Part II: Siapa Hendak Turun ke Bandung? Bang Mas Tok

Alfred Tuname

 

Setelah melewati penjagaan security stasiun, ternyata tidak membuat bang Mas Tok bebas menumpang kereta api menuju Bandung. Identitas dengan “alamat palsu” membuatnya harus berurusan lagi dengan aparatus stasiun Tugu, Djogjakarta. Entahlah bagaimana kisah itu tejadi.

Saat itu, saya sudah kembali ke kampus Sanata Dharma. Saya kembali mengikuti kegiatan di tempat itu.

Handphone bergetar. Ternyata sudah beberapa kali bang Mas Tok mencoba menghubungiku. Karena lantai III ruang seminar bermasalah dengan jaringan, saya kembali turun ke ruang lobi gedung. Bang Mas Tok menelpon. Terdengar suaranya meminta saya kembali ke stasiun Tugu. Sebuah situasi “genting’ sedang terjadi. Kemudian, suara bang Mas Tok berganti suara dengan seorang aparatus stasiun Tugu. Katanya, saya harus kembali ke stasiun Tugu secepat mungkin untuk pengurus “kesalahan prosedur” berkaitan dengan keberangkatan bang Mas Tok.

Djogja masih saja gerimis. Licinnya jalan tidak menghambat gesitnya perjalanan kembali ke stasiun Tugu. Jika tidak, waktu akan melibas cerita tentang keberangkatan seorang sahabat. Saling-silang lampu kendaraan membuat mata ekstra fokus. Dan sampai juga di stasiun itu.

Saya langsung menghadap seorang security. “Pak, saya mau urus keberangkatan seorang teman yang atas nama Agustinus Budiarta”.

“Oh iya. Bapak itu harus membeli tiket baru. Identitasnya harus diganti. KTP ini bukan identitasnya”. Begitu jawab security itu dengan senyum. “Tumben”, kataku dalam hati. Ternyata, security ini sedang menungguku juga. Itu berarti ia tahu persoalannya. Ia meminta KTP yang ada padaku untuk mengurus pembatalan tiket dan mengurus tiket pemberangkatan yang baru. Tak lama kemudian, tiket pemberangkatan yang baru sudah jadi dengan identitas asli bang Mas Tok. Bang Mas Tok boleh berangkat.

Sementara itu, bang Mas Tok terus menghubungiku via telpon. “Sudah beres, bang”, ceritaku pada bang Mas Tok. Ceritanya, ia sedang berada di ruang direktur stasiun. Ia pun bercerita tentang watak kemanusian sang direktur itu. Sepertinya, pendekatan etis sang direktur itulah yang membuat masalah keberangkatan menjadi sedemikian enteng.

Masih ada waktu sekitar lima belas menit sebelum keberangkatan. Bang Mas Tok memintaku untuk ngobrol dengannya. Ada baiknya juga. Kemudian, saya menukarkan KTP “palsu”-ku dengan kartu pengunjung supaya bisa ngobrol dengannya di dalam ruang tunggu stasiun.

Kami bertemu kembali di ruang direktur. Bang Mas Tok menceritakan kembali bagaimana ia dapat menggunakan identitas aslinya. Ternyata, bang Mas Tok menggunakan kartu keluarga sebagai identitas. Identitas itu di-reprint dari notebook-nya. Warnanya sudah agak buram, tapi cukup untuk digunakan sebagai identias.

Dalam pada itu, sang direktur juga menceritakan banyak kejadian seperti yang dialami oleh bang Mas Tok. Ceritanya, pernah suatu ketika seorang penumpang diberhentikan dalam sebuah perjalanannya. Dalam pemeriksaan, terjadi kesalahan proses ticketing dengan orang itu. Di stasiun berikutnya, penumpang itu diberhentikan. Uniknya, penumpang tersebut ternyata mantan seorang petinggi dalam perusahaan kereta api.

Apa yang ingin dikatakan dalam cerita sang direktur di atas adalah ketegasan aturan. Semacam aturan besi, tidak pilih kasih. Dalam aturan semua penumpang diberlakukan sama. Siapa pun orang itu, aturan tetap mengikatnya. Saya dapat mengerti cerita ini. Sebab sebelumnya, bang Mas Tok pasti sudah memberikan banyak koreksi terhadap kakunya aturan-aturan itu. Jadi, di balik cerita itu tersembunyi sebuah pledoi. Ini juga satu kesan dari sisi lain direktur yang bijak itu. Boleh jadi, direktur seorang pemimpin yang baik.

Sebelumnya, saya pernah membaca sebuah buku berjudul “Modern World Leader: Pope Benedict XVI” (2007), dengan Clifford W. Mills sebagai penulisnya. Kesan tentang pemimpim ada pada introduksinya, yang penulisnya adalah pakar sejarah America Arthur M. Schlesinger, Jr. Schlesinger menulis bahwa “leadership, it may be said, is really what makes the world go round…Leadership is a public transaction with history”. Status dalam strata birokrasi membuat dunia seakan bergradasi. Posisi puncak terasa paling baik dan bijak. Begitulah sejatinya seorang pemimpin. Ia harus membuka pikirannya selebar mungkin dan bersikap bijak melewati petunjuk-petunjuk teknis dalam aturan. Sebab, aturan itu untuk manusia, bukan sebaliknya. Dengan itu, ia menyejarah dalam kehidupan orang lain dan dirinya sendiri.

Lalu, tak ingin berlama-lama dan mengusik “ritus” dalam ruang direktur itu, kami keluar mencari angin segar. Saya dan bang Mas Tok bercerita dan ngretek di satu sisi dekat rel kreta api. Kami bercerita sekilas tentang diri dan kesibukan kami masing-masing. Cerita memang sekilas, tetapi muatannya jelas. Bahwa saya mendapatkan percikan-percikan filosofis kehidupannya. Pandangannya tentang alam dan harmoni sangat luas dan otentik. Saya sangat tertarik dengan semua ceritanya. Sayang, kereta sudah tiba. Bang Mas Tok harus berangkat. Ia pun pulang ke Bandung di malam Djogja yang mendung. Satu pesan yang masih kuingat: “jangan lupa ke Bandung dan mampir ke rumah”.

 

Djogja, Maret 2013

Alfred Tuname

 

9 Comments to "Part II: Siapa Hendak Turun ke Bandung? Bang Mas Tok"

  1. MasTok  19 April, 2013 at 18:45

    dengan susah payah dan ini adalah salah satu prinsip yang nantinya akan membuat satu perubahan paling tidak untuk diri saya pribadi ,Trimakasih Alferd tulisannya juga sahabat Baltyra di penjuru Dunia……. sambil menunggu ada cerita di balik cerita …..

  2. juwandi ahmad  19 April, 2013 at 00:48

    membaca tulisan Alfred tentang mastok, sampai dua bagian. sunguh bikin saya sakit hati ha ha ha..

  3. juwandi ahmad  19 April, 2013 at 00:47

    yang satu berewok, yang satunya lagi pakaianya ra umum, nggak punya KTP lagi. Sungguh layak dicurigai..!!

  4. J C  18 April, 2013 at 21:28

    Membaca part I dan part II aku merasakan dalamnya persaudaraan (bukan “sekedar” persahabatan), banyak hal yang bisa diambil maknanya yang dalam dari 2 artikel Alfred Tuname ini. Banyak sekali makna berbangsa dan bernegara yang sebenarnya dari makna yang tersirat di sini. Betapa masih semrawutnya administrasi kenegaraan negeri kita ini…

  5. Linda Cheang  18 April, 2013 at 17:48

    Aku yang di Bandung nggak pernah ditemui Mas Tok, gi mana. ini??? Nggak bener banget…..

  6. Dj. 813  18 April, 2013 at 15:51

    Bung Alfred T…
    Terimakasih, untuk cerita pengallaman yang sedikit berbelit, karena Bürokratie.
    Pernah terjadi saat kami urus surat jjala pulang ke Jerman 1978.
    Saat itu, kalau Dj. mudik, pulangnya harus urus surat jalan di kantor Imigrasi di Jakarta.
    Memang suasanya yang merepotkan.
    Walau surat koplit, namun sering di persulit, minta ini dan itu.
    Padahal yang diurus hanya passpor Dj. tapi dicari perkara sampai ke paspor anak, menagapa ikut didalam passpor ibu.
    Padahal saat itu si Dewo, baru berumur 2 tahun dan tidak ada urusannya sama sekali dengan passpor Dj.
    Susi saat itu sudah bisa bhs Indonesia dengan baik.
    Dia bertanya, dimana toillette, agar dia bisa ke belekang dulu, karena uruusan begitu lama.
    Mereka tunjukan dimana W.C. dan saat Susi menuju ke W.C. ternyata dia melalui pintu kamar direkturnya.
    Susi langsung ketok pintu dan masuk, entah apa yang dia bicarakan.
    Akhirnya direktornya keluar bersama Susi dan urusan beres, malah Dj. masih ingat, saat direktornya bertanya,
    Apa bahasa Jermannya, sampai jumpa lagi…. Susi jawab… ” auf wiedersehen ”
    Dia tertawa dan mengucapkan kata aufwiedersehen…

    Memang kalauz seorang pemimpin seharusnya lebih bijak dari anak buah yang kadang terdengar sedikit aroganz.

    Salam.

  7. anoew  18 April, 2013 at 09:34

    Banyak hal yang saya kagumi dari seorang Mastok, salah satunya adalah asap rokok yang tak henti-henti ngebul dari bibirnya hingga saya berpikir, itu dadanya kalau di-rontgen mungkin sudah berbentuk asbak saking banyaknya. Selain itu tentu saja pengetahuannya yang luas, kemampuan bicaranya yang bernas dan pemikirannya yang cerdas yang dibungkus dalam kemasan sederhana, tak semua orang bisa memilikinya.

  8. anoew  18 April, 2013 at 09:11

    Kowe saja Wik, nanti aku yang provokasi, ngosak-asik biar ambyar

    @Al, kok nggak semriwingnya tho?

  9. Dewi Aichi  18 April, 2013 at 08:02

    Terharu..Alfred, kisah mengantar teman untuk kembali ke tempatnya sama persis dengan kisah mas Juwandi saat mengantar Anoew di Janti. Mengobrol banyak hingga menjelang dini hari. Kalau Alfred sudah bercerita, kini aku, mungkin kami, menunggu siapa yang akan menceritakan apa saja ketika mas Juwandi dan Anoew di Janti.

    Terima kasih atas ceritanya ..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.