Belajar Membuang Sampah dari Usia Janin

Indriati See

 

Kita semua tahu bahwa manusia belajar dimulai sejak masih berusia janin dalam rahim ibunya, contohnya saja bahwa janin turut merasakan rythmus tidur, makan, minum dan kebiasaan lainnya dari si ibu.

Dengan demikian, otomatis kalau berbagai disiplin yang dijalankan oleh seorang ibu yang sedang hamil bisa dirasakan dan diikuti juga oleh janin yang dikandungnya.

Kebiasaan yang dilakukan oleh si ibu akan terus dilakukan sampai si janin lahir dan berkembang bersamaan dengan berjalannya waktu. Setelah janin lahir maka campur tangan dari ayah dan anggota keluarga lainnya akan terlihat.

recycle01

Bentuk tempat sampah sesuai dengan sampahnya

Suatu sore di tempat bermain anak-anak, saya melihat seorang ibu yang sedang memberi makanan kecil kepada anaknya yang berusia dibawah 3 tahun. Si ibu mengeluarkan 2 permen (gula-gula) dari tas tangannya lalu satu permen diberikan kepada si anak dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.

recycle02

Dengan memohon perhatian dari si anak, si ibu memperlihatkan bagaimana membuka bungkus permen, memasukkannya ke dalam mulut dan menyimpan bungkus permen yang sudah kosong tersebut ke dalam saku bajunya. Si anakpun dengan patuh mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh si ibu. Juga terlihat si ibu menunjuk ke arah tempat sampah yang berada di pojokan, bisa jadi si ibu menjelaskan kemana bungkus permen itu harus dibuang kemudian.

recycle03

Belajar memilah sampah dari usia dini

Pemandangan seperti diatas sudah umum terlihat di negara-negara dimana rakyatnya sudah sadar dan peduli akan kebersihan lingkungan hidup mereka.

Sikap disiplin dan konsekwen yang diperlihatkan oleh kita sebagai orang dewasa, akan dicontoh oleh anak-anak. Sikap tersebut dimulai dari lingkungan rumah kemudian meluas ke lingkungan luar rumah seperti sekolah, tempat ibadah dst.

Sampah yang dihasilkan oleh setiap rumah tangga dan industri setiap hari, bulan dan tahun tak terbilang jumlahnya. Di era yang serba modern dan maju seperti sekarang ini, sudah banyak negara yang mempraktekkan “sistem daur ulang” untuk sampah-sampah yang mereka hasilkan. Rakyat disiapkan tempat sampah sesuai dengan jenis sampah (Gelas, Metal, Kertas, Plastik dan Bio) bahkan sampah-sampah yang masuk dalam kategori sampah tertentu seperti Bateri dan Elektronik lainnya.

Sistem memilah sampah dipelajari oleh rakyat dari usia sekolah dengan bantuan anggota keluarga maupun anggota institusi lainnya.

Penyediaan tempat pembuangan sampah yang cukup banyak sudah pasti dapat memotivasi rakyat untuk membuang sampah pada tempatnya. Begitu juga dengan bentuk-bentuk tempat sampah yang sangat menarik perhatian, seperti salah satunya yang disediakan oleh Pemerintah Singapura di Airport Changi yang saya lampirkan dalam postingan ini.

Jadi, tidaklah “absurd” jika saya mengatakan bahwa “belajar membuang sampah ternyata bisa dimulai dari usia janin” bukan ?

“Buanglah sampah pada tempatnya !”

Image: 12, koleksi pribadi

 

17 Comments to "Belajar Membuang Sampah dari Usia Janin"

  1. Indriati See  24 April, 2013 at 14:08

    @JC
    Terima kasih tuk opininya … hm … “disiplin diri” bisa dipelajari oleh siapa saja tanpa memandang status sosial dan saya berharap selalu kalau suatu saat “ada perubahan” kearah yang positif dari/dalam masyarakat kita

    Dengan menulis opini kita berarti kita turut membantu mencari solusi bersama tuk masalah2 yang ada di dalam negeri … *komen saya jadi membias

  2. J C  24 April, 2013 at 11:28

    Hahaha…komentar Matahari dan Indri mengenai DENDA memang benar sekali. Di manapun seluruh dunia, setahu saya memang begitu. Pada dasarnya manusia senang saja membuang segala sesuatu sembarangan. Penerapan denda di Indonesia? Percuma saja, wong tilang polisi di jalan saja bisa DAMAI atau TITIP SIDANG kok, apalagi urusan denda buang sampah…lupakan saja kalau di Indonesia…

    Mengenai tingkat kemakmuran suatu negara seperti yang ditulis oleh Matahari ada benarnya…

  3. Indriati See  23 April, 2013 at 19:34

    @Mbak Alvina

    Semoga mbak

    Salam hangat dari seberang

  4. Alvina VB  23 April, 2013 at 19:29

    Indri, danke…
    Semoga aja di Indonesia digalakan membuang sampah pada tempatnya dari masih kecil, jadi gak ada banjir bandang lagi di thn 2020/2030, he..he……

  5. Indriati See  23 April, 2013 at 19:13

    @Mas Handoko W
    Mantap Mas kalau saya buat komposnya dari sampah kebun saja karena sekali potong rumput saja sudah banyak sekali sampahnya

    Terima kasih Mas Han sudah mampir

  6. Indriati See  23 April, 2013 at 19:10

    @Elnino
    Di Jerman tong sampah bio diangkat min. satu minggu sekali dan setiap keluarga/rumah punya tong sampah besar tuk sampah bio, jadi sampah bio dari dapur bisa setiap saat dibuang ke tong sampah bio yang terletak di masing2 pekarangan rumah … semua tong sampah yang dimiliki oleh masing2 keluarga/rumah mempunyai tutup

  7. Indriati See  23 April, 2013 at 19:04

    @Matahari

    Saya berharap dalam berinteraksi kita tidak ada “kesalah pahaman” artikel saya diatas tidak memihak kepada salah satu negara baik Indonesia maupun Jerman (dimana saya tinggal) … Inti dari artikel saya diatas hanya “ajakan” untuk “membuang sampah pada tempatnya” itu saja, dengan contoh “disiplin diri” dari Ibu karena pendidikan anak sebagian besar ada ditangan seorang Ibu mengingat waktu ibu lebih banyak dari ayah

    Saya rasa kita tidak perlu berkecil hati terhadap situasi di negara kita sekarang ini yang terus terang kita semua tahu bahwa makin carut marut … Semua artikel saya justru itu memberi info positif selama “kritik” yang masuk ditanggapi “positif” oleh para pembaca … Bersyukur banyak sekali masukan dari WNI LN yang memberi info dari negara2 dimana mereka tinggal, dimana info yang positif tsb siapa tahu bisa di aplikasikan di negara kita ketimbang membuang2 uang rakyat tuk “study banding” para pejabat yang hasilnya ternyata tidak berguna bagi kepentingan rakyat pada umumnya … Fyi, saya masih WNI dan sangat bangga terhadap darah Indonesia saya … Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.