First Love is Forever

Bunda Riga Magistra

 

Masa remaja adalah masa yang indah. Indah dengan banyak tingkah laku yang konyol dan bodoh. Indah karena tidak memusingkan apapun selama punya banyak teman dan sahabat. Semua itu menjadi kesenangan dan warna dalam kehidupan masa muda. Itulah masa-masa di SMP pada tahun 1975-1977.

Sekolah kami merupakan sekolah tingkat pertama negeri yang pertama kali didirikan di kota kecamatan Kadipaten, sebuah kota kecil di kabupaten Majalengka. Bangunan sekolah itu terletak di tengah pesawahan dan kebun. Di sebelah timur sekolah terdapat sebuah perbukitan yang disebut Pasir Cina, karena menjadi tempat kuburan orang-orang Cina peranakan. Di sebelah selatan ada sebuah parit kecil yang airnya selalu mengalir dan dimanfaatkan untuk pengairan sawah oleh para petani. Dekat dengat parit itu adalah bagian belakang  sekolah kami yang sejuk ditumbuhi pohon akasia dan kayu putih. Ruang kelas 2D dan 2E merupakan ruang tambahan yang dibangun belakangan, dan kedua kelas ini menghadap ke bagian hijau ini. Suatu tempat yang terpencil dari keramaian kelas-kelas yang lainnya.  Tempat ini sering dijadikan tempat para siswa bermain di saat istirahat atau tempat latihan drama sekolah dan latihan Pramuka. Sekolah itu menghadap ke arah utara yang berbatasan dengan jalanrel kereta api dan setelah itu jalan raya yang menghubungkan dua kota besar Bandung-Cirebon.

Aku dikelilingi teman-teman dan para sahabat yang baik di sekolah. Ada laki-laki, ada juga perempuan. Ada seorang teman laki-laki yang baru beberapa hari saja kukenal, tetapi sudah berani meminjam catatan bahasa Inggrisku. Tanpa banyak komentar kuberikan saja buku itu. Tetapi hari berikutnya, seseorang memberitahuku bahwa anak itu sangat menyukaiku; dan yang menyebalkan bahwa meminjam buku hanyalah alasan saja untuk mendekatiku. Dia anak kelas dua C, sedangkan aku di kelas dua D. Aku menjadi ketua kelas, ternyata dia juga baru terpilih menjadi ketua kelas dua C! Matanya sipit, berkulit sawo matang, rambutnya lurus dan tampak congkak. Temanku bilang bahwa dia anak seorang pedagang kue di pasar Kadipaten.

Perasaanku jadi sangat tidak enak padanya. Orangnya baru kukenal, tetapi di luar kelas sudah tersebar berita bahwa aku sudah menjadi pacarnya dengan bukti buku catatanku ada padanya! Menyebalkan banget! Tapi aku mencari jalan agar bukuku segera dikembalikan. Tiga hari buku itu ada padanya, kemudian dikembalikan oleh orang lain. Dan ketika kubuka, kutemukan sebuah amplop putih! Sekejap aku terpaku kaget. Tetapi segera buku itu kumasukkan ke dalam tas takut ketahuan oleh teman-teman sekelas. Aku kembali duduk di bangku dengan jantung yang sangat berdebar tidak tenang. Apakah gerangan yang ada di dalam amplop putih kumal itu? Apakah surat cinta atau cuma terimakasih saja?

FirstLove

Sampai di rumah, aku segera berlari ke kamarku. Badanku panas dingin dilanda rasa penasaran ingin segera membuka surat itu dan membacanya.

Untuk: Rini

Rini, aku ingin menjadi temanmu. Karena kamu pandai dan ramah. Bolehkah aku mengenalmu lebih dekat? dan kalau bisa aku ingin belajar bersama denganmu. Bisakah aku lebih sering meminjam catatanmu? Tolong beri jawabannya segera.

dari :Tony

Surat itu singkat saja. Tetapi aku sangat berkeringat membacanya. Ini surat pertama yang kuterima dari seorang teman lawan jenis. Aku jadi salah tingkah. Apa yang harus aku jawab? Menulis pun aku tak mau, karena aku sudah lebih dulu sebel sama dia. Berani sekali dia mengatakan semua itu, karena aku menyimpulkan bahwa surat itu adalah surat pernyataan cinta! Aku sangat gelisah. Dan kegelisahanku terlihat oleh saudaraku yang bersekolah di SMEA,  dia menanyakan hal itu padaku. Aku mengatakannya dengan jujur. Dia tersenyum saja……..Aku makin gelisah dan juga malu, “Duh, gimana, dong? Biar dia enggak mengharapkan banyak dari aku, jadi harus gimana? Kalau aku nitip pesan ke orang lain, kan nanti ketahuan, deh.” kataku sambil berjalan hilir mudik di dalam kamar. “Gini aja,” katanya mencoba menyampaikan pendapatnya. Dan aku berhenti untuk memperhatikannya. “Coba tulis surat jawaban singkat dan tegas, tapi jangan judes, lho! ” katanya. Aku masih ragu, sebab aku tidak mau menyimpan surat itu lebih lama lagi. Tapi aku ada akal! Biar kukembalikan lagi surat kumal itu dengan jawabanku yang singkat di bawahnya………….Barangkali aku kejam mengembalikan lagi surat itu, tapi tak apalah, karena aku tak mau menyimpan surat itu lebih lama lagi, pikirku.

Kutulis surat balasannya di bawah tulisannya sendiri,

Yth: Tony

Aku sudah membaca suratmu. Tapi maaf aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk menjadi teman dekatmu, apalagi untuk belajar bersama denganmu. Belajarlah dengan teman-teman sekelasmu. Terimakasih.

wassalam,

Rini

Kejam, atau judes, mungkin begitu kesan orang lain kalau membaca suratku.Dan aku menitipkan surat itu kepada sahabatku yang kebetulan pulangnya searah dengan anak itu.

Ternyata reaksi surat itu berlainan dengan harapanku. Teman-teman sekelas Tony rupanya jadi tahu tentang surat itu. Kemudian menyebarlah berita bahwa kami berpacaran. Bila aku belanja ke pasar bersama ibu dan melewati kios orangtuanya, maka para pedagang di sekitarnya ribut memanggil-manggilku dan memanggil namanya. Aku menjadi sangat malu dan menyeret tangan ibu agar segera berlalu dari situ secepatnya.

Ibuku cuma senyum saja. Jika aku mengunjungi rumah nenekku di Dukuhwarung,  aku melewati rumahnya. Pasti saudara-saudaranya memanggilku dengan ramainya, dan aku yakin dia ada di situ sambil bersembunyi memimpin paduan suara itu. Aku cepat-cepat berlalu dari situ pura-pura tidak menghiraukannya. Benar-benar aku kesal dibuatnya, dan merasa diteror dengan ancaman bom! Anak sombong itu sudah mencemarkan namaku. Aku jadi sering marah tidak karuan karena merasa tertekan. Rasanya ke manapun aku melangkah, tidak pernah lepas dari ledekan orang. Dan aku tidak merasa menerima cintanya sedikitpun. Maka aku punya istilah sendiri untuk sebutannya: Wereng! Wereng adalah hama padi yang sangat merusak dan menyebabkan gagal panen. Kukira memang namakulah yang sudah dirusaknya.

Aku bahkan jadi membencinya. Setiap kali berpapasan di jalan, maka aku lari menghindar darinya. Tampaknya semua temanku sudah mengetahuinya, kemudian menyebar kepada para guru pengajar di kelas. Sebab ada juga guru yang pernah menyindir tentang permusuhanku.

Pada hari kenaikan kelas, kami bertemu di panggung dalam suatu permainan drama yang sama, cerita Si Malin Kundang. Dia sangat sesuai memerankan si anak durhaka itu, sebab sifatnya yang sombong dan kasar. Dan aku? Aku berperan sebagai ibu si Malin Kundang! Kami tidak didandani, malah kami bersolek sendiri sesuai dengan peran masing-masing. Selama permainan di panggung, kami memperlihatkan kekompakan sebagai pemain peran. Sehingga para penonton, yang kebanyakan ibu atau orangtua siswa yang mau mengambil raport, menyaksikan cerita di panggung tersebut sambil menangis karena terbawa suasana cerita.

Rata-rata mereka memuji permainan kami. Tetapi setelah keluar dari alur cerita, maka aku kembali memusuhinya…………!Dan seperti biasanya, aku mendapatkan rangking pertama di kelasku. Tampaknya si Wereng pun mendapatkan rangking yang bagus, tapi aku tak mau tahu. Ada lagi berita yang paling mengejutkan dari kenaikan ke kelas 3 ini, yaitu ada pengelompokan kelas unggulan yang aku dan si Wereng termasuk dalam satu kelas…………….Oh, my God!

Aku jadi kehilangan akal dibuatnya. Aku merasa gerakanku semakin sempit gara-gara dia ada di kelas yang sama. Semua teman sekelas tahu bahwa aku memusuhi anak itu. Akhirnya siswa kelas 3A terbagi menjadi dua kubu, yaitu yang berpihak kepadaku dan yang berpihak kepadanya. Walikelas pun mengetahui juga, dan akulah yang dipanggil ke ruang guru untuk konfirmasi. Aku dinasihati panjang lebar olehnya. Tapi aku dingin saja, dan aku berjanji padanya bahwa kalau dia mau mengalahkan prestasiku di kelas, maka aku akan menerima kekalahanku, dan berdamai dengannya. Walikelas hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan aku mengakhiri pertemuan itu sambil tertawa dan tanpa rasa bersalah. Ini sifat jelekku, menghadapi orang sombong dengan kesompongan pula. Rasanya rugi benar kalau berbaikan dengan anak itu tanpa syarat apapun.

Dalam hati kecilku, sebenarnya aku merasa sangat takut dikalahkan oleh anak sombong itu. Tapi memang dia harus diberi pelajaran yang membuatnya jera bertinggi hati kepada teman-temannya. Bahkan ketika pemilihan ketua kelas, aku yang dipercaya oleh teman-teman untuk memimpin mereka. Dalam mengemban kepercayaan ini, untunglah aku tidak mengecewakan mereka. Karena kelas kami mendapatkan piala kejuaraan kebersihan dan keindahan kelas.

Setiap hari, setiap minggu, dalam kecemasan yang menekan, aku berusaha keras belajar agar tidak mendapat malu. Dan aku mendapat teman-teman yang baik, kompak dan solid di bidang belajar ataupun kegiatan lainnya. Aku bahkan punya teman yang sangat dekat dalam kegiatan Pramuka dan kesenian, Aang. Kami sama-sama menjadi vokalis dalam band sekolah, sering menjadi utusan OSIS ke luar sekolah, karena dia ketua, dan aku sekretaris di OSIS. Dalam Pramuka pun kami sering menjadi regu utusan kegiatan di luar sekolah. Karena sering bertemu dalam kegiatan yang sama, banyak orang menyangka kami berpacaran. Tapi kami cuek saja. Tokh Aang lebih baik dibandingkan si Wereng itu, bahkan Aang sangat sopan dan bicara bahasa Sunda sama halusnya dengan yang kupakai.

Makin lama aku semakin bergairah dalam persaingan ini. Jiwaku selalu bergejolak untuk meruntuhkan  kesombongannya. Tampaknya kegairahan ini juga menyeret teman-teman untuk ikut dalam gelombang persaingan yang semakin memanas. Prestasiku sudah banyak, bukan hanya dalam bidang akademik saja, melainkan juga dalam seni sastra dan seni lukis. Dalam musik aku sangat menyukainya, tetapi prestasiku biasa saja. Dalam seni Arumba, alat musik yang terbuat dari bambu , aku menjadi pemain melodi yang mengendalikan banyak angklung. Aku menguasai banyak lagu klasik dan pop.

