Kisah Isma dan Langit Biru (3)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Dan sejak Langit Biru makan di rumahku tiba-tiba saja semua cewek sekelas rajin ngoceh betapa mereka hobinya masak. Asli tiap hari bagai di Pasar Burung, berisik oleh kicauan tentang masakan.

Itu ternyata belum seberapa, dari kelas lain pun heboh soal masak memasak dan Langit Biru tentunya yang menjadi calon tamu istimewa. Apa karena wajah si Langit agak Korea-Korea gitu yaa? Kan emang demam Korea kan begitu cetar membahana! Kalo aku sih lebih seneng gaya Jepang. Aku suka bayangin pakai kostum Sailormoon deh, tapi kata Puput nggak ada Sailormoon bertinggi 152 cm dengan bobot 77 Kg, asli si Puput matahin semangatku aja deh!

Langit menerima semua ajakan makan bersama. Tiap hari dia wisata kuliner dari satu rumah ke rumah lain. Dan dia tidak lagi ramah kepadaku. Hatiku sakit diperlakukan seperti ini, sakiiiiit banget sampe rasanya harus masuk IGD.

Rata-rata cewek cewek kelas 3 seolah tergila-gila Langit Biru, semua demam Langit Biru, sedang aku demam, nyeri, pusing, batuk dan pilek (Lha itu kan sakit flu?).

Aku berhasil lagi nyuri start, aku curhat ke Puput. “Put …. Aku rasanya pengen makan orang deh! “.

Puput yang lagi asyik nyontek PR kaget “Hah?? Emang kamu laper banged Ma? Sampe mau makan orang? Pliiis izinkan aku hidup lebih lama”, Rengek Puput yang lama-lama suaranya mirip Julia Perez yang menyek-menyek gak jelas.

“Put jangan bego di saat aku sedih donk, aku tuh dicuekin si Langit. Setelah dia berhasil membuatku jatuh cinta dia pun berlalu bagai tukang ojek abis dapet bayaran”, Ujarku sendu.

Puput memandangku dengan aneh sambil memicingkan mata, seolah aku tiba-tiba selangsing Sandra Dewi,”Ma! Maksudmu membuat kamu jatuh cinta yang gimana? Kamu lah yang terus aja membodohi dirimu sendiri, kamu yang membuat dirimu sendiri yakin bahwa Langit cinta kamu, aku dari awal lihat si Langit sama semua cewek asoy geboy. Ayolah bangun! “.

Karena Puput menyuruh bangun, aku pun berdiri, lalu bicara, “Hatiku sakit Put, dia ternyata deket sama semua cewek, aku pikir dia pangeran yang berhasil menyelamatkanku dari siksaan rasa sepi”, Ujarku sambil menengok ke arah kiri dengan gerakan lambat meniru adegan drama.

Puput menarik tanganku agar kembali duduk, “Ma maksud aku bangun, bukan dari kursi tapi dari khayalanmu! Kamu ngapain sih sampe segitunya sama si Langit! Kamu tidak bisa kehilangan sesuatu yang bukan milikmu, Kamu tidak bisa menyimpan sesuatu yang bukan milikmu, Kamu gak bisa mempertahankan sesuatu yang tak ingin ada di dekatmu”.

Aku langsung mewek, kata-kata Puput daleeeemmmm banged. Kenapa sih aku susah mendapatkan perhatian? Apapun yang aku lakukan salah. Aku harus berkorban banyak hanya untuk dekat dengan seseorang.

Puput memegang pundakku, “Ma, aku tahu kamu sudah usaha, tapi kamu juga harus sadar bahwa yang kamu anggap bernilai bisa jadi tak memiliki nilai apa-apa. Apapun kan ada aku? “.

Aku terharu, sungguh Puput ini jelmaan malaikat berkulit gelap eksotis, ku peluk Puput sambil aku mengeluarkan ingus di lengan bajunya, “SROOOTTTTTT”.

*****

Di lapangan basket kulihat Langit sibuk bermain, bajunya dilepas …. Ih ternyata dia banyak panunya. Tapi entahlah sulit bagiku menepis bayangan kasih, aku masih saja terus berharap. Hingga aku sadari Septi genit berdiri di sampingku sambil mencet-mencet idungnya sendiri “Heh kamu lagi deket sama cowok kurus yaa? “.

Aku tahu si Septi menyindir, “Iya emang kenapa? ?”, Aku menjawab dengan suara serak-serak becek karena lagi batuk berdahak.

“Lho Mbak kan gendut? Kaya angka sepuluh donk”, Sahut Septi dengan nada keji disertai suara cekikik mirip Mbak Kunti.

Aku menatapnya sesaat lalu menjawab, “disebut 10 karena ada angka 1 dan 0, mereka saling melengkapi”, Dalam hati aku geram, kurang ajar nih aku dipanggil Mbak, kesannya aku udah gak sepantaran tu anak ….

Septi terdiam lalu pergi. Aku barusan bisa bicara seperti itu, namun hatiku menjerit auooooo. Sungguh aku makin krisis PD, mentang mentang Septi langsing dan aku kaya gangsing bukan berarti dia bisa seenak udel bodong ngehina aku.

*****

Aku duduk di sofa dengan rambut acak-acakan, hatiku sangat kacau. Aku sibuk memeluk erat stoples ukuran besar. Di dalamnya berisi keripik singkong, dua botol air es aku sudah aku tenggak, aku berharap mabuk dan lupa akan segala hal tentang Langit Biru, “Aku galau, aku butiran debu tanpamu Langit Biru”, Pekikku dalam stoples eh dalam hati.

toples

Lalu Ibu masuk dari arah dapur, wajah Ibu nampak heran melihatku acak-acakan seolah habis tawuran dengan serombongan topeng monyet. “Nak? Kamu kenapa? Kok kamu berusaha memasukan kepala ke dalam stoples? Tuh rambut kamu kaya kemoceng”

Aku kaget tiba-tiba ada Ibu berdiri di hadapanku, ku peluk pinggang Ibu, aku menangis, “Bu kenapa sih Isma selalu jadi bahan ejekan, kenapa sih tubuhku nggak bisa selangsing Mbak Yayan?”

Ibu menarik nafas, diusapnya kepalaku dengan penuh kasih, “anakku sayang, mungkin saja mereka bercanda, dan bisa jadi kamulah yang membuat mereka ingin mengejekmu, mau tau kenapa? Karena kamu sendiri selalu merendahkan dirimu. Kamu ingin bisa berubah? Maka lakukan perubahan. Kalau ingin sexi seperti Mbak Yan maka berlatih keras nak. Jangan biarkan orang nge-bully kamu.”

Aku diam lalu mencoba menggonggong makin lama makin nyaring, “Guk! Guk! Guuk! “.

Ibu tersentak kaget dan melompat lima langkah menjauhiku, “Nak? !! Kenapa kamu menggonggong? Jangan bikin Ibu takut ahh!!”, Ujar Ibu gusar.

Aku cemberut, lalu menjawab, “Lho tadi kan Ibu yang bilang bully?? Mangkanya aku menggonggong, itukan nama anjing di lagu anak-anak”.

“Masyaallah Isma! !! Itu Helly bukan bully! !! Ckckckckck dasar bocah koplak”, Ibu makin gusar dan berlalu meninggalkan aku bersama stopless besar isi keripik singkong.

******

Mbak Yayan terduduk dengan tubuh bersimbah keringat. Dia bicara dengan kesal, “Isma! Mbak nggak habis pikir deh, ini cuma gerakan awal …. Cuma berputar doang masa’ gak tau sih? Mbak hampir 2 jam kasih contoh masa’ kamu masih nggak paham juga? ? Kalau yang gampang cuma muter aja nggak paham-paham gimana untuk lanjutannya?

Aku yang santai duduk di sudut studio hanya diam membisu. Aku nggak bisa konsen gara-gara di sudut lain studio ada cowok mirip Langit Biru, bedanya badannya kekar. Aku bayangin dia lagi menggendongku sambil bernyanyi Nina Bobok …. (Sumpah fantasi hina dan nggak penting plus buang-buang waktu.

*****

Aku berjalan dengan gontai menuju ke kelasku yang tepat berada di sebelah toilet, serombongan anak kelas tiga ku lihat asyik berdiri di depan mading sambil berbicara dengan berisik. Aku ikut ikutan penasaran. Setelah aku injak kaki beberapa orang, aku kini tepat di depan poster besar yang terpasang dimading. Ternyata pengumuman acara perpisahan yang disebut prom night. Semua anak kelas tiga wajib hadir dan memakai kostum.

Dalam hati lagi-lagi aku berkhayal lagi memakai kostum Sailormoon. Wah aku harus aerobik dengan tenaga kuda, tapi apa mungkin dalam waktu dua bulan aku bisa sexi seperti Mbak Yan?

******

Siang itu kelasku lebih mirip laundry kiloan, kaos olah raga bau ketek ada di mana-mana, trus ada juga celana olah raga yang berserakan. Pemiliknya rata-rata lagi mejeng dikantin. Di kelas hanya ada Langit dan Septi.

Saat aku masuk kelas, ku lihat Septi tergeletak di lantai dengan nafas Senin Kamis. Langit sedang membelakangi kami, sibuk nyisir bulu ketek. Aku pun langsung teringat berita tentang serangan jantung, wah biar Septi jahat dan layak mati namun aku harus tetap mencoba menyelamatkan dia.

Aku langsung membayangkan diriku adalah Pamela Anderson di film Bay watch yang sigap memberi pertolongan pertama, kuraih kaos basah bau ketek dari meja Aguan, lalu kududuki perut Septi dan kuusap wajahnya dengan kaos Aguan.

Tidak sampe 5 detik Septi berteriak histeris sambil meronta. Aku langsung sujud syukur berhasil menyelamatkan nyawa Septi yang genit. Anehnya Septi malah nyumpah serapah, dan aku ingin kabur sejauh 100 km, ternyata Septi tadi pura-pura sakit berharap Langit datang dan berusaha menolong dia.

Sangat tak dikira aku yang datang untuk menolong, meneketehe? Aku kan niat baik. Septi muntah-muntah di toilet lantaran tadi aku jejali kaos olah raga si Aguan yang emang dasyat banget bau keteknya. Sementara Langit masih tetap di posisinya, tak bergeming. Apa iya dia mendadak budeg??? Tentu tidak! !!! Dia ternyata asyik dangdutan pake earphone dengan volume yang cetar membahana.

 

7 Comments to "Kisah Isma dan Langit Biru (3)"

  1. Dewi Aichi  22 April, 2013 at 00:26

    Ibu tersentak kaget dan melompat lima langkah menjauhiku, “Nak? !! Kenapa kamu menggonggong? Jangan bikin Ibu takut ahh!!”, Ujar Ibu gusar.

    ha ha ha ha ha….ampunnnn si pentulis memang keren abis..

  2. Dewi Aichi  21 April, 2013 at 23:49

    ha ha ha ha ha..ngakak ngguling-ngguling..si Isma pengen makan orang ha ha….

  3. probo  20 April, 2013 at 09:04

    hahahahaha…kapok Septi hahaha….

  4. Matahari  20 April, 2013 at 03:04

    Ha ha ha ha..ha ha ha….

  5. Dj. 813  20 April, 2013 at 00:29

    Hahahahahahahaha….
    Akhir cerita malah bikin ngakak….
    Terimakasih bung Anief Andara, Dj. sudah dihibur.
    Salam,

  6. J C  19 April, 2013 at 21:05

    Waduuuuhhhh…untung gak modiar si Septi…

  7. James  19 April, 2013 at 12:39

    SATOE, Langit Biru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.