Perempuan itu Ibu, Perempuan itu Empu

Kang Putu

 

Kartini, Ibu Kebangkitan Bangsa

SIAPA tak kenal Kartini? Perempuan kelahiran Mayong, Jepara, 21 April 1879, itu lahir dari rahim Ngasirah, selir Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat. Namun dia tak mungkin diasuh ibu kandungnya. Dalam sistem feodal pada masa itu, sejak orok Kartini harus diasuh istri perdana sang bupati, Raden Ayu Sosrodiningrat.

kartini

(anto84.blogdetik.com)

Kenyataan itu, kelak, menorehkan luka dalam hati Kartini. Dia memendam kerinduan teramat dalam di dasar hati, dahaga dalam jiwa, akan pelukan sang ibunda yang melahirkan. Untunglah, luka itu tak membakar jiwa karena ibu tiri bukanlah ibu berhati Durga, dewi kegelapan.

Kartini tumbuh sebagai gadis peka, cerdas, dan bersahaja. Bersama Rukmini dan Kardinah, adik-adik dari ibu berbeda, dia belajar memahami dan mencecapi kehidupan dalam sungkupan istana bupati.

Benar, dia diperbolehkan belajar di sekolah dasar sampai berusia 12 tahun. Namun sebagaimana lazim berlaku di kalangan bangsawan Jawa, dia harus dipingit hingga siap dinikahkan. Namun atas bujukan teman-temannya yang berkebangsaan Belanda, sang ayah memberikan pendidikan Barat tambahan kepada Kartini dan adik-adiknya. Semangat belajar gadis itu berkobar karena memperoleh dukungan sang paman, Bupati Demak Raden Mas Adipati Ario Hadiningrat, yang berpikiran maju.

Dia banyak memikirkan keadaan masyarakat, terutama nasib kaum perempuan, yang terjerat kemiskinan, terbelenggu kebodohan, dan terkungkung feodalisme dan tekanan penjajahan. Dia melihat, rakyat jelata seolah-olah ditakdirkan hidup dalam kemiskinan. Padahal, keadaan itu bisa diubah dan harus diubah. Dan, itu harus diawali dari pendidikan.

Balas Budi

Dalam lingkungan keluarga berpikiran relatif maju itulah Kartini berkenalan dengan teman-teman sang ayah. Mereka umumnya penganjur “politik etis”, seperti Mr. J.H. Abendanon dan Dr. N. Adriani. (Mereka berpendapat, pemerintah kolonial Hindia Belanda seyogianya memberikan, antara lain, pendidikan memadai kepada bumiputra sebagai balas budi.)

Wawasan, gagasan, dan pemikiran Kartini jauh melampaui tembok istana yang mengungkung tubuhnya. Melalui surat-surat kepada para sahabatnya, antara lain Estelle H. Zeehandelaar atau Stella, Nyonya Ovink-Soer, Prof. dr. GK Anton di Jena dan sang istri, Dr. N. Adriani, Ir. H.H. van Kool, Nyonya N. van Kool, Nyonya R.M. Abendanon-Mandri, Mr. J.H. Abendanon, E.C. Abendanon, dia membeberkan berbagai gagasan dan pemikiran mengenai nasib dan langkah perubahan ke arah kemajuan bagi kaum wanita Jawa (Indonesia) secara khusus dan masyarakat secara umum.

Kartini memulai perubahan dari diri sendiri. Dia, misalnya, tak mau dipanggil raden ajeng. “Panggil aku Kartini saja,” tulis dia kepada Stella.

Ya, panggil aku Kartini saja. Dalam kalimat itu terkandung kerendahan hati sekaligus pengakuan bahwa sesungguhnya semua manusia berkedudukan sama, sederajat.

Dia berpendapat, tak mungkin nasib kaum perempuan terbebas dari belenggu feodalisme jika masyarakat tak membebaskan diri dari kungkungan kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Dan, akhirnya, masyarakat bisa maju jika membebaskan diri dari cengkeraman penjajahan.

Nasib Perempuan

Dalam sebagian besar suratnya, Kartini membicarakan nasib perempuan dan kepedulian besar untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang terbelenggu. Dia menulis kepada salah seorang kawan penanya, “Tradisi yang tak terpatahkan, berabad-abad, sekarang membelenggu kami secara kuat. Suatu hari belenggu itu akan melemah dan kami bisa menentangnya. Tak akan lama. Tiga atau empat generasi mendatang.”

Kartini optimistis, tak gampang patah semangat. “Kami akan menggoyah-goyahkan gedung feodalisme dengan segala tenaga kami. Dan bahkan seandainya hanya ada satu potong batu yang jatuh, kami akan menganggap hidup kami tidak sia-sia,” tulis dia.

Pemikiran Kartini dalam surat-suratnya diterbitkan kali pertama tahun 1911 oleh pejabat Belanda, J.H. Abendanon, berjudul Door Duisternis tot Licht. Abendanon juga menulis artikel tentang Kartini berjudul “Les Idees d’une Jeune Javanaise (Pikiran-pikiran Perempuan Muda Jawa)” tahun 1913 dalam majalah berbahasa Prancis, L’Asie Francaise.

Kumpulan surat Kartini juga diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Agnes L. Symmers tahun 1920 dan diterbitkan di New York, Amerika Serikat, berjudul Letter ofa Javanese Princess. Edisi dalam bahasa Melayu terbit tahun 1922 di Batavia (Jakarta), Habis Gelap Terbitlah Terang. Di Belanda, Kartini menjadi ilham bagi Marie C. van Zeggelen untuk menulis novel, Een Baanbreekster voor Haar Volk.

Kartini ingin melanjutkan pendidikan ke Belanda. Apalagi kakak lelaki terakrab, Sosrokartono, sudah belajar di negeri kincir angin itu. Namun dia harus mengesampingkan keinginan itu. Dia mengalihkan beasiswanya untuk Agus Salim yang kelak, ketika Indonesia telah merdeka, menjadi menteri luar negeri.

Tak Mati-mati

Karena kecintaan kepada sang ayah, Kartini menerima anjuran untuk menikah – bukan tanpa berat hati – dengan Bupati Rembang yang beristri tiga. Kartini meninggal secara tragis pada usia 25 tahun ketika melahirkan anaknya, Susalit. Tragis, karena Kartini yang menolak poligami – sebagaimana terjadi di kalangan bangsawan Jawa – justru meninggal sebagai istri keempat.

Namun gagasan Kartini tentang kemajuan yang harus dicapai bangsanya tak mati-mati. Gagasan tentang emansipasi wanita memperoleh sambutan bagus justru di Sumatera ketimbang di Jawa. Tahun 1923, Rahmah El Yunusiah mendirikan Perguruan Diniyah Putri di Padangpanjang, Sumatera Barat. Perguruan wanita modern pertama berasas Islam di Indonesia itu dilandasi kesadaran bahwa kaum perempuan harus memperjuangkan derajat mereka. Juga, wanita berperan penting dalam pembangunan masyarakat. “Membangun negara tanpa mengikutsertakan perempuan seperti ingin terbang tanpa sayap,” ujar Kartini.

Kini, bukan masanya perempuan hanya berkutat di dapur, sumur, dan kasur atau awan dadi theklek bengi dadi lemek. Itulah inti gagasan Kartini. Itulah cita-cita Kartini. Dan kesempatan telah terbuka. Perempuan harus merebut kesempatan itu bagi kemajuan masyarakat, kemajuan negeri tercinta ini.

Kini, perempuan bisa bersekolah setinggi apa pun, meraih gelar apa saja sesuai dengan bidang ilmu masing-masing. Perempuan bisa menjadi bupati, wali kota, anggota perlemen (DPRD, DPR, DPD), menteri, bahkan presiden. Namun, apakah gelar berderet dan jabatan tinggi itu menjadi sarana untuk memperjuangkan nasib kaum perempuan, memperjuangkan kemaslahatan dan kemajuan masyarakat? Itulah sesungguhnya tantangan bagi kaum perempuan sekarang. Tantangan semua orang, baik lelaki maupun perempuan.

 

22 Comments to "Perempuan itu Ibu, Perempuan itu Empu"

  1. Alvina VB  23 April, 2013 at 19:25

    Walaupun emansipasi wanita sudah ada, ttp kenyataan di lapangan kadang berkata lain.
    wanita masih terus dihadapkan pada kesenjangan sosial (lihat saja di India dan di Middle East) dan diskriminasi dalam posisi tertentu dalam dunia pekerjaan.
    Semoga Indonesia gak jalan mundur, karna pengaruh mental dari org2 di middle east yg banyak imigrasi di Indonesia saat ini. Ada kenalan saya, anak wanitanya seorg yg cerdas dan dr. pula, kawin dgn org middle east disuruh tutup badannya (untung gak pake burka) dan tidak boleh praktek lagi, lah kok mau nunut?
    Kartini pasti menangis kl melihat kenyataan wanita modern Indonesia jadi keterbelakang lagi….

  2. juwandi ahmad  23 April, 2013 at 04:03

    Sakit ya, kena penthung…??? ha ha ha ha…..sakitnya sih nggak berapa, yang berat itu mau mbales takut kualat ha ha ha ha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.