Dengan persaingan ini kadang-kadang suasana kelas pun menjadi panas dalam perdebatan di mata pelajaran yang menarik, seperti Bahasa Inggris (gurunya adalah walikelas kami), Biologi, atau pelajaran Kewarganegaraan. Kelas 3A menjadi kelas yang hidup dan membuat para guru kewalahan.

Suatu kali, rupanya si anak sombong itu sudah sangat terpojok karena banyak mendapat kekalahan. Jangankan mendapatkan perhatianku, malah dia semakin tidak punya alasan untuk bergaul denganku. Dia marah dan kelihatan tertekan. Maka ditulislah surat dalam secarik kertas yang disampaikan melalui sahabatku, Ade Noor. Isinya bahwa dia minta kami bertemu di belakang sekolah di pinggir sungai kecil. Aku ngeper juga kalau diajak bertemu empat mata. Jelas aku tidak berani. Aku bukan orang yang pandai bicara, apalagi untuk marah atau mengungkapkan perasaan. Maka aku ajak sahabatku itu untuk ikut bertemu.

Ade Noor adalah gadis yang cerdas dan kenes, suka protes kalau ada ketidak beresan. Sepulang sekolah, ketika kelas lain sudah sepi, diam-diam kami ke belakang sekolah. Ternyata anak itu pun sama tidak beraninya, dia mengajak seorang sahabatnya ikut bertemu, jadilah kami berempat bertemu di bawah pohon akasia yang rindang jauh dari pandangan orang lain. Melihat kami datang, si Wereng mengangkat dagunya dengan tangan kiri di pinggang, sedangkan temannya berdiri dengan tangan bersedekap siap “bertarung”. Aku mulai gemetar, tapi tidak boleh ketahuan oleh mereka, “Apa yang kamu mau dariku, heh?”, tanyaku sambil tak mau kalah bertolak pinggang juga.

“Hei, Rini…..!”, tangan kanannya menunjuk padaku, suaranya lantang setengah berteriak, “Kamu itu sombong bener ya! Mentang-mentang kamu anak guru jadi banyak orang berpihak sama kamu!” katanya, mukanya tampak jengkel sekali padaku. Aku jadi tidak enak,”Apa? Karena aku anak seorang guru di sini lalu semua berpihak padaku, katamu? Enak saja! Memang aku anak guru, tapi aku diakui di sini karena prestasiku. Tuh, banyak anak guru yang lain tapi mungkin tidak diperlakukan sepertiku! Tahu kamu?!” Lalu Ade pun merasa tersengat, “Heh, Wereng! Orang akan berpihak kepada orang yang benar dan disukainya! Kalau kamu iri, ayo, mana semangatmu untuk menang? Kamu merasa kalah, jadi marah, gitu?”

“Hah, apa? Aku marah karena kalah? Sorry ya. Ini bukan persaingan berat bagiku. Yang berat adalah keberpihakan orang-orang sama kamu, bahkan memuji-muji kamu!” Lalu dengan enak pula aku menjawabnya: “Oh, gitu, ya. Lalu kenapa kamu menyebarkan kepada orang lain bahwa kamu juga menyukai aku?” kataku penasaran. Mukanya tampak memerah, bukan karena marah, malah cenderung jadi salah tingkah. Sahabatnya yang sejak tadi diam menyimak saja, jadi ikut bicara, “Begini, Rin,” katanya,”kamu jangan merasa geer begitu………,” belum selesai dia bicara Ade langsung memotongnya, “Eeeehh, siapa yang geer? Lihat tuh si Wereng lagi kegeeran, dia jadi salah tingkah!”

“Bukan begitu. Tadinya temanku ini mengundangmu ke sini maksudnya untuk berbaikan. Lebih baik kita lupakan saja permusuhan ini. Bersaing secara sehat boleh-boleh saja. Tapi tetap bergaul dengan baik, saling menyapa kalau bertemu. Soalnya orangtua juga bilang kalau bermusuhan jangan lebih dari tiga hari, dosa lho…..” katanya menakutiku.

“Dengar, ya, Wereng!” Ade berkata lagi, “sebenarnya kami ingin sekali banyak teman. Punya musuh sebenarnya enggak enak. Dunia terasa sempit. Kami ingin kenal baik dengan siapapun, asal dia juga sopan dan tidak tinggi hati seperti kamu. Kamu itu salah sejak pertama kenal!” Ade jadi banyak ngomongnya.

“Iya, jadi kami harus gimana dong supaya bisa berbaikan sama kalian? Aku juga memimpikan kalian jadi teman belajar dan diskusi,” Si Wereng akhirnya bicara pelan. ” Enggak mau! Aku paling benci teman yang suka memanfaatkan situasi. Mula-mula kamu menyatakan rasa suka, terus ingin jadi teman belajar. Aku tidak bisa kerja sama dengan orang yang punya tujuan lain dibalik maksudnya!” Kataku keras.

Temannya tertawa keras, “Apa salahnya dengan perasaan suka atau cinta? Atau memang kau lebih menyukai Aang, ya?” Dia menyinggung soal sahabatku itu.

“Jelas salah, dong! Salah orang, salah waktu!” kata Ade, “makanya kalau mau belajar jangan sambil cari pacar, tahu!”. Aku menarik tangan Ade untuk segera berlalu dari situ,”Ah…, sudahlah,De. Ngapain ngeladenin orang kaya mereka? Sekarang jadi jelas kan, siapa orang yang menuliskan kata “RINDANG” di papan tulis itu. Ternyata kamu, ya. Aku dan Aang juga cuma bersahabat, tahu? Kalau mau berprestasi ,ya, ayo bersemangat. kalau tidak, ya sudah………………..” Kami berjalan tergesa menjauhi mereka tanpa menghiraukan panggilannya. Kata “RINDANG” yang dimaksud tulisan di papan tulis beberapa waktu lalu itu adalah singkatan namaku dengan sahabatku Aang. Ternyata dia yang menuliskannya. Hmmm, cemburu ‘kali?

“Hei, hei….! Jadi gimana ajakan kita untuk berbaikan? Maafkan aku……!” suara mereka makin tak kedengaran  jauh di belakang kami.

“Rin, emangnya kamu mau berbaikan sama dia”, tanya Ade ketika kami pulang bersama. “Ah, mana mungkin? Menurutku sifatnya tidak akan berubah begitu saja. Hatiku tidak mengizinkan berbaik-baik sama dia. Biarin ajalah, enggak usah dipikirin..!” aku mencoba cuek. Padahal semua perkataan kami barusan terus ada di benakku. “Tapi ada benarnya juga mereka itu. Karena dalam agama diajarkan kalau bermusuhan tidak boleh lebih dari tiga hari, itu dosa.” Ade mempengaruhiku. “Ah.., kau itu gimana, De? Mau berpihak sama mereka, ya? Ya, udahlah sana……..!” kataku cemberut. “Eh.., kamu jelek kalau cemberut gitu, Rin. Ingat, lho, mereka itu orang-orang cerdas, pinter ngaji lagi! Jangan-jangan kamu dibacakan surat Maryam sama surat Yusuf sama mereka, terus kamu jadi kepelet sama dia. Nanti jadi terbalik, kamu bisa mabuk kepayang sama dia…Ihhh!” Ade menakutiku.         “Ah, kamu menakutiku, ya?” hatiku mulai ciut, sebab aku sendiri tidak bisa mengaji sama sekali. Ade tertawa dan tidak menjawab pertanyaanku. Lalu kami berpisah di persimpangan jalan dekat kantor pos, dan aku terus mengayuh sepedaku di jalan yang lainnya.

Setelah kejadian itu, hubungan kami belum juga normal. Hanya ada perubahan sedikit saja, kalau kami berpapasan di mana pun aku tidak menghindarinya, tidak pula bertegur sapa atau tersenyum. Alasannya masih tetap sama, Dia tidak pernah mengalahkan aku dengan prestasi apapun, baik akademis maupun dalam hal lainnya. Bahkan ketika ujian akhir diumumkan, kami menjadi juara umum karena mencapai nilai tertinggi. Nilaiku dengan Ade Noor sama tinggi, dua poin lebih tinggi dari nilai Tony. Tetapi kami harus memberi selamat kepada sahabatnya yang mencapai nilai tertinggi pertama dan dua poin lebih tinggi dari kami. Koes, namanya, memang seorang yang sangat pandai.

Ketika masuk SMA, di daerahku tidak ada lagi SMA yang paling bergengsi dan terbaik selain SMAN 1, yang letaknya di kota kabupaten. Dan kami masuk di sekolah yang sama. Sejalan dengan perkembangan kedewasaan, aku menyadari kekeliruanku selama ini. Maka aku mulai menyapanya kalau bertemu.

Yang paling tidak kusangka adalah ketika masuk ke perguruan tinggi negeri yang sama, tetapi berbeda fakultas. Aku di fakultas sastra, sedangkan dia di fakultas sosial politik. Kadang-kadang kami bertemu dan mengobrol sebentar. Pernah kami bertemu di suatu forum pertemuan para mahasiswa sedaerah dan bertemu dengan banyak teman lama dari berbagai perguruan tinggi di Bandung. Aku datang bersama dengan kekasihku ke forum itu. Ketika aku bersalaman dengan Tony, tampaknya dia agak curiga memandang orang yang bersamaku, tetapi tangannya erat memegang tanganku agak lama. Dari bisikan beberapa orang teman,  aku tahu bahwa Tony selalu mengharapkan aku bisa mencintainya, sambil bergurau dia mengatakan bahwa dia kalah gagah dengan kekasihku itu. Aku cuma tersenyum menanggapinya, karena aku tidak menyesal dengan pilihanku……..

Kini, aku hanya bisa mengenang kekonyolan kami saat di SMP. Ada juga yang kukagumi dari dia: cintanya tidak pernah terputus sejak SMP. Setahuku dia tidak pernah punya pacar selama itu. Namun untunglah, ketika kami bertemu pada suatu lebaran di rumah nenekku, dia sudah berkeluarga juga. Maka aku perkenalkan seluruh keluargaku padanya. Dan saat itu kami bisa tertawa bersama mengenang saat-saat remaja kami dengan segala kesombongannya.

 

11 Comments to "First Love is Forever"

  1. Silvia  25 April, 2013 at 13:29

    Pacaran pertama kali motivasinya salah. Visi, misi dan minat sangat amat berbeda.

    Jatuh cinta beneran utk pertama kali sdh sering sy tulis di komen juga tulisan2 saya. Cinta yg bertepuk sebelah tangan.

    Masa remaja saya bukan masa yg menyenangkan. Tersiksa banget.

    True love saya ya sm suami ini. Kalau ga beneran cinta, sy ga mau nikah. Makanya ada yg dekat sm sy bilang,”You are such a romantic fool.” Karena sy milih cowo yg beneran sy cinta dan dia cinta sm saya dibanding yg bisa memberikan fasilitas sebagai nyonya2 kaya.

    Saya mikirnya kalau sy nikahi seseorg krn kekayaannya saja, stlh nikah misalnya org tsb jatuh miskin, apa saya ga akan menyesal mengorbankan hidup yg cuma sekali demi harta. Lagian orangtua sedari sy kecil sdh ajarin saya utk mau kerja. Puji syukur sampai saat ini Tuhan pelihara suami, saya dan klg.

    Saya senang Bunda Riga punya masa remaja yg menyenangkan dibanding masa remaja saya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.