Why Me?

Wesiati Setyaningsih

 

Dalam perjalanan hidup saya, ada saat dimana saya seolah dimasukkan dalam sebuah peristiwa yang begitu rumit, begitu semrawut dan semakin lama semakin kacau. Benar-benar bagai terperosok dalam sebuah pusaran yang menghisap semakin dalam. Saya sendiri sebenarnya  tidak mau mengalaminya tapi seolah Tuhan sengaja mendorong saya masuk lalu saya dibiarkan tenggelam semakin dalam dan semakin dalam tanpa tahu apakah ada dasarnya. Ketika sedang mengalami hal seperti ini awalnya saya protes keras pada Tuhan.

“Kenapa saya? Orang lain menjalani hidup mereka dengan baik-baik saja. Kenapa saya enggak?” saya berteriak dalam hati.

Dalam situasi yang semrawut itu ada seorang teman mengatakan pada saya,

“Makin tinggi tingkatan keimanan seseorang, makin besar cobaannya. Kamu sedang akan naik kelas.”

Mendengar itu saya marah. Saya jengkel luar biasa. Buat apa naik kelas kalau saya harus mengalami kerumitan hidup seperti ini? Lebih baik saya hidup dalam tingkatan biasa saja, tidak usah naik kelas segala. Kelas rendah juga tak apa. Yang penting hidup ini nyaman. Tidak perlu susah payah harus berjuang agar bisa tetap bisa berdiri tegak menghadapi beratnya tantangan hidup. Tidak usah tertatih berjalan dalam kuatnya tantangan yang seolah dengan kejam menghadang. Saya tak ingin berpayah-payah. Benar-benar tak ingin.

Apa daya, saya sudah berada dalam keruwetan itu. Mau tidak mau saya harus hadapi. Hebatnya, di saat seperti itu pertolongan juga datang  bertubi. Tuhan seolah memberikan semuanya dalam satu paket : kerumitan dan pertolongan. Teman-teman yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan saya memberi pencerahan-pencerahan yang membuka mata saya. Referensi buku-buku datang beruntun dari pertemuan-pertemuan saya dengan teman-teman itu. Tiap kali seseorang seolah datang khusus untuk membantu satu keruwetan yang saya alami. Dia seperti sengaja didatangkan untuk menjawab satu pertanyaan saya. Dari dia saya mendapat pesan untuk membaca buku-buku yang sekiranya bisa membantu saya menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan saya.

Kesadaran demi kesadaran datang perlahan dan membuat saya kemudian lebih tenang menjalani hidup saya. Saya kemudian memahami bahwa kesemrawutan hidup yang terhampar di depan saya tanpa permisi, dorongan yang membuat saya terjerembab masuk tanpa sempat menolak lagi, itu semua memang demi kebaikan saya. Saya didepak untuk terjun bebas agar saya mempelajari sesuatu. Ketika saya sudah mendapatkan semua pelajaran yang DIA maksudkan untuk saya pelajari, semua selesai.

Seorang teman mengatakan,

“Hanya mereka yang terpilih olehNYA saja yang selalu mendapatkan berbagai pembelajaran hidup, agar menjadi lebih sempurna! Mari kita teguhkan hati kesadaran kita. “

Pesan seperti itulah yang meneguhkan semangat saya sehingga saya tidak lagi protes,

“Why me?”

Karena memang kehidupan inilah yang harus saya hadapi. Kenapa saya malah ingin menghindar? Ibarat menjalani ujian akhir, mereka yang lulus pasti mau tak mau menghadapi pelajaran yang lebih sulit, lebih kompleks. Tidak mungkin pelajaran anak yang lulus SMP diulang lagi di SMA. Tentunya pelajaran anak SMA lebih sulit lagi. Begitu juga pelajaran saat kuliah pasti lebih sulit dari waktu SMA. Sementara mereka yang belum lulus, memang harus mengulang pelajarannya lagi. Mungkin itulah kenapa beberapa orang mengeluhkan masalah yang muncul dalam hidupnya berkisar dalam situasi yang sama dengan orang yang berbeda-beda.

Akhirnya, saya tenang-tenang saja menghadapi hidup saya. Saya tidak lagi takut menghadapi kesulitan yang bisa saja tiba-tiba menghadap di depan. Saya anggap itu semua bukan kesulitan tapi hanya sebuah ujian dari apa yang selama ini telah saya pelajari. Tuhan jelas ingin tahu sejauh mana saya telah belajar. Tuhan juga ingin saya melihat sendiri, seberapa banyak yang saya pahami dalam pembelajaran hidup saya.

Itulah kenapa ketika saya menjelaskan struktur naratif : orientasi – konflik – solusi, saya katakan,

“Hidup itu kan seperti itu, konflik – solusi, konflik – solusi, begitu seterusnya. Semakin banyak konflik semakin bagus. Itu artinya hidup kalian penuh warna.”

Anak-anak tertawa. Saya melanjutkan,

“Memang begitu. Makanya kalau sekarang ada yang hidupnya begitu rumitnya, tenang saja. Itu berarti kalian menjadi orang terpilih untuk menghadapi pembelajaran yang luar biasa.”

Anak-anak biasanya tertawa kecil, terhibur dengan kata-kata saya. Mungkin menurut mereka kalimat saya satir. Tapi saya yakin suatu saat mereka akan paham bahwa itu benar.

***

Kemarin tiba-tiba sebuah pesan terbuka. Pesan yang dulu sekali dikirim seorang teman untuk menyemangati saya saat sedang dalam masalah. Masih saya simpan di hp karena siapa tahu bisa saya buka kembali dan memotivasi saya lagi. Tapi pagi itu pesan itu tanpa sengaja saya buka. Begini pesan itu,

“Dalam kehidupan ini sering kita ditarik masuk semakin jauh pada satu masalah yang  semakin dalam. Agar kita berkesempatan untuk mempunyai banyak hal untuk dijawab dan membuat kita semakin berkesadaran. Dengan demikian kita akan dapat mencapai pemaknaan yang paling luas yaitu pemulihan keseimbangan dan penyembuhan.”

why-me

Saya tersenyum, teringat jalan hidup yang telah saya lalui hingga saya ada di sini saat ini. Saya mengakui bahwa semua kata-kata yang ditujukan pada saya itu pada waktu itu benar adanya. Hanya saja saya belum mampu memahaminya karena hati saya masih tertutup emosi. Kini, saya tidak lagi berkata,

“God, why me?”

Tapi dengan penuh syukur saya katakan,

“Thank God, it’s me.”

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

29 Comments to "Why Me?"

  1. wesiati  25 April, 2013 at 20:58

    eyang subur…

  2. Dewi Aichi  25 April, 2013 at 20:22

    huwahahahahahhaahaaaaaa….emangnya Aa Gatot ha ha ha ha…

  3. wesiati  25 April, 2013 at 20:20

    mengangkat juwandi sebagai guru spiritual berarti harus siap dinikah ma dia…

  4. Dewi Aichi  25 April, 2013 at 19:36

    Wesiati..meski kata JC pencapaian spiritualmu sangat tinggi, aku tetap milih Juwandi Ahmad menjadi guru spiritualku he he …

  5. wesiati  24 April, 2013 at 11:56

    JC : berarti peranmu nanti akan menyenangkan. wahahahahha…. terima kasih atas dimuatnya ini di sini ya. aku sendiri sudah lupa sama tulisan ini.

  6. J C  24 April, 2013 at 11:20

    Wesi, pencapaian spiritualmu sangat menarik dan enak dibaca…mantep tenan…intinya aku setuju denganmu, “thank God, it’s me”

  7. wesiati  24 April, 2013 at 09:30

    ketika semua orang menyalahkan, kadang-kadang jadi ingin menyalahkan yang lain juga. lha siapa lagi yang mau disalahkan tanpa membantah selain Tuhan? heheheh….

  8. Linda Cheang  23 April, 2013 at 22:13

    Tuhan bilang begini : Why not you, Son? atau Why Not you, Daughter?

    Intinya, mah, nggak ada alasan untuk mengeluh pada Tuhan, kenapa saya?

  9. wesiati  23 April, 2013 at 21:56

    mbak ratna : aku dadi mbayangke mas handoko manggul aku… hakakakaka…
    ralat ya. yang suka bilang topan badai itu kapten haddock… bukan kapten handoko. wkekekek….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *