“Dunia Gemerlap” Masyarakat Jawa

Joko Prayitno

 

Baliho iklan besar terpampang di perempatan Manahan, Solo, mengiklankan sebuah pertunjukkan musik dengan DJ terkenal bagi clubber-clubber yang suka bergoyang hingga larut malam. Ya, sebuah kehidupan malam yang ekslusif dalam sebuah kebudayaan kota metropolitan dibalut dengan bahasa modern, “clubber”.

Saya pernah sekali merasakan suasananya ketika berada di Jogjakarta. Ruangan temaram dengan sorot lampu berwarna-warni yang menyilaukan mata. Meja-meja yang penuh dengan minuman beralkohol dan gelak tawa para pengunjung yang begitu riang menikmati suasana. Di tengah-tengah terdapat ruangan berlantai marmer yang cukup luas untuk berdansa dengan hentakan lagu-lagu berdentam hingga ke dada. Cukup banyak juga yang berdansa dengan peluh membasahi baju, tetapi tak terlihat rasa letih di wajah mereka….dunia telah menjadi milik mereka.

penari-tayub-di-jawa-1910

Penari Tayub di Jawa 1910 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Gaya berdansa mereka satu dengan lainnya berbeda-beda, tidak terlihat sama. Mereka mengikuti hentakan irama sesuai dengan keinginan mereka, tak ada yang peduli itu kaku, asal-asalan bahkan ada yang hanya menggoyangkan kepalanya berputar-putar. Setelah satu lagu selesai sebagian ada yang kembali ke meja mereka sambil tertawa lepas seakan-akan telah melepaskan beban yang cukup berat dari kepenatan kehidupan kota. Mereka tidak terlihat lelah, mungkin dan bila benar bahwa isu yang sudah menjadi rahasia umum mengatakan bila tempat clubber berkumpul untuk berpesta merupakan tempat dimana minuman beralkohol dan narkoba mendapatkan tempat eksklusif. Saya ketika itu hanya ingin memesan sebuah air mineral tetapi tidak jadi karena harganya lebih mahal daripada minuman bersoda. Saya bertanya kepada teman saya mengapa minuman mineral yang di luar hanya seharga seribu rupiah di sini harganya 30 kali lipatnya? Temen saya menjawab kalo minuman mineral itu digunakan untuk minum “obat “ bagi para clubber. Rupanya para clubber butuh obat juga untuk meregangkan otot-otot mereka yang lelah.

Di lain pihak pengalaman saya yang lain mengenai dunia gemerlap berlanjut ketika saya melakukan penelitian di Tawangmangu. Penelitian di sebuah desa yang sedang melakukan acara bersih desa untuk menghormati para leluhur mereka. Acara yang begitu meriah dari pagi hingga malam hari. Pagi hari banyak dilaksanakan sebuah ritual-ritual keagamaan yang magis dan malam harinya merupakan acara klangenan masyarakat desa tersebut untuk melepaskan lelah dan bergembira melalui acara tarian Tayub.

Acara tayuban diadakan di balai desa yang cukup luas, masyarakat desa banyak yang berdatangan baik masyarakat setempat maupun masyarakat dari desa lain. Mereka duduk lesehan di tikar jerami, berhimpit-himpitan untuk menjaga kehangatan karena udara pegunungan memang selalu dingin bila malam hari. Ruangan disinari dengan lampu-lampu listrik yang tidak terlalu terang bahkan bisa dikatakan agak temaram. Para penari tayub dan pemain gamelan telah siap untuk menghangatkan suasana dengan irama yang rancak dan tarian yang gemulai terkadang nakal.

Ketika acara dimulai, para penari memulai dengan tarian yang eksotis menurut saya, tidak sembarang menari seperti clubber-clubber di klub malam, gerakan tayuban merupakan gerakan artistik mengikuti irama gamelan. Awalnya hanya penari-penari tayub saja yang menari tetapi setelah beberapa tarian selesai para penari tayub ini mengajak para warga untuk ikut menari dengan melilitkan kain panjang ke leher tamu untuk turun ke arena. Biasanya yang ikut menari adalah laki-laki dewasa, dengan tarian-tarian yang sedikit “nakal” bahkan mengundang gelak tawa para penonton lainnya, menjadikan malam semakin meriah. Biasanya di akhir tarian tamu yang ikut menari akan menyelipkan uang kepada penari tersebut sebagai penghargaan akan rasa bahagia tamu tersebut. Acara berlangsung hingga pagi hari dengan cukup meriah. Rasa lelah dan pegal-pegal yang terasa cukup diusir dengan pijat tradisional dan jamu-jamuan ramuan nenek moyang.

Itulah dunia gemerlap Jawa yang merupakan klangenan masyarakat pendukungnya dengan penuh kesederhanaan. Kegembiraan yang dibalut dengan ritual magis bersih desa sebagai bentuk wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghormatan kepada sesepuh-sesepuh desa. Kehidupan gemerlap malam masyarakat Jawa yang menumbuhkan kebersamaan untuk saling memahami, menghargai, saling mengenal dan tolong menolong.

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2013/04/13/dunia-gemerlap-masyarakat-jawa/

 

10 Comments to "“Dunia Gemerlap” Masyarakat Jawa"

  1. Dewi Aichi  21 April, 2013 at 23:37

    hal apapun yang ada sekarang dalam masyarakat ternyata dulunya sudah ada, hanya beda gaya saja, dan memang semuanya itu akan berkembang..sesuai jaman..

  2. Alvina VB  21 April, 2013 at 05:05

    Kok spt penari ronggeng di Betawi ya??? Kl di Betawi itu, pengaruh budaya Tionghoa…

  3. Dj. 813  19 April, 2013 at 21:56

    Bu GuCan….
    “s” nnya ceblok…???
    Barusan Dj. salah baca, Dj. beca cebok…. hahahahahahaha….!!!

    Dimas J.C.
    Itu tqhun 1983 saat kami liburan ke Istambul.
    Saat itu Dj. belaga blo´on, kan ada Susi tuh diamping Dj.
    Taunya malah Susi yang bilang, masukan dalam kutang….
    Hahahahahahaha….. lha istri yang surug, langsung siaaaap…!!! Dikerjakan…

  4. J C  19 April, 2013 at 21:06

    Lho, lho, lho, komentar nomer 5 dengan fotonya, bisa bikin Kang Anoew semrinthil ke sana…

    Ternyata dugem dalam berbagai bentuknya baik dulu ataupun sekarang sudah ada dan tetap ada untuk penyeimbang kehidupan keseharian masyarakat di mana saja…

  5. probo  19 April, 2013 at 20:22

    pak DJ, ‘s’nya ceblok…..mau saya nulis kostum pak Dj…

  6. Dj. 813  19 April, 2013 at 20:14

    Mas Anoew…
    Tahun 1983, Dj. dab Susi lihat tari perut di Istambul.
    Bisa diselipkan dimana saja…

  7. Dj. 813  19 April, 2013 at 20:07

    probo Says:
    April 19th, 2013 at 19:45

    kalau dilihat dari kotumnya…kayaknya ronggeng ya……

    ala-ala betawi….
    ————————————————————–

    Bu GuCan…
    §Kotum” itu apa tho…???
    Maaf Dj. belum pernah dengar….

    Terimakaksih mas Joko P.

  8. probo  19 April, 2013 at 19:45

    kalau dilihat dari kotumnya…kayaknya ronggeng ya……

    ala-ala betawi….

  9. anoew  19 April, 2013 at 18:31

    Biasanya di akhir tarian tamu yang ikut menari akan menyelipkan uang kepada penari tersebut

    ini kurang detail ah.., musti dijelaskan diselipkan ke mana atau di bagian mana selipan itu menyelip dan terselip.

  10. Handoko Widagdo  19 April, 2013 at 10:49

    Tayub = ora tumata ananging guyup (tidak terlalu teratur tapi merakyat). Dalam bukunya, Ben Suharto menggambarkan bahwa tayub adalah bentuk pemberontakan budaya rakyat dari monopoli tari oleh keraton.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)