[Serial Masa Terus Berganti] Makan Malam Kami

Dian Nugraheni

 

Soal makan dan makanan, dulu, sebelum pindah ke Amerika, aku dan anak-anak adalah kelompok manusia yang easy going dan manja. Easy going karena semuanya serba “easy”, nggak usah masak juga, warung, rumah makan, ada dari ujung jalan sampai ujung jalan yang lain.

Lebih jauh, mau bukti bagaimana “easy”nya kami soal makanan ini..? Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, sudah ada tetangga yang mampir dengan dagangan makanan paginya, dari pisang goreng, pastel isi sayuran dan telor, nasi kuning, nasi uduk, tahu brontak, dan lain-lain, setiap hari menu jajanan yang dibawanya berganti-ganti.

Nahh, ini bagian “going”nya… Menjemput anak-anak pulang sekolah, sebagai sopir sekaligus manajer mereka, aku akan selalu bertanya, “Makan apa..?”

Anak-anak biasanya menjawab, “Makan di Tantene saja…” Tantene adalah rumah makan ayam goreng kegemaran anak-anak di kota kami.

Atau jawaban yang lain, “Makan di Proliman saja…” Proliman adalah warung makan yang sangaaaaat…lengkap, dari lele sampai teri, pelas sampai srundeng, sayur bayam sampai jengkol, ada.

Maka, sesuai keinginan dan jawaban anak-anak, maka aku akan “going” ke warung yang dimaksud untuk memuaskan perut yang keroncongan di siang hari sepulang anak-anak sekolah.

Malam hari, karena rumah kami berada di jalan jalur wisata menuju Baturraden, di kaki Gunung Slamet, kalau ke “kota” harus turun dulu, maka kami lebih sering menunggu sate yang lewat di perumahan kami yang cukup sepi. Atau kalau nggak mau nunggu sate, ya sorenya turun kota dulu, beli makanan, dan dibawa “naik” untuk dimakan malam harinya.

Praktis, kami adalah manusia-manusia warungan, aku sebagai Emak, setelah berhitung ini itu, rasanya bujet masih memungkinkan untuk makan warungan mlulu dari hari ke hari. Soalnya kalau aku masak, anak-anak juga selalu bilang, “enakan lelenya Proliman, atau enakan ayamnya Tantene…” Tentu saja pernyataan anak-anak ini adalah kata-kata manja saja karena mereka pengen makanan dari warung seperti biasanya, sebab aku yakin seyakin-yakinnya bahwa masakanku sangat layak untuk disajikan, bahkan dalam pesta. Menjamu kawan-kawan dengan masakanku sendiri, adalah salah satu hobiku, dan kawan-kawanku menyukai semua yang aku sajikan untuk mereka. Tapi, demi anak-anak, maka akhirnya aku ngalah, nggak lagi masak-masak, dan kembali ngrames di warung kayak biasanya.

Akhirnya, inilah yang menjadikan kami manja. Apa-apa serba ada, tinggal pilih mana yang diinginkan, harga pun masih terjangkau, meski yaa, hitungannya tetaplah lumayan boros juga.

Setelah tinggal di Amerika, mak jegagik, nggak ada warung lele, nggak ada ayam goreng ala Tantene, nggak ada yang jual pelas, buntil, srundeng, tempe goreng, tahu brontak….

Di antara kami bertiga, aku, Kakak, anakku yang gede, dan Adek, si Kecil yang sudah tak kecil lagi, satu-satunya yang merasa paling merana adalah si Kakak, karena dia, bisa dibilang, nggak doyan Sandwich alias roti isi, dan setiap hari harus ketemu nasi…harus..!! Maka mau nggak mau, Emaknya harus meluangkan waktu untuk memasak agar anak-anak tetap mau makan.

Berangkat, sampai pulang kerja, memerlukan sekitar 11 jam total buatku. Berangkat sekitar jam 8.30 pagi, dan pulang sampai rumah jam 8 malam. Anak-anak pulang sekolah jam 3an, otomatis menungguku pulang kerja dan menyiapkan makan malam, membuat mereka cukup kelaparan. Biasanya, aku sediakan jus buah-buahan di kulkas untuk mengganjal perut mereka sebelum aku pulang kerja.

