Sipil (yang) Militer

Awettua

 

Sejak lama sekali kita ini di”racun”i dengan kepahlawanan siapa saja yang tampak membawa senjata. Anda semua pasti telah mendengar kisah Empu Gandring dengan Ken Arok, atau Gajahmada atau KuBilai Khan. Itu semua bersenjata tajam, kemudian Flash Gordon dan Hopalong Cassidy atau Wyatt Earp serta Audy Murphy perang di Korea, memakai mesiu atau elektronik semua menjadi dipercaya dan hebat seperti pahlawan.

Aku memang tidak dari keluarga militer atau Angkatan Bersenjata lainnya. Aku selalu disangka seorang pensiunan bekas anggota Angkatan (maksudnya tentara). Jawabku selalu konstan saja: Iya aku memang anggota ATBRI, dengan T yang singkatan dari TIDAK. Ini karena aku sejak lebih dari sepuluh tahun terakhir telah tidak mau membunuh apapun yang kugolongkan sebagai makhluk. Aku bukan vegetarian atau tidak memakan sayur.

Soal ini aku normal-normal saja. Aku ini hanya tidak mengonsumsi daging binatang hasil berburu, hanya hasil ternak. Sayuran juga hasil petani. Menebang pohon saja hatiku sedih. Aku juga tidak membunuh hewan apapun, termasuk nyamuk, kecoa dan tikus serta “wabah” menurut khalayak ramai. Keberagaman makhluk aku hargai dengan tinggi sekali. Itulah sebabnya aku menghindari menyentuh senjata. Memiliki senjata KEJUT LISTRIK yang bisa membuat siapapun lemas tak berdaya, aku nemilikinya dua kali. Satu kubeli di Los Angeles dan satu lagi aku beli di dalam negeri. Ketika keduanya sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi, menjadi bangkai, aku biarkan saja. Tidak aku reparasi atau aku beli yang baru. Sudahlah cukup sekian saja.

Tidak usah menyakiti siapapun, tidak usah membunuh apapun.

Ujung-ujungnya aku tidak menyukai senjata dan merembet kepada siapa saja yang hidupnya merasa memerlukan senjata. Titik habis.

Lihatlah percakapan surel (surat elektronik)ku dengan seorang teman, di bawah ini.

 

Re.: Mahfud MD Masuk Bursa Calon Kapolri

Lho? Emang orang sipil bisa jadi KaPolRI???

http://www.tempo.co/read/news/2013/04/14/063473334/Mahfud-MD-Masuk-Bursa-Calon-Kapolri

 

Minggu, 14 April 2013 | 19:34 WIB

Mahfud MD Masuk Bursa Calon Kapolri

Ah, anda ini kurang cermat. Jabatan Kapolri, Menteri Pertahanan, Badan Intelijen Negara itu seharusnya memang jabatan orang sipil, bukan militeris atau sipilis.

RI di bawah Suharto malah aneh sekali. Jabatan menteri, gubernur sampai.camat, sebagian buuesarrr: militer. Akhirnya Kepala Rumah Sakit yang seharusnya bukan dokter, malah harus dokter, tertular gaya-gaya serdadu.

Lihatlah bagaimana gaya serdadu ini melompat dan masuk ke Kepolisian, ke Akademisi, ke Duta Besar. Semua model militer. Betapa janggal melihat orang baik seperti pak Jokowi itu “terpaksa” berpakaian, sesuai dengan protokol, gaya serdadu jua. Kasihan, kan?

Kalau perlu kita melakukan protes demiliterisasi bangsa Indonesia baik mindset mapun kebiasaan sok-sok menyuruh-nyuruh orang sipil berseragam, ayoh aku ikut. Kan semua manusia itu beragam, belum pernah seragam?? Saya mau kok ikut protessss kerasssss. Berdemo secara damai juga mau. Maksud protes utamanya adalah pencegahan manusia penghamburan secara boros di APBN. Dengan demikian maka akan bisa menumpas habis peng-kultus-an individu yang siapapun, maupun instansi yang setinggi apapun jua.

Anwari Doel Arnowo – 2013/04/15

 

Begitulah isi hatiku yang terpendam dalam selama ini, aku muntahkan ke dalam bentuk tulisan.

Suatu saat kemenakanku yang rumahnya di Palangkaraya belajar di sebuah Akademi yang mendalami soal perikanan di kota Jakarta. Ini aku duga karena ibunya yang adalah ipar saya bekerja di sebuah Kantor Wilayah dari Departemen yang mengurusi soal ikan. Okay, kata hati saya, baguslah, karena memang perlu sekali bagi Negara Indonesia. Dia beberapa kali mampir ke rumahku di Tebet, Jakarta. Suatu saat dia kutanya dengan serius, jadi apa nanti kalau sudah lulus? Tanpa kuduga, dia jawab: Jadi Nahkoda. Ini tentu aku salah dengar atau dia salah ucap. Kamu diajari konstruksi kapal ikan secara acak, secara rinci atau diajari ilmu pelayaran kapal penangkap ikan? Serentetan pertanyaanku itu semuanya dijawab tidak. Terkejut aku terheran-heran. Belajar apa anak ini?

opspek

Menyangkut kegiatan yang ada unsur kemiliteran, dia amat bersemangat bercerita soal hormat menghormat, soal disiplin absen sejak bangun sampai mau tidur. Di sana sini dia menambahkan unsur menempeleng yang dilakukan seniornya kepada junior. Aku secara berterus terang mengatakan kepadanya aku takut mendengarkan ceritanya itu. Kabar berita yang kudapat mengenai dia sekarang, telah lulus dan kembali ke kota asalnya di Kalimantan Tengah. Tak taulah aku apa yang digelutinya sekarang, bekerja sebagai apa. Yang tidak aku lupakan adalah apa hubungannya Akademi Perikanan dengan kegiatan militer? Demikian halnya di Akademi Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri dan lain-lain Akdemi serta lain-lain Perguruan Tinggi.

Aku sendiri juga pernah menjadi pengajar Ilmu Bangunan kapal di sebuah Akademi Maritim. Pelajaran Kemiliteran juga ada, dan aku diperlakukan oleh para mahasiswanya sebagai seorang perwira, meski aku berpakaian sipil dan memang aku merasa selalu sebagai orang sipil.

Sebagai seorang “perwira” aku diberi hormat salut militer lengkap dengan suara teriakan keras yang menggelegar: Hormaatt!! Aku sendiri terkejut hampir tunggang langgang karena tempat kejadiannya di mana saja, termasuk di dalam sebuah toko buku yang sepi pengunjung.

Marilah secepatnya kita hentikan semua kepura-puraan seperti gagah perwira, kehebatan berkelahi dan bertempur yang tidak ada gunanya. Aku ulangi tidak ada gunanya. Mahatma Gandhi saja yang anti kekerasan, akhirnya mati karena kekerasan juga. Jenderal-jenderal di dalam peristiwa G-30-S juga tewas percuma. Semua kewibawaan yang dicapai itupun, kan bukan bisa turun dari langit, apalagi dari akhirat. Renggutkan segala macam wibawa, termasuk yang semu sekalipun, dengan bertukar prestasi nyata sesuai bidangnya. Janganlah pernah berkeinginan berprestasi di jabatan di lingkungan Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri menggunakan baju loreng dan membawa “anak buah” dari Angkatan asalnya, hanya untuk menakuti para professional yang telah menggeluti bidangnya selama bertahun-tahun.

Kalau jadi camat, bupati, gubernur, menteri bahkan presiden sekalipun, lepaskan diri dari segala ikatan militernya. Nanti kalau jabatan sipil usai dan selesai waktunya, apabila masih sesuai kualifikasinya, boleh saja kembali ke kesatuannya.

Se-sederhana itulah menjalankan hidup.

 

AWETTUA – 2013/04/15

 

5 Comments to "Sipil (yang) Militer"

  1. Dewi Aichi  21 April, 2013 at 23:35

    Pak Anwari wakakakkakaa..tumben ikut-ikutan absen di artikel sendiri..nomer satu dapat gelas cantik ha ha..

    Artikelnya mantap…yang paragraf ini bikin aku ketawa “Sebagai seorang “perwira” aku diberi hormat salut militer lengkap dengan suara teriakan keras yang menggelegar: Hormaatt!! Aku sendiri terkejut hampir tunggang langgang karena tempat kejadiannya di mana saja, termasuk di dalam sebuah toko buku yang sepi pengunjung”

  2. Swan Liong Be  20 April, 2013 at 16:09

    Membaca posting ini saya teringat akan suatu “kosakata” tentang “serdadu”; begini bunyinya:
    gadis kecil kesukaannya main dengan boneka, laki kecil senang main dengan serdadu (yang dimaksud serdadu dari timah) ; gadis ramaja/dewasa senang main dengan serdadu, laki besar/dewasa senang main dengan boneka.

  3. J C  19 April, 2013 at 21:08

    Pak Anwari selalu tepat membidik fenomena-fenomena “aneh” seperti ini. Benar sekali buanyak sekali di keseharian kita bergaya SOK MILITER, terutama yang masih banyak adalah opspek, walaupun intensitas dan kesadisannya jauh berkurang dari tahun ke tahun, tapi yaaaa begitulah…masih mengambil model militer wagu begitu…

  4. Dj. 813  19 April, 2013 at 20:04

    Hahahahahahaha…
    Nr. 2 juga Dj. sendiri….

  5. Anwari Doel Arnowo  19 April, 2013 at 11:16

    Mengacu kebiasaan model baru : Nomor satoe saya sendiri

    Awettua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.