Tiga Sahabat (6): Anak Siapa?

Wesiati Setyaningsih

 

Pagi ini jam pelajaran Biologi. Tiga sahabat, Anung, Aji dan Juwandi,  bersama teman sekelasnya keluar dari kelas menuju laboratorium Biologi untuk melaksanakan praktikum.

“Gimana kabar papa kamu, Ji?” tanya Anung saat mereka berjalan melintas lapangan upacara menuju lab Biologi.

“Baik. Makasih ya. Papa sudah sembuh berkat ibu pemijat yang cantik itu. “

“Wah, syukurlah. Ikut senang dengernya. Berarti sudah nggak ada masalah lagi..”

“Urusan papa memang iya, tapi aku jadi punya masalah sama Iyem. Dia masih ngambek sampai sekarang. Diemin aku.”

“Appaahh?? Alamat kita nggak dibikinin minum dong kalo ke rumahmu.”

“Lebay kamu. Biasa aja kali. Tetap dibikinin lah. cuma jangan harap dia nawar-nawarin sambil senyum manis kaya biasanya. Yah, meski dia tidak terlalu manis juga sih, “Aji menghela nafas, ”Tapi tetap aja lebih baik melihat senyumnya daripada mukanya akhir-akhir ini. Ga ada senyumnya sama sekali kalo sama aku.”

Anung ikut menghela nafas, “Nggak enak kalo lagi ada yang marah gitu di rumah.”

Aji mengangguk setuju.

“Memang kenapa Iyem marah?” tanya Anung penasaran.

“Ya..gimana ya. Iyem tu kan punya buku harian gitu..”

“Hah? Buku harian?” Anung keheranan.

Aji tidak sempat menjawab karena mereka sudah sampai di lab Biologi. Bu Dewi sudah menunggu di lab dan menyiapkan peralatan di tiap meja depan. Guru cantik yang lembut dan seksi itu guru favorit Aji. Buat Aji, bu Dewi itu segalanya. Caranya menerangkan yang sangat jelas, sabar, mau menjelaskan bagi yang belum paham sampai paham benar, tampak dia guru yang cerdas. Penampilannya bak peragawati, dengan rok selutut yang menampakkan betisnya yang langsing kencang dan mulus. Kakinya selalu dihiasi high heels, serasi dengan baju-bajunya yang selalu model terkini.

Anung sudah hapal dengan perangai sahabatnya yang pasti melongo menatap bu Dewi saat guru itu menerangkan jadi dia tidak bertanya-tanya lagi tentang Iyem. Saat ini bu Dewi sedang menerangkan tentang golongan darah dan kemungkinan-kemungkinan golongan darah yang diturunkan oleh kedua orang tua. Kemudian dia mulai menjelaskan prosedur yang harus dilakukan murid-muridnya untuk mengetahui golongan darah masing-masing dalam praktikum yang akan dilakukan hari itu.

“Oke, jadi sekarang bikin kelompok ya, satu kelompok empat orang. Nanti hasilnya dicatat dan dibuat laporan praktikumnya!” teriak bu Dewi di depan lab.

Aji dan Anung segera mencari-cari Juwandi yang ternyata sedang asyik ngobrol dengan Tia.

“Heran, anak itu kecanduan teman sebelah,” Anung menggerutu.

“Biarin aja. Memangnya cuma kamu yang bisa kecanduan perempuan?” Aji membela.

Dilambaikannya tangannya pada Juwandi. Juwandi dan Tia mendekat. Mereka berempat bergabung menjadi satu kelompok dan mulai mereka-reka apa yang harus dilakukan lebih dulu.

“Siapa nih yang mau diambil darahnya duluan?” tanya Anung.

“Aku deh,” kata Tia mengajukan diri.

Anung menatap kagum dengan keberanian perempuan ini. Dia bersiap-siap akan menusuk ujung jari kelingking Tia ketika Juwandi kemudian mengambil alih.

“Aku saja,” kata Juwandi bak pahlawan yang sedang menyelamatkan sang putri.

Anung tersenyum masam, tahu diri. Dia serahkan jarum kecil yang sudah dioles alkohol ujungnya pada Juwandi. Dengan gaya elegan Juwandi mengoleskan kapas yang basah oleh alkohol ke ujung jari Tia. Lalu dengan lemah lembut dia tusuk ujung kelingking Tia. Tia mengamati ujung kelingkingnya yang ditusuk jarum oleh Juwandi tanpa rasa ngeri sedikitpun. Kemudian Juwandi memencet kelingking Tia hingga keluar darah dan meneteskannya ke dua ujung di kaca obyek yang sudah diberi serum anti-A dan serum anti-B. Berempat mereka mengamati apa yang terjadi dengan darah Tia yang dicampur dengan anti serum menggunakan tusuk gigi.

golongan-darah

“Darah kamu A,” kata Juwandi kemudian.

“Tau dari mana?” tanya Anung.

“Aduh! Kan sudah dijelasin tadi. Gimana sih?” kata Aji kesal.

“Lupa,” jawab Anung asal.

“Lupa apa lupa? Lihat nih. Kalo dicampur dengan serum anti-A dia menggumpal, sementara dicampur dengan serum anti B tidak, berarti darahnya A. Gitu… Paham?” kata Aji menjelaskan.

Anung mengangguk paham.

“Gantian aku, “ kata Juwandi mengulurkan jari manisnya pada Tia.

Tia tersenyum dan melakukan hal yang sama pada Juwandi. Anung menggeleng sebal melihat tingkah kedua temannya.

“Golongan darah Juwandi apa ni coba?” tanya Aji pada Anung.

Anung berpikir sebentar, lalu katanya, “ O, soalnya menggumpal semua.”

“Bagus,” kata Aji, “sekarang aku nih.”

Aji mengulurkan tangannya pada Juwandi. Juwandi kembali melakukan hal yang sama pada Aji.

“Hm.. Golongan darah kamu A juga,” gumam Juwandi.

“Sudah, kamu Nung,” kata Tia.

“Hah? Apa? Enggak ah…” Anung mengelak.

“Kok enggak gimana sih? Kan kita disuruh catat golongan darah kita semua. Nanti ditulis di laporan. Kok nggak mau. Payah nih anak,” Tia menggerutu.

Juwandi menatap temannya dengan tatapan curiga, “Kamu takut jarum ya?”

Anung kelincutan, “Apa? Enggak, kok!”

“Coba sini jarinya, kalo enggak,” tantang Juwandi.

Dengan terpaksa Anung menyerahkan jari kelingkingnya. Dia palingkan muka ke samping karena tidak ingin melihat bagaimana jarum yang dibawa Juwandi menusuk ujung jarinya. Tia terkikik geli. Aji mengacak-acak rambutnya. Anung mengelak dengan kesal. Tepat pada saat jarum mengenai jarinya, Anung berteriak keras, “Aaaaaaa!!!”

Semua anak menghentikan apa yang mereka lakukan saat itu dan menatap Anung.

“Ada apa itu?” bu Dewi bertanya.

“Anung takut disuntik, bu,” teriak Juwandi.

Seluruh kelas tertawa.

“Juwandi!” Anung melotot. “Ayo dicek, golongan darahku apa…”

“Golongan darah kamu O, Nung,” kata Tia dan Aji hampir bersamaan.

“O?” kata Anung heran.

“Kenapa memang?” tanya Aji.

Anung masih menatap kaca obyek dengan tak percaya. Bagian yang dicampur dengan serum anti-A dan anti-B keduanya menggumpal.

“Ada apa sih?” tanya Aji penasaran.

Juwandi dan Tia jadi ikut bertanya-tanya. Tapi Anung tak mau menjawab, malah mengalihkan perhatian.

“Ayo dibikin laporannya,” kata Anung.

Keluar dari lab Biologi menuju kelas lagi, Aji masih mengamati perubahan pada temannya. Juwandi berjalan bersama Tia dan tidak lagi memperhatikan apa yang terjadi pada Anung.

“Kamu kenapa sih?” tanya Aji.

Anung menatap Aji, “Kenapa memangnya? Aku nggak papa kok. Eh, Iyem kenapa tadi? Nulis buku harian, katamu? Terus dia marah kenapa?”

“Aku sempat ngintip apa yang dia tulis.”

“Wah. Kamu kelewatan, sih. Pantas dia marah. Eh, apa yang dia tulis? Curhatannya tentang tukang sayur yang sering lewat? Atau tukang ojek yang suka nganter dia ke mana-mana itu?”

Aji menggeleng keras, “Bukan! Sama sekali bukan! Dia nulis cerpen. Dan lagi cerpennya itu bagus banget menurutku. Tentang orang-orang desa gitu. Keren deh.”

Anung termenung.

“Mikir apa kamu?” Aji menyenggol temannya.

“Aku lagi mikir, gimana kalo kita bikinkan blog buat Iyem. Nama blognya, blog Iyem. Keren nggak tuh?”

Aji semringah. Senyumnya lebar.

“Keren banget deh. Tumben ide kamu keren. Tapi aku nggak bisa bikin blog. Bisa sih, tapi dikit-dikit. Nggak ahli banget.”

“Ah, itu sih gampang. Serahkan pada ahlinya!”

“Kamu? Memang kamu bisa bikin blog?”

Anung menggeleng. “Juwandi!“

“Sialan, kirain kamu. Oke deh. Nanti kita bahas sama Iyem. Kamu aja yang ngomong pelan-pelan sama Iyem. Kamu kan pinter ngerayu.”

“Jangan aku. Aku ada yang mesti aku urus. Kamu aja bicara bertiga sama Iyem dan Juwandi.  Pasti berhasil, deh. Iyem tinggal nyetor tulisan sama Juwandi, nanti biar dia yang posting ke blog. Kalo perlu sekalian Juwandi yang ngeditin tulisan Iyem. Dia pinter nulis kok. Pasti bisa kasi saran ini itu. Gimana?”

Mereka sudah sampai depan kelas. Aji berpikir sejenak, lalu mengangguk.

“Oke lah. Nanti aku bahas sama Juwandi. Atau bilang pelan-pelan sama Iyem dulu. Moga aja dia setuju. Sayang banget kalo tulisan dia disimpan aja. Kali nanti banyak penggemarnya.”

Anung mengangguk mengiyakan.

***

Iyem di dapur ketika Aji dan Sekar makan siang. Entah sibuk atau menyibukkan diri, yang jelas dia ada di dapur. Aji makan sambil sesekali melirik ke arah dapur mengamati apakah Iyem sedang sibuk. Selesai makan dia sengaja membawa piring Sekar untuk dibawa ke belakang. Sekar sampai melongo melihat kakaknya mau mencucikan piring bekas makannya. Biasanya dia meninggalkan piringnya sendiri begitu saja sambil berpesan, “Nitip cuciin ya.”

Tapi kali ini dia mengambil piringnya, juga piring-piring kotor yang lain bekas lauk yang sudah habis untuk dibawa ke belakang. Sekar hanya mengamati kakaknya yang berjalan ke arah dapur dan menunggu apakah kakaknya hanya membawa saja ke tempat cuci piring atau benar-benar mencucinya. Ternyata tak lama terdengar suara denting piring ditumpuk dan dicuci. Aji belum beranjak dari dapur, berarti Aji yang mencuci piring. Sekar mengangkat bahu lalu pergi ke kamarnya.

Iyem yang melihat Aji mencuci piring melirik sekilas, lalu beranjak pergi.

“Yem.. Yem… ” Aji berusaha menahan Iyem untuk tidak pergi dulu.

Iyem berhenti dan menoleh tapi tidak bicara sepatah katapun.

“Yem..” Aji menatap Iyem, “Masih marah sama aku?”

Iyem cuma mengangkat bahu.

“Yem, aku kan sudah minta maaf,” Aji merajuk.

Iyem menunduk sambil menghela nafas, “Saya masih sakit hati. Karena saya cuma pembantu, mas Aji mengabaikan perasaan saya. Saya kan butuh punya rahasia juga. Nggak cuma mas Aji dan mbak Sekar aja.”

“Iya, aku minta maaf. BENAR-BENAR minta maaf. Tapi dengar dulu. Tunggu, aku selesaikan cuci piring dulu. Aku mau bicara.”

Iyem menunggu di dekat Aji dengan patuh. Ketika Aji selesai dengan pekerjaannya, dia mulai bicara dengan Iyem mengenai ide membuat blog untuk Iyem. Agak susah payah menerangkan apa itu blog pada Iyem yang tidak tahu apa-apa tentang internet. Lebih susah lagi meyakinkan Iyem bahwa tulisannya itu bagus. Aji harus bicara pelan-pelan dan hati-hati agar Iyem mau menunjukkan tulisannya.

“Tulisan kamu itu bagus, Yem. Kamu harus percaya diri untuk membiarkan orang lain membaca tulisanmu. Kalau kamu merasa tidak percaya diri, Juwandi bisa membantu. Tenang aja, dia jagonya dalam hal nulis. Tulisannya sudah sering dimuat di majalah Bobo. Kamu bisa belajar menulis cerita yang baik dari dia.”

Iyem hanya menatap Aji sambil menangkup pipinya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya tampak ketakutan.

“Pikirkan dulu deh. Yang jelas ada Juwandi yang bisa bantu. Termasuk bikin blog itu, sampai mengetikkan tulisanmu biar tampil di blog. Pokok terima jadi, deh. Oke?”

Iyem masih diam saja.

“Sudah pikirkan dulu,” kata Aji akhirnya, karena putus asa.

Aji beranjak dari tempat duduknya.

“Mas Aji,” Iyem memanggil Aji, “Itu sudah dibicarakan dengan mas Juwandi?”

Aji menepuk dahinya, “Aduh! Lupa… Besok deh. Pasti dia mau.”

“Haduh. Lha wong ya belum bilang sama mas Juwandi gitu kok. Bisa-bisanya meyakinkan saya kalo mas Juwandi pasti mau bantu.”

“Eh, tenang aja. Juwandi kan baik hati. Pasti mau deh. Aku belum sempat bilang sama dia. Agak susah ketemu dia di sekolah. Lagi deket sama anak baru dia. Yang penting Iyem setuju dulu. Gimana?”

Iyem berpikir sebentar sebelum menjawab, “Iya deh. Ikut aja.”

“Nah!” seru Aji gembira.

Tiba-tiba terdengar hapenya berbunyi. Aji berlari mencari hapenya dan segera membuka. Ternyata pak Iwan, ayah Anung, menanyakan apakah Anung bersamanya. Suaranya terdengar bingung.

“Enggak tuh, Om. Kenapa memangnya? Anung belum pulang? Lagi main sama teman lain kali..”

“Memangnya dia ada teman main bareng sepulang sekolah selain kamu sama Juwandi?”

Aji mengingat-ingat, “Enggak sih om.”

“Itu dia. Takutnya dia minggat ke mana gitu. Soalnya tadi sempat sms ibunya, tanya, aku ini anak siapa? Gitu. Ibunya bingung, lalu ngebel saya di kantor. Ini sama masih di kantor.”

Aji melirik jam dinding, sudah jam tiga. Harusnya Anung sudah sampai di rumah kalau dia langsung pulang. Bisa jadi memang Anung benar-benar pergi tanpa pamit karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya kalau jam segini dia belum pulang.

Aji segera pamit pada pak Iwan untuk memberitahu Juwandi.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Tiga Sahabat (6): Anak Siapa?"

  1. juwandi ahmad  22 April, 2013 at 23:41

    ha ha ha ha..juwandi… juwandi

  2. Dewi Aichi  22 April, 2013 at 23:11

    Elnino, komen no 6 wakakaka…bayaranmu kurang banyak ke Wesiati….

    BU Probo…paroan yaaa he he….

    Wesiati..awas lho ya nanti kalau peranku memburuk, tak plintheng ha ha….melu melu BU Probo.

  3. Hennie Triana Oberst  22 April, 2013 at 23:07

    Makin lucu

  4. Mastok  22 April, 2013 at 21:48

    wakakkakaakkak bakalan rame.. buka panti asuhan…. menampung anaknya yang di BALTYRA…… wakakakakakkaka……..

  5. J C  22 April, 2013 at 21:16

    Huahahahaha…sudah takut disuntik, ternyataaaa ooohh ternyataaaa…anak siapakah kowe?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *