i)

Komos Award yang dilaksanakan sebulan sekali diharapkan mampu menjadi stimulus-respon yang baik bagi siswa untuk berkompetisi menjadi kelas terbaik. Dengan memberikan piala bergilir Komos Award siswa akan termotivasi untuk senantiasa memperbaiki sikapnya. Tanpa disadari juga akan muncul sikap kerjasama antar siswa di dalam kelas. Siswa akan saling mengingatkan jika ada temannya yang berbuat kurang baik serta melanggar peraturan sekolah.

Sebagai bahan monitoring, setiap kelas akan mendapatkan satu kartu Komos yang berfungsi untuk mengetahui perkembangan karakter siswa. Kartu Komos akan menunjukkan nilai karakter kelas dalam setiap bulan. Dengan menempelkan kartu Komos pada papan pajang, siswa dapat instropeksi diri dalam setiap harinya. Kondisi siswa memonitor diri sendiri dan saling mengingatkan sesama teman seperti inilah bentuk pembiasan yang secara teknik ingin dikembangkan untuk menanamkan karakter terpuji pada diri siswa. Sebuah rangkaian kegiatan kompetisi akan memacu semangat siswa untuk saling memperbaiki diri. Pembiasan yang secara berlanjut dikembangkan dan dibiasakan diasumsikan akan terbawa sampai siswa belajar di jenjang SMP, SMA, maupun Perguruan Tinggi. Hal ini sesuai dengan teori Milton (dalam Soeparwoto, 2004:31) yang menyatakan bahwa “Masa kanak-kanak meramalkan masa dewasa, sebagaimana pagi hari meramalkan hari baru”. Berikut ini adalah desain dari kartu Komos:

kartu-komos

Gambar 1. Kartu Komos Award

Berbagai tindakan kriminal dan kekerasan oleh pelajar merupakan permasalahan besar yang harus diselesaikan. Komos Award merupakan alternatif solusi yang dapat dikembangkan di Sekolah Dasar sebagai usaha preventif sebelum kriminalitas terjadi. Kerjasama antara pihak sekolah, orangtua, dan siswa sangat diperlukan agar Komos Award tidak hanya efektif untuk mengembangkan karakter terpuji di sekolah, namun juga untuk di keluarga serta masyarakat. Anak memang diibaratkan bukan gelas kosong yang belum terisi. Namun bukan berarti tidak ada acara untuk memperbaiki isi dari gelas tersebut. Begitu pula dengan karakter yang dimiliki oleh anak. Melalui model pembiasaan dalam pendidikan di sekolah karakter dapat dikembangkan ke arah perbaikan sehingga pada saatnya nanti mereka akan menjadi pemuda yang berguna bagi agama, nusa dan bangsanya.

 

Referensi:

Soeparwoto. 2004. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Laesis. 2012. Komunikasi Antarkepsek Dipererat Cegah Tawuran. http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=68395#.UIFFnu9nk9g. diunduh pada tanggal 14 April 2013 pukul 19.46.

Sudibyo, Anton. 2012. SMK 10 dan SMK 4 Perang Batu. http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/02/11/109239/SMK-10-dan-SMK-4-Perang-Batu. diunduh pada tanggal 14 April 2013 pukul 20.00.

 

6 Comments to "Komos Award Sebagai Stimulus Konservasi Moral di Sekolah Dasar"

  1. Dian Marta Wijayanti  21 April, 2013 at 23:03

    Terima kasih Bapak atas kritik dan sarannya ….

  2. Handoko Widagdo  19 April, 2013 at 10:48

    Terima kasih untuk idenya. Semoga hal semacam ini bisa diterapkan di sekolah.

  3. J C  18 April, 2013 at 21:25

    DMW, kalau menurut aku, yang terpenting adalah poin: i, h, d (menurut urutan terpenting). Baru disusul: e, f, c, b, g. Menurut pendapatku, yang poin a adalah domain private and personal…

  4. Alvina VB  18 April, 2013 at 19:49

    Ide yg bagus sekali, semoga guru2nya yg kasih penilaian nantinya bersifat OBJEKTIF (bukan SUBJEKTIF)

  5. Dj. 813  18 April, 2013 at 15:54

    imakasih sudah dikasi seminar gratis..
    Salam,

  6. James  18 April, 2013 at 11:21

    SATOE, Award

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.