Surat Keempat dari Desa

Angela Januarti Kwee

 

Dear. David,

Tiba-tiba aku sangat merindukanmu. Aku membaca ulang surat-surat yang pernah kamu kirimkan. Ceritamu tidak kalah serunya dengan kisahku. Aku merasa cukup terhibur. Aku tersenyum membayangkan ada di sampingmu saat itu, pasti akan sangat menyenangkan. Bulan ini aku kembali berpetualangan. Waktunya bukan lagi 3-4 hari, namun 8 hari berturut-turut. Namun aku tidak pernah lupa pesanmu “Jangan bekerja terlalu keras, tapi melupakan kesehatan.” Aku memilih libur di hari minggu. Aku perlu mengumpulkan banyak energi untuk petualangan ini.

Aku menuju satu tempat yang sudah pernah kukunjungi sebelumnya. Kali ini aku membawa motorku sendirian, begitu juga temanku. Ia menjadi pemanduku karena aku belum hapal jalan menuju ke tempat tugasnya. Sejak pagi hujan sangat deras, aku gelisah. Awalnya aku berencana berangkat pagi hari.

Kutunggu hujan reda, waktu seperti tak mau diajak kompromi. Pukul 11 siang, hujan mereda sebentar. Aku melaju. Selang beberapa menit hujan kembali turun dengan deras. Aku berhenti memasang mantel agar tidak basah kuyup. Sebenarnya aku sangat suka hujan, karena aku selalu berharap bisa melihat pelangi yang indah. Namun kali ini aku tidak mengharapkan hujan, aku membayangkan jalan licin yang akan kulewati setelah hujan.

Di tempat petualangan sebelumnya jalan tanah itu datar. Sekarang aku berada dijalur tanah berbukit. Untuk bisa menanjak dan menuruni jalan berbukit, perlu konsentrasi penuh. Hati dan pikiran harus berada di tempat, tidak boleh melayang sana-sini. Salah-salah motor bisa termundur dan tumbang. Lebih ekstrem lagi kalau tidak hati-hati diturunan, bisa saja cungkir balik dengan motor yang dikendarai. Namun kadang bayanganmu melintas di benakku, David. Mungkin karena aku sangat merindukanmu. Maaf ya, kali ini aku mengusir bayanganmu sebentar agar tidak menganggu konsentrasiku mengendarai motor.

Jaraknya jauh loh, David. Perlu waktu kurang lebih tiga jam untuk sampai ke tujuan. Berkali-kali aku menarik napas panjang, berteriak menghilangkan rasa takut. Temanku yang sudah terbiasa hanya tertawa melihat tingkahku. Seorang teman lain tidak menyangka mendengar aku membawa motor sendiri dalam kondisi jalanan licin. David … untuk kali ini panggilan wonder women-mu berlaku untukku. Hahahaha ….

Hari ini aku bekerja di malam hari. Aku dan dua orang temanku berkunjung ke sebuah rumah warga. Jalanan gelap gulita, kami hanya mengandalkan lampu sorot motor. Rumah warga tersebut agak di atas bukit dan tidak ada listrik, temanku berinisiatif menggunakan lampu pada kamera yang dibawanya.

Aku bertemu seorang ibu, ia tinggal di rumah sangat-sangat sederhana. Oh Tuhan, saat ia menyalakan pelita aku baru bisa melihat seisi rumahnya. Rumah itu lebih kecil dari kamar tidurku di kota. Tak ada sekat untuk sebuah kamar. Dindingnya terbuat dari susunan bambu berlapis terpal.

Meski keadaan ibu ini sangat memprihatinkan, tetap ada kisah menarik yang bisa kubagikan padamu, David. Ibu tersebut pendengarannya agak kurang dan tidak lancar berbahasa Indonesia. Aku perlu bantuan seorang teman untuk menterjemahkan perkataanku ke bahasa lokal. Dia juga harus sedikit berteriak. “Bisa habis suaraku teriak-teriak,” tutur temanku itu. Aku dan seorang teman lain tertawa melihat mereka berdua. Ibu tersebut ikutan tertawa. Meski terkadang dia terlihat bingung mau menjawab pertanyaanku, namun semuanya bisa berjalan lancar. Kami pulang dengan sukacita setelah melewati waktu sebentar bersama ibu tersebut.

David … aku tersadar akan sesuatu – teman-teman bilang aku sangat cocok mengurusi semua ini. Awalnya aku bingung, namun sekarang aku mulai mengerti. Bertemu mereka adalah rencana Tuhan untukku agar aku lebih bisa mensyukuri hidup dan membantu sesama. Sekali pun melewati medan yang ekstrem dan terkadang harus mengorbankan banyak tenaga dan waktu pribadiku, aku bahagia melakukannya. Aku pun terinspirasi pada perjuanganmu. Jadi, teruslah mendoakanku agar tetap tulus membantu sesama yang berkekurangan.

dear-david

Sumpah …! Menulis surat ini membuatku semakin rindu padamu. Sudah saatnya kita mengatur waktu untuk petualangan istimewa bersama-sama. Tempatnya masih sama, kamu pasti tahu tanpa aku harus menyebutnya. Kabari aku bila sudah menentukan waktumu.

Sampai di sini dulu ya kisah di hari pertama petualanganku. Aku mencuri waktu istirahatku. Hihihi jangan marah ya, David. Aku akan selalu jaga kesehatan. Don’t worry.

Jaga kesehatanmu juga. Doaku selalu untukmu, Cintaku.

 

Love,

Mawar

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Surat Keempat dari Desa"

  1. Angela Januarti  24 April, 2013 at 09:11

    terima kasih untuk semua yang sudah membacanya ^_^

  2. J C  22 April, 2013 at 21:21

    Wuuuiiiihhh…kalau dapat surat seperti ini pasti klepek-klepek…jadi ingat jaman duluuuuu

  3. Handoko Widagdo  22 April, 2013 at 18:17

    Sayang surat sudah tergantikan dengan SMS yang sama sekali tidak bisa seromantis surat ini.

  4. Chandra Sasadara  22 April, 2013 at 16:49

    Do’aku juga untukmu mawar..hehehehe

  5. Dj. 813  22 April, 2013 at 14:51

    Waaaawwwww……
    Surat yang sungguh menyenangkan…
    Dj. lupa, kaan terakhir dapat surat seperti ini….
    Terimakasih Angel….
    Salam manis juga untuk David.

  6. James  22 April, 2013 at 11:35

    SATOE, Surat Ke 4

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.