Anak-anak sekolah negeri, bila mau, mereka mendapatkan sarapan pagi di sekolah, biasanya berupa macam-macam sereal yang boleh dipilih. Makan siang pun, anak-anak mendapat makan siang di sekolah. Karena aku termasuk masyarakat “miskin” di Amerika, maka untuk makan siang, anak-anak cuma diminta bayar 40 cent per makan siang. Sebagai catatan, saat ini sudah sangat susah untuk mendapatkan sesuatu dengan harga 40 cent di Amerika, kalau pun ada, mungkin 40 cent akan dapat dua buah permen karamel kecil. Jadi, harga makan siang 40 cent di sekolah ini, bagi kami, sangatlah murah. Otomatis, makan yang aku sediakan di rumah, adalah untuk makan malam.

Aku berusaha memasak apa yang disukai anak-anak, meski aku punya style sendiri dalam memasak, tapi karena mereka selalu keingetan Ayam Goreng Tantene, maka aku pun membuat ayam goreng serupa itu, yaitu, ayam dengan bumbu asin, dan digoreng dengan campuran air ungkepan ayam yang dibubuhi sangat sedikit tepung aci, biar ayamnya bisa kemriuk di luar, dan masih juicy di dalam. Tak susah bagiku untuk memasak ayam seperti ini, karena dapur memang “kerajaanku”, apa pun bisa kusulap menjadi hidangan yang membuat anak-anak senang.

Tapi, yang senang, ternyata bukanlah hanya anak-anakku. Sebagai makhluk sosial, kami pun hidup bertetangga. Di apartemen kami, ada keluarga dari Eritera, Ethiopia, yang anak-anak mereka sebaya dengan anak-anakku.

Semula, orang tuanya sering melarang anak-anaknya untuk makan di rumahku dengan alasan merepotkan, tapi setelah aku terangkan, akhirnya mereka bisa mengerti, bahwa aku nggak akan menjadi kerepotan atau kekurangan hanya dengan menyajikan makanan bagi anak-anakku dan anak-anaknya yang berjumlah dua orang, jadi total jumlah anak, adalah empat orang dengan kedua anak-anakku.

Antara keluargaku dan keluarga tetangga dari Eritera ini pun memang sepakat dalam pemilihan makanan. Kami tidak makan pork, atau babi, dan mereka pun sama. Jadi dalam satu hal ini, kami nggak ada keberatan, atau kekhawatiran, semisal anak-anak mereka makan di rumahku, atau anak-anakku makan di rumahnya.

Soal boleh makan ini atau tidak boleh makan itu, di Amerika, hal ini malah sangat jelas terlihat. Dalam hal ini, kami saling menghargai tentang pilihan-pilihan tersebut. Dan karenanya, kita harus hati-hati dalam soal makanan ini. Misalnya, bagi moslem, bagi keluarga teman kami yang dari Eritera yang penganut Katolik Ortodok, dan bagi kawan-kawan kami yang orang Jews, maka kami tidak makan pork.

Sedangkan teman-teman dari India, kebanyakan mereka vegetarian, atau kalau pun makan daging, pasti bukan daging sapi. Maka ketika teman-teman yang berasal dari India datang ke rumah, aku hanya akan menyajikan ayam, dan makanan-makanan vegetarian.

Lain lagi kalau teman anak-anak yang datang ke rumah adalah para “bule”, biasanya mereka kurang percaya dengan apa yang kita sajikan, entah soal kebersihannya, kualitasnya, dan lain-lain. Kebanyakan bule sangat hati-hati untuk hal ini. Nahh, kalau sudah begini, biasanya aku akan beli brownis dan pizza saja untuk mereka.

Ketika anak-anakku makan bersama anak-anak dari keluarga Eritera tetangga kami, semula pun agak menimbulkan keributan kecil, karena mereka tidak biasa makan nasi, tapi makan pasta, semacam spageti atau makaroni. Lalu ketika aku menyediakan nasi dan chicken wings di meja, maka mereka akan makan ayam saja tanpa nasi, otomatis, ayam untuk mereka lebih banyak dibanding yang dimakan anak-anak. Sering kali anak-anakku harus mengalah.

Lalu lama kelamaan, sedikit demi sedikit, aku kenalkan nasi pada anak-anak tetanggaku itu. Satu sendok, lalu besoknya lagi, dua sendok, begitu seterusnya, sampai saat ini, aku sudah menganggap bahwa anak-anak tetanggaku itu sudah sepenuhnya setara selera dengan anak-anakku. Anak-anak tetanggaku ini sudah doyan hampir semua masakanku, dari ayam dengan berbagai variasi masak, sup sayuran, soto, rendang, oseng-oseng Kubis…, dan tentu saja, makan nasi sebagai makanan pokoknya, akhirnya, lidah mereka sudah terbiasa.

Kelucuan-kelucuan yang mengharukan sering terdengar ketika mereka makan bersama, kudengar si Adek, anakku bicara, “kami hanya punya satu mangkok sayur, sedikit ayam, dan sedikit nasi, maka masing-masing akan mendapat bagian yang sama…” Si Adek ini memang cukup trampil membantuku di dapur dan menyiapkan makanan, termasuk “mengatur” pembagian makanan.

Begitulah, ketika sesama anak-anak “rembugan” sendiri, saling berbagi dengan cara mereka sendiri, tak ada keributan timbul, kulihat, malah selalu ada keceriaan ketika mereka berbagi makanan yang serba terbatas tersebut.

Lalu ketika aku sedikit menengok mereka di meja makan, bersahut-sahutan mereka akan memujiku, “Your Mom is the best cook in the world, Alma…, I don’t like broccoli.., sampai Mamahmu masak sup sayuran ini…, aku hanya makan sayur brokoli bikinan Mamahmu…”

Di tengah-tengah makan, mereka juga akan bilang, “this is very good food…”

Dan ketika selesai, satu per satu mereka mencuci piringnya sendiri-sendiri, dan suara-suara ceria mereka bersahut-sahutan, “Thank you, Dian, thank you, Mommy…, makanannya enak sekali….”

Hmm…, capek seharian kerja, tentu saja akan amblas kalau melihat mereka makan lahap dan penuh rasa terimakasih, padahal, setiap hari, masakan wajib adalah sup brokoli plus baby carrot, lalu lauknya berselang seling antara ayam goreng, ikan goreng, dan telor dadar yang dicampur dengan berbagai irisan sayuran, tempe tahu goreng, dan makanan-makanan nusantara lainnya.

Uuhh…yeaaahhh, kemanjaan hidup di Indonesia sementara tersisihkan, sebagai gantinya adalah kemandirian hidup di Amerika, ketika selera lidah tetap Nusantara, tapi tak ada satu warung pun yang menjual berbagai masakan Indonesia di sekitar tempat tinggal kami.

Menyadari semua hal tersebut, aku tersenyum, tanda syukurku yang tak pernah usai dari hari ke hari. Kerasnya hidup sebagai imigran, sebagai survivor, tak akan menyurutkan langkah dan senyum kami, malah, aku, secara pribadi merasa lebih happy, karena bisa membuat anak-anak dan teman-teman lain yang ada di sekitar kami ikutan tersenyum ketika menikmati hidangan-hidangan sederhana yang aku sajikan….

 

Salam Makan Malam Kami,

Virginia,

Dian Nugraheni

Rabu, 28 Maret 2013, jam 12.19 malam…

(Spring yang masih dingin….)

 

dinner01

Siap makan malam…late dinner….

 

dinner02

Chicken wings-nya dibagi-bagi yaa, masing-masing anak dapat tiga potong, sup brokoli dan baby carrotnya boleh ambil sendiri-sendiri…he..he..he…

 

21 Comments to "[Serial Masa Terus Berganti] Makan Malam Kami"

  1. Dewi Aichi  25 April, 2013 at 09:56

    Dian…aduh..ceritamu ini menyenangkan sekali, aku suka cara menyampaikannya…wah…jadi pengen tetanggaan denganmu..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *