Anak Siapakah Itu?

Ida Cholisa

 

Tadi malam, seperti biasa, motorku berbelok memasuki kompleks tepat pukul 21. 30. Perjalanan jauh sepulang kuliah aku sudahi dengan mengendarai motor kesayangan setelah angkutan Elf 56 menurunkanku di perempatan Cileungsi.

Lelah pasti terasa. Kantuk pasti menyerang. Satu yang pasti, aku selalu menikmati setiap kondisi.

Ada yang mengganggu mataku saat sepeda motorku berbelok memasuki kompleks perumahan. Gerombolan remaja berusia sekitar 11-15 tahun berdiri di pinggir jalan sambil menyelipkan rokok yang memerah ujungnya di antara jari mereka. Lampu penerangan yang terpasang di pinggir jalan dan laju motorku yang melambat memungkinkanku melihat jelas wajah-wajah mereka. ABG, Anak Baru Gede.

Hatiku miris. Anak-anak remaja itu, apakah tidak berbapak beribu? Jika memang berbapak beribu, maka di manakah para orang tuanya itu? Mengapa mereka membiarkan remaja-remaja itu berkeliaran di pinggir jalan?

semangat-anjal

(puspita16.wordpress.com)

Anak-anak, termasuk yang telah berusia belasan tahun atau remaja, bukanlah sebentuk nyawa yang dibebaskan melakukan apa pun tanpa kontrol dan bimbingan orang tua. Mereka, dalam usia yang masih sangat labil, tentu membutuhkan keberadaan orang tua yang bisa memberikan nutrisi pengajaran dan budi pekerti pada mereka. Jika kemudian yang terjadi adalah mereka ‘keluyuran’ sambil mengisap rokok di pinggir jalan, tentu kita berasumsi bahwa mereka tidak mendapatkan kontrol dan pengajaran yang memadai di rumah. Remaja cenderung mencari jati diri dengan melibatkan diri dalam komunitas mereka. Dalam masa peralihan ini, peran orang tua tentu saja sangat diperlukan dalam memberikan pengertian dan pengajaran, terlebih bimbingan rohani atau nilai-nilai spiritualitas, bukan justru melepaskan mereka begitu saja.

Well, gerombolan remaja di pinggir jalan itu memberiku kesadaran, bahwa menjadi orang tua tidaklah mudah. Kelak anak-anakku pun akan memasuki masa remaja, dan di sinilah tantangan baru akan segera kutemukan. Mempersiapkan anak-anak agar menjadi remaja yang tangguh dan berakhlak mulia.

Tentu sebagai orang tua aku ingin anakku tumbuh menjadi remaja yang berbudi, sehingga ketika terdengar pertanyaan “Anak siapakah itu?” aku bisa langsung mengangkat tangan dengan bangga dan berkata, “Anakku.” Tidak seperti gerombolan remaja yang merokok di kelam malam itu. Saat ditanya “anak siapa itu?” seseorang yang ternyata salah satu orang tua dari remaja tersebut justru memalingkan muka dan menjawab setengah malu.

“Dia memang anakku. Tetapi aku malu mengatakannya.”

“Mengapa?” tanyaku.

“Karena aku tak pernah peduli dengan apa yang ia lakukan.”

“Mengapa?” kembali aku bertanya.

“Karena saya sibuk di luar rumah, dan saya tak sadar bahwa anak akan mengangkat atau menjatuhkan nama saya.”

“Bukan soal mengangkat atau menjatuhkan, tetapi lebih dari itu,” kataku.

“Apa?” ia balik bertanya.

“Karena anak adalah amanah yang harus kita jaga. Menjadi apa ia, tentu kita berperan besar di dalamnya. Ketika anak tergelincir dalam perbuatan tidak benar, ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang jauh dari nilai spiritualitas, maka tunggulah kelak saat Tuhan meminta pertanggungjawaban kita.”

Salah satu orang tua dari remaja itu terdiam. Semburat penyesalan tampak jelas di raut wajah yang telah dihiasi gurat-gurat ketuaan…

 

***

Cileungsi, 22 Maret  2013

 

23 Comments to "Anak Siapakah Itu?"

  1. Matahari  23 April, 2013 at 13:06

    Yang tersurat dan yang tersirat…..

  2. J C  23 April, 2013 at 10:29

    Hehehe…bener sih Dewi, tidak ada eksplisit tertulis begitu, tapi kalau aku tidak salah menangkap arti implisit, ya seperti itu, mungkin bisa saja aku yang salah…

  3. Dj. 813  23 April, 2013 at 02:42

    Hallo Hennie….
    Asal diberi pengertian dan tidak hanya dimarahi,
    maka Chiara juga akan mengerti.Anak-anak Dj.
    malah pernah Dj. suruh coba, apa mungkin senang.
    Tapi mereka tidak ada yang mau…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.